NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Dia yang Kuinginkan

CEO itu sampai lebih awal ke rumahnya atas permintaan mamanya. Mobilnya berhenti di halaman rumah yang sudah lama tak ia datangi sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Begitu masuk, aroma masakan hangat menyambutnya. Di ruang tamu, Mamanya tampak berbincang akrab dengan seorang wanita seusianya. Tawa kecil mereka terdengar ringan, Menandakan lama tak berjumpa.

"Anak Mama sudah datang...." Ujar ibunya sambil berdiri, wajahnya langsung berbinar.

Adrian mengangguk sopan. Perempuan teman ibunya itu tersenyum ramah, memperhatikan dengan tatapan yang dalam.

Adrian duduk di kursi yang sebelahnya masih kosong juga.

"Di luar hujan deras kan, Nak?" tanya ibunya basa basi.

"Lumayan, Ma."

Suasana terasa ringan, sampai terdengar suara langkah di ujung lorong.

Langkah kaki mendekat.

Seorang perempuan keluar sambil merapikan rambutnya, belum benar-benar menoleh ke arah ruang tamu. Begitu wajahnya terangkat, ia membeku.

"Pak?" Ucapnya refleks, nyaris tanpa suara.

Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan yang tak dibuat-buat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang akan makan malam bersama dengannya adalah atasannya sendiri.

Adrian juga terdiam sesaat. Tatapannya tajam, mencoba memastikan bahwa ia tak salah lihat.

Segera ia mengembalikan wajah wibawanya. Sorot matanya yang sempat goyah segera berubah tegas.

Ruangan mendadak hening.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya ibu Adrian heran, menatap mereka bergantian.

Perempuan itu cepat-cepat menunduk, lalu duduk di kursi kosong tepat di samping Adrian.

Adrian akhirnya bersuara, nada bicaranya kembali formal, "Kami satu kantor, Ma."

Perempuan itu adalah Adira. Rekan kerja, tetangga, sekaligus sahabat Naya.

Adira menggigit bibir bawahnya pelan. Ia masih merasa jantungnya berdetak terlalu cepat.

"Situasi ini... terlalu tiba-tiba," Kata Adira dalam hati.

Dia datang hanya karna diminta ibunya. Tidak pernah terpikir akan bertemu atasannya dalam situasi seperti ini, bukan sebagai karyawan, bukan membahas pekerjaan melainkan sebagai tamu keluarga untuk sekedar makan malam.

Jarak kursi mereka cukup dekat, tapi Nadira tidak berani menatap.

Tangannya sibuk mengambil makanan, dengan gerakan hati-hati. Sendoknya bahkan sempat beradu pelan dengan piring karna tangannya gemetar.

Di sampingnya, CEO itu makan dengan tenang. Gerakannya rapi. Dia tak pernah mengawali pembicaraan malam itu.

"Kalo di kantor berarti kalian ketemu terus ya?" tanya Ibu Adrian dengan nada ringan namun penuh arti.

Nadira hampir tersedak makanannya.

Adrian menoleh Adira, hanya sekedar melihat.

Namun, tangan Adrian refleks menggeser gelas lebih dekat ke arah Nadira.

Kedua orangtua itu saling berpandangan. Senyum tipis terlukis di wajah mereka.

Adrian menyadari tatapan orangtuanya itu, terlalu penuh arti.

Suasana semakin menyesakkan.

Tangannya bergerak mengambil ponsel di samping piringnya. Layar menyala, ia menatapnya beberapa detik, seolah benar-benar sedang membaca sesuatu yang penting.

Padahal hanya pesan asistennya untuk jadwalnya besok.

Alisnya berkerut, pura-pura fokus. Lalu berdiri perlahan.

"Maaf, Ma. Ada pesan penting." Ucapnya dengan nada profesional yang sulit dibantah. "Saya izin sebentar."

Sorot mata ibunya menyiratkan kekecewaan kecil, "sekarang?"

"Iya, penting."

Nadira akhirnya menoleh cepat.

Adrian sedikit menunduk hormat sambil tersenyum, lalu melangkah dari meja makan menuju lantai atas, kamarnya.

Begitu langkahnya sampai di depan kamar. Ia menekan sensor. Adrian menghembuskan napas panjang. Dasi yang sejak tadi terasa mencekik segera ia kendurkan. Jasnya diletakkan di kursi.

Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merasa lega.

Ia hanya menatap langit-langit kamar. Hening. Tenang. Berbeda jauh dari suasana meja makan.

Tangannya mencari sesuatu di laci meja kecil di samping tempat tidur. Sebuah bingkai foto kecil.

Sorot matanya, berubah. Tak lagi setegas CEO di kantor, tak lagi sedingin pria yang duduk di meja makan. Ada kelembutan yang jarang terlihat.

Ujung ibu jarinya menyentuh permukaan kaca bingkai itu.

"Andai kamu yang datang hari ini....." gumamnya pelan.

Suaranya nyaris tak terdengar, lebih seperti bisikan untuk dirinya sendiri.

Wajah di foto itu seakan menenangkan kegelisahannya malam ini. Bukan membenci situasi itu. Bukan menolak orang yang duduk di sampingnya tadi. Hanya saja, hatinya sudah lebih dulu menetap di tempat lain.

Di ruang makan, mereka tetap berbincang ringan. Ibu Adrian tersenyum lembut sambil menatap Nadira.

"Berarti kalian memang sering bertemu, kan?"

"Tidak sering, Tante." jawabnya sopan, suaranya halus namun jelas. "Saya hanya karyawan biasa. Jadi pertemuan kami kadang hanya sebatas urusan pekerjaan saja."

Kata-kata Nadira terdengar profesional.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!