Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman Buaya
Deru mesin BMW convertible itu membelah jalanan Medan dengan gagah. Di balik kemudi, Firan tampak sangat berkarisma mengenakan kacamata hitam, sementara Aurora di sampingnya membiarkan rambutnya menari tertiup angin.
Di kursi belakang, Rico benar-benar menjadi bumbu perjalanan yang tak henti-hentinya bersuara.
"Gila ya, Fir! Mobil ini benar-benar definisi perfection. Kamu memang tahu cara memanjakan Ratu kita," seru Rico sambil mengelus jok kulit mobil tersebut.
Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Firan dari spion tengah dengan kedipan jenaka.
"Ngomong-ngomong, ulang tahunku kan sebentar lagi... nasibku tidak usah muluk-muluk deh, Fir. Kelas di bawah ini sedikit saja, yang penting pintunya dua, aku sudah sujud syukur!"
Firan terbahak mendengar kode keras dari Rico. "Bisa diatur, Co.
Asal kamu tetap jadi 'benteng' yang kuat untuk Aurora dari gangguan lalat-lalat di luar sana," jawab Firan santai.
Aurora ikut tertawa lepas, kepalanya bersandar ringan di bahu Firan sesaat.
"Jangan dimanja terus, Fir. Nanti Rico lupa cara jalan kaki!"
Sesampainya di studio butik pengantin yang megah dan berdesain minimalis mewah itu, suasana berubah menjadi lebih privat.
Setelah para pegawai memberikan laporan bahwa klien penting mereka masih dalam perjalanan sekitar 15 menit lagi, ketiganya segera masuk ke ruang meeting VIP yang kedap suara.
Begitu pintu tertutup rapat, Rico langsung mengembuskan napas panjang.
Ia melakukan peregangan tubuh yang sangat maskulin, melepaskan sejenak gestur gemulainya yang biasa ia pakai sebagai tameng di depan keluarga Adrian.
"Aduh, pegal juga akting jadi asisten rempong beberap hari ini" keluhnya sambil menghempaskan diri di sofa kulit.
Di tengah ruangan, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim.
Firan menarik pinggang Aurora mendekat, mengunci wanita itu dalam pelukan yang penuh kerinduan.
Hilang sudah sekat-sekat kesopanan yang harus mereka jaga di depan orang tua dan Adrian tadi pagi.
"Kamu hebat hari ini, sayang," bisik Firan dalam. Ia merunduk, menatap bibir Aurora yang tadi hanya bisa ia kagumi dari jauh saat di dapur.
Tanpa banyak bicara, Firan mendaratkan kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi ciuman mesra yang menuntut.
Aurora membalasnya dengan intensitas yang sama, meluapkan segala ketegangan dan emosi yang sempat tertahan selama perjalanan penelitian dan tekanan dari kehadiran Adrian.
Mereka bercumbu selama beberapa saat di ruangan itu, sebuah ruang aman di mana mereka tidak perlu berpura-pura.
Rico, yang sudah sangat terbiasa dengan pemandangan itu, hanya sibuk mengecek ponselnya sambil sesekali berdeham.
"Ehem... ingat ya, klien datang sepuluh menit lagi. Jangan sampai lipstikmu berantakan, Ra. Dan kau, Firan, rapikan kemejamu, jangan sampai terlihat seperti habis perang bantal."
Firan akhirnya melepaskan pagutan mereka, ibu jarinya mengusap sudut bibir Aurora dengan lembut sembari memberikan senyum pemenang.
Inilah kenyataan yang tidak diketahui dunia luar, terutama Adrian: bahwa hati dan tubuh Aurora kini sepenuhnya telah menemukan pelabuhan yang paling nyaman pada diri Firan.
Pintu ruang meeting diketuk, dan seketika atmosfer di dalam ruangan berubah total.
Aurora dengan cepat merapikan riasan wajahnya, sementara Firan kembali mengenakan jasnya dengan gestur yang sangat berwibawa. Rico kembali ke mode "asisten kreatif" yang gesit.
Klien yang datang bukanlah orang sembarangan—sepasang calon pengantin dari keluarga konglomerat di Medan yang terkenal sangat perfeksionis dan sulit untuk dipuaskan.
Mereka datang dengan daftar permintaan yang sangat rumit untuk konsep pernikahan outdoor di sebuah pulau pribadi.
Awalnya, diskusi berjalan alot. Sang calon pengantin pria terus mempertanyakan anggaran yang diajukan studio Aurora, sementara pengantin wanitanya ragu apakah desain Aurora bisa diadaptasi untuk cuaca pantai yang berangin.
Di sinilah Firan mengambil alih kendali. Dengan ketenangan yang mematikan, ia tidak membantah keluhan klien, melainkan menyajikan data dan solusi teknis yang sangat brilian.
"Bapak dan Ibu," suara Firan terdengar rendah namun penuh otoritas.
"Biaya yang kami ajukan bukan sekadar untuk kain dan jahitan. Ini adalah tentang rekayasa struktur gaun. Kita bicara tentang bahan ultra-lightweight yang tetap terlihat megah namun tidak akan membuat Ibu kepanasan di bawah matahari pantai. Saya sudah menyiapkan simulasi aliran udaranya."
Firan kemudian memaparkan perhitungan logistik dan perlindungan asuransi untuk acara tersebut.
Ia bicara tentang nilai investasi sebuah momen, bukan sekadar harga sebuah gaun.
Aurora duduk di samping Firan, memerhatikan bagaimana tunangannya itu menangani klien yang paling sulit sekalipun dengan kelas yang berbeda.
Firan tidak hanya bicara soal uang; ia bicara soal visi, keamanan, dan kenyamanan Aurora sebagai desainer.
Dia melindungiku bahkan dalam urusan bisnis, batin Aurora.
Melihat cara Firan bernegosiasi—betapa tajam pikirannya dan betapa santun tutur katanya—membuat Aurora berpikir berjuta kali untuk kembali ke masa lalu.
Bagaimana mungkin aku pernah berpikir untuk kembali ke pria yang bahkan tidak bisa mengendalikan egonya sendiri, sementara di sampingku ada pria yang bisa menaklukkan dunia hanya dengan satu kali pembicaraan? pikir Aurora mantap.
Hanya dalam waktu 30 menit, klien yang tadinya skeptis kini justru menjabat tangan Firan dengan sangat erat.
Mereka tidak hanya menyetujui anggaran, tapi justru menambah pesanan untuk baju keluarga besar.
"Luar biasa, Pak Firan. Anda benar-benar rekan yang tangguh bagi Aurora," puji sang klien sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah klien keluar, Rico langsung bersiul panjang.
"Gila, Fir! Kamu barusan menaikkan profit studio ini tiga puluh persen hanya dengan modal ngomong! Kamu benar-benar 'monster' di meja perundingan."
Aurora berdiri, menghampiri Firan, dan menggenggam tangannya erat.
"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu membuat segalanya terlihat mudah."
Firan mengecup kening Aurora pelan.
"Apapun untuk masa depan kita, Ra. Ayo, kita susul rombongan ke Taman Buaya. Aku tidak sabar melihat wajah cemberut Adrian saat melihat kita sampai di sana dengan senyum kemenangan."
Pintu ruang VIP itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, dan seketika formalitas bisnis yang kaku itu luntur.
Aurora, yang biasanya dikenal dingin dan sangat menjaga image di depan publik, tiba-tiba melompat kecil ke pelukan Firan.
Ia melingkarkan lengannya di leher pria itu, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi kanan dan kiri Firan dengan gemas.
"Kamu tadi luar biasa! Benar-benar seksi kalau lagi mode negosiasi begitu," bisik Aurora dengan mata berbinar kagum.
Firan tidak membuang kesempatan. Ia menyambut lompatan itu dengan kokoh, menahan pinggang Aurora agar tidak terjatuh, lalu tertawa rendah.
"Hanya untukmu, Ra. Agar kamu tidak perlu pusing memikirkan angka-angka itu lagi."
Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, gravitasi di antara keduanya kembali menarik mereka ke dalam cumbuan yang lebih dalam.
Bibir manis Aurora yang masih menyisakan sedikit rasa lip gloss bertemu dengan bibir maskulin Firan yang tegas.
Ciuman kali ini terasa lebih penuh kemenangan dan kelegaan; sebuah perayaan atas suksesnya bisnis sekaligus penegasan bahwa mereka adalah tim yang tak terhentikan.
Di sofa seberang, Rico hanya bisa menghela napas panjang sembari memutar bola matanya. Ia menyandarkan punggungnya, melirik jam tangan Rolex-nya yang mengkilap, lalu mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
"Halo? Pasangan paling fenomenal sejagad raya?"
interupsi Rico dengan nada sarkas namun jenaka.
"Saya benci merusak suasana panas ini, tapi kalau kalian lanjut lima menit lagi, kita akan sampai di Taman Buaya saat buayanya sudah masuk jam tidur siang. Dan ingat, rombongan Hiace itu pasti sudah menunggu dengan wajah-wajah penuh selidik, terutama si Sherly dan mantamu itu, Ra."
Rico berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
"Ayo! Simpan energi kalian untuk pamer kemesraan di depan Adrian nanti. Itu jauh lebih memuaskan untuk ditonton daripada adegan privat ini."
Firan perlahan melepaskan pagutannya, namun tetap membiarkan keningnya bersentuhan dengan kening Aurora.
Keduanya tersenyum simpul, mencoba mengatur napas yang sedikit memburu.
"Rico benar, Sayang. Mari kita beri mereka pertunjukan yang tak terlupakan di Asam Kumbang," ujar Firan sembari mengusap ibu jarinya di bibir Aurora untuk merapikan sisa ciuman mereka.
Aurora mengangguk, merapikan rambutnya di depan cermin besar dengan senyum puas.
Ia merasa lebih segar, lebih berdaya, dan siap menghadapi drama apa pun yang akan disuguhkan Adrian dan Sherly di destinasi berikutnya.
Di sudut lain,
Rombongan mobil Hiace turun dengan disambut hawa tropis Medan yang khas.
Rian dan Arga, rekan kerjanya yang tampak sangat sigap, langsung membagi tugas. Dengan langkah taktis, Arga menuju loket dan dalam hitungan menit sudah kembali membawa tumpukan tiket untuk seluruh rombongan.
"Silakan, Bapak, Ibu... kita masuk lewat pintu utama ini," ujar Arga dengan nada sopan namun penuh semangat.
Begitu melewati gerbang, keluarga Adrian sejenak terpaku. Di hadapan mereka terbentang sebuah pemandangan yang tak biasa: ribuan buaya dengan berbagai ukuran.
Ada kolam-kolam beton yang dikhususkan untuk bayi-bayi buaya yang masih kecil, hingga danau buatan luas yang airnya tampak tenang namun menyimpan ancaman nyata dari ratusan moncong buaya dewasa yang sesekali muncul ke permukaan.
Arga mulai menjalankan perannya sebagai pemandu dadakan.
"Taman Buaya Asam Kumbang ini adalah penangkaran buaya terbesar di Asia Tenggara, Bapak dan Ibu. Di sini ada lebih dari dua ribu ekor buaya, mulai dari yang baru menetas sampai yang sudah berusia puluhan tahun dengan panjang lebih dari lima meter."
Siska yang berdiri di pinggir pagar pengaman langsung berteriak heboh.
"Ya ampun! Lihat itu, Bu! Besar sekali! Itu beneran hidup kan? Kok diam saja seperti patung?" serunya sambil sibuk mengambil foto dengan ponselnya.
Nenek Adrian tampak bergidik namun tetap penasaran, sementara Ibu Adrian terus menempel pada suaminya.
"Ngeri ya, Yah.... tapi memang luar biasa pemandangannya."
Rian melirik jam tangannya, lalu menatap ke arah kerumunan pengunjung yang mulai memadati area tepi danau.
"Sekitar 30 menit lagi adalah puncaknya, Bapak dan Ibu. Petugas akan memberi makan buaya-buaya dewasa di danau itu dengan daging ayam atau bebek segar. Itu momen yang paling ditunggu, karena kita bisa melihat betapa ganasnya mereka saat berebut makanan."
Adrian berdiri di belakang ibunya, matanya menatap hamparan buaya itu namun pikirannya masih tertinggal pada BMW yang tadi melaju mendahului mereka.
Ia merasa seperti buaya-buaya di kolam beton itu: terjebak, diam, dan hanya bisa menunggu "umpan" tanpa daya.
Sedangkan Sherly, yang sejak tadi berusaha menjaga jarak dari pagar karena merasa jijik dan takut, mulai merasa gerah.
Bau amis khas penangkaran dan terik matahari mulai merusak mood-nya.
Ia terus melirik ke arah pintu masuk, menunggu kapan Aurora akan tiba agar ia punya sasaran untuk melampiaskan kekesalannya.
"Dri, kok panas sekali ya di sini? Kakiku juga pegal," keluh Sherly dengan suara manja yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh Ibu Adrian, namun Adrian hanya membalas dengan gumaman pendek yang tak acuh.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...