NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Ditunggu

Minggu pagi. Jam setengah lima.

Lestari belum tidur semalaman. Dia cuma duduk di tikar, memeluk lutut, ngeliatin Antoni yang tidur nyenyak di samping nya.

Jantung nya berdegup keras. Keras banget. Kayak mau copot.

Ini hari nya.

Hari yang udah dia tunggu-tunggu. Hari yang dia takuti sekaligus.

Dari ruang tamu denger suara—Dyon sama Wulandari lagi siap-siap. Mereka mau berangkat ke hajatan Tante Yuyun—saudara Wulandari yang tinggal di kampung sebelah kota, perjalanan dua jam naik motor.

"Dyon, lo bawa jas kan? Nanti kita foto-foto!" suara Wulandari.

"Iya Mah, udah gue bawa. Lo jangan cerewet!"

Suara langkah kaki. Pintu kamar gudang dibuka—nggak diketok dulu.

Dyon berdiri di pintu. Mata nya masih sipit ngantuk.

"Lo jaga rumah baik-baik. Jangan sampe ada yang hilang. Gue pulang sore. Kalau ada apa-apa, lo telpon." Nada nya datar—kayak ngasih perintah ke pembantu.

"Iya," jawab Lestari pelan—nunduk, nggak berani liat mata Dyon.

Dyon pergi. Pintu ditutup lagi.

Lestari denger suara motor dinyalain—ngeeeng ngeeeng—terus suara motor menjauh. Makin jauh. Sampe akhirnya nggak kedengeran lagi.

Hening.

Lestari baru bisa napas lega.

Mereka pergi.

Sekarang.

Sekarang saatnya.

---

Lestari langsung berdiri—gerak nya cepet tapi hati-hati. Dia nggak mau bikin suara berisik. Takut tetangga denger, nanti ngasih tau Dyon.

Dia ambil tas kain lusuh—tas bekas belanja yang biasa dipake buat bawa cucian. Isi nya dipake buat bawa baju.

Baju Antoni—tiga stel. Jersey bola kesayangan nya, celana pendek dua, celana panjang satu. Baju Lestari—dua daster lusuh, satu celana panjang, dua kaos. Itu aja. Nggak ada yang lain. Nggak ada barang berharga—karena mereka nggak punya barang berharga.

Uang dari Bu Ratih—lima ratus ribu—dimasukin ke amplop, dilipet, disembunyiin di balik bra. Kertas alamat Bu Siti sama jadwal bus juga di situ.

Lestari ngeliat sekeliling kamar gudang—kamar yang jadi rumah nya selama tujuh tahun. Tikar lusuh. Kardus-kardus bekas. Selimut bolong. Dinding bata merah yang nggak diplester.

Nggak ada yang mau dia bawa dari sini.

Nggak ada kenangan indah.

Cuma... cuma kenangan sakit.

"Antoni..." Lestari jongkok di samping Antoni yang masih tidur. Mengelus kepala Antoni pelan. "Nak, bangun. Kita harus pergi."

Antoni buka mata pelan—mata nya masih sepet. "Ibu... sekarang masih pagi..."

"Iya, Nak. Tapi kita harus pergi sekarang. Inget kan Ibu bilang kita mau jalan-jalan?"

Antoni duduk—menggosok mata. "Jalan-jalan ke mana, Bu?"

"Ke tempat yang lebih baik. Tempat yang... yang nggak ada Bapak yang marah-marah. Nggak ada Nenek yang jahat. Cuma kita berdua."

Antoni ngangguk—meskipun dia belum sepenuhnya ngerti. "Oke, Bu."

Lestari pakaikan Antoni baju—jersey bola kesayangan nya, celana panjang. Sepatu nggak ada—Antoni cuma punya sandal jepit. Ya udah, pake sandal jepit aja.

Lestari ganti baju sendiri—daster bersih yang paling layak, kerudung lusuh.

Tas dijinjing. Antoni digendongan—posisi di depan dada, diiket pake kain batik.

Lestari buka pintu kamar pelan-pelan. Ngintip keluar—sepi. Nggak ada siapa-siapa.

Dia jalan keluar. Lewat pintu belakang. Nutup pintu pelan—nggak dikunci. Biarin aja.

Keluar lewat pagar bambu—pagar yang jadi jalan pintas ke rumah Bu Ratih.

Bu Ratih udah nunggu di depan rumah nya—pake kerudung, bawa tas kecil.

"Udah siap, Neng?" tanya Bu Ratih pelan.

Lestari ngangguk—tangan nya gemetar parah.

"Yuk. Ibu anter ke terminal."

Mereka jalan keluar gang. Jalan cepet tapi nggak lari—biar nggak kelihatan mencurigakan.

Pagi masih gelap—matahari belum terbit. Udara dingin. Sepi banget.

Sampe di jalan raya, Bu Ratih melambaikan angkot. Angkot berhenti—mereka naik.

"Terminal Leuwi Panjang, Bang," kata Bu Ratih ke supir.

Angkot jalan. Lestari duduk di bangku belakang—Antoni di pangkuan. Bu Ratih di samping nya.

Lestari ngeliat keluar jendela—ngeliat kampung yang perlahan menjauh. Kampung yang jadi penjara nya selama tujuh tahun.

Mata nya berkaca-kaca.

Nggak nangis. Cuma... berkaca-kaca.

Bu Ratih pegang tangan Lestari. "Kamu kuat, Nak. Ibu bangga sama kamu."

Lestari noleh—liat Bu Ratih yang senyum tipis.

"Makasih, Bu... makasih buat semuanya..."

"Sama-sama, Nak. Tuhan pasti jaga kamu berdua."

---

Terminal Leuwi Panjang. Jam lima lewat sepuluh menit.

Rame. Orang banyak—pada mau pulang kampung, mau jalan-jalan, mau kemana-mana.

Lestari turun dari angkot—Antoni masih digendong. Bu Ratih bantuin turunin tas.

"Bus nya di jalur tiga. Yang biru. Tulisan nya Sumber Alam. Ongkos seratus ribu buat berdua."

Lestari ngangguk. Keluarin uang dari amplop—seratus ribu. Sisanya empat ratus ribu disimpen lagi.

Mereka jalan ke jalur tiga. Bus nya udah ada—bus biru tua yang cat nya udah mengelupas di beberapa tempat. Di kaca depan ada tulisan "Bandung—Jakarta".

Kondektur nya berdiri di pintu—bapak-bapak gemuk pake kaos biru.

"Naik, Bu? Jakarta?" tanya kondektur.

"Iya. Dua orang. Satu dewasa, satu anak."

"Seratus ribu."

Lestari kasih uang. Kondektur ngasih karcis—dua lembar kertas kecil.

"Silakan naik. Duduk di belakang masih kosong."

Lestari naik—Antoni masih digendong. Bu Ratih nggak ikut naik—dia berdiri di pintu bus.

Lestari duduk di bangku paling belakang—deket jendela. Taro tas di samping. Antoni didudukan di pangkuan.

Bu Ratih berdiri di luar—di samping jendela tempat Lestari duduk.

Mereka berpandangan lewat kaca jendela yang agak buram.

"Ibu..." Lestari buka jendela sedikit—cuma bisa dibuka dikit karena macet. "Ibu jaga kesehatan ya... jangan sakit..."

"Ibu sehat kok, Neng. Kamu yang harus jaga kesehatan. Jaga Antoni baik-baik."

"Aku janji, Bu."

Bu Ratih napas nya mulai sesengukan. Mata nya berkaca-kaca.

"Ibu... Ibu bakal kangen kamu sama Antoni..."

"Kami juga bakal kangen Ibu..." Lestari nangis—air mata nya jatuh. "Ibu... terima kasih ya... terima kasih buat semuanya... kalau nggak ada Ibu... aku... aku mungkin udah mati di rumah itu..."

"Jangan bilang kayak gitu. Kamu kuat. Kamu pasti bisa bertahan."

Bu Ratih ngeluarin sapu tangan dari tas—ngusap mata nya yang basah.

"Neng... kalau udah sampe Jakarta... kalau udah ketemu Bu Siti... kalau udah dapet kerjaan... kabarin Ibu ya... Ibu mau tau kamu baik-baik aja..."

"Aku janji bakal kabarin, Bu. Aku janji."

Kondektur naik ke bus. "Oke, berangkat ya!"

Mesin bus dinyalain—suara nya berisik, ngebul asap item dari knalpot.

"Ibu harus turun, Neng. Bus mau jalan."

"Iya, Bu... hati-hati ya pulang nya..."

Bu Ratih mundur dari bus. Berdiri di pinggir terminal.

Bus mulai jalan—pelan. Lestari ngeliat dari jendela—ngeliat Bu Ratih yang berdiri di sana, melambaikan tangan, nangis.

Lestari melambaikan tangan balik—nangis juga.

Bus makin cepet. Makin jauh. Bu Ratih makin kecil. Sampe akhirnya... nggak kelihatan lagi.

Lestari duduk lagi. Peluk Antoni erat.

"Ibu kenapa nangis?" tanya Antoni polos.

"Ibu... Ibu sedih ninggalin Bu Ratih... Bu Ratih baik banget sama kita..."

"Nanti kita balik lagi kan, Bu?"

Lestari diem. Nggak bisa jawab.

Balik? Entah kapan. Atau mungkin... nggak pernah.

---

Bus jalan di jalan tol. Pemandangan berubah—dari kampung ke kota, dari kota ke sawah, dari sawah ke gunung.

Antoni tidur lagi—kepala nya nyandar di dada Lestari. Napas nya teratur.

Lestari ngeliat keluar jendela—ngeliat langit yang mulai terang. Matahari terbit dari balik gunung—cahaya oranye yang hangat.

Di dalam bus—ada pengamen. Cewek muda, umur dua puluhan, bawa gitar lusuh.

"Permisi, Bapak Ibu sekalian... saya mau ngamen sebentar..."

Pengamen itu mulai nyanyi. Suara nya merdu—merdu tapi... sedih. Lagu nya lagu galau—lagu yang lirik nya...

*"Jangan pernah katakan bahwa*

*Cintamu hanyalah untukku*

*Karena kini kau telah membaginya..."*

Lestari denger lirik itu. Dada nya sesak.

Cinta. Cinta yang seharusnya cuma buat dia. Tapi sekarang dibagi ke Seruni.

*"Maafkan jika memang kini*

*Harus ku tinggalkan dirimu*

*Karena hatiku selalu kau lukai..."*

Air mata Lestari keluar lagi. Netes pelan—diam-diam.

Lirik itu... lirik itu kayak cerita hidup nya.

*"Tak ada lagi yang bisa ku lakukan tanpamu*

*Ku hanya bisa mengatakan apa yang ku rasa..."*

*"Ku menangis...*

*Membayangkan*

*Betapa kejamnya dirimu atas diriku*

*Kau duakan cinta ini*

*Kau pergi bersamanya..."*

Pengamen itu nyanyi dengan mata tertutup—suara nya bergetar di bagian itu. Kayak dia juga ngerasain sakit yang sama.

*"Ku menangis*

*Melepaskan*

*Kepergian dirimu dari sisi hidupku*

*Harus selalu kau tahu*

*Akulah hati yang telah kau sakiti..."*

Lagu selesai. Penumpang pada ngasih uang—lima ratus, seribu, dua ribu.

Pengamen itu jalan ke belakang—sampe ke bangku Lestari.

Lestari keluarin uang dua ribu—kasih ke pengamen.

"Makasih, Mbak..." pengamen itu senyum—senyum yang... sedih juga.

"Sama-sama... lagu nya bagus... nyentuh banget..." Lestari bisik.

"Mbak... Mbak lagi sedih ya? Mata Mbak sembab..."

Lestari kaget. "Eh... nggak kok... aku cuma... cuma lagi kangen sama keluarga..."

Pengamen itu ngangguk paham. "Semoga Mbak baik-baik aja ya. Semoga masalah Mbak cepet selesai."

"Makasih..."

Pengamen itu turun di pemberhentian berikutnya.

Lestari ngelap mata nya pake ujung kerudung. Antoni masih tidur nyenyak—nggak tau apa-apa.

Bus jalan terus. Lewat tol Cipularang—pemandangan indah, gunung-gunung tinggi, kabut tipis.

Lestari ngeliat pemandangan itu. Pertama kali nya dia keluar dari Bandung. Pertama kali nya dia liat dunia di luar kampung sempit itu.

"Untuk pertama kali dalam tujuh tahun... aku merasa... bebas..."

Senyum tipis muncul di bibir nya. Senyum yang... senyum yang udah lama nggak muncul.

Tapi senyum nya nggak bertahan lama.

Karena—

DRRRTTTT DRRRTTT

Ponsel nya getar. Di kantong daster.

Lestari kaget. Keluarin ponsel—ponsel jadul yang retak layar nya.

Layar nya nyala. Ada panggilan masuk.

Dari Dyon.

Jantung Lestari berhenti sebentar.

Dia... dia udah tau.

Tangan Lestari gemetar parah. Ponsel nya terus getar—nggak berhenti.

"Diangkat apa nggak... diangkat apa nggak..." Lestari bingung parah.

Kalau diangkat—Dyon pasti marah. Pasti teriak. Pasti nyuruh dia balik.

Kalau nggak diangkat—Dyon makin curiga. Makin marah.

Lestari pilih... matiin.

Dia tekan tombol merah—panggilan ditolak.

Ponsel dimatiin total.

Layar nya gelap.

Lestari simpen ponsel balik ke kantong—tangan nya masih gemetar.

"Dia pasti udah tau... pasti udah balik ke rumah... pasti udah liat aku nggak ada..."

Napas nya jadi cepet. Deg-degan parah.

"Semoga... semoga kami sempet sampe Jakarta... semoga dia nggak nyusul... semoga..."

Lestari peluk Antoni lebih erat. Cium kepala Antoni.

"Ibu janji bakal lindungi kamu, Nak. Apapun yang terjadi."

Bus terus melaju. Makin jauh dari Bandung. Makin deket ke Jakarta.

Makin deket ke kehidupan baru.

Kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Tapi... lebih baik daripada neraka yang mereka tinggalkan.

---

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!