Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Positif Hamil!
Ini adalah kisah tentang seorang pria yang diberi kesempatan kedua, setelah dosanya membuat wanita yang mencintainya memilih mati.
❀
Renan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di sebuah kafe.
Aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi udara, bercampur desis mesin espresso dan cahaya lampu gantung yang hangat. Semua terasa begitu nyata. Terlalu nyata. Namun, bukan suasana itu yang membuat napasnya tercekat.
Melainkan sosok di depannya.
Benarkah ini? Apakah ia bermimpi?
Tidak. Ia seharusnya sudah mati. Lalu bagaimana mungkin ia ada di sini?
Seorang gadis muda duduk diam, memeluk secangkir susu hangat seolah itu satu-satunya sumber kehangatan yang tersisa dalam hidupnya. Mata Ayuna tampak lelah, rapuh, kosong dan penuh penyerahan diri.
Renan mengalihkan pandangan, menatap selembar kertas di tangannya.
Dua kata besar di atas laporan itu seakan menghantam dadanya:
POSITIF HAMIL.
Udara seolah menguap dari paru-parunya. Dunia di sekitarnya memudar, suara menghilang satu per satu. Ia mengenali momen ini. Ia tahu apa yang akan dilakukannya. Kata-kata kejam apa yang akan keluar dari mulutnya. Dan ke mana semua ini akan berakhir. Bukan hanya untuk Ayuna, tetapi juga untuk dirinya dan seluruh hidupnya.
Tangannya bergetar saat ia memaksakan diri berdiri.
“Aku ke kamar mandi dulu,” suaranya parau, lebih parau dari yang ia bayangkan.
Ayuna menunduk. Wajahnya tenang, tapi ketenangan itu seperti ketidakberdayaan yang telah lama tertahan. Ia bahkan tidak bertanya. Tidak menahan. Tidak berharap.
Dada Renan perih. Namun kali ini, langkahnya menuju kamar mandi bukan langkah ringan seorang pria yang ingin lari. Setiap jejak menekan kembali seluruh dosa masa lalunya ke dalam tubuh ini.
Ayuna menatap punggung Renan menjauh.
Pria itu tampak sama seperti biasanya: punggung tegak, berjalan lurus, wajah yang selalu membuat orang lain percaya ia baik-baik saja.
Tapi Ayuna tahu. Semua itu hanya tampilan luar.
Ia menunduk, jemarinya perlahan menyentuh perutnya yang masih rata. Belum ada yang berubah. Tapi, sebuah kehidupan di dalam sana sudah mulai tumbuh. Dan ia belum tahu apakah dunia ini cukup ramah untuk menyambutnya.
“Nak, apakah Papamu akan menerimamu?”
Ayuna menutup mata, menahan rasa perih dan panas yang hendak keluar. Ia tidak membenci Renan. Jika membenci, hatinya masih memiliki energi untuk berteriak. Yang ia rasakan hanyalah lelah. Lelah berharap. Lelah menunggu. Lelah meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
❀
Di dalam kamar mandi, Renan bersandar pada wastafel. Air dingin mengalir, tapi tubuhnya tetap terbakar rasa bersalah dan ketakutan.
Ia menatap bayangannya di cermin.
Wajah itu masih sama: tampan, muda, angkuh. Wajah seorang pria yang dulu tidak tahu arti bertanggung jawab, yang hanya tahu menyakiti.
Namun sorot matanya kini berbeda. Ada luka. Luka yang hanya dimiliki seseorang yang pernah kehilangan segalanya. Keluarga, harga diri, martabat, bahkan nyawanya sendiri.
“Jadi, aku benar-benar kembali ke sini,” gumamnya lirih.
Apakah ini berkah atau kutukan?
Bayangan samar itu datang bersama debu semen yang menusuk hidungnya, suara tangga berderak, dan hentakan tubuhnya menghantam lantai dingin. Detik terakhir sebelum gelap, ia tahu hidupnya berakhir bukan karena waktu. Tapi, karena dosa yang menuntut balas.
Ayuna Hanindiya.
Gadis yang awalnya hanya ia dekati demi tantangan. Gadis yang akhirnya mencintainya sepenuh hati. Gadis yang ia hancurkan hingga kehilangan alasan untuk hidup.
Tangannya mengepal.
“Mungkin aku sudah terlambat menebus hidupku,” napasnya gemetar.
“Tapi setidaknya kamu tidak boleh mati lagi, Ayuna.”
Ia menatap bayangannya di cermin. Ada luka, ada kebingungan, seolah ia sendiri tidak yakin siapa dirinya sekarang.
“Renan Morris…” gumamnya lirih.
“Kamu pernah jadi bajingan. Tapi apakah kali ini bisa berbeda?”
Air mengalir dari keran, dingin, namun tidak cukup untuk menenangkan api di dadanya.
Ia menunduk, napasnya berat.
Apakah ini kesempatan kedua? Atau sekadar kutukan yang akan mengulang luka lama?
❀❀❀
Renan keluar dari kamar mandi. Beberapa langkah sebelum tiba di meja mereka, ia terhenti.
Dari kejauhan, ia melihat punggung kecil Ayuna. Duduk sendirian di tengah keramaian, rapuh, terasing. Seolah dunia telah lama meninggalkannya.
Tiba-tiba masa lalu menabraknya. Bukan sekadar ingatan, melainkan sesuatu yang hidup, menyayat, dan mematikan napas. Dunia di hadapannya seolah berganti.
Keramaian kafe memudar. Lampu gantung yang hangat seolah meredup, berganti cahaya dingin dari masa lalu.
Renan melihat bayangan masa lalu. Ia ingat dirinya berdiri dengan dagu terangkat, suara dingin menusuk hati Ayuna.
“Aku tidak bisa menikahimu,” katanya waktu itu. “Kita berbeda dunia.”
Ayuna hanya menatapnya, mata penuh luka. Diamnya lebih menyakitkan dari apa pun.
Renan menutup mata. Ia tahu bagaimana akhirnya semua itu berujung pada Ayuna pergi, meninggalkan dunia dengan hati yang hancur.
Sejak hari itu, seluruh hidup Renan hancur.
Renan terhuyung, napas memburu. Kebencian terhadap dirinya sendiri nyaris membuatnya mual.
Punggung Ayuna masih menghadapnya, kecil dan rapuh. Ia tidak menangis, tidak bergerak, kelelahan telah menghabiskan seluruh reaksinya. Dan itu yang paling menakutkan.
Jika Ayuna menangis, mungkin ia masih berharap.
Jika ia marah, mungkin ia masih ingin bertahan.
Namun perempuan itu hanya duduk diam. Seperti seseorang yang menyiapkan diri untuk ditinggalkan.
Renan menelan ludah. Ia sadar dengan jelas, menikahi Ayuna tidak akan menghapus dosa.
Tidak akan menghidupkan kembali kehidupan yang telah ia hancurkan.
Tidak akan membuat Ayuna langsung percaya atau merasa aman.
Bahkan mungkin, Ayuna tidak akan pernah benar-benar memaafkannya. Dan itu adil.
Jika pernikahan ini hanyalah cara untuk menenangkan nuraninya sendiri, ia tidak lebih baik dari pria yang dulu.
Namun jika ia melangkah pergi hari ini, ia menjadi pembunuh yang sama, hanya dengan cara berbeda.
Renan menghembuskan napas panjang.
Kali ini, ia tidak mencari jalan keluar. Tidak mencari pembenaran. Tidak berharap dimaafkan.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia tidak akan membiarkan Ayuna menanggung semuanya sendirian lagi.
Langkahnya terasa berat.
Apa pun harga yang harus ia bayar.
❀❀❀
Ayuna duduk termenung menatap lalu lintas di luar jendela, tangannya menggenggam cangkir yang sudah kehilangan hangatnya.
“Ayo pergi.”
Suara itu membuatnya tersentak. Ia menoleh pelan.
“Mau… ke mana?” Suaranya serak, entah sudah berapa lama ia menangis tanpa disadari.
Renan tidak menjawab. Ia hanya meraih tangan Ayuna dan menuntunnya pergi.
“Pak, Anda belum membayar!” seru pelayan.
Renan mengeluarkan dua lembar seratus ribu, meletakkannya tanpa bicara.
“Uangnya kembaliannya tip untukmu.”
Pelayan membungkuk cepat, mata berbinar. “Terima kasih, Pak. Silahkan datang lagi.”
Namun Ayuna tetap diam. Mengikuti Renan seperti seseorang yang telah kehabisan tenaga untuk melawan.
Renan memasukkannya ke mobil. Mesin menyala. Mobil melaju.
“Apakah kamu benar-benar terburu-buru?” suara Ayuna pecah pelan.
“Apakah kamu ingin mengakhiri semuanya?" Tangan Ayuna reflek menyentuh perutnya. "Atau kamu tidak ingin dia hadir di dunia ini?”
Ciiiit!
Mobil berhenti mendadak, suara rem mencicit memecah keheningan.
Renan menoleh, sorot matanya terguncang. “Apakah itu yang kamu pikirkan tentangku?” suaranya pecah, rendah, penuh luka.
Ayuna menatapnya. Pandangannya kosong, senyum getir nyaris tak terbentuk. “Aku tidak mengerti, mungkin kamu benar. Orang sepertiku memang tidak pantas dicintai.”
Kalimat itu lirih, seperti bisikan yang lebih tajam daripada teriakan.
Dada Renan terasa ditebas pisau. Ia menelan napas berat, lalu menggenggam tangan Ayuna lebih erat, seakan ingin menyalurkan seluruh tekad yang tersisa.
“Ayuna…” suaranya rendah, pecah, tapi sungguh-sungguh.
“Aku tahu aku sudah menghancurkan segalanya. Tapi, kali ini aku tidak akan lari. Ayo kita menikah.”
Ayuna menatapnya lama. Terlalu lama, hingga udara di dalam mobil terasa menekan.
Ia akhirnya menunduk pelan, jemarinya terlepas dari genggaman Renan.
Renan menahan napas, tidak tahu apakah kata-kata itu akan menyelamatkan mereka atau justru membuka luka yang lebih dalam.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta