Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Arion masih belum memberi kabar sampai jam makan malam. Lydia ingin marah, tapi status di antara mereka membuatnya merasa tidak berhak untuk itu.
Di saat seperti ini, Lydia malah teringat tentang Marvin. Dulu, ia jarang sekali memberi laki-laki itu kabar karena kesibukannya di Adhivara Grup. Ia merasa posisi Marvin saat itu lebih berhak marah dibandingkan dirinya yang sekarang.
Siapa yang akan menyangka jika perempuan yang dulu kesal karena tunangannya sering marah-marah, hari ini justru marah karena tidak diberi kabar oleh laki-laki yang mengaku mencintainya.
"Menurut gue, kemungkinan Arion dijodohkan deh," ujar Haikal yang tanpa sengaja didengar oleh Lydia.
"Iya sih, bener. Menurut gue itu yang paling masuk akal. Tante Namira marah waktu tahu Arion dan Kak Lydia dekat, terus tiba-tiba saja Tante Namira minta Om Calvin bikin cincin buat Arion," sambung Daren, yang sialnya masih terdengar oleh Lydia.
Lydia ingin berpura-pura tidak mendengarnya dan kabur dari sana saat itu juga, tapi yang lebih sialnya lagi, Liam kini melihat ke arahnya.
"Kak Lydia," seru Liam kaget melihat kehadiran Lydia di sana. Ia langsung menyenggol kedua sahabatnya agar berhenti membicarakan Arion.
"Oh, shit!" umpat Hiro dan Daren ketika melihat Lydia berdiri di hadapan mereka.
Baik Liam, Hiro, maupun Daren belum pernah merasakan pacaran. Namun, mereka tahu betapa menyakitkannya perasaan seseorang ketika pacarnya dijodohkan dengan orang Lain.
Melihat Lydia di sana membuat Hiro dan Daren menyesali perkataan mereka sendiri. Seharusnya, mereka membicarakan Arion nanti, bukan di tempat Lydia biasa berkeliaran.
"Oh, hay. Baru pulang kalian?" sapa Lydia kikuk. Ia ingin menunjukkan senyuman singkat lalu pergi seperti biasanya, namun situasi kali ini memaksanya menyapa mereka dengan lebih ramah lagi.
“Kami hanya asal menebak. Belum pasti juga Arion dijodohkan,” ujar Hiro, tanpa menanggapi sapaan Lydia.
"Iya, lagipula Arion juga cintanya cuma sama Kakak," ucap Daren, menambahkan.
Lydia hanya tersenyum singkat. Ia tahu kedua remaja di depannya hanya sedang berusaha menghiburnya dengan kalimat-kalimat itu.
Tadinya Lydia keluar dari apartemennya untuk makan malam di luar. Tidak disangka, ia justru harus berada di posisi seperti ini.
Kini mereka berada di lorong menuju lift. Lydia bisa saja langsung melewati mereka dan masuk ke dalam lift, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menahannya untuk tetap berada di sana.
Bunyi lift yang biasanya tidak terlalu terdengar tiba-tiba terasa nyaring, disusul seseorang yang keluar dari sana, Arion.
"Kak Lydia."
Begitu suara itu terdengar, Liam, Hiro, dan Daren langsung berlarian dari hadapan Lydia dan masuk ke apartemen Liam yang tidak jauh dari sana.
Lydia lega tidak perlu menghadapi tatapan kasihan mereka lagi sekarang. Namun, hal lain tampaknya sudah menantinya.
“Maaf, aku lupa mengabari Kakak,” ucap Arion, tepat saat ia berdiri di hadapan Lydia. Ia tidak terlalu memperdulikan Liam dan kedua temannya yang berlarian menghindarinya.
Lydia memandanginya dengan tatapan kosong. Obrolan Liam, Hiro, dan Daren masih membekas di benaknya, sehingga ia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang.
"Kak?" Arion menyentuh bahu Lydia yang tampak sedang melamun, membuat perempuan itu mengerjapkan matanya pelan.
"Ya?" seru Lydia, lalu dengan halus menurunkan tangan Arion yang ada di bahunya.
“Tidak perlu dipikirkan. Oh ya, Kakak harus pergi sekarang.” Lydia berniat melangkahkan kakinya melewati Arion, tapi tangannya lebih dulu ditahan oleh laki-laki itu.
"Mau ke mana?" tanya Arion, tidak membiarkan Lydia pergi begitu saja.
Ia sadar ada sesuatu saat Lydia menurunkan tangannya, dan sekarang perempuan itu seperti sengaja ingin menghindarinya.
"Makan di luar," jawab Lydia tanpa menatap Arion, yang justru yang semakin memperkuat dugaan Arion terhadapnya.
"Apa ada sesuatu?" Arion kembali bertanya karena tidak nyaman dengan perubahan Lydia.
Mereka baik-baik saja sebelum ia pergi ke rumah orang tuanya. Tiba-tiba saja Lydia bersikap seolah sedang menghindarinya.
“Kakak tidak mengerti maksud kamu,” ujar Lydia, lalu menatap wajah Arion.
Sebenarnya, ia ingin pergi dari hadapan laki-laki yang katanya akan dijodohkan itu. Namun, Lydia tahu berada di posisi Arion juga tidak mudah. Ia tidak ingin membebani pikiran Arion dengan sikap kekanak-kanakannya.
"Kakak hanya ingin makan di luar karena belum makan malam," jelasnya.
Arion memandangi mata Lydia, berusaha mencari kebohongan di balik tatapan perempuan itu.
"Aku juga belum makan malam," ujarnya beberapa saat kemudian.
Biasanya, Lydia akan langsung menawari Arion untuk makan bersama. Namun, kali ini perempuan itu justru menunjukkan ekspresi bingung, dan Arion bisa menangkapnya.
“Kalau begitu, ayo makan bersama,” ajak Lydia tidak lama setelahnya.
Sayangnya, Arion sudah lebih dulu sadar ada yang tidak beres. Ada keterpaksaan dalam cara Lydia mengajaknya makan.
Tanpa berkata-kata, Arion menarik Lydia ke dalam pelukannya. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang berubah dari perempuan itu.
"Kenapa?" tanya Lydia bingung karena Arion tiba-tiba memeluknya.
"Tidak ada yang berubah kan, Kak?" Arion bertanya tanpa benar-benar mendengarkan perkataan Lydia. Ia tidak siap menghadapi perubahan sekecil apa pun dari perempuan yang ada dalam pelukannya itu.
Lydia membalas pelukan Arion dan mengusap pelan punggungnya untuk menenangkannya. Tidak ada yang berubah di antara mereka, kecuali kenyataan bahwa Arion dijodohkan dengan perempuan lain.
"Kakak tidak mengerti yang kamu bicarakan," ujarnya, memilih untuk berpura-pura tidak tahu kenyataan yang mengganggu hati dan pikirannya.
"Kalau soal perasaan Kakak, tentu saja tidak ada yang berubah. Perasaan Kakak tidak semudah itu digoyahkan hanya karena kamu seharian tidak memberi kabar," jelasnya dengan candaan kecil.
“Maaf,” hanya kata itu yang Arion katakan dalam pelukan Lydia.
Ia tidak berniat untuk tidak mengabari Lydia. Hanya saja, ada hal yang perlu ia urus sehingga tidak sempat memberi kabar.
"Tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah," ucap Lydia, lalu melepas pelukannya.
"Kita cari makan sekarang, Kakak sudah lapar," katanya sambil meraih tangan Arion dan menariknya menuju lift.
Liam, Hiro, dan Daren yang sejak tadi mengintip di balik pintu apartemen Liam akhirnya bisa bernapas lega melihat mereka pergi bersama.
“Huh, untung saja mereka tidak jadi ribut,” ujar Hiro lega, diikuti anggukan dari yang lain.
***
Sepanjang perjalanan menuju tempat makan, Arion terus menggenggam tangan Lydia dan menyetir mobil hanya dengan satu tangannya. Ia seakan tidak ingin Lydia lepas dari genggamannya.
"Mau makan di mana?" tanya Arion, menoleh sekilas ke arah Lydia sambil tetap menggenggam tangan perempuan itu.
"Kakak yakin kamu lebih tahu tempat makan yang enak dibandingkan Kakak," jawab Lydia sambil memandangi Arion yang sedang fokus menyetir.
Lydia bukan perempuan yang menjawab 'terserah' saat ditanya mau makan di mana. Ia kadang meminta rekomendasi pada pasangannya, karena mereka tidak bisa hanya mengikuti keinginannya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu aku yang pilih tempat makannya," ujar Arion bersemangat, karena Lydia sudah kembali seperti biasanya.
Lydia tersenyum melihat semangat dan senyuman Arion. Meskipun pada akhirnya mereka tidak bisa bersama, tapi setidaknya saat ini ia masih bisa melihat kebahagiaan di wajah Arion.
"Kakak harap kamu akan terus bahagia meskipun tidak ada Kakak di samping kamu," batinnya, tanpa melepas pandangannya dari Arion.
Tidak ada yang tahu takdir. Namun jika memang Arion bukan takdirnya, setidaknya ia ingin Arion bahagia bersama perempuan yang memang menjadi takdirnya.