Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Zayyan dan Alex
Sebening embun pagi, Zayyan yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya hanya bisa menatap heran pada sang ayah. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya itu selalu saja menangis setiap kali melihat kuburan kucing nya yang berada di halaman depan rumahnya. Iya benar, hanya kuburan kucing yang sudah ada sejak Zayyan kecil dan ritual menangis di depan kuburan itu selalu ayahnya lakukan setiap hari.
"Kuburan kucing di nangisin mulu, Ayah lebih sayang sama anak atau sama kucing, sih?"
"Jelas ayah lebih sayang sama kucing." Jawabnya tanpa menoleh.
"AYAHHH... Zay baru pulang kerumah lho, emang nggak kangen apa?"
Zayyan yang tidak terima dengan ucapan sang ayah ia menghentakkan kakinya sebagai bentuk protes.
Arjuna—Ayah kandung dari Zayyan terkekeh sambil mengusap air matanya, ia menoleh ke arah sang anak yang kini tengah menatapnya sengit, jelas sekali tidak suka dengan jawaban yang baru saja ia ucapkan.
"Gundul itu saksi cintanya ayah, bahkan pas buat kamu juga di saksikan sama Gundul, makannya pas gundul game over, ayah jadi kehilangan semangat hidup," tuturnya dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Game over apaan? Bilang aja mati, nggak usah pake bahasa aneh-aneh," protesnya, "Lagian ayah tau kan kalau aku alergi sama bulu? Kenapa ayah ngotot buat besarin cucunya Gundul?"
Bukan apa-apa, Zayyan memang alergi dengan bulu, namun sayangnya, sang ayah justru memelihara kucing di paviliun belakang. Bahkan terkadang alerginya muncul karena ayahnya itu lupa membersihkan bulu-bulu kucing yang menempel pada bajunya, alhasil ia lah yang akan bersin sepanjang hari.
Makannya itu Zayyan tidak betah tinggal dirumah nya, ia lebih suka tinggal di basecamp.
Ketika pulang kerumah mungkin hanya beberapa hari saja setelah itu balik lagi basecamp.
"Siapa suruh punya alergi? Ayahnya suka yang berbulu kok anaknya malah alergi sama bulu? Wahhh… jangan-jangan kamu bukan anaknya ayah," ledeknya.
Meskipun candaan seperti itu sudah sering Arjuna ucapkan, Zayyan tetap saja merasa kesal. Ia merasa tersaingi oleh kucing-kucing peliharaan sang ayah, terkadang otak liciknya ingin sekali membuang makhluk berbulu itu, namun ia juga tidak tega jika melihat ayahnya menangis.
Ah, benar-benar membuatnya dilema.
"Ada apa nih pagi-pagi udah ribut aja?"
Tamara—ibu kandung Zayyan, berjalan mendekat sambil menenteng Lunch Box milik putranya.
"Ayah nih, nggak ada bosannya nangisin Gundul terus," adu Zayyan dengan bibir mengerucut.
Tamara hanya menggelengkan kepalanya saja, sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil yang terjadi antara anak dan ayah itu.
"Udah dong jangan ribut terus, baru juga anak kita pulang, kapan lagi coba Zayyan mau pulang kerumah."
"Ini lah alasan kenapa Zay nggak mau balik kerumah. Karena ayah sendiri yang nggak mau nurutin kemauan Zay. Padahal kan Zay cuman minta buang semua kucing peliharaan nya."
Arjun yang melihat keluhan dari sang anak langsung membulatkan matanya. "Dari pada ayah buang semua kucing ini, mending ayah buang kamu aja."
"AYAHHH..."
"Udah, jangan dengerin omongan ayah kamu, sekarang berangkat gih, udah siang."
Zayyan mengangguk, mengambil alih Lunch Box yang di bawakan oleh sang bunda. "Zay berangkat dulu."
...----------------...
Disisi lain, nampak seorang pemuda dengan rambut yang sedikit panjang keluar dari lift sambil membawa botol kaca berukuran sedang, pemuda tersebut berjalan menuju ke arah meja makan.
"Koleksi tuh cewek, bukan ikan hias kaya gitu," cibir Nazar Mahesa—Ayah kandung Alex Lingga Mahesa.
Alex yang mendengar cibiran sang ayah hanya bisa mengedikan bahunya tak acuh, ntah lah setiap kali ia pulang kerumah, ia selalu mendengar cibiran dari sang ayah tentang hobinya yang mengoleksi berbagai macam ikan hias.
Alex menarik kursi dan menjatuhkan pantatnya, meletakkan botol kaca berisi ikan hias miliknya di atas meja. "Nggak ada cewek yang menarik di mata aku."
Nazar berdecak, menyatukan tangannya sambil menatap putranya itu dengan malas, "Yang menarik di mata kamu cuman ikan-ikan peliharaan kamu itu?"
"Nah, itu papa tau."
"Makannya turunin standar kamu biar punya pacar."
Alex mengambil roti yang sudah disiapkan oleh sang mama, lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Kalau ada cewek yang bisa tahan napas berjam-jam di dalam air, aku bakal pacarin dia."
Nazar yang mendengar ucapan langsung dari sang ada hanya menganga tak percaya.
Tidak habis pikir dengan pikiran sang anak.
"Mau kamu cari ke ujung dunia sekalipun, nggak bakal nemu cewek yang kuat tahan napas berjam-jam di dalam air," ucap Nazar.
"Kamu lebih cocok jadi anaknya Arjuna daripada jadi anak papa."
Meyra yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran kecil antara ayah dan anak itu kini tertawa. "Jangan dengerin papa, lakukan apapun yang buat kamu senang."
Alex merasa menang, ia melirik ke arah sang ayah yang sudah memasang wajah kecut.
"Percuma punya muka ganteng tapi nggak pernah bawa cewek ke rumah, Huuu payah!" Seakan tidak puas, Nazar terus saja meledek putranya semata wayangnya itu.
Alex membuang nafas nya kasar, jenuh dengan ucapan sang ayah yang tidak pernah berubah. Selalu saja membahas tentang perempuan.
Itu lah kenapa Alex males sekali pulang kerumah nya, karena Nazar ayahnya itu selalu meminta Alex untuk segera mempunyai pasangan.