Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 27
Lu Ying tetap berdiri mematung dengan posisi yang tegap namun kaku, menatap lurus ke arah Raja Yan Liao dengan sorot mata yang dingin dan penuh dengan jarak emosional yang lebar. Baginya, kehadiran sosok penguasa di hadapannya saat ini tak lebih dari sekadar tontonan politik, seorang raja yang mungkin memang pandai merangkai kata-kata indah namun minim akan bukti nyata di lapangan.
Di dalam lubuk hatinya, Lu Ying masih memelihara ketidakpercayaan yang sangat sulit untuk disembunyikan, ia merasa bahwa segala penjelasan yang baru saja disampaikan oleh Yan Liao hanyalah sebuah skenario manis yang dirancang sedemikian rupa agar penduduk Desa Wushan luluh dan bersedia membukakan pintu bagi rombongan kerajaan tersebut.
Namun, di tengah suasana yang sarat akan kecurigaan itu, Permaisuri Bai Ling Yin justru merasakan sesuatu yang mengganjal. Sebagai seorang wanita yang terbiasa membaca situasi di balik tembok istana yang penuh intrik, ia menangkap adanya kejanggalan besar dari rangkaian cerita yang baru saja didengarnya. Alisnya yang halus sedikit berkerut, dan naluri kewanitaannya yang tajam membisikkan bahwa ada kepingan masa lalu yang belum terungkap sepenuhnya dalam narasi penderitaan desa ini.
“Tunggu sebentar,” ucap Bai Ling Yin dengan suara yang lembut namun memiliki otoritas yang jelas sembari melangkah setengah langkah ke depan guna memecah kebuntuan. “Tadi kau menyebutkan bahwa desa ini pernah berada di ambang kehancuran karena serangan musuh, dan pada saat itulah sosok yang kalian sebut Dewi Kematian datang sebagai penyelamat. Kapan tepatnya kejadian mengerikan itu berlangsung?”
Pertanyaan yang keluar dari bibir Permaisuri itu seketika membuat suasana di dalam penginapan menjadi sunyi senyap sejenak. Beberapa Pendekar Ahli dari Perguruan Bukit Hijau saling bertukar pandang dengan ekspresi yang penuh rahasia, sebelum akhirnya salah satu dari mereka yang memiliki perawakan paling senior maju selangkah dan memberikan hormat singkat dengan tangan tertangkup di depan dada.
“Kejadian itu berlangsung sekitar satu tahun yang lalu,” kata pendekar tersebut dengan nada suara yang berat, seolah-olah beban ingatan itu masih menekan pundaknya hingga sekarang.
“Saat itu, kedamaian kami tercabik-cabik ketika sekelompok pendekar misterius tiba-tiba muncul dan melancarkan serangan brutal tanpa peringatan. Kekuatan mereka sungguh tidak main-main; mereka dipimpin oleh seorang Pendekar Guru yang memiliki tenaga dalam sangat dalam, didampingi oleh sembilan Pendekar Ahli serta belasan Pendekar Terlatih yang haus darah.”
Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga sendi-sendinya memutih, jelas sekali ia sedang memanggil kembali memori tentang malam berdarah tersebut yang ia anggap sebagai sebuah mimpi buruk yang nyata.
“Mereka menyerbu dengan sebuah dalih yang sangat spesifik, yaitu bahwa Perguruan Bukit Hijau dituduh pernah memberikan bantuan militer kepada Pangeran Yan Liao dalam perang perebutan takhta sepuluh tahun yang silam. Kami sangat yakin bahwa sasaran utama dari dendam mereka adalah mendiang Tuan Muda kami, Pendekar Lu Zhin Ji.”
Lu Ying tampak menundukkan kepalanya sejenak, sebuah gerakan kecil untuk menyembunyikan kesedihan yang kembali menyeruak. “Pada waktu itu, fondasi pertahanan kami belum benar-benar pulih. Banyak warga desa yang sedang beristirahat terpaksa meregang nyawa, rumah-rumah kami dibakar, dan kami para pendekar Bukit Hijau hampir saja kehilangan kemampuan untuk memberikan perlawanan yang berarti di bawah tekanan Pendekar ahli itu.”
Pendekar Ahli itu menghela napas panjang dan berat sebelum melanjutkan kesaksiannya. “Namun, di saat harapan kami hampir pupus, Dewi Kematian muncul entah dari mana. Beliau bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan malam dan dengan kecepatan yang mengerikan membunuh setengah dari jumlah Pendekar Ahli penyerang dalam sekejap mata. Berkat campur tangan beliau yang tak terduga itulah, moral kami bangkit kembali sehingga kami akhirnya mampu bertahan dan memukul mundur sisa-sisa pasukan penyerang yang ketakutan.”
“Dan sejak detik itulah,” sambung Lu Ying dengan suara yang kini terdengar lebih tegas dan penuh keyakinan, “kami semua di Desa Wushan mengakui bahwa Dewi Kematian adalah pendekar dari keadilan sejati. Bagi kami, beliau jauh lebih nyata dan adil daripada hukum pemerintah istana yang hanya bisa mengirimkan janji-janji tanpa pernah menunjukkan wujudnya saat kami berdarah.”
Mendengar pengakuan yang begitu jujur namun menusuk itu, Raja Yan Liao terdiam dengan ekspresi wajah yang sangat serius. Ia kemudian bertanya dengan nada yang menunjukkan kekhawatiran seorang penguasa, “Sekelompok pendekar dengan komposisi kekuatan sebesar itu tidak mungkin datang dari perguruan kecil. Apakah kalian tahu mereka berasal dari mana? Dan yang lebih membingungkan, bagaimana mungkin mereka bisa memastikan bahwa mendiang Pendekar Lu berasal dari tempat terpencil seperti Perguruan Bukit Hijau ini?”
Sebelum bibir Lu Ying sempat terbuka untuk memberikan jawaban, sebuah suara yang sangat tenang namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang terdengar dari arah belakang rombongan kerajaan.
“Semua itu terjadi karena nama marga.”
Sontak, semua kepala di ruangan itu menoleh secara serempak ke arah sumber suara. Cao Yi melangkah maju dengan gerakan yang sangat halus, hampir seolah-olah ia melayang di atas lantai kayu. Pada saat itu juga, suasana di sekitar gadis tersebut berubah secara drastis menjadi sangat mencekam. Sepasang mata jernihnya kini berubah menjadi merah darah yang menyala redup dalam kegelapan, aura kematian yang pekat mulai menyebar ke segala penjuru tanpa sanggup ditekan lagi, dan kabut hitam tipis tampak menari-nari menyelimuti gaun hitam yang dikenakannya. Udara di sekeliling mereka mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat, seakan-akan oksigen pun enggan mendekat kepada sosok yang membawa napas kematian tersebut.
Melihat pemandangan itu, Lu Ying dan para Pendekar Ahli Bukit Hijau yang tadi bersikap sangat angkuh langsung membelalakkan mata mereka dalam keterkejutan yang luar biasa. Tidak ada lagi keraguan dalam benak mereka; sosok yang selama ini mereka puja sebagai pelindung kini berdiri tepat di hadapan mereka.
“Hormat kami kepada Dewi Kematian!”
Tanpa instruksi apa pun, Lu Ying beserta kelima Pendekar Ahli di belakangnya langsung menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki di atas lantai. Gerakan mereka dilakukan dengan sangat serempak dan penuh dengan rasa hormat yang mutlak, seolah-olah yang sedang berdiri di depan mereka bukan lagi sekadar seorang gadis dalam rombongan, melainkan hukum alam yang memegang kendali atas hidup dan mati seseorang.
Pemandangan yang tidak lazim itu membuat Raja Yan Liao, Permaisuri Bai Ling Yin, bahkan Letnan Bai Wang sendiri hanya bisa tertegun dan tersenyum kecut di dalam hati. Di hadapan karisma gelap sang Dewi Kematian, status sebagai seorang Raja yang berdaulat seakan kehilangan maknanya dan memudar seperti lilin yang tertiup angin kencang.
“Aku saat ini adalah bagian dari rombongan kerajaan yang sedang menempuh perjalanan ini,” kata Cao Yi dengan nada suara yang datar namun setiap suku katanya membawa tekanan mental yang membuat dada siapa pun terasa sesak. “Setelah mengetahui hal ini, apakah kalian masih berniat untuk mengusir rombonganku dari desa ini?”
“Hamba mohon ampun, kami sama sekali tidak akan berani melakukan hal selancang itu, Dewi,” jawab Lu Ying dengan suara yang bergetar, kepalanya tetap tertunduk dalam ke tanah sebagai tanda kepatuhan total.
“Yi... maksudku, Dewi Kematian,” Raja Yan Liao berdeham dengan sedikit canggung, berusaha sekuat tenaga untuk menyesuaikan nada bicaranya agar tetap terlihat berwibawa namun sopan di depan "kartu as" rahasianya itu. “Bagaimana mungkin para penyerang itu bisa menyimpulkan identitas Pendekar Lu hanya melalui nama keluarganya? Di seluruh wilayah Kerajaan Liungyi yang luas ini, jumlah orang yang memiliki marga Lu mencapai puluhan ribu jiwa.”
“Semuanya berjalan dengan logika yang sangat sederhana namun kejam, Yang Mulia,” jawab Cao Yi tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. “Para pengejar itu memang tidak memiliki bukti awal yang kuat bahwa Pendekar Lu Zhin Ji berasal dari Desa Wushan. Mereka memilih menggunakan cara yang paling brutal dan tanpa pandang bulu; yaitu dengan menyerang dan membantai setiap keluarga bermarga Lu yang memiliki latar belakang beladiri yang mereka temui di sepanjang perjalanan.”
“Apa?” Yan Liao terlonjak kaget, matanya menyiratkan kemarahan yang besar. “Itu artinya setiap penduduk yang menyandang marga Lu di seluruh wilayah kerajaanku telah menjadi target pembunuhan secara acak?”
“Pada awalnya, memang benar demikian,” kata Cao Yi dengan mata merahnya yang masih menyala. “Aku sendiri pernah menemukan jasad satu keluarga utuh bermarga Lu yang dibantai di wilayah lain sebelum aku tiba untuk menghentikan penyerangan di Desa Wushan ini. Namun, saat ini perburuan liar itu sudah berakhir. Penyerangan besar satu tahun lalu telah mengonfirmasi dugaan mereka bahwa Pendekar Lu yang mereka cari memang berasal dari sini. Dan alasan mengapa mereka tidak kembali menyerang dengan kekuatan lebih besar adalah murni karena campur tanganku yang menghabisi sebagian besar dari mereka saat itu.”
Permaisuri Bai Ling Yin refleks menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya tampak pucat karena ngeri membayangkan kekejaman tersebut. “Jika polanya seperti itu, berarti bukan hanya keluarga Lu yang terancam. Keluarga pendekar pahlawan lainnya yang marganya teridentifikasi juga bisa menjadi korban pembantaian serupa di tempat yang berbeda.”
“Kemungkinan besar memang seperti itu kenyataannya,” jawab Cao Yi singkat. “Semua pendekar yang namanya sempat terdengar selama perang saudara pasti sedang diburu secara sembunyi-sembunyi. Salah satu contoh yang paling nyata adalah mantan Jenderal Ziang Guang, yang kita tahu sendiri diserang secara mendadak oleh kekuatan dari Perguruan Awan Mengalir.”
Yan Liao mengusap pelipisnya dengan gusar, merasa tertampar oleh kenyataan pahit ini. “Benar-benar tidak kusangka bahwa dendam paman Yan Jiayi bisa melangkah sejauh ini, membantai orang-orang tak bersalah hanya untuk memuaskan kegagalannya sendiri di masa lalu.”
Cao Yi kemudian mengalihkan pandangan merahnya ke arah Lu Ying yang masih berlutut. “Nona Lu, sekarang setelah kau mendengar seluruh penjelasan dariku, apakah di dalam hatimu masih tersisa keraguan sedikitpun terhadap niat baik Yang Mulia Raja?”
Lu Ying perlahan mengangkat kepalanya, meskipun ia masih tampak gentar oleh aura Cao Yi, namun suaranya terdengar mantap. “Dewi, bagi kami di Bukit Hijau, perintah Anda adalah satu-satunya hukum yang kami dengarkan tanpa syarat.”
“Jika demikian,” kata Cao Yi dengan wibawa yang tak terbantah, “izinkan rombongan ini untuk menginap satu malam di penginapanmu. Jangan khawatir, berapapun biaya yang diperlukan untuk pelayanan dan keamanan kami, semuanya akan kami bayar dengan sepantasnya.”
“Tidak perlu, Dewi!” jawab Lu Ying dengan sangat cepat. “Kami semua tidak akan pernah pantas menerima uang dari tangan Anda. Silahkan Anda beserta rombongan menginap disini selama yang Anda mau tanpa perlu membayar sekeping perunggu pun.”
“Kau tidak boleh bersikap seperti itu dalam urusan dagang dan penghormatan,” sela Raja Yan Liao dengan nada yang lebih hangat. “Jika kalian memang merasa sungkan untuk menerima uang dari Dewi Kematian, maka terimalah pemberian ini sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seorang Raja atas keterlambatan perlindungan di masa lalu.”
Yan Liao kemudian memberikan isyarat mata kepada Letnan Bai Wang. Dengan sigap, Letnan tersebut maju dan menyerahkan sebuah kantong kain yang tampak sangat berat dan berisi sepuluh tael emas murni ke hadapan Lu Ying.
Gadis itu tampak ragu-ragu sejenak, tangannya sedikit gemetar. Pandangannya secara refleks beralih kembali kepada Cao Yi, seolah-olah ia sedang meminta keputusan akhir dari sosok yang ia anggap sebagai tuhan di dunia persilatan tersebut.
Cao Yi memberikan anggukan pelan sebagai tanda persetujuan.
Setelah mendapatkan restu dari sang Dewi, barulah Lu Ying berani menerima kantong emas tersebut dengan kedua tangannya. Sepuluh tael emas adalah jumlah yang sangat besar bagi sebuah desa, di mana setiap satu taelnya memiliki nilai yang setara dengan seratus koin emas atau bahkan seratus tael perak, jumlah yang lebih dari cukup untuk memperbaiki seluruh fasilitas desa yang pernah rusak.
“Sepertinya pengaruh dan wibawa adik ipar kita ini jauh lebih sakti daripada mahkota kakak rajamu sendiri,” bisik Permaisuri Bai Ling Yin ke telinga Yan Liao sambil menyembunyikan senyum kecil di balik tangannya.
“Ssst, jangan terlalu keras,” jawab Cao Yi dengan suara yang sangat pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar, sementara ia mulai menekan kembali aura merah di matanya hingga kembali menjadi hitam jernih. “Jangan sampai orang-orang di luar sana mengetahui rahasia kedekatan kita ini.”
Di balik senyum tipis yang jarang diperlihatkannya itu, aura kematian dalam diri Cao Yi tetap mengalir dengan tenang dan waspada, menjadi sebuah pengingat abadi bahwa di tanah yang penuh konflik ini, keadilan sejati tidak selalu berdiri tegak di bawah kibaran panji-panji kerajaan, melainkan terkadang ia bersembunyi di balik bayang-bayang yang paling gelap.