"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_16
Dengan susah payah aku membuka kedua kakiku, menahan rasa nyeri dan perih yang masih tersisa—jejak dari pergulatan panjang lima belas menit sebelumnya. Tubuhku terasa asing, lelah, dan panas, seolah baru saja melewati badai yang tak sempat kupersiapkan.
Aku tahu, kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi dari diri Naren. Bahkan ketika napasnya mulai teratur, sorot matanya kembali berubah—tajam, gelap, dan penuh dahaga. Raut kepuasan yang sempat singgah kini memudar, digantikan oleh sesuatu yang lebih liar, lebih mendesak.
Aku mencoba bangkit, berniat menjauh sekadar untuk menarik napas dan mengumpulkan sisa kesadaran. Namun belum sempat tubuhku terangkat sempurna, Naren sudah lebih dulu menahanku.
“Maafin aku,” ucapnya lirih.
Tangannya menahan bahuku dengan lembut namun tegas, memaksaku kembali berbaring. Tubuhnya masih berada terlalu dekat, terlalu hangat, seolah jarak sekecil apa pun terasa tak diizinkan.
Aku menggeleng pelan. “Nggak ada yang perlu dimaafin, Mas. Ini hak kamu. Justru aku yang berdosa kalau membiarkan kamu menahan semua ini sendirian.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa sempat kupikirkan ulang. Mungkin karena lelah, mungkin karena perasaan yang sudah terlalu penuh.
Naren mengusap wajahnya kasar, seperti seseorang yang sedang berusaha meredam badai di kepalanya sendiri. Dadanya naik turun, napasnya berat. Meski kondisinya tak segenting sebelum kami menyatu pertama kali, aku masih bisa melihat kegelisahan itu—terselip di antara kerutan dahi dan sorot mata yang belum sepenuhnya tenang.
Entah seberapa besar dosis obat yang diberikan mamahnya hingga Naren berubah seperti ini. Terlalu jauh dari sosok dingin yang biasa kukenal.
Perlahan, Naren menundukkan kepala. Tubuhku menegang ketika hembusan udara sejuk menyentuh kulitku, membuatku refleks menggigit bibir. Rupanya ia hanya meniup pelan, seolah ingin menenangkan, bukan menggoda—meski efeknya justru sebaliknya.
Tangannya bergerak perlahan, penuh kehati-hatian, seakan aku adalah sesuatu yang rapuh dan berharga sekaligus. Sementara aku sendiri memilih diam, menahan desah yang hampir lolos, membiarkan tubuhku bereaksi tanpa banyak perlawanan.
Ketika jemarinya berpindah, menyusuri perut rataku, sensasi aneh menjalar—seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam sana. Aku mengernyit, menggeliat tanpa sadar.
Naren tersenyum kecil, lalu menyusuri jalur yang sama dengan caranya sendiri.
“Uhhh…”
Akhirnya desahan itu lolos juga.
Senyumnya melebar, seolah memang menunggu momen itu sejak tadi. Namun sebelum apa pun berlanjut, suara ponsel mendadak memecah keheningan.
Getarnya terasa nyaring di telingaku.
Ponsel Naren tergeletak di samping bantal. Tanpa sengaja mataku menangkap layar yang menyala.
**My Ajeng Calling…**
Dadaku langsung mengeras. Aku memalingkan wajah ke arah lain, berusaha bersikap seolah tak peduli. Naren segera meraih ponselnya, menatap sekilas, lalu—tanpa ragu—mematikannya dan melemparnya kembali ke samping bantal.
Aku mengernyit. Ada sesuatu yang janggal. Biasanya, reaksi Naren tidak pernah sesederhana itu.
Mood yang tadinya menghangat mendadak runtuh, seperti kaca yang jatuh ke lantai.
Naren kembali mendekat, mencoba menarik perhatianku. Tangannya bergerak, terlalu tiba-tiba.
“Aww… sakit, Mas,” protesku sambil memukul pelan dadanya. “Jangan gitu.”
Ia justru terkekeh kecil. “Salah sendiri, diam aja dari tadi.”
Aku mendengus. “Terus kamu harap aku ngapain? Kamu nindih aku kayak gini.”
Kali ini ia tak menjawab. Naren berbalik, lalu berbaring di sisiku, memiringkan tubuhku agar menghadap padanya. Gerakannya lembut, kontras dengan sikapnya beberapa saat lalu.
Bibirnya menyentuh bibirku perlahan. Bukan ciuman penuh gairah—lebih seperti permintaan maaf yang tak terucap.
“Aku pernah bilang belum,” katanya pelan, “kalau kamu cantik?”
Deg.
Pipiku langsung terasa panas. Aku mendengus, berusaha menutupi rasa gugup.
“Kamu nggak perlu bilang. Aku sudah tahu dari semua laki-laki yang pernah berusaha mendekat.”
Nada suaraku ketus, meski hatiku tak sekeras itu.
“Tapi mereka nggak bilang kalau paha kamu semulus ini, kan?” katanya sambil menaik-turunkan alis, jahil.
“Apaan sih?” Aku mencoba berbalik, tapi ia menahanku.
“Mereka juga nggak pernah bilang kalau suara kamu bisa bikin orang kehilangan akal, kan?”
Aku terdiam.
“Cuma aku yang dengar itu,” lanjutnya sambil mengerling. “Dan aku nggak berniat berbagi.”
Aku mendecak. “Gombal.”
Padahal di dalam hati, aku nyaris tersenyum lebar. Ada perasaan hangat yang tak bisa kupungkiri—meski bercampur cemburu dan takut.
“Bete banget ya?” tanyanya, menatap mataku lekat-lekat.
Aku mendengus. “Pacar kamu itu yakin manusia? Jam satu malam masih nelpon aja. Coba dicek, siapa tahu kepalanya ada paku.”
Biasanya Naren akan langsung tersulut. Tapi kali ini, ia hanya tersenyum kecil.
“Udahan marahnya,” katanya pelan. “Kepalaku nyut-nyutan. Badanku juga nggak karuan.”
Ia menunjuk ke bawah, wajahnya mendadak mengiba seperti anak kecil.
Aku menghela napas panjang.
“Ya ampun…”
Entah obat apa yang diberikan mamahnya. Bukan cuma tubuhnya yang berubah—sikapnya juga terasa asing. Naren yang dingin dan kaku itu, kini hangat dan lengket seperti knalpot motor yang baru saja dipakai perjalanan jauh.
Aku meraih tangannya, berniat menenangkannya. Seketika napasnya tercekat.
“Boleh… langsung aja?” pintanya lirih.
Aku hanya mengangguk.
Naren mendekat kembali, mengecup keningku, pipiku, leherku—semuanya dilakukan perlahan, seolah ia takut aku menghilang jika disentuh terlalu keras.
“Bibirnya nanti,” bisiknya. “Biar jadi penutup.”
Aku menahan napas.
“Tahan ya,” katanya lagi.
Sensasi perih kembali menyergap. Air mataku langsung mengalir tanpa bisa kutahan.
“Mas… aku nggak kuat.”
Ia berhenti, menatapku penuh kekhawatiran. Tangannya membelai pipiku, menghapus air mata yang jatuh.
“Kamu percaya aku?”
Aku mengangguk pelan.
Ia menunduk, mengecup bibirku—lama, lembut, menenangkan. Ketika aku mulai larut, pikiranku buyar oleh sensasi yang datang begitu mendadak.
Aku memekik tertahan, tubuhku menegang, lalu melemah bersamaan dengan desah panjang yang keluar dari kami berdua.
Segalanya terasa campur aduk—nyeri, hangat, lega, dan asing.
“Mas…” aku meracau, kata-kataku tak lagi runtut.
Naren bergerak perlahan, lalu semakin cepat ketika napasku mulai tak beraturan.
“Aku juga hampir…” katanya terengah.
Ia hendak menjauh, tapi aku menahannya, melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Aku ingin ia tinggal.
Detik berikutnya, tubuhnya menegang. Aku merasakan kehangatan yang membuat dadaku sesak oleh perasaan aneh—antara harap dan takut.
Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati.
Semoga kali ini Tuhan berpihak padaku.
Setelahnya, Naren beranjak, mengambil tisu, membersihkan dengan hati-hati. Aku terlalu lelah bahkan untuk membuka mata. Tubuhku terasa berat, tapi hatiku justru ringan dan rapuh bersamaan.
Ia berbaring di sisiku, menarik selimut menutupi tubuh kami. Dengan sisa tenaga, aku menggeser kepalaku dan menyandarkannya di lengannya. Ia langsung memelukku, seolah takut aku pergi.
“Ya Allah,” doaku dalam hati, “kalau waktu bisa berhenti… aku ingin berhenti di sini.”
Kepuasan yang tadi memenuhi dada kini berubah menjadi ketakutan yang sunyi. Aku memaksa membuka mata, takut jika tertidur semua ini akan lenyap begitu saja.
Namun elusan lembut di keningku menghancurkan pertahananku.
Rasa hangat, lelah, dan aman menyatu, menarikku perlahan ke alam mimpi.
Dan malam itu—tepat ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari—kami menutup kisah tak terduga ini, dalam diam, dalam pelukan, dalam ketidakpastian yang terlalu manis untuk diindahkan.