✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Kemanusiaan di Lautan Api
Lokasi: Pelabuhan Utama Gold Harbour.
Waktu: Menjelang Fajar.
Dunia seolah sedang berakhir di Pelabuhan Gold Harbour. Bau amis laut yang biasanya menyegarkan kini tertutup oleh bau anyir darah dan asap beracun dari Napalm Miasma.
Kapal-kapal dagang yang biasanya membawa kemakmuran, kini menjadi peti mati terapung.
Kenji Sato berdiri di anjungan kapal perang Arthemis Pride, kapal galeon terbesar milik angkatan laut kerajaan. Namun, kapal itu kini tidak lagi terlihat agung. Daging busuk dan urat-urat hitam menjalar di sepanjang lambung kapal, menyatu dengan kayu dan layar, seolah kapal itu sendiri telah menjadi organisme hidup yang mengerikan.
"Sedikit lagi..." Kenji bergumam, suaranya kini terdengar seperti gesekan logam. "Jika aku bisa mencapai benua seberang, seluruh dunia akan menjadi milikku. Kita akan menjadi satu... satu keabadian yang tanpa rasa sakit."
Di dermaga, ribuan Chaos Thralls yang tersisa menghalangi jalan, membentuk barisan daging yang berdenyut. Mereka tidak lagi memiliki bentuk manusia, beberapa telah bergabung menjadi gumpalan raksasa dengan banyak tangan dan mulut.
BOOM!
Sebuah dentuman gravitasi menghantam pusat kerumunan itu, menciptakan kawah besar dan menerbangkan potongan tubuh monster ke segala arah. Raja Iblis Leon (Ren) mendarat tepat di tengah-tengah kekacauan tersebut.
Jubah merah marunnya berkibar, dan di tangannya, Void Reaver mengeluarkan dengungan haus darah.
"Kenji!" suara Ren menggema, dingin dan berwibawa. "Kau tidak akan pergi ke mana pun."
Kenji menoleh, menyeringai dengan wajahnya yang sudah tidak simetris. "Leon... sang Raja Iblis yang bermain menjadi penyelamat. Tidakkah kau lihat ironinya? Kau membunuh mereka untuk menyelamatkan dunia, sementara aku... aku memberi mereka kehidupan abadi dalam satu kehendak!"
"Kehidupan yang kau tawarkan hanyalah pembusukan," jawab Leon datar.
[Sistem: Mengaktifkan Analisis Taktis.]
[Target: Kenji Sato (Evolved Chaos Hybrid).]
[Status: Mengasimilasi Kapal Perang Arthemis Pride (Progress 85%).]
[Saran: Hancurkan Inti Intramolekul sebelum asimilasi mencapai 100%.]
Ren tidak membuang waktu. Ia melesat maju, kecepatannya melampaui apa yang bisa ditangkap oleh mata telanjang. Setiap ayunan pedangnya membelah kabut hitam dan daging monster dengan presisi matematis. Namun, semakin dekat ia ke kapal, semakin banyak Chaos Thralls yang merayap keluar dari air, menarik kakinya, mencoba menyeretnya ke dalam kegelapan.
"Mika! Syra!" perintah Ren lewat transmisi mental.
"Kami di sini, Sovereign!"
Dari langit, Ratu Syra menukik tajam. Sayap mekanisnya yang ditempa Gorn mengeluarkan bilah-bilah energi yang menyapu bersih dermaga. Di belakangnya, pasukan Sky Raider menjatuhkan tabung-tabung berisi gas pembeku hasil eksperimen Thrumm untuk memperlambat regenerasi biologis.
"Tahan mereka di dermaga! Jangan biarkan satu pun monster turun ke air!" teriak Syra kepada pasukannya.
Sementara itu, Mika bergerak seperti bayangan di antara reruntuhan gudang pelabuhan. Ia menggunakan senapan magitech laras panjangnya untuk menembak titik-titik lemah pada urat-urat hitam yang menempel di kapal. Setiap tembakan Mika membawa energi cahaya yang tidak murni, sebuah peluru khusus yang dirancang Silas dan Thrumm untuk membakar sel korupsi.
Ren melompat tinggi, menggunakan tekanan gravitasi untuk melayang sejenak di udara sebelum menghantamkan pedangnya ke dek kapal Arthemis Pride.
KLANG!
Bilah pedangnya tertahan oleh perisai daging yang mengeras. Kenji berdiri di sana, tangannya kini telah berubah menjadi sabit tulang raksasa.
"Kau pikir teknologi mainanmu bisa menghentikan evolusi ini?!" raung Kenji. Ia menyerang Ren dengan membabi buta. Setiap benturan senjata mereka menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan tiang kapal dan merobek layar.
Pertempuran itu adalah bentrokan antara dua ekstrem. Kenji adalah representasi dari kekacauan biologis yang tak terkendali, sementara Ren adalah manifestasi dari tatanan mekanis dan kekuatan absolut yang dingin.
[Peringatan: Mahkota Raja Iblis mendeteksi peningkatan denyut jantung inang.]
[Saran: Abaikan emosi. Fokus pada pemusnahan target.]
Ren merasakan kepalanya berdenyut hebat. Setiap kali Kenji berteriak ngeri, Ren seolah mendengar ribuan suara manusia yang terperangkap di dalam tubuh Kenji, suara-suara yang memohon untuk dibebaskan, atau memohon untuk tidak dibunuh.
"Diam..." desis Ren pada suaranya sendiri.
"Kalian semua sudah mati."
Ren memutar Void Reaver, mengaktifkan kemampuan Event Horizon. Ruang di sekitar mereka mulai melengkung. Gravitasi di atas kapal meningkat seribu kali lipat, membuat dek kayu itu hancur dan monster-monster kecil di sekitarnya meledak menjadi cairan.
Kenji tertekuk, lututnya menghantam dek kapal. "A-apa ini... kekuatan ini..."
"Kekuatan yang kau hina sebagai 'mainan'," ucap Ren dingin. Ia mengangkat tangannya, dan di telapak tangannya muncul bola energi hitam kecil. "Ini adalah akhir dari eksperimenmu, Kenji."
Ren menghantamkan bola energi itu ke jantung kapal.
BLAAAARRRRR!
Ledakan energi gravitasi dan miasma meledak dari dalam kapal. Kapal Arthemis Pride mulai hancur dari dalam, struktur kayunya hancur berkeping-keping. Kenji berteriak saat tubuhnya mulai terlepas dari kapal, terbakar oleh api ungu yang menyambar dari tong-tong napalm yang sengaja dijatuhkan Ren ke dalam kapal.
"AKU AKAN KEMBALI, LEON! KAU TIDAK BISA MEMBUNUH APA YANG TIDAK MEMILIKI NYAWA!" Kenji menghilang ke dalam ledakan, tubuhnya hancur, namun Ren tahu... inti dari korupsi itu belum sepenuhnya lenyap. Kenji telah melarikan diri ke dalam laut, menyisakan sebagian besar pasukannya untuk dibakar.
Lokasi: Dek Kapal yang Terbakar.
Api ungu perlahan padam, menyisakan puing-puing hitam yang berasap. Ren berdiri di tengah reruntuhan kapal yang kandas di tepi pantai. Bau kematian sangat menyengat di sini.
Tiba-tiba, Ren mendengar suara batuk yang lemah.
Ia berjalan menuju sumber suara itu. Di balik tumpukan kayu yang terbakar, ia menemukan seorang wanita paruh baya. Ia mengenakan pakaian pelayan kota, kemungkinan besar ia adalah warga Gold Harbour yang mencoba bersembunyi di kapal sebelum Kenji mengambil alih.
Wanita itu terluka parah. Kaki kanannya sudah berubah menjadi hitam dan berdenyut, menunjukkan infeksi tahap awal. Namun, wajahnya masih sangat manusiawi. Ia memeluk sebuah kalung kecil dengan foto seorang anak kecil di dalamnya.
"T-tolong..." wanita itu berbisik, matanya menatap Ren. Ia tidak melihat Raja Iblis, ia hanya melihat seseorang yang memiliki kekuatan. "Anakku... di gudang nomor empat... tolong selamatkan dia..."
Ren menatap wanita itu. Mahkota di kepalanya berdenyut, memberikan analisis dingin secara instan.
[Analisis: Subjek terinfeksi 12%. Tingkat keberhasilan pemulihan: 0%.]
[Saran: Eliminasi segera untuk mencegah penyebaran patogen.]
"Aku tidak bisa menyelamatkanmu," ucap Ren. Suaranya terdengar sangat jauh, seolah ia sedang berbicara dari balik dinding kaca yang tebal.
"Tolong... p-panggilkan tabib..." wanita itu menangis, air matanya membasahi wajahnya yang kotor. "Aku tidak ingin mati... aku ingin melihat anakku..."
Sang Raja Iblis Leon merasakan dadanya sesak. Bagian dari dirinya, Ren Akasa yang menyukai kedamaian, Ren yang ingin membangun dunia yang lebih baik ingin berteriak. Ingin mencoba mencari cara untuk menyembuhkannya. Ingin memegang tangannya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Namun, tangan Ren tidak bergerak untuk menghibur. Di bawah pengaruh Mahkota, tangannya justru bergerak menghunuskan pedang.
"Infeksi ini tidak bisa disembuhkan," ucap Ren. Suaranya kali ini sedikit bergetar, namun wajahnya tetap sedingin es. "Jika aku membiarkanmu hidup, kau akan merangkak ke gudang nomor empat dan memakan anakmu sendiri."
Wanita itu terbelalak ngeri. "T-tidak... aku tidak akan... aku tidak akan pernah menyakiti..."
"Kau tidak akan punya pilihan," potong Ren.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Ren. mengayunkan pedangnya.
CRIT!
Wanita itu tewas seketika. Tubuhnya lemas, dan kalung yang ia pegang jatuh ke atas abu.
Ren berdiri mematung di sana. Pedangnya masih meneteskan darah, darah manusia yang masih memiliki kesadaran. Ia tidak mendapatkan EXP kali ini, karena wanita itu bukan lagi "ancaman" secara aktif, melainkan hanya korban.
Ia menatap tangannya yang tertutup sarung tangan baja.
Apakah aku... benar-benar sedang membangun masa depan? Ataukah aku hanya mengganti satu jenis neraka dengan neraka lainnya?
Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada serangan Kenji tadi. Mahkota Raja Iblis seolah tertawa di dalam kepalanya, menikmati kehancuran emosi inangnya. Kekosongan itu menyebar, memakan sisa-sisa empati yang ia bawa dari Bumi.
Lokasi: Menara Regulus, Ruang Singgasana.
Tiga Jam Kemudian.
Ren duduk di singgasananya, namun posturnya tidak lagi tegak dan arogan. Ia bersandar dengan satu tangan menopang dagu, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan matahari terbit di cakrawala, matahari yang tidak memberikan kehangatan baginya.
Mika masuk dengan langkah pelan. Ia membawa sebuah kotak perak kecil.
"Tuan Leon," panggil Mika lembut. "Persiapan sudah selesai."
Leon menoleh pelan. "Jelaskan."
Mika meletakkan kotak itu di meja. "Di dalamnya ada Ring of Mortal Veil. Thrumm dan Silas bekerja sama membuatnya. Cincin ini akan menekan seluruh aura miasma Anda, menyembunyikan level asli Anda dari sistem deteksi manusia, merubah wujud anda menjadi terlihat lebih muda, dan yang paling penting... cincin ini akan menciptakan penghalang antara pikiran Anda dan Mahkota Raja Iblis untuk sementara."
Tampak seluruh jenderal berkumpul, Ren mengambil cincin itu. Sebuah permata hitam yang tampak seperti batu biasa.
"Efek sampingnya?" tanya Ren.
"Anda akan merasa... lemah," jawab Mika dengan nada khawatir. "Anda hanya akan memiliki kekuatan fisik setara petualang Rank C atau B.
Jika Anda berada dalam bahaya maut, cincin itu akan pecah dan identitas Anda akan meledak keluar. Selain itu, emosi Anda... mereka akan kembali sepenuhnya tanpa tekanan dari Mahkota. Itu mungkin akan terasa... menyakitkan, mengingat apa yang terjadi di Gold Harbour."
Ren tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat manusiawi dan penuh luka.
Ia memakai cincin itu di jari manisnya.
Seketika, cahaya ungu di matanya memudar menjadi hitam pekat yang dalam. Mahkota di kepalanya seolah "tertidur", dan berat yang menekan batinnya selama berhari-hari tiba-tiba terangkat. Namun, bersamaan dengan itu, gelombang emosi menghantamnya. Bayangan prajurit muda yang ia penggal, wanita di kapal, jeritan penduduk desa... semuanya kembali dengan warna yang begitu tajam.
Ren menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak. Air mata hampir jatuh, namun ia menahannya.
"Aku akan pergi besok fajar," ucap Ren, suaranya kini kembali menjadi suara Ren Akasa yang asli. "Vargos kuserahkan padamu, Silas, gunakan kemampuan peniru wujudmu dan jadilah penggantiku sementara sehingga tidak ada kekosongan takhta.
Jangan ada serangan ke Arthemis selama aku tidak ada, kecuali mereka menyerang lebih dulu."
"Dimana Anda akan memulai, Tuan?"
Ren menatap ke arah peta hologram Arthemis. "Kota Olynthos. Disana ada Guild Petualang 'Sayap Fajar'. Aku akan mendaftar sebagai petualang biasa bernama 'Ren'. Tanpa gelar, tanpa pasukan, tanpa keajaiban teknologi."
Ren berdiri, melangkah turun dari singgasana. Jalannya sedikit kurang stabil karena ia belum terbiasa dengan tubuh "manusia" yang kini terasa sangat berat, namun matanya memiliki binar yang sudah lama hilang.
"Aku perlu mengingat kembali untuk apa aku bertarung," gumam Ren pada dirinya sendiri. "Sebelum aku benar-benar menjadi iblis yang kucoba kalahkan."
"Tuan Leon, biarkan saya ikut dengan anda, walaupun anda menolaknya saya akan tetap mengikuti anda." Ucap Shallan sembari membungkuk bertekuk sebelah lutut.
Melihat Shallan bersikap seperti itu Valeria tidak ingin kalah.
"Tuan Leon, saya juga akan ikut anda, biar bagaimanapun saya khawatir Shallan akan membebani bahkan mengganggu anda."
"Apa kau bilang?!" Teriak Shallan dengan nada kesal sampai menyundul kening Valeria dengan keningnya.
"Aku tahu niatmu Sucubbus gila." Jawab Valeria dengan membalas dorongan kening Shallan.
Terlihat wajah Ren seperti tidak berdaya melihat pertengkaran mereka namun ia langsung berkata.
"Kalian boleh ikut denganku, tapi kalian harus gunakan cincin serupa, sehingga kekuatan kalian terbatasi, dan lagi yang paling penting aura iblis kalian tidak terdeteksi."
Serentak dengan wajah senang menatap Ren. keduanya menjawab, "Baik!".
Lokasi: Dimensi Tanpa Siang dan Malam.
Wanita bergaun putih itu kembali berdiri di depan tanaman istimewanya. Tunas itu kini telah tumbuh sedikit lebih tinggi, namun ada noda hitam kecil di salah satu daunnya, noda yang menyerupai kerak korupsi Kenji.
Wanita itu menyentuh noda itu dengan lembut, dan noda itu menghilang, digantikan oleh embun jernih.
"Kau memilih jalan yang sulit," bisiknya dengan suara yang merdu namun penuh misteri. "Mencoba mempertahankan cahaya di tengah lautan kegelapan yang kau ciptakan sendiri. Mari kita lihat, apakah akarmu cukup kuat untuk menembus tanah yang berlumuran darah ini... atau kau akan layu sebelum bunga itu mekar."
Ia tersenyum, dan di sekelilingnya, sungai air jernih itu mengalir lebih deras, memantulkan bayangan seorang pemuda yang sedang berjalan bersama dengan dua gadis cantik di belakangnya, menuju gerbang kota manusia.
Bersambung.