Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencaritau kegunan Mustika
Freen, meskipun tubuhnya lelah dan matanya berat, tidak bisa membiarkan rasa penasarannya. Ia mengambil kembali batu merah marun dari kantung beludru emas yang diletakkan di nakas.
"Tunggu, Nam. Sebelum kita tidur atau browsing soal klien gila itu, kita harus tahu ini," kata Freen, menunjukkan batu itu ke Nam.
"Matahari tidak mungkin hanya memberiku 'mustika pelindung'. Pasti ada nama, ada kegunaan spesifik. Aku tidak mau nanti aku salah menggunakannya di depan klien dan terlihat seperti dukun abal-abal."
Nam, yang juga penasaran, segera menyalakan kembali laptop-nya.
"Batu merah marun dari paranormal Jawa... ini pasti jenis mustika tertentu. Tunggu sebentar."
Nam mengetik beberapa kata kunci: "Mustika Kebatinan Jawa Batu Merah Marun" dan "Mustika Pelindung Ratu Laut Selatan".
Freen mendekatkan batu itu ke lampu ruangan. Batu itu memancarkan kilau yang redup, terasa hangat, dan Freen bisa merasakan energi stabil yang berasal darinya.
"Dapat!" seru Nam. "Freen, lihat ini. Di kalangan praktisi kebatinan Jawa, batu dengan corak seperti ini, terutama yang didapat dari ritual pantai selatan, dikenal sebagai Mustika Merah Delima. Tapi yang ini tampaknya punya corak yang lebih gelap, kemungkinan sudah lama diolah."
Nam membaca dari layar, "Mustika jenis ini tidak hanya untuk pelindung. Mustika Merah Delima dipercaya memiliki beberapa fungsi utama:
* Proteksi Spiritual Tinggi: Melindungi pemilik dari serangan sihir hitam, santet, dan gangguan entitas jahat level atas. Ini cocok dengan ucapan Matahari tentang 'perang spiritual'.
* Kewibawaan dan Pengasihan: Meningkatkan karisma, membuat orang lain percaya dan segan. Ini akan sangat membantu 'Paranormal Gadungan' sepertimu untuk meyakinkan klien kaya.
* Kunci Energi: Dapat berfungsi sebagai 'penghantar' untuk energi lain. Jika diaktifkan dengan benar, dapat membantu pemilik melihat atau merasakan hal-hal yang tersembunyi lebih jelas."
Freen mendengarkan dengan seksama. "Kewibawaan dan Pengasihan? Itu bagus untuk negosiasi tarif! Dan Pelindung dari sihir hitam. Ini berarti Matahari serius. Dia tahu apa yang kita hadapi lebih dari sekadar hantu rumah biasa."
Nam menutup laptop. "Jadi, Freen Sarocha, kau sekarang punya mustika yang akan membuatmu terlihat sangat berwibawa. Tapi ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Mustika ini harus selalu dekat denganmu, Freen. Idealnya, dipakai sebagai liontin atau disimpan di saku yang dekat dengan kulit. Matahari pasti ingin kau menggunakannya, bukan hanya menyimpannya di kantung."
Freen menatap batu itu, lalu mengangguk. Dia harus menerima semua 'alat' yang diberikan takdir.
"Baiklah. Aku akan mengurus tali untuk menjadikannya liontin. Aku tidak mau kehilangan 'aset' berharga ini," kata Freen.
"Sekarang, kita tahu Mustika ini akan melindungiku saat aku harus berhadapan dengan energi jahat di Ibu Kota. Tapi sebelum itu, Nam... satu jam. Aku butuh satu jam tidur."
Freen dengan cepat menyingkirkan semua bantal dan selimut ke lantai, dan ambruk di sofa ruang tamu yang kini menjadi markas komando mereka.
Nam menghela napas, tersenyum samar, lalu bergegas ke kamarnya untuk mengumpulkan dokumen dan informasi tentang keluarga kaya di Ibu Kota.
Freen Sarocha, dengan Mustika Merah Delima di genggaman, akhirnya memejamkan mata, siap menghadapi babak baru yang didominasi oleh kekuasaan dan sihir, bukan lagi hanya tipuan.
Meskipun Freen bertekad untuk tidur nyenyak, 'tidur satu jam' yang ia rencanakan terasa sangat singkat dan penuh gangguan. Mata batin yang terbuka lebar itu tidak mengenal istirahat.
Begitu ia memejamkan mata, ia tidak melihat kegelapan, melainkan arus energi samar: gumpalan abu-abu yang bergerak, kilatan putih, dan bayangan-bayangan yang menari di dalam kelopak matanya.
Namun, genggaman pada Mustika Merah Delima itu memberikan efek nyata. Energi hangat yang dipancarkan batu itu menenangkan badai spiritual di benaknya, mencegahnya panik.
Freen berhasil mencuri sekitar satu jam tidur yang benar-benar berkualitas sebelum alarm Nam berdering nyaring dari kamarnya.
"Freen! Bangun! Kita harus segera berangkat!" teriak Nam.
Freen bangkit, merasa sedikit lebih segar. Ia segera mengambil seutas tali kulit sederhana dari tasnya dan mengikatkan Mustika Merah Delima itu sebagai liontin. Ia menyembunyikannya di balik kausnya, memastikan energi protektifnya selalu dekat dengan kulit.
Nam keluar dari kamar dengan mata sedikit bengkak tapi penuh energi. Ia membawa ransel yang penuh dengan laptop, buku catatan, dan beberapa botol air mineral.
"Aku sudah siapkan semuanya," kata Nam, menunjukkan layar laptop-nya.
"Keluarga klien kita adalah Keluarga Vongrak. Mereka sangat kaya, punya bisnis di bidang properti dan perhiasan, yang berarti bayaran kita pasti tinggi. Tapi ini yang aneh..."
Nam merendahkan suaranya. "Anak mereka, Rebecca Vongrak, seorang gadis remaja, didiagnosis menderita sindrom aneh oleh dokter, gejalanya: kelemahan fisik ekstrem, sering berhalusinasi, dan kondisi tubuhnya terus memburuk tanpa sebab medis yang jelas. Yang lebih penting, Ibu Rebecca, Nyonya Vongrak, adalah penganut klenik yang sangat taat."
Freen mendengarkan dengan serius sambil mengenakan jaketnya. "Halusinasi, kelemahan fisik, tanpa sebab medis... itu bukan kelainan, Nam. Itu gangguan. Dan kemungkinan besar, spiritual."
"Aku juga menemukan berita lain yang sudah lama tenggelam," lanjut Nam. "Beberapa tahun lalu, Tuan Vongrak terlibat sengketa tanah yang besar. Tanah itu berisi makam kuno yang konon dilindungi oleh roh leluhur setempat. Tuan Vongrak tetap membangun proyek di atasnya."
Freen tersenyum sinis. "Ah, pola lama. Karma yang tidak selesai. Jirayut hanya membunuh keponakannya. Tuan Vongrak mengganggu makam leluhur. Skala karmanya jauh lebih besar. Itu sebabnya Mae Nakha mengirim utusan dari Jawa."
"Kita berangkat sekarang. Kita akan naik bus ekspres ke Ibu Kota. Kau akan berakting sebagai paranormal yang sangat meyakinkan," kata Nam, mengambil ranselnya.
Freen mengangguk, melangkah keluar pintu. Ia berhenti sejenak di depan pintu, memejamkan mata, dan bergumam pelan, berbicara kepada udara kosong.
"Baik, Mae Nakha. Aku berangkat. Aku akan mengurus karma Tuan Vongrak dan menyembuhkan putrinya. Tapi ingat, kalau bayaran kami tidak sesuai, aku akan menaikkan tarif konsultasi Anda di musim berikutnya!"
Freen merasakan hawa dingin yang cepat menghampiri dan menghilang seolah Mae Nakha tertawa kecil.
Freen dan Nam mengunci rumah itu, meninggalkan ketenangan desa Nonthaburi menuju hiruk pikuk Ibu Kota. Perjalanan panjang itu akan mereka manfaatkan untuk mempelajari setiap detail tentang Keluarga Vongrak dan sejarah sengketa tanah mereka.
Freen Sarocha, dengan Mustika Merah Delima hangat di dadanya, kini siap menghadapi pertarungan spiritual internasional.
Freen dan Nam berhasil mendapatkan tiket bus ekspres pertama menuju Ibu Kota. Mereka memilih tempat duduk di bagian belakang bus, tempat yang relatif lebih tenang.
Saat bus mulai melaju meninggalkan pinggiran kota, Nam langsung menarik selimut kecil dan menutup matanya.
"Nam, kau tidur dulu. Aku yang akan memegang kendali riset selama dua jam pertama," kata Freen, tangannya sudah memegang laptop Nam.
"Tolong... bangunkan aku kalau ada arwah naik bus," gumam Nam, sudah tenggelam dalam kantuk.
Freen tersenyum tipis. Ia melirik ke sekeliling bus dengan mata batinnya. Ada beberapa arwah tua yang duduk tenang di kursi kosong, seolah ikut bepergian, tetapi mereka semua tampak damai dan tidak mengganggu.
Mustika Merah Delima terasa hangat di dadanya, memberinya rasa aman.
Freen mulai bekerja. Ia menyalakan laptop dan memfokuskan diri pada riset Keluarga Vongrak dan putrinya, Rebecca.
Riset Freen:
Sengketa Tanah dan Makam Kuno: Freen menemukan banyak artikel lama tentang sengketa lahan besar yang melibatkan perusahaan properti Tuan Vongrak. Tanah itu terletak di perbatasan Ibu Kota lama, sebuah area yang konon kaya akan situs bersejarah dan makam leluhur komunitas setempat. Tuan Vongrak memenangkan sengketa itu secara hukum, tetapi masyarakat lokal bersumpah bahwa proyek itu "terkutuk" karena mengganggu kedamaian para leluhur.
* Gejala Rebecca: Gadis itu, Rebecca, adalah anak tunggal yang sangat dipuja. Laporan medis menunjukkan gejala yang bertolak belakang: demam tinggi, kejang-kejang, tetapi tidak ada infeksi. Ia sering berteriak ketakutan pada malam hari, mengklaim melihat "bayangan marah" yang datang untuknya. Freen langsung tahu: roh-roh marah dari makam kuno itu tidak bisa menyentuh Tuan Vongrak (mungkin karena perlindungan atau kekuatan pribadinya), jadi mereka menyerang titik terlemahnya: putrinya.
* Waktu Kejadian: Freen mencatat bahwa gejala Rebecca mulai parah tepat satu tahun setelah proyek pembangunan di lahan makam kuno itu dimulai. Ini menguatkan teori Freen tentang serangan spiritual yang terencana dan terikat waktu.
Ini bukan gangguan, ini pembalasan dendam para leluhur, batin Freen. Jauh lebih berbahaya daripada hantu Chanya.
Freen kemudian mulai merencanakan skenario aksinya. Ia harus segera mengidentifikasi roh yang menyerang Rebecca dan menemukan cara untuk menenangkan mereka. Solusi cepatnya adalah menghentikan proyek dan melakukan ritual perdamaian.
Namun, ia tahu kliennya, Tuan Vongrak, tidak akan mudah dibujuk untuk menghentikan proyek bernilai miliaran.
Freen harus menggunakan strategi yang memadukan wibawa spiritual dari Mustika Merah Delima dengan kecerdasan aktingnya sebagai 'paranormal ahli'.
Setelah dua jam, Freen merasa otaknya penuh. Ia membangunkan Nam dengan sentuhan pelan.
"Nam, giliranmu. Bangun, researcher," bisik Freen.
Nam menggeliat, matanya terbuka perlahan.
"Giliranku? Oke... apa yang kau temukan, Bos?"
"Singkatnya: Pembalasan dendam leluhur dari makam kuno. Mereka menyerang putrinya karena tidak bisa menyentuh ayahnya. Kau fokus mencari tahu jenis ritual perdamaian yang paling efektif untuk menenangkan roh leluhur yang makamnya diganggu. Kita butuh solusi yang cepat, murah (bagi kita, mahal bagi klien), dan sangat meyakinkan."
Nam segera mengambil alih laptop. Freen pun menyandarkan kepalanya ke jendela. Ia memejamkan mata, membiarkan energi Mustika Merah Delima menenangkannya.
Akhirnya, ia bisa tidur nyenyak, tahu bahwa ia akan bangun dengan strategi yang kokoh untuk menghadapi perang spiritual pertamanya di Ibu Kota.