NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 (Part 2)

Malam Harinya – Kafe Maid.

Suasana kafe malam itu cukup ramai. Kella, yang kini sudah mengenakan seragam maid biru putihnya lengkap dengan bando renda, sedang sibuk mencatat pesanan di meja nomor 4. Kakinya masih terasa sangat sakit, tapi ia mencoba tersenyum profesional.

Kring!

Lonceng pintu masuk berbunyi. Kella menoleh dan jantungnya hampir copot.

Gala masuk bersama Reno dan dua teman lainnya. Mereka mengenakan pakaian santai namun sangat mahal. Kehadiran mereka langsung merusak suasana kafe yang tenang. Reno langsung tertawa melihat Kella yang memakai rok pendek berenda.

"Wah, liat! Si kuman sekolah jadi pelayan cantik di sini!" teriak Reno tanpa tahu malu.

Gala tidak tersenyum. Ia berjalan menuju meja nomor 7—meja yang paling pojok dan agak gelap. Ia duduk dengan kaki disilangkan di atas meja, sebuah tindakan yang sangat tidak sopan.

"Sini," Gala memanggil Kella dengan lambaian tangan yang meremehkan.

Kella berjalan mendekat dengan nampan di dadanya. "Selamat malam, Tuan. Ingin memesan apa?" suaranya sedikit bergetar, mengikuti prosedur kafe.

Gala menatap Kella dari bawah ke atas, sebuah tatapan yang membuat Kella merasa sangat telanjang. "Gue nggak mau menu sampah di sini. Gue mau lo berdiri di sini, jadi sandaran tangan gue selama gue minum."

"Maaf, Tuan, itu tidak ada dalam layanan kami," jawab Kella sopan.

Reno yang duduk di meja sebelah bersorak. "Yah, Gala! Lo emang paling jago bikin orang susah!"

Gala tiba-tiba mengambil botol kecap dari meja dan menuangkannya sedikit ke lantai, tepat di depan sepatu Kella. "Lantai ini kotor. Bersihin pakai tisu sampai mengkilap. Gue nggak suka duduk di tempat yang jorok."

Kella menatap mata Gala. Di balik tatapan tajam dan permintaan aneh itu, Kella melihat sesuatu yang berbeda. Gala tidak sedang ingin merundungnya demi kesenangan, dia sedang melakukan pertunjukan untuk Reno yang sedang menonton.

Kella berlutut di lantai, mulai membersihkan tumpahan kecap itu dengan tisu.

"Pelan-pelan," desis Gala. Saat Kella sedang menunduk, Gala menjatuhkan sebuah uang kertas seratus ribu yang dilipat kecil tepat di depan tangan Kella.

Di dalam lipatan uang itu, ada secarik kertas kecil bertuliskan: "Beli obat untuk tumitmu setelah ini. Jangan sampai pingsan besok pagi."

Kella tertegun. Ia segera menyembunyikan kertas itu di telapak tangannya. Ia kembali berdiri setelah lantai bersih.

"Ada lagi, Tuan?"

"Ambilin gue air putih. Tapi jangan pakai gelas. Pakai mangkuk," ujar Gala dengan nada yang dibuat-buat sombong.

Reno tertawa terbahak-bahak. "Anjir, Gal! Lo beneran anggep dia peliharaan ya?"

Gala hanya menyeringai tipis, sebuah seringai yang terasa pahit bagi siapa saja yang tahu kebenarannya. Ia terus memberikan perintah-perintah aneh kepada Kella sepanjang malam—mulai dari menyuruh Kella menghitung jumlah butiran gula di dalam toples hingga menyuruhnya berdiri diam menghadap tembok selama sepuluh menit tanpa bergerak.

Bagi orang lain, Gala terlihat sedang menyiksa Kella. Namun bagi Kella, setiap perintah "aneh" itu sebenarnya adalah cara Gala untuk menjauhkannya dari gangguan Reno. Saat Kella disuruh berdiri menghadap tembok, Reno yang tadinya ingin menggoda Kella jadi kehilangan minat karena Kella dianggap "milik" Gala sepenuhnya malam itu.

Pukul 22.00 WIB

Setelah kafe tutup, Kella keluar lewat pintu belakang. Ia melihat motor Gala masih terparkir di ujung jalan yang gelap, jauh dari jangkauan lampu jalan. Gala sedang bersandar di tembok, merokok dalam diam.

Kella mendekat dengan hati-hati. "Terima kasih... buat uangnya."

Gala mematikan rokoknya dengan sepatu. "Jangan salah paham. Gue nggak mau asisten gue cacat dan nggak bisa suruh-suruh besok."

Kella tersenyum tipis. "Kenapa kamu terus-terusan datang ke sini kalau hanya untuk melakukan itu?"

Gala menatap langit malam yang mendung. "Karena cuma di sini gue merasa dekat dengan dia. Gabriel menghabiskan waktu terakhirnya di tempat ini, kan?"

Kella mengangguk. "Dia sering duduk di meja nomor 7 itu kalau sedang istirahat. Dia bilang, dari sana dia bisa melihat bintang lewat jendela kecil di atas, meskipun hanya satu."

Gala terdiam. Ia menatap ke arah jendela kafe yang sudah gelap. "Kella, soal buku harian itu... jangan pernah bawa ke sekolah lagi. Simpan di tempat yang paling aman. Kalau ayah gue tahu buku itu ada pada lo, hidup lo benar-benar dalam bahaya."

"Aku mengerti."

"Satu lagi," Gala merogoh saku jaketnya dan melemparkan sebuah kunci cadangan kepada Kella. "Itu kunci locker nomor 07. Di dalamnya masih ada beberapa barang Gabriel yang nggak sempat diambil. Gue nggak kuat buat buka sisanya sekarang. Lo yang pegang."

Gala memakai helmnya, menyembunyikan kembali wajah rapuhnya di balik kaca gelap.

"Besok pagi, jangan telat. Dan ingat, kalau Reno atau siapapun tanya soal malam ini, bilang aja gue nyiksa lo habis-habisan."

Tanpa menunggu jawaban, Gala memacu motornya pergi, meninggalkan kepulan asap dan suara deru mesin yang membelah kesunyian malam.

Kella menggenggam kunci itu erat-erat. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar korban perundungan; ia adalah pemegang kunci dari sebuah kotak pandora yang bisa meruntuhkan dinasti Alangkara.

Keesokan Harinya – SMA Wijaya Kusuma

Kella masuk ke kelas dengan langkah yang sedikit lebih ringan karena tumitnya sudah diobati. Namun, suasana kelas justru lebih gaduh dari biasanya. Di papan tulis besar, tertulis sebuah tulisan besar dengan spidol merah:

"KELLA \= ANJING PENJAGA GALA"

Di atas meja Kella, terdapat sebuah kalung rantai anjing yang sengaja diletakkan di sana. Teman-teman sekelasnya tertawa-tawa saat Kella masuk.

"Gimana rasanya jadi mainan baru Gala, Kel? Semalam katanya lo disuruh sujud di kafe ya?" sindir Sarah sambil mengunyah permen karet.

Kella terdiam. Ia melihat Gala duduk di depan, sedang asyik bermain ponsel dengan earphone terpasang. Gala sama sekali tidak menoleh, seolah ia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Kella.

Namun, saat Kella hendak menyingkirkan rantai anjing itu dari mejanya, ia melihat sebuah detail kecil. Di bawah rantai itu, ada sebuah cokelat batang kecil dengan catatan kecil yang tertutup badan rantai: "Makan ini kalau lo ngerasa mau nangis. Jangan biarin mereka liat lo lemah."

Kella mengepalkan tangannya. Ia tidak membuang rantai itu ke tempat sampah. Sebaliknya, ia menyimpannya di dalam tas dengan tenang.

"Iya," jawab Kella lantang pada Sarah. "Sejauh ini, jadi peliharaan Gala lebih baik daripada harus berteman dengan orang seperti kalian."

Seluruh kelas mendadak sunyi. Gala, yang tadinya berpura-pura tidak dengar, sedikit menarik sudut bibirnya. Sebuah senyuman rahasia yang hanya ia dan Kella yang mengerti.

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!