NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Perpisahan yang Menguatkan

Pagi itu, halaman dalam istana dipenuhi cahaya lembut matahari.

Tidak ada upacara besar.

Tidak ada musik megah.

Hanya barisan pengawal kehormatan, beberapa pelayan setia, dan Kaisar Shen yang berdiri tegak di depan gerbang dalam.

Di hadapannya, dua kereta sederhana telah disiapkan.

Selir Li dan Selir Zhang berdiri berdampingan, mengenakan pakaian anggun namun tidak lagi seperti selir istana. Warna mereka lembut, wajah mereka ringan—bukan wajah perempuan yang meninggalkan istana dengan luka, tapi perempuan yang akhirnya pulang membawa masa depan.

Song An berdiri di depan mereka.

Tak ada kata-kata dulu.

Selir Zhang yang pertama memeluknya.

Pelukan itu erat. Lama. Seperti takut kalau dilepas, semuanya akan berubah terlalu cepat.

“Kita benar-benar pergi…” bisiknya dengan suara bergetar.

Song An mengangguk pelan di bahunya. “Iya. Dan kalian akan baik-baik saja.”

Selir Li ikut memeluk dari samping, membuat mereka bertiga saling berpegangan seperti dulu saat bersembunyi dari masalah bersama.

“Kalau suatu hari kita bertemu lagi di pasar…” kata Selir Li pelan,

“jangan pura-pura tidak kenal.”

Song An terkekeh kecil meski matanya basah.

“Aku akan pura-pura jadi pelanggan yang minta diskon.”

Selir Zhang tertawa sambil menangis. “Kau memang tidak berubah.”

Mereka saling menghapus air mata satu sama lain, tertawa di sela tangis kecil.

Bukan tangis kehilangan.

Tapi tangis karena perjalanan yang mereka lalui bersama akhirnya membawa mereka ke pintu yang berbeda.

Pelepasan Seorang Kaisar

Kaisar Shen melangkah maju.

Semua pengawal menunduk hormat.

Selir Li dan Selir Zhang ikut berlutut, tapi Kaisar segera mengangkat tangan.

“Tidak perlu.”

Suaranya tenang, tapi dalam.

“Kalian meninggalkan istana bukan sebagai selir yang gagal,

melainkan sebagai perempuan pemberani yang membantu menyelamatkan negeri ini.”

Mata Selir Li langsung berkaca-kaca lagi.

“Mulai hari ini,” lanjut Kaisar,

“nama keluarga kalian dipulihkan sepenuhnya. Tanah dan harta yang dijanjikan akan dikirim menyusul. Tak seorang pun boleh mengganggu hidup kalian.”

Selir Zhang menunduk dalam. “Terima kasih, Yang Mulia.”

Kaisar mengangguk pelan.

“Pergilah. Hidup dengan cara yang kalian pilih sendiri.”

Mereka naik ke kereta.

Tirai tertutup perlahan.

Roda mulai bergerak.

Song An berdiri diam sampai kereta itu benar-benar menghilang di tikungan jalan istana.

Baru setelah itu ia menghela napas panjang.

“Sepi sekarang,” gumamnya.

Kaisar yang berdiri di sampingnya menjawab pelan,

“Ya… sangat sepi.”

-----

Hari-hari setelah itu berjalan cepat.

Kaisar Shen tenggelam dalam pekerjaan.

Ruang sidang hampir tak pernah kosong. Peraturan baru dibuat. Pejabat lama yang korup diganti. Sistem pengawasan logistik diperketat. Jalur komunikasi militer diperbarui.

Istana yang dulu penuh intrik kini seperti dibongkar dan dibangun ulang dari fondasi.

Para menteri kewalahan mengikuti ritme Kaisar.

“Yang Mulia seperti tidak pernah lelah,” bisik salah satu pejabat.

Yang mereka tidak tahu jika kesibukan itu adalah caranya menahan rasa sunyi.

Karena setiap kali malam turun…

tidak ada lagi tawa tiga orang di paviliun.

Tidak ada lagi perdebatan kecil soal camilan.

Tidak ada lagi suara Song An, Selir Li, dan Selir Zhang berbicara bersamaan.

Sekarang hanya lorong panjang dan lampu minyak yang sunyi.

Malam yang Terlalu Tenang

Malam itu, Kaisar Shen berdiri sendirian di balkon ruang kerjanya.

Angin dingin menyentuh wajahnya, tapi ia tidak bergerak.

Pikirannya justru lebih berisik dari istana.

Li sudah pergi.

Zhang sudah pergi.

Dan suatu hari nanti…

Song An juga akan pergi.

Dada Kaisar terasa berat.

Ia sudah berjanji akan memberi kebebasan pada mereka.

Dan ia tidak pernah menyesali janji itu.

Tapi sekarang ia baru sadar janji yang benar tetap bisa terasa menyakitkan.

“Aku ini Kaisar,” gumamnya pelan pada malam.“Kenapa masih takut ditinggalkan…”

“Karena Yang Mulia manusia.”Suara itu datang dari belakang.

Kaisar berbalik cepat.

Song An berdiri di ambang pintu, membawa teko teh kecil seperti biasa.

Ia masuk santai, menuang teh tanpa menunggu izin.

“Kau belum tidur?” tanya Kaisar.

“Kau juga,” jawab Song An ringan.

Mereka duduk berhadapan.

Tidak ada meja besar. Tidak ada pelayan.

Hanya dua cangkir teh mengepul di antara mereka.

Kesalahpahaman Sunyi

Kaisar menatapnya lama.

“Aku kira…” ia berhenti sejenak,

“kau datang untuk berpamitan.”

Song An mengangkat alis. “Pamit ke mana?”

“Ke kehidupan yang kau inginkan.” Jawab kaisar Shen

Song An terdiam sebentar. Lalu tiba-tiba ia berdiri.

Kaisar belum sempat bereaksi saat Song An melangkah mendekat dan memeluknya.

Pelukan itu tidak ragu, tidak canggung hanya ada hangat. Nyata.

Tubuh Kaisar langsung membeku.

Tangannya menggantung kaku beberapa detik, seolah otaknya lupa cara bergerak.

Song An bersandar di dadanya santai, seperti itu hal paling wajar di dunia.“Siapa bilang aku mau pergi?” katanya pelan.

Jantung Kaisar berdetak keras.“Song An…”

“Aku pernah hidup tanpa tujuan,” lanjutnya lembut.“Lalu terjebak di istana yang penuh kepalsuan. Kupikir hidupku akan habis begitu saja.”

Ia mengangkat wajah, menatapnya lurus.“Tapi di sini… aku memilih tinggal. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takdir.” song an menatap Kaisar Shen lembut “Karena aku mau.”Suara malam terasa hilang.

Yang terdengar hanya napas mereka.

“Aku mau tetap di sisimu,” kata Song An pelan,“membangun kembali kekaisaran ini. Melihatnya berubah. Melihat rakyat hidup lebih baik.”Ia tersenyum kecil.“Dan memastikan kau tidak bekerja sampai lupa makan.”

Tangan Kaisar akhirnya bergerak.

Ia memeluknya balik pelan, hati-hati, seolah takut ini mimpi.

Matanya panas.“Aku…” suaranya serak,“aku sudah siap melepasmu… kalau itu yang membuatmu bahagia.”

Song An terkekeh pelan.“Siapa suruh kau memutuskan sendiri tanpa tanya aku?”

Air mata akhirnya jatuh juga dari mata Kaisar.

Bukan air mata kelemahan.

Tapi air mata seseorang yang terlalu lama kuat sendirian.

Janji di Bawah Cahaya Lampu

Kaisar memegang bahu Song An, menatapnya dengan mata masih basah.“Kalau kau tinggal… maka tidak akan ada selir lain.”

Song An berkedip. “Hah?”

“Aku tidak ingin harem penuh lagi,” lanjut Kaisar Shen tegas.“Tidak ingin perempuan-perempuan dipaksa masuk istana demi politik.”

Ia menarik napas dalam.“Aku ingin kau menjadi satu-satunya permaisuri.”

Sunyi sebentar.

Song An menatapnya lama.“Keputusan besar begitu jangan dibuat karena terharu,” katanya pelan.

“Aku sudah memikirkannya lama,” jawab Kaisar.“Negeri ini butuh perubahan. Dan perubahan harus dimulai dari istana.”

Song An tersenyum pelan.“Baiklah,” katanya ringan,“tapi kalau nanti kau menyebalkan, aku tetap akan marah.”

Kaisar tertawa kecil di sela air mata.“Itu hakmu.”

Mereka berdiri di sana cukup lama, saling berpelukan di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan.

Di luar, istana tetap sunyi.

Tapi bukan lagi sunyi yang kosong.

Melainkan sunyi yang tenang.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua badai berlalu—

bukan hanya negeri yang menemukan arah baru.

Hati Kaisar pun akhirnya menemukan seseorang

yang memilih tinggal bukan karena kewajiban…

melainkan karena ingin berjalan bersamanya.

Dan di malam itu,

awal baru benar-benar dimulai.

Bersambung

1
Mineaa
ya Ampuuunnn.....raja permaisuri..... slow banget sich kalian.....
kalau begini kapan babby launching nya.....
Naviah
lanjut thor
Endang Sulistia
sama2 kabur..🤭🤭🤭
Endang Sulistia
kasian..🤭🤭
Wulan Sari
permaisuri Song An is the best cara berfikirnya 👍........ monggo di lanjut Thor semangat 💪❤️ salam
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wahyuningsih
q mampir thor..... thir buat song an badaz abiz bla oerlu dpt bonus ruang dimensi biar mkin sru n keren 😄😄😄
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Eka Haslinda
akhirnya.. calon permaisuri sdh dipilih 👍👍
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!