Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Merayap ke Air Terjun Hitam
Suasana di tepi Air Terjun Hitam mendadak sunyi senyap. Hanya suara gemuruh air yang terdengar. Mata Tian Ao melotot hampir copot melihat kepala kera raksasa yang tergeletak berlumuran darah di depannya. Kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu.
"K-kau... kau memungut kepala itu di mana, Sampah?!" teriak Tian Ao dengan suara pecah. Dia menunjuk Zian dengan jari gemetar. "Kera tingkat Jenderal tidak mungkin mati di tangan orang cacat sepertimu!"
Tetua Wu yang berdiri di sebelahnya mendengus sinis. Dia menyilangkan tangan di dada, mencoba menutupi keterkejutannya dengan kesombongan.
"Tuan Muda, jangan biarkan trik murahan anak ini menipumu," kata Tetua Wu meremehkan. "Dia pasti kebetulan menemukan bangkai kera itu setelah dua monster besar saling bunuh di hutan. Dia cuma memungut kepalanya untuk menakut-nakuti kita. Lihat saja tubuhnya, tidak ada setitik pun energi kultivasi yang mengalir."
Mendengar penjelasan Tetua Wu, keberanian Tian Ao perlahan kembali. Wajah pucatnya berubah menjadi merah padam karena marah. Dia merasa dipermalukan karena sempat ketakutan melihat Zian.
"Keparat kau, Zian!" umpat Tian Ao meludah ke tanah. Dia mundur selangkah dan berteriak kepada lima belas pengawal elitnya. "Tunggu apa lagi?! Cincang sampah ini jadi potongan daging! Berikan tubuhnya untuk makan anjing-anjing liar di hutan!"
Kelima belas pengawal berbaju merah itu serentak menghunuskan pedang panjang mereka. Energi api tingkat Perwira meledak dari tubuh mereka, membuat suhu udara di tepi sungai langsung memanas.
"Mati kau, Cacat!" teriak pemimpin pengawal.
Mereka melesat bersamaan dari berbagai arah, mengepung Zian rapat. Pedang-pedang yang membara itu meluncur deras mengincar leher, jantung, dan kaki Zian.
Zian tidak berhenti melangkah. Kedua tangannya tetap santai berada di dalam saku celananya. Dia membiarkan kelima belas pedang api itu menebas tubuhnya.
Trang! Trang! Trang!
Bunga api memercik terang. Namun, tak satu pun pedang itu yang berhasil menggores kulit Zian. Pedang-pedang baja pusaka itu justru bengkok dan retak parah saat membentur bahu dan lehernya, seolah mereka baru saja menebas gunung besi abadi.
Mata para pengawal itu langsung membelalak panik.
"A-apa?! Pedang pusaka sekte tidak mempan?!"
Zian menghela napas panjang. Dia perlahan mengeluarkan kedua tangannya dari saku. "Kalian menyebut ini pedang? Mainan kayu adikku di rumah lebih tajam dari ini."
Tanpa menunggu jawaban, tangan kanan Zian melesat ke depan. Dia mencengkeram wajah pemimpin pengawal itu.
KRAK!
Dengan satu remasan kasar, tengkorak pemimpin pengawal itu hancur berkeping-keping. Darahnya memercik membasahi jubah teman-temannya. Zian melempar mayat tanpa kepala itu ke tanah.
"Satu," hitung Zian datar.
"Monster! Dia monster! Mundur dan gunakan sihir jarak—"
Belum sempat pengawal lain menyelesaikan teriakannya, Zian sudah menghilang dari pandangan mereka. Tanah tempat Zian berpijak tadi amblas ke dalam.
Wush!
Zian muncul tepat di tengah kerumunan mereka. Dia memutar tubuhnya dan melayangkan satu tendangan sapuan ke arah tiga pengawal di sebelah kirinya. Tendangan itu tidak mengandung energi sihir, melainkan murni kekuatan tulang asura yang membelah angin.
Brak! Brak! Brak!
Pinggang ketiga pengawal itu patah menjadi huruf V. Organ dalam mereka hancur lebur seketika. Tubuh mereka terlempar ke udara dan jatuh tercebur ke dalam sungai yang deras.
"Empat," ucap Zian dingin.
"Bunuh dia bersamaan! Tusuk matanya!" jerit pengawal lain yang mulai kehilangan akal sehat.
Enam pedang api menusuk lurus ke arah wajah Zian.
Zian hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari tebasan pertama. Dia lalu menangkap bilah pedang kedua dengan telapak tangan kosongnya. Api yang menyala di pedang itu sama sekali tidak membakar kulitnya. Zian meremas bilah baja itu sampai hancur berkeping-keping.
"Api kalian terlalu dingin," ejek Zian.
Dia menggenggam pecahan baja dari pedang itu, lalu menyebarkannya ke depan layaknya melempar segenggam pasir. Pecahan besi itu melesat sepuluh kali lebih cepat dari anak panah panah maut.
Jleb! Jleb! Jleb!
Pecahan baja itu menembus tepat di dahi enam pengawal tersebut. Mereka kaku seketika, lalu roboh serentak ke tanah dengan mata mendelik.
"Sepuluh," Zian tersenyum tipis. Senyum yang membuat darah siapa pun membeku.
Lima pengawal yang tersisa menjatuhkan pedang mereka. Nyali mereka hancur total. Mereka berbalik dan berlari kocar-kacir mencoba kabur dari arena pembantaian.
Zian menunduk dan mengambil sebuah tombak patah milik salah satu mayat di tanah. Dia mengayunkan tombak itu seperti tongkat pemukul.
Buum!
Satu ayunan maut itu membelah udara, melepaskan tekanan angin yang sangat padat. Gelombang angin sonik itu menyapu kelima pengawal yang sedang lari. Tubuh mereka hancur terpotong-potong hanya oleh tekanan udara kosong yang dihasilkan oleh tenaga otot Zian. Hujan darah dan potongan daging jatuh membasahi bebatuan sungai.
"Lima belas. Pas," gumam Zian santai. Dia membuang sisa tombak patah itu ke tanah.
Seluruh pembantaian itu terjadi dalam waktu kurang dari satu menit. Zian bahkan tidak mengubah tempo napasnya. Dia terus berjalan pelan mendekati Tian Ao.
Tian Ao mundur terhuyung-huyung. Kakinya tersandung akar pohon hingga dia jatuh duduk di atas tanah yang kotor. Wajahnya tidak lagi pucat, melainkan putih seperti mayat. Seluruh kesombongan dan harga dirinya menguap tanpa sisa.
"T-tidak mungkin... kau bukan manusia... kau iblis!" Tian Ao menangis histeris. Dia merangkak mundur, berusaha bersembunyi di balik kaki Tetua Wu. "Tetua! Tolong bunuh dia! Bunuh monster ini sekarang juga!"
Zian berhenti tepat lima langkah di depan mereka. Dia menatap Tian Ao yang sedang mengompol ketakutan.
"Di mana Tian Ao yang sombong kemarin? Di mana Tuan Muda yang menyuruh anjing-anjingnya membakar rumahku dan memukul ayahku?" Zian memiringkan kepalanya. Tatapannya menembus langsung ke dasar jiwa Tian Ao. "Menangislah lebih keras. Aku ingin mendengar suara putus asamu sebelum kucabut lidahmu."
"Cukup sombongnya, Bocah Cacat!"
Suara bentakan keras tiba-tiba memotong perkataan Zian.
Tetua Wu melangkah maju. Matanya berkilat marah. Dia tidak bisa lagi berpura-pura tenang setelah melihat kelima belas elit sektenya dibantai seperti semut. Dia akhirnya menyadari bahwa pemuda di depannya ini memang memiliki kekuatan aneh yang tidak masuk akal.
"Aku harus mengakui, kau punya tubuh fisik yang sangat keras," kata Tetua Wu. Jubahnya mulai berkibar kencang. Udara di sekitar mereka mendidih. "Tapi kekuatan otot rendahan tetaplah kekuatan rendahan! Di depan kultivator tingkat Jenderal sejati, tubuh kerasmu itu hanya akan berubah menjadi abu!"
BOOM!
Pilar api raksasa meledak dari tubuh Tetua Wu. Panasnya langsung membakar daun-daun pohon di sekitar mereka menjadi abu. Air sungai di dekatnya mulai menguap mendidih. Ini adalah kekuatan murni tingkat Jenderal. Tekanannya membuat Tian Ao yang bersembunyi di belakangnya sampai kesulitan bernapas.
"Zian! Hari ini aku akan membakar tulang-tulangmu sampai menjadi debu!" teriak Tetua Wu. Dia merentangkan kedua tangannya ke atas. Energi api itu berkumpul membentuk seekor naga api raksasa yang melayang buas di udara, siap menelan Zian bulat-bulat.
"Hahaha! Lihat orang tua itu, Bocah!" suara leluhur Asura tertawa girang di dalam kepala Zian. "Dia mengira sihir apinya bisa membakar Tulang Asura yang sudah melewati Kebangkitan Brutal! Hancurkan kesombongannya!"
Zian sama sekali tidak mundur untuk menghindari panas naga api raksasa itu. Dia justru melangkah maju menantang maut. Dia mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya berbunyi nyaring.
"Bakar aku kalau kau bisa, Pak Tua," ucap Zian sambil tersenyum kejam. Urat-urat di leher dan lengannya perlahan menonjol merah, bersiap melepaskan kekuatan penghancur mutlaknya. "Atau kepalamu yang akan kuremukkan lebih dulu."
Naga api raksasa itu mengaum dan meluncur ganas ke arah Zian. Pada saat yang bersamaan, Zian menekuk lututnya dan melesat ke depan, mengayunkan tinju murninya untuk menyambut ledakan naga api mematikan tersebut.
cuma tinju asal ajaaa