NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI

Dua hari perjalanan di Pegunungan Iblis terasa seperti dua minggu.

Setiap langkah adalah perjuangan. Kabut tebal tidak pernah benar-benar hilang, hanya berganti kepadatan. Kadang mereka bisa melihat puluhan meter ke depan, kadang hanya ujung kaki sendiri. Suara-suara aneh terus mengiringi—bisikan, tangisan, tawa, kadang seperti nyanyian jauh.

Tapi yang paling berat adalah godaan.

Ha-neul beberapa kali melihat bayangan ayahnya, ibunya, bahkan Soo-ah versi kecil yang tertawa riang. Ia sudah belajar mengabaikan, tapi setiap kali muncul, ada luka lama yang terkuak. Soo-ah lebih rentan—ia sering menangis diam-diam setelah melihat bayangan ibu mereka. Tapi ia tidak pernah mengeluh, terus berjalan di belakang kakaknya.

Hyeol-geon terus memberi semangat dan peringatan. "Sebentar lagi. Lembah itu ada di antara dua puncak itu."

Ha-neul mendongak. Dua puncak menjulang di depan, celah di antaranya tertutup kabut paling tebal yang pernah mereka lihat. Seolah kabut itu sengaja menjaga sesuatu.

---

Sore hari, mereka tiba di tepi lembah.

Dari luar, lembah itu tampak seperti jurang yang tak berdasar. Kabut putih pekat bergolak di bawah, sesekali menerobos naik seperti asap kawah. Tidak ada jalan turun yang jelas—hanya tebing-tebing curam dengan bebatuan licin.

"Guru, ini lembahnya?" tanya Ha-neul ragu.

"Iya. Di bawah sana."

"Tapi tidak ada jalan."

"Memang tidak ada. Dulu aku terbang."

Ha-neul menghela napas. "Kami tidak bisa terbang."

"Aku tahu. Tapi ada jalan lain. Dulu aku buat jalan rahasia. Cari di sekitar sini, mungkin masih ada."

Ha-neul dan Soo-ah mulai mencari. Mereka menyusuri tepi tebing, memeriksa setiap celah dan semak. Kabut semakin tebal menjelang malam, mempersulit pencarian.

Saat hampir menyerah, Soo-ah berteriak. "Oppa! Ke sini!"

Ha-neul berlari. Di balik semak-semak, tersembunyi sebuah celah di tebing—seperti pintu alami yang tertutup tanaman merambat. Di belakangnya, lorong gelap menurun ke dalam.

"Itu dia! Jalan rahasia!" Hyeol-geon berseru senang. "Masih ada setelah seratus tahun!"

Ha-neul memeriksa lorong itu. Gelap, lembab, dan berbau tanah basah. Tapi setidaknya itu jalan.

"Mau masuk sekarang atau besok pagi?" tanyanya pada Soo-ah.

Adiknya menelan ludah. "Sekarang aja, Oppa. Soo-ah nggak tahan tidur di luar lagi."

Ha-neul mengangguk. Ia menyalakan obor darurat dari ranting dan kain, lalu masuk lebih dulu. Soo-ah mengikuti persis di belakang.

---

Lorong itu sempit, hanya cukup untuk satu orang. Dindingnya dari batu alam, basah oleh rembesan air. Udara di dalam dingin dan pengap, tapi setidaknya tidak ada kabut dan suara aneh.

Mereka berjalan cukup lama. Mungkin satu jam, mungkin lebih. Ha-neul kehilangan hitungan waktu. Yang ia tahu, obor mulai pendek.

Tapi akhirnya, lorong melebar. Mereka sampai di mulut gua yang menghadap ke lembah.

Dan pemandangan di depan membuat mereka terpaku.

---

Lembah itu luar biasa.

Tidak seperti gambaran menyeramkan dari luar, lembah ini justru indah. Udara terasa segar, hangat, seperti musim semi abadi. Di tengah lembah, sebuah danau kecil berair jernih kebiruan. Di sekelilingnya, bunga-bunga aneh bermekaran—warnanya mencolok, ada yang merah menyala, biru elektrik, bahkan ungu kehitaman. Pepohonan di sini tidak hitam, tapi hijau segar, dengan buah-buah bergelantungan.

Di tepi danau, berdiri sebuah paviliun kecil dari kayu, masih kokoh meski usianya sudah seratus tahun.

"Rumahku..." bisik Hyeol-geon, suaranya bergetar. "Masih ada..."

Ha-neul dan Soo-ah melangkah turun ke lembah. Rasanya seperti memasuki dunia lain. Udara yang hangat, aroma bunga yang semerbak, suara air danau yang menenangkan—kontras total dengan Pegunungan Iblis di atas.

"Guru, ini surga?" tanya Soo-ah takjub.

"Bukan surga. Tapi tempat perlindungan. Dulu aku ciptakan ini dengan kekuatanku, tersembunyi dari dunia luar." Hyeol-geon melayang keluar, menatap paviliun itu dengan mata berkaca-kaca. "Ah-jin dulu suka sekali di sini. Ia yang menanam bunga-bunga itu."

Ha-neul dan Soo-ah diam, menghormati momen haru itu.

---

Mereka menuju paviliun. Bangunan itu sederhana—kayu berkualitas tinggi yang tidak lapuk dimakan waktu. Di dalam, ada ruang tamu, ruang tidur, dan dapur kecil. Semua berdebu, tapi masih utuh. Di dinding, tergantung lukisan seorang gadis muda sedang tersenyum.

"Itu Ah-jin."

Soo-ah mendekati lukisan itu. "Cantik..."

"Ia memang cantik. Tapi lebih dari itu, hatinya indah."

Ha-neul berkeliling. Di ruang belakang, ia menemukan peti kayu besar. Ia membukanya.

Di dalam, berbagai benda berkilau—koin emas, perhiasan, gulungan-gulungan kuno, dan beberapa botol ramuan. Tapi yang menarik perhatiannya adalah sebuah kotak kecil dari giok putih, diukir dengan motif naga.

"Itu yang kucari." Hyeol-geon muncul di sampingnya. "Buka."

Ha-neul membuka kotak itu. Di dalam, ada sebuah batu kecil berwarna merah darah, berdenyut samar seperti jantung.

"Apa ini?"

"Hati Naga. Batu legendaris yang bisa membuka meridian secara paksa. Dengan ini, segelmu bisa dibuka dalam hitungan hari, bukan tahun."

Ha-neul terbelalak. "Tapi risikonya?"

"Besar. Bisa mati. Tapi kau sudah siap, muridku. Aku bisa membimbingmu."

Ha-neul menatap batu itu lama. Di tangannya, batu itu terasa hangat, berdenyut seirama dengan jantungnya.

Di luar, Soo-ah berteriak. "Oppa! Lihat! Ada ikan di danau! Bisa dimakan!"

Ha-neul tersenyum. Ia memasukkan batu itu ke dalam kantong, lalu keluar menemui adiknya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, mereka makan kenyang. Ikan danau yang dibakar, buah-buahan segar, dan air danau yang manis. Setelah makan, mereka duduk di tepi danau, memandangi bintang-bintang yang terpantul di air.

"Oppa, kita tinggal di sini aja?" tanya Soo-ah malas.

Ha-neul tertawa. "Nanti. Kita punya misi dulu."

"Ah, iya. Misi buka segel." Soo-ah menghela napas. "Tapi setelah itu, kita pulang ke sini?"

"Mungkin. Tergantung."

Soo-ah tersenyum. "Soo-ah suka di sini. Tenang, indah, nggak ada orang jahat."

Ha-neul mengelus kepala adiknya. "Iya. Kita usahakan."

Di dalam kantongnya, Hati Naga berdenyut pelan, menanti saatnya digunakan.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!