NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Suami Dadakan!

Bela terbangun dengan rasa pening yang menghantam ubun-ubun. Aroma antiseptik yang tajam menyeruak masuk ke indra penciumannya, membuatnya tersadar bahwa ia tidak lagi berada di aspal jalanan yang panas. Ia kini berbaring di atas ranjang rumah sakit yang keras, di sebuah bilik ruang UGD yang hanya dibatasi oleh tirai-tirai tipis.

"Pak, kita perlu bicara."

Suara berat itu terdengar samar, memaksa Bela untuk perlahan membuka kelopak matanya. Cahaya lampu neon di langit-langit UGD terasa begitu menyilaukan, membuatnya harus mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri. Di ujung pintu ruangan, ia melihat bayangan dua orang yang sedang berjalan keluar menuju koridor yang lebih sepi. Salah satunya adalah seorang dokter wanita, dan yang lainnya...

'Deg'

Jantung Bela seolah berhenti berdetak saat menangkap siluet pria itu. Postur tubuh yang tegap, bahu yang lebar, dan seragam yang sangat familiar di matanya. Seragam kebanggaan yang semalam baru saja mengintimidasinya di balkon rumah mewah itu.

"Gawat!" jerit Bela dalam batin.

Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ingatannya masih kabur, ia tidak tahu apakah ia pingsan saat sudah sampai di depan rumah Melani atau di tengah jalan. Namun satu hal yang pasti, apa pun informasi medis yang akan disampaikan dokter itu kepada Raka pastilah sebuah bencana besar. Jika dokter itu menyebutkan soal kehamilan atau kondisi janinnya, maka tamatlah riwayat Bela. Ia harus menghentikannya sekarang juga. Ia harus menjadi orang pertama yang mendengar kondisinya, sebelum pria berwajah dingin itu tahu segalanya.

Tanpa berpikir panjang dan seolah mendapat energi tambahan dari rasa takut, Bela mendudukkan diri dengan terengah. Dengan gerakan kasar, ia meraih tiang infus itu, mencabut penguncinya, dan membawanya berlari bersamanya. Ia mengabaikan rasa sakit di tangannya yang dihujam jarum, terus berlari terseok-seok menuju ruangan di mana Raka dan dokter itu sedang bicara.

"Apa Anda suaminya?"

Pertanyaan dokter itu terdengar tepat saat Bela tiba di ambang pintu. Kalimat itu bagaikan dentum lonceng kematian bagi Bela.

"Mas!" teriak Bela dengan suara serak yang dipaksakan.

Dokter dan Raka secara kompak berbalik. Bela membeku di tempatnya. Ternyata dugaannya benar, pria yang membawanya ke sini adalah Raka. Dunianya terasa berputar, namun ia tidak boleh tumbang sekarang.

"Loh, Anda belum pulih, Mbak! Kenapa sampai ke sini? Perawatnya mana?" tanya dokter itu dengan raut wajah khawatir sekaligus geram melihat pasien kepala batu seperti Bela yang berlarian membawa botol infus.

Bela meneguk ludah, kerongkongannya terasa kering. Raka hanya diam, namun sorot matanya yang tajam seolah melontarkan ribuan pertanyaan yang sama. Dalam situasi yang sangat canggung dan menjepit itu, otak Bela berputar cepat. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat meyakinkan.

Dengan tangan yang masih gemetar, Bela melangkah mendekat. Ia meraih kepala Raka, lalu mengusapnya dengan gerakan yang seolah-olah menunjukkan kemesraan seorang istri kepada suaminya.

"Saya tahu kalau lagi tidak fit, Dok. Soalnya saya baru saja kemarin habis periksa ke rumah sakit ini, tapi sayanya yang ngeyel... padahal suami saya ini sudah melarang," tutur Bela dengan nada yang dibuat semanis mungkin, meski hatinya menjerit ngeri.

Raka mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia benar-benar bingung. Apakah efek infus ini membuat Bela berhalusinasi? Ataukah wanita ini sedang mengidap gangguan jiwa mendadak? Bela tidak dibius, ia sadar sepenuhnya, namun tindakannya benar-benar di luar nalar Raka. Bela kini berdiri tepat di samping Raka yang tengah duduk berhadapan dengan dokter perempuan tersebut.

"Tolong resepin obat saja dulu ya, Dok. Nanti saya konsul lagi besok. Saya mual banget," ucap Bela lagi, mencoba memotong jalur pembicaraan dokter sebelum rahasia besarnya bocor.

"Mas, aku mau balik cepat," rengek Bela kepada Raka, sambil memberikan tekanan kecil pada tangannya di bahu pria itu sebagai kode darurat.

'Gila nih cewek!' maki batin Raka. Ia membuang napas kasar, lalu menunduk sambil memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Namun, melihat Bela yang sudah nekat berdiri di sana dengan wajah pucat dan mata yang menyiratkan permohonan putus asa, Raka merasa ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Ia pikir Bela mungkin sedang syok atau malu. Lagipula, berlama-lama di sini hanya akan membuang waktunya.

"Maaf, Dokter. Dia memang butuh istirahat. Tolong kasih resep obat saja dulu," ucap Raka akhirnya, menyerah pada permainan gila Bela.

---

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Keheningan yang mencekam menyelimuti kabin. James Arthur tidak lagi bernyanyi, hanya suara mesin yang halus dan deru AC yang terdengar.

"Lu kenapa manggil gue suami?" tanya Raka tanpa basa-basi, matanya tetap lurus menatap jalanan di depannya.

"Ya kan dokter kira lu suami gue. Kalau gue jelasin lagi, kelamaan," jawab Bela enteng, meski tangannya masih meremas ujung bajunya sendiri.

"Terus maksud lu—"

"Haduh... kayaknya gue nggak bisa kerja hari ini. Masih pusing banget. Boleh tolong bawa gue pulang aja nggak?" Bela memotong ucapan Raka dengan cepat. Ia tidak mau Raka membahas detail di ruangan dokter tadi.

Raka hanya bisa mendengus. Pada akhirnya, ia mengalah dan membawa Bela pulang. Kali ini Bela yang menjadi pemandu jalan, mengarahkan mobil mewah itu menuju apartemennya yang sederhana. Keheningan kembali melanda, hingga Bela mencoba mencairkan suasana dengan bertanya bagaimana kejadian pingsannya tadi. Raka menjawab seadanya, dengan nada dingin yang tetap terjaga.

Tanpa terasa, mobil itu sudah berhenti tepat di depan gedung apartemen Bela. Bela bernapas lega, ia ingin segera turun dan mengakhiri sandiwara ini.

"Ayo," ajak Raka tiba-tiba sambil mematikan mesin.

Bela tersentak. "Lu... lu mau ke mana?"

Raka sudah turun lebih dulu dan berjalan mendahului Bela dengan langkah tegap, seolah ia adalah pemilik gedung yang paling tahu di mana letak kamar Bela. Mendengar pertanyaan kaget Bela, Raka mematung, lalu memutar tubuhnya ke belakang.

"Lu tadi ngeluh masih pusing, kan? Kalau pingsan di lift gimana? Mau nyusahin siapa lagi? Mending sekalian susahin gue sekarang, kebetulan lu udah nyusahin gue dari tadi pagi," ucapnya ketus, lalu melangkah masuk ke lobby tanpa menunggu jawaban.

Bela hanya bisa mengekor dengan perasaan yang tak karuan. Suasana di dalam lift terasa sangat hening, namun tidak dengan suara hati Bela. Detak jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena rasa tidak nyaman yang luar biasa diikuti sampai sebegininya oleh suami bosnya.

Begitu pintu lift terbuka di lantai tujuan, kini Raka yang mengekor di belakang Bela bak pengawal pribadi. Mereka terhenti di depan salah satu pintu unit apartemen. Bela merogoh tasnya, menempelkan kartu akses, dan pintu pun terbuka dengan bunyi klik yang pelan.

"Ehehehe... lu pasti sibuk, kan? Nggak mau mampir, ya kan? Ya udah lah, nggak apa-apa, makasih ya Pak Raka," ucap Bela dengan tawa garing yang sangat dipaksakan. Ia berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan masuk, berharap Raka akan langsung berbalik pergi.

Raka menatap Bela dengan pandangan datar yang mengintimidasi. "Sopan lu kayak gitu sama tamu?" tanya Raka dengan satu alis terangkat.

Bela terdiam, ia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia merasa kalah telak. Dengan berat hati dan rasa cemas yang masih membayangi soal apa yang mungkin sudah diketahui Raka, Bela akhirnya menggeser tubuhnya.

"I-iya deh... silakan masuk," ucapnya pasrah, mempersilakan suami bosnya itu melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya.

1
Siti Amalia
kerennnn novelnya thorrrrr...semoga bela berjodoh sama raka
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Queen: haloo...🥰
total 1 replies
Queen
Hai guys, jangan lupa kasih hadiah dan komen²nya biar author semangat 🥰
Blackforest
ditunggu kelanjutannya thor 😍
Queen: siip ☺️ jangan lupa like, komen, share ke teman² kalian dan giftnya yah 🫰🏻
total 1 replies
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
Queen: halooo terimakasih dukungannya 😊 baca terus yah sampai tamat 🫰🏻
total 1 replies
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!