Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6
Beberapa hari kemudian..
Acara lamaran telah berlangsung di hotel mewah, Celina sengaja meminta sang papa mengadakan acara di tempat itu biar seluruh keluarga mama kandungnya juga turut hadir dan menyaksikan. Dia juga ingin membuktikan kepada ibu tirinya bahwa dirinya berhasil membuat Azka meminangnya.
Saat acara makan-makan, Celina tak melihat keberadaan Azka dan Elma. Ia pun menaruh curiga apalagi ibu tirinya pernah bilang jika Azka menyukai Elma. Celina lalu mencari mereka.
Benar saja, Celina menemukan keduanya di lorong kamar hotel. Tampak Azka memegang tangan Elma dan sepertinya mereka baru saja mengobrol serius. Kedekatan keduanya tentunya itu membuat Celina murka.
Celina mendekat dan melepaskan genggaman Azka dari tangannya Elma. "Apa yang kalian lakukan di belakangku, hah??"
"Kak Celina, aku bisa jelaskan!" Elma berucap terbata-bata karena ketahuan berduaan dengan Azka.
"Aku baru mengatakan cinta padanya!" kata Azka tanpa rasa bersalah.
"Breengsekk!!!" desis Celina.
"Ya, aku 'kan sudah bilang kepadamu kalau aku tak pernah mencintaimu!" kata Azka tersenyum menghina.
Celina yang awalnya sangat geram, merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum, "Tidak masalah, mau kau mengatakan cinta kepada siapapun aku juga tak peduli. Hari ini adalah acara lamaran kita, tentunya apapun yang terjadi kau tetap milikku."
Azka mengernyitkan dahinya, ia pikir Celina akan marah besar dan menyakiti Elma sehingga ia bisa mendapatkan alasan buat mempermalukan dan membuktikan kepada orang-orang mengenai Celina yang gampang emosi.
"Kau tidak marah padaku, Kak?" Elma menatap serius wanita dihadapannya itu.
"Ini bukan salahmu, lain kali jangan diulangi. Jika ingin mamamu hidup nyaman di istana milik ibuku!" Celina tersenyum seringai.
"Aku tidak mungkin merebut milikmu, Kak!" kata Elma.
"Ya, aku percaya!" ucap Celina kemudian berbalik arah melangkah kembali ke tempat acara, mereka tak tahu jika Celina mengepalkan kedua tangannya. Ia berusaha tetap terlihat anggun dan baik di depan calon suaminya dan orang-orang.
"Kenapa dia tidak marah?" Azka menatap punggung Celina kejauhan dengan heran.
"Aku juga, biasanya dia akan mengamuk dan memaki aku," kata Elma menggaruk pelipisnya karena heran dengan sikap Celina.
Sekembalinya dirinya ke tempat acara, Celina menyapa para kerabat yang hendak pamit pulang. Mereka juga menanyakan keberadaan Azka yang tak kelihatan. Celina beralasan jika Azka sedang menerima telepon penting.
Selang 5 menit kemudian, Azka dan Elma kembali namun keduanya muncul tak beriringan.
Andin yang sadar anaknya sudah membuat Celina kesal menghampirinya, "Kamu dari mana saja?" tanyanya dengan berbisik.
"Aku ke toilet," jawab Azka berbohong.
"Jangan coba-coba mempermalukan kami, Azka. Keluarga Celina sangat terpandang, kami tak mau mereka mencap Mama sebagai Ibu yang tak dapat mendidik kamu!" Andin memberikan peringatan dengan nada pelan.
"Iya, Ma. Tenang saja!" ucap Azka terpaksa.
"Sana dekati Celina, sapa tamu-tamu yang datang!" titah Andin tanpa suara tinggi namun terdengar tegas.
Azka pun melangkah mendekati Celina, dia pun berpura-pura memainkan perannya. Azka merangkul pinggang dan tersenyum manis ketika Celina menoleh ke arahnya.
Beberapa jam kemudian, Azka dan kedua orang tuanya meninggalkan hotel. Wajah Azka mendadak berubah kesal karena tadi harus berpura-pura bahagia.
"Pernikahan kalian dua minggu lagi, Papa harap kamu tidak membuat masalah!" Angga memberikan peringatan.
Azka cuma diam, ia tak dapat membantah.
-
Sementara itu, Celina yang terlebih dahulu tiba di rumah. Menunggu Elma dan Ana di ruang tamu. Celina duduk dengan kaki di silang dan tangannya dilipat ke dada. Begitu ibu dan anak itu muncul, Celina melemparkan tatapan tajam ke arah keduanya.
"Mati aku, Ma!" lirih Elma tampak ketakutan, ia memegang erat lengan ibunya.
"Kamu belum berganti pakaian?" tanya Ana dengan terbata-bata.
Celina memperbaiki posisi kakinya hingga sejajar, menurunkan tangannya lalu beranjak berdiri. Ia melangkah perlahan menghampiri keduanya. "Apa kau mengajarkan anakmu untuk menjadi pelakor juga?" sindirnya.
"Celina, apa yang kamu bicarakan?" Ana pura-pura tak mengerti.
"Aku sudah bilang kepada kalian, jangan pernah mengambil sesuatu yang menjadi milikku!" kata Celina dengan nada dingin.
"Dia yang mendekati aku, Kak. Aku sama sekali tak menggodanya!" ucap Elma menyangkal.
"Benarkah?" Celina menarik ujung bibirnya.
"Celin, jangan salah paham dulu. Elma tidak mungkin seperti itu," Ana mencoba melindungi putrinya.
Celina yang tak percaya lantas menarik rambut Elma sehingga wanita itu berteriak kesakitan.
Ana yang tak mau anaknya terluka memegang tangan Celina. "Jangan siksa dia, Celin. Mama mohon tolong lepaskan dia!" pintanya diiringi tangis ketakutan.
"Ini hukuman baginya!!" desis Celina.
"Elma tidak bersalah, Celina. Azka saja yang tergila-gila padanya!" kata Ana.
Celina melepaskan tarikannya dengan kasar hingga Elma terhuyung dan sigap Ana menahan tubuh putrinya agar tak terjatuh.
"Apa yang Tante bilang? Azka tergila-gila padanya?" pandangan marah tertuju pada ibu tirinya.
"Iya, Celin. Azka sangat mencintai Elma," ucap Ana dengan bibir bergetar.
Celina lalu memberikan tamparan di wajah Elma membuat wanita itu berteriak karena terkejut begitu juga dengan Ana.
"Walaupun dia menggodamu, apa kau tidak bisa menjauhinya?" Celina menatap tajam adik tirinya.
"Aku minta maaf, Kak. Lain kali aku akan menjauhinya!" Elma berjanji sambil memegang pipinya yang sakit.
"Baguslah kalau begitu!" Celina menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.
"Jika aku dengar dan melihatmu menggodanya, maka bersiaplah meninggalkan rumah ini!" Celina memberikan peringatan sebelum berlalu.
***
Esok harinya..
Kabar Elma disiksa Celina terdengar di telinga Azka, pria itu mendatangi kantornya Hendra. Ia begitu marah karena Celina melukai wanita pujaannya.
Pintu ruang terbuka kasar. Celina yang sedang berbicara dengan seseorang ditelepon menoleh ke arah pintu. Tanpa berpamitan, ia mengakhiri panggilannya. "Sayang, kenapa kamu tidak bilang mau ke sini?" Celina tersenyum dan beranjak berdiri.
"Kenapa kau sampai menyakiti Elma? Apa salah dia?" tanya Azka geram.
"Dia sudah berani menggodamu!" jawab Celina.
"Dia tidak pernah menggodaku. Aku saja yang mendekatinya!" kata Azka.
"Karena kau berani mendekatinya maka aku harus memberikan dia sedikit hukuman," ucap Celina seringai.
"Kau benar-benar gila. Entah kenapa orang tuaku begitu menginginkanmu sebagai menantunya?" Azka sangat marah.
"Mereka tahu siapa yang tulus atau tidak!" kata Celina.
"Mereka sudah dibutakan oleh ancaman yang kau berikan!" tuding Azka.
"Jika memang mereka menginginkan kau bahagia bersama wanita pilihanmu pastinya mereka akan menolak permintaanku!" kata Celina lagi dengan santainya.
"Itu karena kau terus memaksa dan memberikan pengancaman hingga kedua orang tuaku ketakutan!" Azka menuding Celina mempengaruhi pikiran kedua orang tuanya.
Celina tertawa getir.
"Jika kau berani menyentuh Elma lagi, maka jangan harap aku akan menikahimu!" Azka balik mengancam.
"Semakin kau mengancamku, maka aku harus membuat Elma menderita!" kata Celina tersenyum jahat.
"Kau...!" Azka meninggikan suaranya sembari jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah wajah Celina, ia semakin kesal karena Celina tak takut dengan ancamannya
"Jangan pernah coba mengancam aku, kalau kau tidak ingin dia baik-baik saja!" Celina kembali menunjukkan senyum seringainya.
Azka yang sangat kesal dan marah, lantas memilih pergi. Ia tak dapat meluapkan emosinya karena Celina seorang wanita. Jika dia berani menyentuh Celina, maka jeruji besi adalah tempat buatnya.