NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Alya menatap mata Rangga—mata yang kini tidak lagi penuh dengan bayangan maut, melainkan penuh dengan harapan. "Dia mendapatkannya. Selama dia tetap berada di samping jangkarnya."

​Rangga mengecup kening Alya. Di kejauhan, matahari terbenam di balik pegunungan Alpen, memberikan warna emas pada dunia mereka yang baru. Dinasti Dirgantara telah musnah, monster-monster telah dikalahkan, dan yang tersisa hanyalah dua jiwa yang mencoba saling menyembuhkan di tengah sisa-sisa luka masa lalu.

Malam di pegunungan Alpen tidak pernah sesunyi ini. Di luar pondok kayu mereka, salju turun dengan tenangnya, membungkus dunia dalam selimut putih yang abadi. Namun, di dalam kamar utama yang hanya diterangi oleh nyala api dari perapian dan beberapa batang lilin aromaterapi, suasananya terasa begitu hangat—hampir membara.

​Ini adalah malam yang seharusnya terjadi bertahun-tahun yang lalu, namun terhalang oleh darah, obsesi, dan kegilaan. Malam ini, untuk pertama kalinya, mereka bukan lagi seorang predator dan mangsanya. Mereka adalah Rangga dan Alya. Dua jiwa yang telah melewati neraka untuk sampai di titik ini.

​Rangga berdiri di dekat jendela, menatap refleksi dirinya di kaca. Luka di wajahnya telah mengering, meninggalkan bekas yang menjadi pengingat akan pertempuran terakhirnya melawan Baskara dan Rendi. Ia merasakan debaran jantung yang aneh—sebuah perasaan yang jauh lebih kuat daripada adrenalin saat ia bertarung. Itu adalah rasa takut. Takut bahwa ia mungkin akan menyakiti Alya lagi, takut bahwa sisi gelapnya akan mencemari kesucian momen ini.

​Alya melangkah mendekat. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih gading, pemberian Rangga saat mereka singgah di Paris. Rambut panjangnya terurai bebas, menebarkan aroma mawar yang selalu menjadi candu bagi Rangga.

​"Mas..." panggil Alya lembut.

​Rangga berbalik. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini tampak luruh. Ia menatap Alya seolah wanita itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di dunia ini.

​"Kau yakin dengan ini, Alya?" bisik Rangga. Suaranya berat, bergetar oleh emosi yang ia tahan. "Setelah semua yang kulakukan... setelah semua ketakutan yang kuberikan padamu... kau masih menginginkanku?"

​Alya tersenyum, sebuah senyuman yang menyembuhkan segala luka di hati Rangga. Ia meraih tangan Rangga yang besar dan kasar, meletakkannya di pipinya. "Malam ini bukan tentang masa lalu, Mas. Ini tentang kita yang sekarang. Aku tidak melihat monster di depanku. Aku melihat suamiku yang sudah berjuang untuk kembali padaku."

​Rangga menarik napas panjang. Ia menarik Alya ke dalam pelukannya. Pelukannya kali ini tidak posesif atau menekan, melainkan pelukan yang penuh dengan rasa hormat dan kerinduan yang mendalam. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alya, menghirup aroma tubuh istrinya yang menenangkan seluruh saraf di otaknya.

​Rangga membimbing Alya menuju tempat tidur besar yang ditutupi oleh kain linen lembut. Cahaya api dari perapian menari-nari di dinding, memberikan rona kemerahan pada kulit mereka. Dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah-olah Alya adalah porselen yang bisa pecah kapan saja, Rangga mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu.

​Di balik kemeja itu, Alya melihat tubuh Rangga yang dipenuhi bekas luka—bekas tembakan, sayatan, dan luka bakar. Setiap luka memiliki ceritanya sendiri, cerita tentang betapa kerasnya hidup yang telah dilalui pria ini. Alya mengulurkan tangannya, menyentuh lembut bekas luka di bahu Rangga.

​"Sakit?" tanya Alya pelan.

​"Tidak lagi," jawab Rangga. "Setiap luka ini adalah harga yang harus kubayar untuk memilikimu kembali. Dan aku akan melakukannya seribu kali lagi jika itu berarti aku bisa berada di sini bersamamu."

​Rangga kemudian membantu Alya melepaskan gaun tidurnya. Saat kain sutra itu merosot ke lantai, Rangga terpaku. Baginya, Alya adalah karya seni terindah yang pernah diciptakan Tuhan. Keindahan yang selama ini ia coba miliki dengan paksa, kini diserahkan kepadanya dengan sukarela dan cinta.

​Ia mengecup kening Alya, lalu turun ke kelopak matanya, hidungnya, dan akhirnya mendarat di bibirnya. Ciuman mereka dimulai dengan kelembutan yang ragu-ragu, namun dengan cepat berubah menjadi gairah yang sudah tertahan selama bertahun-tahun. Itu bukan sekadar ciuman fisik; itu adalah penyatuan dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan terakhir mereka.

​Rangga membaringkan Alya di atas ranjang. Di bawah cahaya lilin yang temaram, mata mereka bertemu. Rangga bisa melihat pantulan dirinya di mata Alya—bukan Rangga si psikopat yang haus darah, melainkan Rangga yang mencintai dengan sepenuh hati.

​"Aku mencintaimu, Alya. Lebih dari hidupku sendiri," bisik Rangga di telinga Alya.

​"Aku tahu, Mas. Aku juga mencintaimu," jawab Alya sambil melingkarkan lengannya di leher Rangga.

​Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana Rangga memperlakukan Alya dengan penuh kasih sayang yang luar biasa. Setiap sentuhannya adalah permohonan maaf, dan setiap kecupannya adalah janji untuk masa depan yang lebih baik. Tidak ada kekerasan, tidak ada paksaan. Hanya ada dua orang manusia yang saling memberi dan menerima dalam keintiman yang suci.

​Waktu seolah berhenti berputar di dalam pondok itu. Di luar sana, badai salju mungkin sedang mengamuk, namun di dalam kamar itu, hanya ada kehangatan yang tak terlukiskan. Bagi Rangga, momen ini adalah penyembuhan yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa kekuatan terbesar bukanlah kemampuannya untuk mengintimidasi atau melenyapkan musuh, melainkan kemampuannya untuk dicintai dan mencintai wanita di pelukannya ini.

​Alya merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa takut yang selama bertahun-tahun menghantuinya kini telah sirna, digantikan oleh rasa aman yang kokoh. Ia tahu Rangga masih memiliki sisi gelap, ia tahu masa lalu mereka tidak akan hilang begitu saja, namun malam ini membuktikan bahwa cinta mereka jauh lebih besar daripada kegelapan mana pun.

​Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur pegunungan Alpen, menyinari puncak-puncak es dengan warna emas, Rangga dan Alya masih terlelap dalam pelukan satu sama lain. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela, menerangi wajah mereka yang tampak begitu tenang.

​Rangga terbangun lebih dulu. Ia menatap wajah Alya yang sedang tertidur lelap di dadanya. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang murni tanpa beban. Ia mengecup rambut Alya perlahan, berjanji dalam hati bahwa ia akan terus berjuang melawan monsternya setiap hari, demi wanita ini.

​"Malam ini adalah awal, Alya," bisik Rangga pelan agar tidak membangunkan istrinya. "Awal dari kehidupan yang seharusnya kita jalani. Tidak ada lagi Dirgantara, tidak ada lagi pelarian. Hanya ada kita."

​Alya menggeliat pelan, membuka matanya yang indah dan menatap Rangga. Ia tersenyum, menyadari bahwa mimpi buruknya telah berakhir dan fajar yang baru telah benar-benar tiba.

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!