Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dag! Dig! Dug!
#13
Kedua mata Bu Saodah terbelalak, pasca mendengar pengakuan Lilis.
“Apa?! Bagaimana bisa?! Siapa yang memberimu izin menikah?!” pekik Bu Saodah dengan suara menggelegar hingga terdengar di seluruh penjuru rumah.
Arimbi yang sejak tadi berada di dalam kamar pun keluar setelah mendengar suara keras ibunya.
Tak berapa lama kemudian, Pak Kades dan beberapa sesepuh desa ikut datang.
“Secara hukum Lilis tak perlu izin siapapun, karena ia janda dan sudah tak memiliki bapak sebagai wali sah.”
“Masih ada ibunya, Pak! Aku ibunya! Aku tak merestuinya, jadi pernikahan mereka tidak sah!”
Pak Kades tersenyum bijak, “Dalam situasi yang wajar sekalipun, penolakan seorang ibu, tidak bisa dijadikan landasan sebuah pernikahan itu sah atau tidak. Lain halnya jika wali sah menolak menikahkan, bahkan tidak memberi izin untuk menikah. Barulah pernikahan itu disebut pernikahan tidak sah.”
Semakin pucat wajah Bu Saodah, tak mau kalah begitu saja, wanita itu pun beralih menatap Rayyan. Pria itu harus disalahkan, begitu pikir Bu Saodah. “Heh! Kamu! Apa pekerjaanmu? Berani kamu menikahi anakku, punya apa kamu?”
Melihat wajah Bu Saodah saja, Rayyan sudah enggan. Apalagi jika harus menjawab pertanyaan, dan tingkah absurd wanita itu. “Jawab! Kamu bisu?”
“Dia yang menjaga lahan ternak di depan warung Lilis.” Akhirnya Pak Kades yang lagi-lagi jadi penengah, karena ia pikir Rayyan takut dengan amukan Bu Saodah.
“Hiihh, cuma penjaga ternak,” ejek Bu Saodah, melengos meremehkan profesi sang menantu. Ia lupa bahwa di tempat itu, ada Bu Wardah dan Juragan Sastro.
“Saodah, kamu sibuk mencela menantumu, bagaimana dengan kami? Ayo kembalikan uang tanda jadi itu.”
Tak hilang akal, Bu Saodah segera menodong menantu barunya. “Tuh, tugas pertamamu sebagai suami. Kembalikan 10 juta uang mereka,” perintah Bu Saodah.
“Uang apa itu?” bisik Rayyan pada Lilis.
“Uang tanda jadi dari Pak Sastro, sebagai bukti kesiapannya menikahiku.”
Rayyan mengangguk, “Sebelumnya uang itu dipakai untuk apa?”
“Entah, Ibu dan Arimbi yang pakai. Satu rupiah pun aku tak menyentuh uang itu,” ungkap Lilis.
“Tuh, kalian dengar? Minta saja uang itu pada mereka. Karena mereka yang menghabiskannya, jika tak mau, Juragan bisa pilih, mau menikahi ibu atau adik ipar Lilis.”
Selain Bu Saodah, kini arimbi pun ikut-ikutan pucat, “Iih nggak mau, enak saja, kenapa aku?” bantah Arimbi.
“Karena kamu dan ibumu yang menikmati uangnya. Kenapa Lilis yang harus menanggung beban akibat ulah kalian?”
“Karena kami ini keluarga Lilis.” Bu Saodah yang menjawab pertanyaan Rayyan.
“Lantas, jika kalian keluarga, kenapa hanya Lilis yang mencari nafkah? Padahal kalian juga tunggal di dalam satu rumah?”
Sekali lagi Bu Saodah terdiam setelah Rayyan men-skak mati setiap kalimatnya. “Jadi jelas, kan, sekarang? Ibu yang berbuat, dan kamu ikut menikmati uang itu, uang hasil keputusan sepihak ibumu. Biar semuanya terasa adil, maka kalian sendiri yang harus bertanggung jawab. Bagaimana Pak Kades? Dan Bapak-Bapak semua?”
Semua saling pandang, tapi juga setuju dengan ucapan Rayyan, sikap Bu Saodah selama ini pada Lilis memang sungguh keterlaluan. “Juragan, silahkan menagih uang itu langsung pada Bu Saodah.”
“Ehm!” Juragan Sastro hanya diam tak berani berkata apa-apa. “Masalah uang, semuanya di urus istri-istriku, jadi selanjutnya biar mereka yang memutuskan. Ayo, Bu. Kita pulang, besok saja dilanjutkan.”
Juragan Sastro dan Bu Wardah pun pamit pulang.
“Juragan! Tunggu Juragan!” teriak Bu Saodah bermaksud mencegah kepergian juragan Sastro. Arimbi ikut mengekor kepergian Bu Saodah.
“Apalagi?! Kamu mau mempermalukan kami lagi?!” balas Bu Wardah, yang ternyata jauh lebih garang dari suaminya.
“I-itu, nanti—”
“Nanti apa? Kami tak mau dengar kata nanti-nanti diatur lagi, pokoknya persiapkan saja uang 10 juta itu. Jika tidak maka kamu akan tahu akibatnya.”
Lilis merasa lega, karena urusan dengan Juragan Sastro akhirnya selesai, walau tak tahu nanti bagaimana kedepannya. Tapi, ia jadi pusing dengan urusannya sendiri, bagaimana nanti dengan urusannya dan Rayyan.
Menikah, artinya hubungan mereka sudah lebih daripada saling kenal. Mereka akan tidur di kamar yang sama, ada hak dan kewajiban yang harus dijalankan. Walau Lilis yakin untuk kewajiban batin mungkin tak akan pernah mereka lakukan hingga batas perjanjian pernikahan mereka berakhir.
“Nak Ray, dan kamu, Lilis. Tugas kami sudah selesai, kami pamit pulang dulu.”
“Iya, Pak. Terima kasih,” ucap Lilis, karena Rayyan kembali ke mode malas menanggapi orang-orang yang telah menjebaknya dalam situasi pernikahan yang tidak diinginkannya.
Setelah rumah kembali sepi, Bu Saodah dan Arimbi kembali masuk ke dalam rumah. “Dasar orang-orang sial!” cetus Bu Saodah kasar, “bukannya meringankan bebanku, kamu malah menikahi pria tak berguna. Masih mending kalau pemilik peternakan, lha ini, cuma penjaga, berapa uang yang bisa kamu berikan pada kami— dan bla, bla, bla.”
Entah apa lagi yang diucapkan Bu Saodah,
meski rumah itu tidak terlalu luas tapi Rayyan tak bisa lagi mendengarnya, karena Lilis tiba-tiba menarik tangannya hingga mereka kini berada di dalam kamar.
“Lis! Lilis! Ibu belum selesai ngomong—”
Klek!
Tak mau lagi mendengar ucapan ibunya, Lilis pun menutup lalu mengunci pintu kamarnya.
Secara otomatis, pandangan Rayyan langsung menyapu ruangan kecil yang biasa digunakan Lilis untuk istirahat.
Ruangan itu hanya berukuran 4x5 meter, ada dipan untuk satu orang yang sengaja dialasi kasur tipis usang, ada juga meja dan kursi, kemudian lemari sederhana. Semuanya minimalis menyesuaikan ukuran kamar yang sangat mini, bahkan lebih mini dari kamar mandi di kamar Rayyan.
Tak bisa di pungkiri, keduanya kikuk, bingung, karena untuk pertama kalinya mereka berbagi kamar dengan orang asing, berlainan jenis pula.
Dag!
Dig!
Dug!
Bahkan suara detak jantung mereka terdengar lebih keras dibandingkan suara teriakan Bu Saodah.
Di luar kamar, Arimbi dan Bu Saodah masih sibuk memutar otak, bagaimana cara mereka mengembalikan uang Juragan Sastro.
“Kenapa hanya sisa segini?” tanya Bu Saodah ketika meminta kembali uang sejumlah 700 ribu rupiah yang pagi tadi ia berikan pada Arimbi.
“Kan aku jajan, belanja casing hp baru, beli cas baru, karena yang lama sudah tambal-tambal selotip. Terus beli shampo, make up, pokoknya semua skincare aku borong.”
Bu Saodah mendelik marah, kemudian menoyor kepala Arimbi, “Dasar boros! Beli barang tak berguna.”
“Ibu sendiri? Dapat apa dari 800 ribu? Bayar perawatan enggak, apalagi beli keperluan rumah. Ibu pasti traktir teman-teman geng karaoke Ibu di sate kambing pengkolan desa sebelah, kan? Kita berdua itu sama, Bu. Gak bisa anteng kalau pegang duit. Makanya Ibu cari suami kaya, dong,” usul Arimbi.
“Beli make up, dandan menor, siapa tahu dapat suami tajir. kalau ibu yang menikah, kita nggak perlu lagi minta duit recehan sama Lilis.”
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭