NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 2

Langit malam di atas Desa Xiamzi tak lagi berwarna hitam, melainkan jingga pekat yang mengerikan. Api berkobar liar, menjilat sisa-sisa bangunan kayu yang telah runtuh menjadi tumpukan arang. Atap rumah roboh satu per satu dengan dentuman keras, suara kayu yang patah beradu dengan derak api yang mengamuk layaknya monster kelaparan. Malam yang seharusnya sunyi dan damai kini berubah menjadi neraka terbuka yang memuntahkan maut.

Desa Xiamzi hampir sepenuhnya musnah. Mayat penduduk berserakan di jalanan tanah yang kini berubah hitam oleh jelaga dan genangan darah yang mengental. Udara terasa sangat menyesakkan; bau menyengat dari daging yang terbakar, aroma anyir darah segar, dan kepulan asap tebal menyelimuti atmosfer, membuat setiap tarikan nafas terasa berat dan menyiksa paru-paru.

Penduduk desa yang masih bertahan hidup meringkuk di balik puing-puing bangunan, memeluk satu sama lain dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan tertahan terdengar di sana-sini, bukan lagi sebuah jeritan meminta tolong, melainkan isak tangis putus asa dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya hanya dalam hitungan jam. Harta, rumah, dan keluarga mereka telah dirampas oleh kekejaman yang tak masuk akal.

Namun, di tengah-tengah kehancuran dan aroma kematian itu, muncul sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada api maupun pembantaian para perampok.

Seorang gadis muda berdiri dengan sangat tenang di tengah kobaran api yang menjulang tinggi. Gaun hitamnya yang legam berkibar pelan ditiup angin panas, rambut hitam panjangnya tergerai tanpa ikatan, menari-nari di antara percikan api.

Namun, yang paling mencolok dan mampu menghentikan detak jantung siapapun yang melihatnya adalah matanya. Merah darah. Tatapan itu sangat dingin, sangat dalam, dan sangat kosong, seolah-olah sang kematian sendiri tengah mewujud dalam bentuk fana untuk mengamati dunia.

Aura kematian yang pekat merembes dari tubuhnya secara alami. Udara di sekelilingnya mendadak terasa luar biasa berat, membuat dada siapa pun yang berada di radius dekat terasa sesak, seolah-olah leher mereka sedang dicekik oleh tangan-tangan tak kasat mata yang dingin.

Para perampok kelompok Tengkorak yang tersisa menelan ludah dengan wajah pucat pasi. Beberapa dari mereka, yang biasanya dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin, tanpa sadar melangkah mundur dengan tangan gemetar memegang senjata.

Penduduk desa pun merasakan kengerian yang sama. Di mata mereka, gadis ini bukanlah seorang penyelamat yang diutus langit, melainkan sosok yang jauh lebih menyeramkan daripada para pembantai yang baru saja menghancurkan desa mereka.

"Penampilan gadis ini... sangat familiar. Aku merasa pernah mendengar desas-desus tentang sosok gadis muda dengan kemampuan setinggi ini, tapi aku lupa dimana," gumam salah satu perampok dengan suara yang bergetar hebat, mencoba memeras ingatannya di tengah ketakutan.

Berbeda dengan anak buahnya, sang pemimpin perampok yang memegang kapak besar justru menyipitkan mata. Tatapannya bukan lagi ketakutan, melainkan sebuah perhitungan yang licik. Dalam kerasnya dunia persilatan, kekuatan selalu memiliki nilai yang lebih tinggi daripada moralitas. Baginya, gadis ini adalah aset yang luar biasa berbahaya, dan orang yang berbahaya selalu bisa menjadi sekutu yang menguntungkan.

"Ini adalah urusan internal kami, Nona," kata pria pemegang kapak itu dengan suara lantang, mencoba menutupi debaran jantungnya yang kian kencang. "Jika Nona ingin bergabung dan bersenang-senang, kelompok Tengkorak dengan senang hati akan membagi hasil rampasan kepada Nona."

Gadis itu sama sekali tidak memberikan jawaban. Ia justru berjalan perlahan melewati barisan perampok yang bersiaga. Langkah kakinya terasa sangat ringan, nyaris tanpa suara di atas tanah yang dipenuhi abu, menuju ke arah seorang nenek tua yang baru saja terlepas dari cengkeraman kasar para perampok.

Melihat sang gadis mendekat, nenek itu justru semakin ketakutan. Dua wanita dewasa dan seorang bocah kecil di sampingnya langsung memeluk tubuh renta sang nenek dengan erat. Mereka menatap gadis bermata merah itu dengan wajah pucat, bibir mereka membiru, siap untuk menjerit jika maut kembali menyerang mereka.

Gadis itu berhenti tepat di depan mereka.

"Kalian jangan takut," ucapnya dengan nada yang sangat lembut. Suaranya halus, hangat, dan penuh ketenangan yang menghanyutkan. Suara itu bertolak belakang sepenuhnya dengan aura kematian yang sedari tadi mencekam tempat itu. "Aku datang untuk menyelamatkan kalian semua."

Keluarga sang nenek tertegun. Mereka bisa merasakan bahwa nada suara itu bukanlah sebuah kebohongan atau tipu daya. Tidak ada niat membunuh yang diarahkan kepada mereka. Sebaliknya, mereka merasakan sebuah kedamaian aneh yang menyusup ke dalam hati, membuat air mata mereka mengalir tanpa sadar karena rasa lega yang luar biasa.

Gadis itu kemudian menoleh ke arah dua jasad pria penduduk desa yang tergeletak tak bernyawa di tanah, korban keganasan kapak perampok. Wajahnya tetap datar, namun sorot mata merahnya berubah menjadi lebih dingin, seolah-olah suhu di sekitarnya mendadak turun drastis.

"Carilah tempat yang aman," katanya tanpa menoleh kembali. "Sisanya, biar aku yang mengurusnya."

Sang nenek dan keluarganya saling berpandangan. Meski rasa takut masih tersisa, naluri bertahan hidup mereka mengatakan bahwa gadis ini adalah satu-satunya harapan mereka. Dengan langkah tergesa dan tubuh yang masih lemas, mereka segera menjauh dari pusat pembantaian.

"Brengsek!" teriak pemimpin perampok, merasa terhina. "Berani-beraninya kau mengabaikanku begitu saja, Jalang!"

Harga dirinya sebagai seorang pendekar yang ditakuti di wilayah ini merasa diinjak-injak oleh sikap acuh tak acuh gadis muda tersebut. Amarahnya meluap, menutupi akal sehat dan rasa takutnya.

"Bunuh gadis itu sekarang juga! Cincang tubuhnya!" serunya dengan suara menggelegar.

Belasan anggota perampok Tengkorak bergerak maju serempak. Senjata-senjata tajam mereka terangkat tinggi, berkilauan tertimpa cahaya api. Namun, meski mereka menyerang, wajah mereka jelas menunjukkan keraguan yang besar. Seseorang yang mampu mengintimidasi hanya dengan keberadaannya bukanlah lawan yang bisa diremehkan.

Namun, karena takut akan kemarahan pemimpin mereka, mereka terpaksa menerjang maju untuk menyerang sang gadis.

Gadis itu tetap berdiri tenang di posisi semula. Ia kemudian mengayunkan kipas hitam yang ada di genggamannya secara perlahan ke arah tanah. Tidak ada cahaya yang mencolok, tidak ada teriakan mantra yang memekakkan telinga. Hanya terdengar suara halus gesekan kipas dengan udara malam.

Seketika itu juga, batu-batu kerikil di tanah bergetar hebat sebelum akhirnya melesat ke udara dengan kecepatan yang tidak masuk akal, layaknya hujan peluru yang dimuntahkan dari senapan mesin.

"Arghh!"

Jeritan kematian bergema secara bersamaan di seluruh penjuru desa. Kerikil-kerikil kecil itu menembus tengkorak, jantung, leher, dan dada para perampok dengan akurasi yang mematikan. Darah segar muncrat ke udara, dan tubuh-tubuh para perampok itu terhempas ke tanah satu per satu tanpa sempat mendekati sang gadis barang satu langkah pun.

Dalam waktu yang sangat singkat, belasan nyawa telah melayang. Sang pemimpin perampok dan seorang pria berkumis yang memegang golok kini berdiri terpaku. Keringat dingin mengalir deras dari pelipis mereka, membasahi wajah yang kini dipenuhi kengerian murni. Membunuh belasan pendekar hanya dengan satu gerakan sederhana bukanlah kemampuan manusia normal.

"Si... siapa kau sebenarnya?" tanya pria bergolok itu dengan suara yang sangat bergetar, hampir menyerupai bisikan ketakutan.

Gadis itu melangkah maju. Setiap langkahnya terasa seperti lonceng kematian yang berdentang di telinga mereka. Tatapan mata merah itu seolah menembus langsung ke dalam jiwa, membongkar semua dosa yang pernah mereka lakukan, dan membuat lutut mereka gemetar tanpa bisa dikendalikan lagi.

"Kau adalah Pendekar Kapak Tengkorak yang terkenal itu, bukan?" tanya gadis itu pelan, suaranya terdengar merdu namun mematikan.

Tubuh pria besar itu langsung kaku seperti batu. "Be... benar," jawabnya dengan suara yang nyaris hilang.

"Kau sudah mengumpulkan terlalu banyak dosa di pundakmu," ucap sang gadis dengan nada menghakimi. "Malam ini, aku akan menyucikan jiwamu dari kotoran-kotoran itu."

"Apa maksudmu...!"

Belum sempat kalimat itu terselesaikan, tubuh gadis itu lenyap dari pandangan secara tiba-tiba. Ia muncul tepat di depan sang pemimpin perampok seperti bayangan maut yang melintasi dimensi. Tangannya yang kecil, putih, dan bersih mencengkeram kepala pria besar itu dengan kuat. Seketika, energi hitam pekat yang dingin keluar seperti asap tebal, membungkus seluruh tubuh sang pendekar kapak.

"Arghhh... GAKKK!"

Jeritan penderitaan yang sangat menyiksa terdengar singkat namun memilukan. Setelah itu, suasana kembali menjadi sunyi senyap.

Ketika asap hitam itu menghilang tertiup angin, yang tersisa hanyalah tubuh kering yang sangat mengenaskan menyerupai tengkorak berbalut kulit. Kulitnya mengerut dan menghitam seperti mayat yang telah terkubur selama puluhan tahun. Semua energi kehidupan dan darahnya telah sirna dalam sekejap.

Pria berkumis yang tersisa langsung jatuh terduduk di atas tanah. Wajahnya pucat pasi seperti kertas, matanya melotot hingga hampir keluar dari rongganya. Bau pesing menyengat seketika saat ia tak sadar telah mengompol, ketakutan yang ia rasakan melampaui batas kewarasan manusia biasa saat melihat pemimpinnya menjadi tengkorak sungguhan di depan matanya sendiri.

"Kau... kau adalah... Dewi Kematian..." gumamnya dengan bibir yang terus bergetar.

Julukan itu akhirnya terucap. Sebuah nama yang telah dikenal luas dan menjadi legenda hitam di dunia persilatan. Seorang gadis misterius yang muncul entah dari mana sebagai hakim bagi para pendosa, memburu pendekar-pendekar kejam, dan meninggalkan jejak kematian yang mengerikan di setiap langkahnya.

"Dewi... ampuni hamba," ratapnya sambil bersujud di tanah. "Hamba berjanji akan keluar dari kelompok ini! Hamba akan bertobat!"

Gadis itu menatapnya tanpa ekspresi sedikit pun. "Lidah manusia memang mudah untuk berjanji," ucapnya dingin. "Namun, sekadar ucapan tidak akan pernah bisa menyucikan noda darah dari dosa-dosamu."

Pria itu langsung berbalik dan mencoba berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, sebelum satu langkah pun kaki itu mendarat, tangan sang Dewi telah lebih dulu mencengkeram kepalanya dari belakang.

Asap hitam kembali menyelimuti udara, dan dalam sekejap, kematian yang sama menimpa sang pendekar golok. Dua jasad kering kini tergeletak berdampingan di tanah yang dipenuhi darah dan abu panas.

Sang Dewi Kematian berdiri diam sejenak di tengah keheningan yang mencekam. Ia kemudian menoleh ke arah para penduduk desa yang kini memberanikan diri untuk mendekat dengan tubuh yang masih gemetar.

"Kalian sudah aman sekarang," katanya. "Tiga hari lagi, pasukan kerajaan akan datang ke sini untuk melindungi dan membantu membangun kembali desa ini."

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia melompat dengan sangat ringan. Tubuhnya melayang anggun di udara malam yang gelap, menyerupai bayangan hitam yang menari di antara sisa-sisa asap dan api, sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya ditelan kegelapan malam.

Di Desa Xiamzi yang telah hancur lebur, nama Dewi Kematian kembali terukir dalam sejarah kelam dunia persilatan, meninggalkan rasa syukur sekaligus ketakutan yang mendalam bagi mereka yang menyaksikannya.

1
Dania
misi
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!