NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Baik?

Nina sedikit mengintip pada benda panjang yang tadi dibelinya. Rasanya campur aduk. Antara berharap dan risau. Nina memiliki trauma.

Dua garis merah terang menunjukkan hasil dari tes yang dilakukannya secara mandiri. Lega namun ada risau yang melanda.,

Bagaimana jika nanti dia mengalami hal sama seperti dulu?

Nina takut, tapi dirinya yang lain mengingatkan. Bahwa ini adalah tujuan berada di tempat mewah ini.

Seperti dulu saat bersama ayah si kembar. Mereka hanya melakukannya sekali, itupun Nina dipaksa. Lalu sekarang, Nina bukan dipaksa. Tapi terpaksa menerima untuk masa depan dia dan si kembar. Juga ancaman dari Damian.

Jadi, apa yang harus Nina lakukan sekarang?

Apa dia harus menghubungi Damian?

Tapi Nina ingat, lelaki blasteran itu mengatakan untuk memberitahukan segala keperluannya pada Bibi Mini. Dengan kata lain, Nina tidak perlu menghubungi Damian. Begitu maksudnya, kan?

"Kayaknya aku ke rumah sakit aja deh." Gumamnya. Nina sedang duduk di atas kloset. "Tapi Rumah sakit tempat dokter Asha praktek jauh dari sini." Itu tempat dimana Nina berencana melakukan inseminasi.

Nina memutuskan untuk mencari rumah sakit terdekat dari tempat tinggalnya. Dia sedikit khawatir, ketauan kalau dirinya keluar Penthouse. Bisa gawat untuknya dan juga Bibi Mini.

"Besok aja kali ya." Monolognya sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.

Nina pikir tubuhnya yang berisi, karena dirinya banyak makan tapi minim aktivitas. Nyatanya, di rahimnya sudah ada janin milik suami kontraknya.

Namun mendadak ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Nalurinya sebagai seorang ibu, mendadak tak rela jika harus merelakan bayi yang dikandungnya diserahkan pada orang lain, meski itu ayah kandungnya sendiri.

***

Nina memandangi hasil foto ultrasonografi berwarna hitam putih yang ada dipegangnya. Sudah ada kehidupan di dalam rahimnya. Segampang itu, di usianya yang kepala tiga.

Padahal menurut yang pernah dia dengar, di usianya sekarang. Sebagian perempuan akan sulit untuk hamil, tapi lihatlah sekarang. Lagi-lagi bayi kembar. Ada dua di kantong di foto berukuran kecil itu.

Yah ... Nina sendiri sebenarnya memiliki kembaran, sayangnya ketika dilahirkan hanya dirinya yang selamat. Mungkin keterbatasan informasi dan teknologi kala mendiang ibunya mengandungnya. Sehingga satu bayi tidak bisa dilahirkan dengan selamat.

Menurut pengakuan mendiang ayahnya, kembarannya adalah seorang bayi laki-laki. Seperti halnya Aby dan Anin.

Beruntung setidaknya, saat mengandung buah hatinya. Meski dibawah tekanan dan cacian, kedua anaknya tumbuh dengan baik dan berhasil dilahirkan.

Jadi ... Apa kali ini juga berhasil?

Tapi dalam hati Nina ada sebuah keyakinan. Kehamilan keduanya ini, akan berhasil. Dia dan dua bayinya akan selamat.

Tentu ada alasannya, apalagi kalau bukan keadaannya saat ini. Meski sendirian, kali ini dia memiliki banyak uang. Lihat saja saldo rekeningnya yang selama tiga bulan ke belakang terus bertambah, tanpa harus kelelahan karena bekerja mati-matian.

Dokter mengatakan jika kandungannya sudah menginjak umur empat belas Minggu. Dan juga mereka dalam kondisi baik dalam hal tumbuh kembang.

Mendengar kabar itu, jelas Nina sangat bahagia. Tapi kenyataan menamparnya, bahwa anaknya kali ini bukan miliknya sepenuhnya.

Nina mengelus perutnya, "nggak apa-apa ya nak! Entar coba ibu bilang ke ayah mu, tetap dilibatkan untuk mengurus kalian." Gumamnya pelan.

Namanya dipanggil oleh petugas bagian farmasi. Dokter meresepkan vitamin untuknya.

Urusan dengan rumah sakit telah usai. Nina memutuskan pulang dengan berjalan kaki, toh jaraknya tidak terlalu jauh. Dan sudah lama juga dia tak melakukannya.

Kemarin saat mencari kontrakan, Nina membonceng motor Nurul. Jadi ini jalan kaki terjauhnya, semenjak jadi penghuni Penthouse.

Di jalan yang dilaluinya, Nina sempat beberapa kali berhenti untuk membeli makanan yang tiba-tiba dia inginkan.

Alhasil begitu menjejak di depan pagar gedung apartemen. Dua tangannya penuh menenteng kantong plastik berisi makanan.

Dia memberikan satu kantong untuk sekuriti yang berjaga, petugas kebersihan juga resepsionis tak luput dari pemberiannya.

"Makasih banyak loh mbak Nina ..." Seru gadis muda ber-name tag Viona.

"Sama-sama." Nina balas memberikan senyuman.

"Oh ya mbak! Tadi Mister Damian telepon, beliau nanyain mbak Nina."

"Hah ..." Nina terkejut.

"Tapi tenang aja, aku udah bilang kalau mbak Nina lagi keluar beli makanan."

Tadi pagi, mereka sempat berbincang sejenak. Nina mengaku akan pergi ke rumah sakit, karena merasa kurang sehat.

"Makasih ya, Vio!" sahutnya berusaha tersenyum.

Kalau sampai Damian kembali dan mengetahui jika dirinya keluar dari Penthouse, apa mungkin Nina akan dimarahi atau Bibi Mini akan dipecat?

Tapi kan alasan Bibi Mini izin, ini murni karena alasan yang bisa diterima. Seharusnya Damian mengerti.

Nina sengaja melambatkan langkahnya, dia berharap Damian sudah enyah dari Penthouse. Karena menurut informasi dari Viona, lelaki blasteran itu datang sekitar satu jam lalu. Semoga saja ...

Sayangnya, harapnya tidak terkabul. Nina mendapati lelaki bersetelan formal itu berdiri menunggunya tepat di depan elevator.

Mata birunya menatapnya tajam. Nina bisa merasakan amarah di sana. Tapi apa mungkin hanya karena dirinya yang pergi tanpa izin sehingga lelaki itu marah?

Nina tidak kabur, dan hanya keluar untuk berjalan-jalan. Toh sekarang dia kembali dan akan memberikan kabar baik untuk Damian.

"Anda dari mana?" Suara berat itu pelan tapi penuh penekanan.

Nina mencoba untuk tenang, dia mengangkat bungkusan plastik yang dipegangnya. "Beli makan."

Rahang lelaki itu terlihat mengeras, Nina bahkan bisa mendengar suara gigi beradu. Damian marah.

"Maaf ... Saya keluar karena bosan dengan makanan yang ada di sini." Nina beralasan.

Helaan napas kasar keluar dari mulut pria itu, "kenapa telepon saya tidak diangkat?"

Nina merogoh tas-nya. Dia mendapati baterai ponselnya habis, semalam Nina lupa meng-charge-nya. "Maaf baterainya habis." Dia meringis. Merasa tak enak hati.

Damian memijat kepalanya, kesal karena semua berjalan tidak sesuai keinginannya. "Nyonya silahkan ikut saya. SEKARANG!!!"

Damian hampir meraih tangan Nina, tapi Nina justru menghindar dengan cepat. "Jangan sentuh, bukan mahrom." Dia memperingatkan.

"Tidak ada waktu, Nyonya!" Damian mendengus.

Nina merasa keberatan, dia berniat memberitahukan kabar baik terlebih dahulu. "Sebentar, saya mau kasih tau sesuatu." Dia kembali menghindar saat Damian mencoba meraihnya. "Tunggu dulu, ih ... Dengar saya dulu, mister!"

"Tidak ada waktu, Nyonya!" Damian mengatakan hal yang sama. Pria itu terlihat gugup.

Ini pertama kali, Nina melihat ekspresi baru dari lelaki blasteran itu. "Kenapa sih?" Tanya heran. Tapi setelahnya Nina tersadar, kenapa dia jadi seberani ini?

"Oke cepat katakan." Mata biru itu melirik ke arah tangga.

"Jadi gini, saya itu ..." Tangannya hendak mengambil amplop hasil USG dari rumah sakit. Tapi tertahan begitu mendengar suara tawa renyah dari seorang perempuan.

Mata cokelat Nina mengikuti arah suara. Itu berasal dari tangga arah kamar suaminya. Lalu dalam hitungan detik netranya menangkap seorang perempuan berambut merah sedang tertawa lebar bersama lelaki yang tiga bulan ini tak dia lihat dan dengar kabarnya.

Mereka terlihat mesra, karena tangan Ammar bertengger di pinggang ramping perempuan asing itu. Ditambah lagi, selama menuruni tangga beberapa kali Ammar mendaratkan bibirnya pada kening perempuan tersebut.

Mendadak mata Nina merasa panas, pandangannya mulai berkabut. Lalu sebuah bulir luruh membasahi pipi, diikuti banyak bulir setelahnya.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!