NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:40.4k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas Paus dan Aku yang Bukan Apa-Apa 2

Dua jam berlalu...

Langit di atas asrama telah berubah gelap sepenuhnya. Hujan deras yang turun sejak jam lima sore tadi masih setia membasahi halaman, menciptakan suara ritmis yang menekan perasaan. Kadewa kembali melirik jam di pergelangan tangannya untuk kesekian kali. Jarum pendek sudah menunjuk angka tujuh.

Terlambat.

Harusnya tidak selama ini.

Pram bilang Rea berangkat sekitar jam empat sore. Jarak dari Surabaya Barat ke Bumi Moro tidak sejauh itu, bahkan dengan macet sekalipun. Seharusnya berkas itu sudah ada di tangannya sejak tadi.

Kadewa menghela napas pelan, lalu berdiri dari bangku panjang di dekat asramanya. Ada rasa tidak enak yang sejak tadi menggelayut di dadanya, tipis, tapi mengganggu.

Sebagai taruna, ia tentu tidak memegang ponsel. Aturan itu mutlak. Namun untuk keperluan tertentu, mereka masih diperbolehkan menggunakan ponsel atau telepon umum asrama dengan izin prajurit jaga dan kadang berkirim pesan lewat surat.

Kadewa melangkah cepat menuju kantor jaga asrama, memberi hormat singkat pada prajurit yang bertugas.

“Izin, Pak. Saya perlu menghubungi keluarga, ada berkas saya yang ketinggalan, dan belum sampai,” ucapnya formal.

Setelah mendapat anggukan, ia mengambil ponsel asrama yang boleh di gunakan. Tangannya sedikit menegang saat mengetik nomor Pram, nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Di sambungan ketiga, Pram akhirnya mengangkat.

“Halo?”

"Pram, mana berkasnya? Aku tunggu di depan pos jaga dari tadi nggak ada."

"Lho? Rea berangkat dari jam empat, Wa! Masa belum sampai?" suara Pram terdengar panik di seberang sana.

"Belum sampai."

“Ah, Rea beneran udah berangkat dari sore tadi lho. Aku lihat sendiri dia naik taksi online yang aku pesenin. Abis itu aku langsung ke kampus,” lanjut Pram, suaranya mulai ragu. “Coba tanya lagi ke petugas. Siapa tahu berkasnya nyelip.”

“Oke.”

Kadewa memutus sambungan dan kembali ke pos jaga.

“Izin, Pak. Mau konfirmasi sekali lagi. Apa benar nggak ada anak perempuan, rambut panjang, setinggi ini," Kadewa mengira-ngira tinggi Rea yang kemungkinan sedadanya. "Yang nitip berkas atas nama saya?”

Petugas jaga menatapnya tegas.

“Nggak ada, Sersan Taruna. Dari sore tadi nggak ada warga sipil perempuan yang menitipkan berkas ke sini, selain pacarmu tadi.”

Kadewa mematung.

Detak jantungnya langsung tidak beraturan.

Ia kembali ke ruang jaga dan menelepon Pram lagi untuk melaporkan. “Pram, petugas bilang Rea memang nggak pernah sampai. Nggak ada titipan apa-apa.”

“Jangan bercanda, Wa!” suara Pram meninggi, nyaris berteriak. “Aku yang lihat dia keluar rumah. Aku yang mastiin dia naik taksi sebelum berangkat ke kampus!”

Pram sendiri sejak tadi mencoba menghubungi adiknya. Namun nomor Rea tidak aktif. Kecemasan yang semula tipis kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.

“Tapi faktanya nggak ada, Pram!” balas Kadewa. "Kamu sih, kenapa harus nyuruh Rea segala! Kalau kamu gak bisa ya pakai gojek aja. Di paketin. Buat ribet! Sekarang Rea hilang. Gimana? Habis kamu di buat Baba sama Umma mu. Udah pasti aku juga kena," sembur Kadewa tanpa ampun pada sahabatnya itu.

“Kamu udah coba hubungi Rea?” suara Kadewa terdengar mulai panik.

"HP Rea nggak aktif.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

“Nggak aktif?” ulang Kadewa lirih.

“Iya. Dari tadi. Aku coba berkali-kali.”

Kadewa menutup mata, meremas rambut cepaknya. Dan mendadak napasnya tertahan. “Apa jangan-jangan dia nyasar... Atau—”

Kalimat itu tak ia lanjutkan.

Pram langsung memutus sambungan. Ia yang masih masih akan keluar kampus, berlari ke mobilnya, jantungnya berpacu tak karuan.

Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, ponselnya kembali berdering. Nama Cinta Pertama🤎 muncul di layar.

kontak Umma Hasnah.

Pram mengangkat panggilan itu.

“Pram…” suara Umma terdengar cemas. “Adikmu kok nggak ada di rumah? Umma udah dari sejam lalu pulang. Rea kok nggak ada. Ditelpon juga nggak bisa. Dia ke mana, sih? Udah malam.”

“Umma… tunggu ya,” suara Pram bergetar. “Nanti Pram jelasin. Pram mau cari Rea dulu.”

"Heh. Tunggu, Pram—"

Tut!

Panggilan di putus sepihak oleh Pram.

Ia segera tancap gas.

Dan malam itu, Surabaya menjadi saksi kepanikan seorang kakak.

Pram menyusuri jalan demi jalan, dari Surabaya Barat hingga arah Bumi Moro. Ia berhenti di SPBU, bertanya pada tukang parkir, menepi di persimpangan. Hujan makin deras. Tidak ada hasil.

Sampai akhirnya, di sebuah halte bus yang mulai sepi hampir mendekati pangkalan angkatan laut, lampu jalan temaram menyinari satu sosok kecil yang duduk termenung di bangku besi.

Cardigan rajut berwarna baby blue.

Dress putih.

Rambut tergerai basah.

Bahu jatuh, tubuh meringkuk menahan dingin.

Kalau ini dalam keadaan normal mungkin Pram akan meledek keadaan Rea saat itu yang tampak sangat menyeramkan. Tapi tidak kali ini...

Pram mengerem mendadak.

“Reani!”

Ia turun dari mobil dan berlari menerjang hujan. Rea menoleh pelan. Wajahnya pucat, mata sembab, jejak air mata mengering di pipinya. Tatapannya kosong, seperti seseorang yang sudah menangis terlalu lama hingga kehabisan suara.

Begitu melihat kakaknya, benteng terakhir itu pun runtuh.

Rea berdiri goyah, lalu menerjang tubuh Pram, memeluknya erat-erat. Tangisnya pecah lagi, lebih keras, lebih dalam, seolah seluruh kesedihan yang ia tahan akhirnya menemukan tempatnya untuk jatuh.

Pram terdiam. Ia yang tadinya ingin marah karena panik, mendadak kehilangan semua kata-katanya. Ia bisa merasakan tubuh adiknya yang gemetar hebat, seolah baru saja melihat sesuatu yang menghancurkan dunianya.

“Shh… udah, Re. Udah gak papa sekarang,” bisiknya pelan sambil mengusap punggung Rea berulang kali. “Mas di sini. Maafin, Mas ya udah nyuruh kamu kesini maafin, Mas ”

Pram membiarkan Rea menangis cukup lama. Ia tidak memaksa adiknya bicara. Ia tahu, kalau Rea sudah seperti ini, kata-kata justru akan terasa menyakitkan.

Beberapa menit berlalu sampai isakan itu perlahan mengecil, berganti napas putus-putus yang masih berat. Pram baru sedikit mengurai pelukan mereka, tangannya tetap bertengger di bahu Rea.

“Kamu kenapa, Re?” tanyanya pelan. Tidak menghakimi. Tidak mendesak. “Mas nyaris gila nyari kamu. Sempat Mas mikir kamu beneran hilang. Kali ini bener-bener tamat riwayat Mas di depan Umma sama Baba.”

Rea menggeleng lemah. Kepalanya tertunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Jari-jarinya mencengkeram ujung dress putihnya, seolah itu satu-satunya cara agar ia tetap berdiri tegak.

Tidak mungkin ia bercerita.

Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia melihat Kadewa, sahabat Pram di depan pangkalan tadi sedang bercumbu mesra bersama Nadin.

Tidak mungkin ia menjelaskan bagaimana satu pemandangan singkat itu sanggup merobohkan perasaan yang ia rawat diam-diam sejak kelas satu SMP.

Perasaan yang bahkan tak pernah ia beri nama.

Perasaan yang tak pernah ia minta untuk dimiliki siapa pun.

“Aku… aku nyasar, Mas,” ucap Rea akhirnya, sebuah kebohongan kecil yang keluar dengan suara nyaris tak terdengar.

Pram terdiam sejenak. Dadanya terasa mengempis. Ia menghela napas panjang, berat, penuh rasa bersalah yang kini benar-benar menekan.

“Maafin Mas, Re,” katanya lirih. “Mas nggak mikir sejauh itu. Harusnya Mas nggak nyuruh kamu sendirian.”

Tangannya terangkat, mengelus kepala Rea dengan gerakan pelan dan hati-hati, seperti takut sedikit saja tekanan bisa membuat adiknya runtuh lagi. Sentuhan itu hangat. Aman. Terlalu kontras dengan perasaan Rea yang masih berantakan.

Rea memejamkan mata.

Ia membiarkan elusan itu berlangsung, membiarkan kebohongannya diterima begitu saja, karena kadang, diam memang lebih mudah daripada menjelaskan luka yang tak pernah diakui keberadaannya.

Pandangan Pram kemudian jatuh pada map cokelat yang masih digenggam erat oleh adiknya, seolah benda itu satu-satunya alasan Rea masih berdiri tegak di tengah hari yang nyaris menghancurkannya.

Pram menghela napas kembali, lalu mengangkat wajah Rea perlahan dan mengusap sisa air mata di pipinya dengan ibu jari.

“Ayo,” katanya lembut, tapi tegas. “Kita antar dulu berkasnya ke Kadewa. Berkas itu penting. Dia juga lagi nungguin.”

Deg!

Dada Rea langsung terasa sesak. Bibirnya terbuka, ingin menolak. Ia ingin bilang kalau dirinya tidak sanggup. Tidak ingin melihat wajah Kadewa. Tidak ingin berpura-pura baik-baik saja.

Namun kalimat itu tertahan di tenggorokan.

Karena Pram bilang berkas itu penting.

Karena Rea sudah terlanjur ada di sini.

Dan karena, seperti biasa, ia memilih menyingkirkan perasaannya sendiri.

Rea menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Mas,” jawabnya lirih.

Pram membawa Rea kembali pangkalan pendidikan angkatan laut. Mobil Fortuner putih miliknya kini terparkir tepat di depan gerbang pangkalan, lampu-lampu jalan menyala temaram di bawah langit malam yang menggantung berat.

"Turun yuk, ketemu Kadewa bentar," ajak Pram pelan, menoleh ke arah kursi penumpang.

Rea menggeleng kuat. Ia meringkuk di kursi penumpang, memalingkan wajah ke arah jendela. "Nggak mau." jawabnya lirih tapi tegas

"Mas aja yang keluar. Aku capek."

Pram menatap adiknya sejenak. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, tapi ia menelannya bulat-bulat. Lalu ia menghela napas panjang, membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

Kadewa sudah berdiri di dekat gerbang, wajahnya tampak tegang sejak melihat mobil Pram berhenti. Begitu Pram mendekat, Kadewa langsung menghampirinya.

“Nih berkasnya,” kata Pram sambil menyerahkan map cokelat itu. “Maaf telat banget.”

Kadewa menerimanya, jari-jarinya mencengkeram map itu tanpa sadar. Namun matanya justru melirik ke arah mobil yang kacanya gelap di seberang jalan.

"Rea udah ketemu? Dia kenapa? Dia beneran nyasar?" Rentetan pertanyaan Kadewa langsung menyerbu Pram.

Pram mengangguk pelan. Wajahnya lelah, penuh rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan lagi.

“Iya,” jawabnya singkat. “Dia capek. Kaget. Dan… Wa, aku juga salah. Gak seharusnya aku nyuruh Rea buat nganter berkasmu ke sini sendirian.”

Kadewa mengernyit. Ada rasa tak nyaman yang langsung menjalar di dadanya dan feeling nya sejak tadi mengira sesuatu telah terjadi pada Rea ternyata benar.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah mendekati mobil. Sepasang sendal jepit hitamnya berhenti tepat di samping pintu penumpang.

Ia mengetuk kaca jendela pelan.

“Re?” panggilnya, suaranya rendah, nyaris tertahan.

Di balik kaca gelap itu, hanya ada keheningan dan seorang gadis yang sedang menatapnya, dengan meneteskan air mata kembali.

Sesakit itu ternyata rasanya hanya karena menatap wajah yang dulu mampu mengobrak-abrik perasaannya.

Rea mencoba menarik nafas panjang, menghapus air matanya dan berusaha keras mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menurunakn kaca jendela.

Dan...

Sret!

Kaca jendela turun sedikit. Hanya cukup untuk menampakkan sepasang mata yang merah dan bengkak.

Rea tidak sanggup memperlihatkan wajahnya yang berantakan pada Kadewa. Pusat patah hatinya.

"Kamu kenapa? Nyasar ya?" tanya Kadewa lembut, suaranya penuh perhatian yang justru membuat hati Rea semakin perih.

Matanya menatap Rea penuh iba, tatapan yang tak sekalipun Rea inginkan dari laki-laki itu.

Rea lantas segera mengalihkan pandangannya ke mana saja asal tidak ke wajah Kadewa.

Ia tak sanggup, bisa-bisa air matanya luruh kembali.

“Iya, Mas. Aku kesasar. Jauh banget.” Suaranya kali ini pun ikut berubah, terdengar datar, dingin, seolah tidak menyisakan ruang untuk apa pun.

Kadewa tertegun. Ada sesuatu yang terasa berbeda, bukan dari kata-katanya, tapi dari cara Rea berbicara padanya. Belum pernah sekalipun Rea berbicara sedingin ini padanya.

“Maaf ya, Mas,” lanjut Rea pelan, sebelum perasaannya sempat bocor. “Aku bikin khawatir.”

Lalu kaca jendela itu naik kembali. Rapat. Menutup percakapan. Menutup jarak. Menutup segala sesuatu yang tak pernah benar-benar ia miliki.

Kadewa masih berdiri di tempatnya beberapa detik, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca gelap itu, dengan perasaan yang tak sempat ia pahami.

Apa yang terjadi pada Rea?

Malam itu, di dalam mobil yang melaju pulang, Rea memejamkan mata. Di balik kelopak yang basah, ia membatin pelan,

Aku memang kesasar, Mas Paus.

Aku kesasar di hati orang yang gak pernah punya ruang untuk aku.

_______________

Begitu tiba di rumah, Pram bahkan belum sempat melepas sepatu.

Umma dan Baba sudah berdiri di ruang tamu, menunggunya dengan wajah tegang. Dan begitu mereka melihat Rea masuk lebih dulu, langkahnya pelan, tubuh yang tampak lembab, pundaknya turun, mata sembab, wajahnya pucat seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, pertanyaan pun meledak tanpa jeda.

“Rea kenapa?”

“Kamu ke mana aja, Dek?”

“Ini maksudnya apa, Pram?”

“Adikmu kenapa?”

Pram berdiri kaku di hadapan mereka, napasnya terasa berat. Ia melihat Rea sekilas, adiknya tidak lagi menangis keras, tidak ada air mata yang keluar, tidak mengaduh seperti biasa jika ia berbuat jahil. Rea hanya diam. Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Lalu tanpa menunggu Pram menjalaskan apa yang terjadi, Rea naik ke lantai atas tanpa sepatah kata pun.

Semua mata di sana mengikuti pergerakannya sampai anak bungsu keluarga itu menghilang di ujung tangga.

Barulah setelah itu Pram mulai bicara.

Ia menceritakan semuanya. Dari berkas Kadewa yang tertinggal. Dari permintaannya pada Rea. Dari perjalanan ke Bumi Moro. Dari telepon Kadewa. Dari kenyataan bahwa Rea sempat hilang berjam-jam.

Dan untuk pertama kalinya, Pram tidak membela diri.

“Aku salah, Ma, Ba,” ucapnya pelan. “Harusnya aku nggak nyuruh Rea kesana. Harusnya aku yang tanggung jawab.”

Ruangan itu sunyi sesaat.

Lalu amarah pun tumpah.

Umma Hasnah menangis sambil memarahi. Baba Aditya bicara dengan suara rendah tapi tajam, jenis kemarahan yang justru lebih menakutkan. Tidak ada teriakan berlebihan, tapi setiap kalimatnya menghantam tepat ke dada.

Hukuman dijatuhkan tanpa banyak diskusi.

Kunci mobil dan motor Pram disita.

Ia diwajibkan naik taksi atau transportasi umum selama tiga bulan.

Dan yang paling kejam adalah uang jajannya dipotong setengah.

Biasanya, untuk hal-hal sepele, seperti mengusili Rea, pulang terlambat, atau melanggar jam malam, Pram pasti akan protes kalau di beri hukuman sebegitu banyakany. Ia pasti membela diri. Menggerutu.

Agar setidaknya hanya satu hukum tersia.

Tapi tidak kali ini.

Kali ini ia hanya mengangguk.

Ia tahu, ini hukuman yang pantas untuknya. Ini konsekuensi karena sudah membuat adiknya kesasar.

Menurut Pram.

Sementara itu, di lantai atas, Rea sudah menutup pintu kamarnya.

Ia berdiri diam beberapa detik, lalu melangkah mendekat ke ranjang. Di sana, dua boneka tersusun rapi, boneka paus bertopi pelaut dan boneka anak ayam kecil berwarna kuning.

Teman-temannya selama beberapa bulan terakhir.

Saksi bisu dari perasaan yang tak pernah ia ucapkan dengan suara.

Rea duduk perlahan di tepi ranjang.

Air mata yang tadi ia kira sudah kering akhirnya luruh lagi. Jatuh satu per satu, membasahi punggung boneka paus itu. Tangisnya tidak meledak, justru tertahan, sunyi, dan menyakitkan.

Mengingat senyum Kadewa di mall.

Mengingat perhatian yang ternyata tak pernah istimewa.

Mengingat bagaimana ia berdiri di pinggir jalan, menyaksikan hatinya sendiri patah tanpa sempat diselamatkan.

Rea memeluk boneka itu erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar.

Beberapa perasaan memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki.

Hanya untuk dirasakan…

lalu ditinggalkan.

Rea menunduk, menarik salah satu kardus yang ada di bawah ranjangnya, yang di dalamnya terdapat beberapa buku sekolah yang sudah tidak terpakai lagi, sebenarnya ia akan taruh ke gudang tapi karena masih ada beberapa buku yang harus ia ulang mejelang ujian, Rea urung dan menyimpannya di bawah ranjang.

Ia menatap dua boneka itu lagi, lalu memeluknya sejenak, membiarkan perih di dadanya mereda walau hanya sebentar.

Namun sebelum benar-benar memasukkan keduanya ke dalam kardus, ia berjalan ke meja belajarnya.

Tangannya membuka laci perlahan, seolah takut suara gesernya akan membongkar terlalu banyak kenangan. Dari dalam sana, ia menarik sebuah buku harian, diary bersampul putih bergambar kucing dan kelinci, sudah sedikit kusam di sudut-sudutnya.

Diary itu menyimpan terlalu banyak cerita tentang Kadewa.

Tentang nama yang ditulis berulang-ulang.

Tentang hari-hari ketika ia jatuh cinta sendirian, tanpa pernah berani berharap.

Rea menatapnya lama.

“Makasih… udah pernah bikin aku sebahagia itu,” ucapnya pelan, entah ditujukan pada diary itu, atau pada kenangan di dalamnya.

Lalu, dengan napas yang bergetar, ia membawa diary itu kembali ke ranjang, bersama dua boneka dan seluruh perasaan yang selama ini ia simpan rapat-rapat sendirian.

Ia memeluk ketiganya sekaligus. Air mata kembali mengalir, membasahi pipinya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Rea akhirnya memasukkan tiga benda itu ke dalam kardus.

Kali ini, ia benar-benar menutup cerita tentang cinta pertamanya yang ia simpan sejak kelas satu SMP hingga kelas tiga SMA.

Ia menutup cerita tentang Kadewa…

dalam hidupnya.

Rea menutup kardus itu perlahan, lalu mendorongnya kembali ke bawah ranjang dan besok akan ia pindahkan ke gudang belakang.

Kamar pun kembali sunyi.

Tidak ada lagi boneka di atas bantal. Tidak ada lagi diary di meja belajar. Yang tersisa hanya sprei rapi dan ruang kosong yang terasa jauh lebih luas dari sebelumnya.

Malam itu, Rea tidur lebih cepat dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena ia ingin hari itu segera selesai. Ia memejamkan mata dengan punggung menghadap jendela, membiarkan suara kota Surabaya meredup perlahan di balik kesadarannya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, nama Kadewa tidak ia bisikkan dalam doa sebelum tidur.

1
'Nchie
susah banget ya sama2 py tugas yg g bisa di tinggalkan...sabar re ada waktunya nanti bisa kumpul lagi
syora
kadang moment ksmcil sprti ini bth sdkt pngorban krna sm" sibuk dgn pkrjaan
sehat" ya baba skluarga bgtu jg dgn rea dan smoga dhari miladnya rea,kadewa bisa mnani dan mnyeleaaikan tugas dgn keadaan selamat tnpa kurang apapun
Esti 523
nyesek bgt yah,rea ibarat per
mata di anatara kelg
Mbok'e AHB
jd kangen papaku rahimahullah
Ghiffari Zaka
kok AQ yg tegang to ......ih horor ini mah....AQ berasa nonton film bukan baca,ah pokoknya bab ini tegang dan the best lah 🥰🥰🥰🥰🥰
'Nchie
entah memang panjang banget atau emang karena tegang bacanyajadi lama🤭
Niken Dwi Handayani
Berapa kata ya dibab ini ? berasa panjaaaaaang banget 😍 senang disaya 😄🙏
Niken Dwi Handayani: Wuidih...👏👏👏👏 👍👍 tetap memberikan yang terbaik untuk para pembaca yang hanya bisa ngasih like, koment, gift.
total 2 replies
Mbok'e AHB
duh author kok paham istilah2 semua matra👍
Chika cha: ada yang ajarin kak🤗
total 1 replies
Yayu Rulia
karya yg selalu bagus othor kesayanganku
Yayu Rulia
aaiih mulai deg degan othor..semangat trs updateny..💪
Yayu Rulia
othooor jgn menyerah tetap update ya 💪
syora
mulai mode tremor nih
apapun itu rencana tuhan smoga misi brhasil dan kmbli dgn slamat
jgn lp brdoa ya rea tuk pausmu juga
Yayu Rulia
jgn lah thooor..
Yayu Rulia
masih othor..slesain satu2 thor
Yayu Rulia
uhuuu othor kesayangan ku tayang lgi..
'Nchie
sabar ya re..doain mas paus mu kembali dengan selamat
Nia nurhayati
ea eaaa cie cieee komandannnnn 😂😂 dasar pasukan kamu tuu lucnut semua ya mas pausss
Chusnul Chotimah
semoga misi lancar ya bang,,hati2 bang pulang dgn utuh ya
Chusnul Chotimah
pasti sedih x ya Re,,,resiko pacaran sama anak ibu Pertiwi
syora
sedih pasti ada,
wajar nmnya jg baru mlewati ms" prang dingin hingga mnjadi couple
tp smntra yg pnting sling support dan mendoakan st sm yang lain smoga sgla sesuatu dlncarkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!