NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

"Assalamu'alaikum, Bu." Dimas mengetuk pintu dan kemudian bu Ais datang membukakan.

"Tumben pulang jam segini?" Tanya bu Ais pada putra semata wayang nya itu. Tampak jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam.

"Habis nongkrong tadi sama temen."

"Yasudah, sana masuk. Istirahat."

"Ayah mana?"

"Ada di kamar. Katanya tidak enak badan."

Dimas mendengus lesu. Ia berjalan lunglai menuju ruang tamu diikuti oleh bu Ais.

Dimas terduduk lesu, ia menyandarkan punggung pada sandaran sofa.

"Jangan dijadikan beban, Dim." Ucap bu Ais lembut, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya itu.

"Bagaimana tidak beban, Bu. Setiap hari selalu saja di tanyakan kapan menikah kapan menikah. Padahal aku belum mau."

"Ibu pun bingung sama Ayahmu, Dim. Biasanya, Ayah tidak pernah ngotot banget kalau ingin sesuatu, tapi untuk hal satu ini pun ibu kesulitan membujuknya."

Dimas hanya mendengus.

Bu Ais memegang pundak Dimas, "mungkin sepingin itu Ayahmu menimang cucu, Dim." Lanjut bu Ais.

Mendengar itu Dimas hanya diam seperti kehabisan kata-kata untuk membantah.

*****

"Nikah, Mas?" Sofia yang sedang minum tersedak mendengar ucapan Tony.

"Iya. Sama Dimas."

"Kok? Ini gimana, sih? Kok tiba-tiba gini?" Sofia bertanya-tanya dengan raut wajah sangat kebingungan.

"Naina udah gak punya siapa-siapa lagi, kan? Lagian demi dia juga. Nikah sama Dimas hidupnya bakal terjamin, gak usah capek-capek kerja. Keluarga Dimas juga keluarga baik-baik."

"Perasaan rencana awalnya gak gini loh, Mas. Naina kesini untuk bekerja, bukan untuk menikah. Kan aku sudah cerita sama Mas. Kenapa malah berubah secepat ini rencananya?"

"Hidup di kota gak semudah itu, Bun. Apalagi kalau seandainya sudah terpengaruh dengan lingkungan yang gak bagus. Anak polos pun bisa berubah jika sudah terkontaminasi."

"Tapi Naina anak baik, Mas. Gak mungkin aneh-aneh."

"Maka dari itu, aku tau dia anak baik makanya aku suruh dia sama Dimas yang juga dari keluarga baik-baik."

"Ta-tapi, apa Naina mau?"

"Bunda bujukin, lah."

Sofia melirik Naina yang sedang bermain bersama Mahrez di ruang keluarga. Gadis itu tampak senang menghadapi tingkah Mahrez yang lucu.

"Tapi kenapa tiba-tiba?" Sofia masih penasaran.

"Bunda kan tau, Ayah sering cerita kalau Dimas selalu di suruh ortunya nikah." Jawab Tony.

"Wajar, lah. Ortunya pengen nimang cucu. Secara, Dimas sudah berumur. Kita aja udah punya satu jagoan, mau dua malahan." Sambung Tony sembari mengelus perut Sofia yang sedang mengandung anak ke dua mereka.

Beberapa saat Sofia hening. Lagi, ia memperhatikan Naina. Dan merasa sangat iba dengan gadis itu. Gadis sebatang kara, berjuang untuk hidupnya sendiri karena memang sudah tidak punya siapa-siapa.

***

"Dim!" Panggil bu Ais mengetuk pintu kamar Dimas. Sekarang jam menunjukkan pukul tujuh pagi.

Mendengar suara ibunya yang seperti panik Dimas bergegas bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu.

"Ya, Bu?" Tanya Dimas.

"Badan Ayah panas sekali. Ayo kita bawa Ayah ke rumah sakit."

Tanpa babibu, Dimas berlari ke kamar orang tuanya, nampak pak Bandi sudah sangat pucat dan hanya bisa merintih.

Segera Dimas memboyong pak Bandi menuju mobil di garasi, bu Ais ikut membantu. Terlihat wajah wanita paruh baya itu sangat panik dan berkali-kali menyebut nama Allah.

"Kok Ibu tidak bilang kalau Ayah demamnya parah?" Tanya Dimas di sela ia yang fokus menyetir menuju rumah sakit.

"Semalem Ayah cuma demam biasa. Sudah ibu kompres dan panasnya juga sudah turun. Tidak taunya pagi ini jadi seperti ini."

Dimas mempercepat laju mobilnya, sementara bu Ais memeluk suaminya dan sesekali mengusap kepala pak Bandi untuk meyakinkan semua akan baik-baik saja.

*****

"Tenang saja, tidak perlu khawatir. Bapak tidak apa-apa." Ucap dokter yang menangani pak Bandi sambil tersenyum. Seorang Dokter laki-laki yang bertubuh gempal.

"Suami saya sakit apa, Dok?" Tanya bu Ais masih terlihat panik.

"Bapak cuma banyak pikiran, Bu. Makanya drop. Sebaiknya Bapak jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berat biar kesehatannya tidak terganggu."

Dimas yang mendengar ucapan Dokter merasa bersalah atas semua ini, ia lantas mendekati Ayahnya yang masih terbaring lemas dan hanya diam tidak berbicara.

"Bapak harus banyak istirahat dan jaga pola makan juga. Dan yang paling penting... jangan membuat Bapak terlalu banyak pikiran." Sambung Dokter.

"Iya, terimakasih ya, Dok."

"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu."

"Iya, Dok."

*

"Ayah kenapa sih, yah?" Tanya Dimas yang khawatir sekaligus kesal.

"Kamu dengar sendiri, kan?" Balas pak Bandi.

"Sudah, sudah. Bukan saatnya membahas itu." Bu Ais mencoba menenangkan suami dan putranya.

"Tidak ada yang Ayah pikirkan selain kebaikan dan kebahagiaan kamu, Dim." Sambung pak Bandi.

"Sewaktu-waktu Ayah sama Ibu meninggal, siapa yang bakal urus kamu? Menemani kamu? Bapak sama Ibumu ini sudah tua."

"Setidaknya, Ayah sama ibu bisa lihat bersama siapa kamu, apakah dia bisa mengurus kamu, menyanyangi kamu setelah ayah dan ibu tiada. Ayah mau kamu dapat yang terbaik, tidak asal-asalan."

"Ayah sangat memikirkan kamu."

Dimas hanya diam mendengarkan ucapan Ayahnya yang pelan tapi sangat menusuk jiwanya.

"Iya, Yah." Jawab Dimas.

"Sudah... Ayah istirahat. Tadi Dokter bilang ayah jangan banyak pikiran." Ucap bu Ais kembali menenangkan.

"Dimas keluar dulu, mau menelpon orang kantor untuk izin." Ucap Dimas kemudian berlalu. Bu Ais tidak bisa mencegah, beliau hanya bisa menangkap wajah sedih, bingung, khawatir dari putranya itu.

"Sudah, Ayah. Fokus saja sama kesehatan Ayah sekarang. Jangan terlalu banyak pikiran." Ucap bu Ais lagi pada suaminya.

"Semoga terbuka hati anak itu," Pak Bandi mendengus pelan.

*****

"Menikah, Mbak?" Naina kaget bukan main mendengar ucapan Sofia.

"Iya. Sama cowok yang kemaren sama Mas mu di sini."

Naina terkekeh. "Mana ada laki-laki yang mau sama gadis desa, jelek, dekil seperti aku ini, Mbak?"

"Kamu itu cantik, Naina. Secantik nama kamu."

Ucapan Sofia membuat Naina tersipu.

"Di Desa pun aku selalu jadi ejekan, Mbak. Laki-laki di sana selalu memandang ku sinis dan selalu mengataiku. Jangankan menjalin sebuah hubungan, berteman saja tidak ada yang mau. Tidak ada yang mau sama aku, apalagi sekelas mas Dimas itu."

"Mbak tau sama kamu, Nai. Almarhumah Ibu selalu membanggakan kamu yang sedari kecil gak pernah aneh-aneh. Anak yang baik, anak yang berbakti, anak yang jujur dan juga lugu. Soal cinta... cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Mbak. Aku sebatang kara di dunia ini. Kalau pun dia di takdirkan jadi jodohku, aku akan menerima. Dan berbakti padanya dengan segenap jiwa dan ragaku."

Sofia tersenyum terharu mendengar ucapan Naina yang begitu menyayat hati.

"Tapi, apa Mas itu akan menerimaku, Mbak?" Sambung Naina.

"Tenang aja. Pasti dia bakal nerima. Karena mas Dimas memang sedang mencari calon istri." Sofia memegang tangan Naina untuk meyakinkan gadis itu.

Handphone Sofia berdering. Tertera di layar 'Ayah Mahrez' yang berarti itu dari Tony--suaminya.

"Bentar, ya, Nai." Ucap Sofia. Naina mengangguk.

*

"Halo, Mas. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam, Sayang." Suara Tony terdengar dari seberang sana.

"Tumben jam segini telpon. Ada apa?"

"Nanti sore jam pulang kantor, Dimas mau ke rumah. Katanya ada yang mau di omongin."

"Oh, ya? Apakah ini kabar baik ya, Yah?" Sofia sangat sumringah.

"Mudah-mudahan."

Sofia kembali menemui Naina setelah menutup telpon dari Tony.

Dalam hati kecilnya, Sofia sedikit ragu akan pernikahan ini. Karena bagaimana pun, Naina adalah tanggung jawab nya karena dia yang membawa Naina ke kota ini. Lagipula, ini semua terasa begitu cepat. Seperti susah sekali untuk dicerna. Naina dan Dimas pun baru satu kali bertemu dan itu pun hanya sebuah pertemuan singkat.

Pertemuan singkat yang akan berubah menjadi sebuah pernikahan. Seperti mustahil.

Sofia mendengus. Ia mengatur nafas berkali-kali. Ia hanya bisa berdoa, dan menyakinkan diri. Takdir Tuhan memang selalu yang terbaik.

"Mbak? Kenapa Mbak tiba-tiba ngelamun?" Suara Naina membuyarkan lamunan Sofia."

"Ah, enggak." Jawab Sofia gugup.

"Temenin Mbak ke pasar, yuk. Nanti sore bakal ada tamu." Sambungnya.

"Baik, Mbak."

***

Sofia dan Naina pergi kepasar dengan mengendarai mobil. Tak lupa Mahrez pun ikut serta.

Di pasar mereka terlihat sibuk memilah sayur mayur, beberapa jenis ikan, ayam dan juga daging. Tidak lupa buah buahan pun di beli.

"Banyak sekali, Mbak." Ucap Naina yang sedikit kebingungan melihat bermacam jenis sayur yang belum pernah ia temukan di kampung.

"Jangankan memakannya, melihatnya pun baru kali ini." Ucap Naina dengan tawa kecil sembari memegangi paprika. "Biasanya cuma makan kangkung sawah, genjer, daun katuk. daun pepaya." Sambung Naina.

Sofia tersenyum. "Kamu ambil apa yang pengen kamu coba, nanti kita masak."Ucap Sofia. Tampak ia mengambil beberapa brokoli karena Mahrez yang sangat menyukai sayuran satu itu.

Setelah selesai membeli keperluan per-dapuran, Sofia mengajak Naina kesebuah butik. Sesampai di sana, mata gadis itu lagi-lagi terbelalak. Banyak sekali pakaian yang terpajang, yang tentunya sangat bagus-bagus dan lagi-lagi belum pernah ia temui di kampung.

"Nai, kamu pilih aja, ya. Nanti Mbak yang bayarin." Ucap Sofia.

"Aduh, tidak usah, Mbak. Aku sudah bawa banyak baju dari desa." Naina menolak dengan lembut.

"Gak apa-apa, Mbak mau belikan. Kebetulan uang bonus Mas mu lagi banyak, Alhamdulillah. Gak baik loh menolak rejeki."

Naina mengangguk pelan disertai senyuman.

"Yaudah, kamu pilih-pilih aja dulu, ya. Mbak juga mau pilih."

"Baik, Mbak."

"Terimakasih, sudah baik sekali sama aku, Mbak." Sambung Naina lagi, Sofia membalas ucapan Naina itu dengan mengelus pelan pundak gadis itu.

"Sama-sama, Nai. Biar gimana pun, kamu sudah Mbak anggap seperti saudara Mbak sendiri."

***

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!