“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP27
“Bu Niken, awaaas!”
Jeritan histeris itu membuat Bella refleks berguling ke samping.
DOR!
DOR!
Dua timah panas meletus, melesat lebih cepat dari pergerakannya. Salah satunya berhasil menembus lengan wanita itu. Darah segar pun mengalir deras, rasa panas menjalar hingga ke bahu.
Bella terjerembab, tubuhnya terlungkup di atas tanah berlumut.
Di dalam kandang, anak-anak KKN menjerit panik saat melihat sang dosen tak lagi bergerak.
“Bu Niken ...!”
“Bangun, Bu ... tolong bangun ....”
Isak tangis pecah di antara jeruji besi.
Melihat tubuh Bella tak bergerak, seorang bandit bermisai panjang menyeringai puas. Ia melangkah santai mendekat, sepatu botnya menginjak dedaunan lembab.
“Rupanya kau dalangnya,” gumamnya meremehkan. “Perempuan jalang yang bikin pulau ini berisik bahkan sebelum fajar menyingsing.”
Ia berhenti hanya beberapa langkah dari tubuh Bella. Pistol di tangannya terangkat, larasnya mengarah tepat ke belakang kepala sang agen mata-mata.
“Sayang sekali,” lanjutnya sinis. “Meskipun kau barang pesanan para Elit, Ketua sudah memberi perintah sejak jauh-jauh hari. Siapapun yang membuat huru-hara di pulau ini ... harus segera dihabisi.”
Ia mengokang senjatanya, jemari menekan pelatuk. Siap mengakhiri hidup Bella.
Cklek.
“Sial!” desisnya geram. Ia kembali menarik pelatuk.
Cklek.
“Brengsek!” umpatnya geram. “Kenapa pelurunya mesti habis segala sih!”
Pria itu berdecak kesal, buru-buru merogoh saku hendak mengambil peluru cadangan. Namun gerakannya terhenti, tubuhnya mendadak membeku. Perlahan ia mengangkat wajahnya.
Sosok Bella yang tadi terkapar kini sudah berdiri di hadapannya. Wajah penuh peluh menyeringai seram, sementara tangannya menggenggam erat sebuah barbel 3 kilogram — benda yang tadi sempat dipakai salah satu bandit untuk berpamer kekuatan.
“Jalang sialan!”
Pria itu maju, melayangkan satu tinju.
Namun, terlambat. Bella sudah lebih dulu bergerak. Ia menggeser tubuhnya ke samping, menunduk, lalu menghantam tulang kering pria itu menggunakan barbel dengan sekuat tenaga.
KRAK!
“Arrrggghhh!”
Suara patahan tulang bercampur dengan jeritan melengking. Betis pria itu bengkok, lututnya langsung roboh menghantam tanah. Pria itu kembali menjerit-jerit.
“AAARGH! Kaki— kakiku!”
Ia mencengkeram betisnya, tapi sentuhannya justru membuatnya menjerit lebih keras. Tulang keringnya mencuat menembus kulit yang robek, menyembul di antara daging yang koyak.
“Sialan, kau apakan kakiku ...!” suaranya bergetar antara marah dan panik.
Napasnya memburu hebat. Ia mencoba bangkit, tapi begitu berat tubuhnya bertumpu sedikit saja—
“ARGH!” Ia kembali menjerit. Kembali terjatuh dengan wajah yang memucat drastis.
Bella berdiri beberapa langkah darinya, barbel masih tergenggam. Ia menatap sadis, tanpa iba.
“Anak-anak, tutup mata kalian!” seru Bella tanpa menoleh, lalu mengangkat barbel setinggi-tingginya.
Dengan kedua tangan gemetar, pria bermisai itu buru-buru merangkak mundur, menyeret tubuhnya menjauh.
“T-tunggu ... tunggu dulu ...,” suaranya panik, kepalanya menggeleng cepat. “Ampun ... jangan bunuh aku ...!”
Bella hanya menanggapi dengan seringai sinis.
“Aku cuma disuruh! Semua ini perintah Ketua ... aku cuma bawahan! Aku hanya bekerja demi sesuap nasi!”
“Ah, begitu, ya?” Bella melangkah mendekat tanpa ragu. “Kalau begitu, kita sama. Aku juga sedang bekerja.”
Bugh!
Barbel menghantam sisi wajah pria itu. Kepalanya terkulai miring.
Bugh!
Hantaman kedua lebih keras. Darah segar langsung mengucur dari hidung dan telinganya.
Bugh!
Hantaman ketiga membuat tubuh pria itu limbung dan ambruk di atas tanah. Tulang pipinya remuk, telinganya robek dan hancur di bawah besi padat itu.
Setelah memastikan bandit itu mati di tangannya, barulah Bella membuang barbel di tangannya. Kedua lutut wanita itu ambruk di atas tanah becek.
Di saat yang sama, dari arah kandang terdengar bunyi gaduh. Salah satu mahasiswa berhasil meraih kunci yang terjatuh di dekat jeruji. Dengan tangan gemetar, ia membuka gemboknya.
Pintu besi berderit terbuka. Anak-anak itu berhamburan keluar, berlari menuju Bella.
“Bu Niken!”
“Ibu nggak apa-apa?!”
“Ya Allah, darahnya banyak banget!”
Mereka mengerubungi sang dosen dengan panik. Dua orang segera berlutut di sampingnya, membantu melepas tas ransel dari punggung Bella yang basah oleh darah dan lumpur.
“Pelan-pelan, jangan goyangin lengannya!” seru salah satu dari mereka.
Bella mengangkat wajahnya perlahan. Meski pucat, sudut bibirnya masih bisa mengulas senyuman tipis.
“Tenang ...,” ujar Bella dengan suara serak. “Belum waktunya ibu tumbang.”
Setelah berkata demikian, Bella meminta pada anak-anak itu untuk membentuk lingkaran, melindunginya sebentar.
Bella membuka tasnya. Ia mengeluarkan pisau lipat kecil dan gulungan perban. Napasnya ditarik dalam-dalam sebelum ujung pisau itu ia arahkan ke luka di lengannya.
Dengan gerakan hati-hati, ia mencongkel peluru yang masih bersarang di dagingnya. Rahangnya mengeras menahan nyeri, keringat bercucuran di pelipisnya.
“Awwhh ....”
Butiran timah itu akhirnya terlepas dan jatuh ke tanah.
Tanpa membuang waktu, Bella menekan luka itu dengan kain, lalu membalutnya kuat-kuat menggunakan perban. Tangannya memang gemetar, tetapi lilitannya tetap rapi dan kencang.
Begitu selesai, ia lekas berdiri. Para mahasiswa-mahasiswi lekas berbaris di depannya.
“Dengar anak-anak,” ujar Bella sambil melirik kompas kecil dalam genggamannya, memastikan arah hingga jarumnya stabil. “Kalian akan ke arah utara. Kalian ikuti jalur pepohonan itu sampai tembus ke pantai utara. Jangan menyebar, dan jangan berisik. Begitu sampai di pinggiran pantai, tunggu di balik bebatuan pesisir. Sebuah kapal selam akan menjemput kalian.”
“Ibu gimana?” tanya salah satu dari mereka.
“Saya akan segera menyusul,” jawabnya singkat.
“Tapi, Bu. Ibu terluka.”
“Jangan membantah,” balas Bella tegas. “Sekarang jalan, kita nggak punya banyak waktu.”
Anak-anak itu akhirnya bergerak, berlari teratur menuju arah yang diperintahkan.
Begitu mereka menghilang di balik rimbun pohon, Bella berbalik. Ia membuka tasnya kembali dan mengeluarkan beberapa bahan peledak yang masih tersisa. Dengan gerakan cepat dan terlatih, ia menempatkannya di titik-titik strategis.
Setelah timer diatur mundur, Bella pun berlari menuju utara tanpa menoleh lagi.
Beberapa belas menit kemudian, ia tiba di pantai yang sepi. Ombak bergulung tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa di pulau itu.
Di kejauhan, dari balik permukaan laut yang gelap, sebuah kapal selam muncul perlahan. Palka terbuka. Satu per satu mahasiswa-mahasiswi itu dibantu naik oleh sang hacker.
Bella memastikan semuanya sudah masuk.
“Kamu udah hubungin pusat, Jim? Kita butuh bantuan.”
Jimmy — sang hacker mengulurkan tangan, Bella lekas menyambutnya. Pria pemilik lesung pipi itu membantu Bella naik ke atas kapal.
“Udah. Tim bantuan masih dalam perjalanan.” Pria itu melirik sekilas ke arah lengan Bella yang terbalut perban. “Wah, ini harus ku catat dalam buku diary. ‘Bella, perempuan gila, ternyata bisa terluka.’”
“Asem!” Bella mencebik. “Ini karena aku kelelahan. Lawanku terlalu banyak.”
Jimmy menanggapi dengan tawa mengejek.
Ketika kapal mulai bergerak, Bella mengangkat alat pemicu di tangannya. Ia menatap pulau itu dari balik kaca.
Dengan wajah datar, ia menekan tombol pada alat tersebut. Lalu—
BOOOMMMM!
Ledakan beruntun mengguncang daratan. Api dan asap hitam membumbung tinggi. Bella berbalik tanpa ekspresi, lalu mengecek titik lokasi keberadaan Edwin dan Abirama.
Lama ia mengamati titik koordinasi, keningnya berkerut dalam. “Utara?” gumamnya pelan.
Mata Bella seketika membulat, ia lekas melangkah mendekati juru mudi.
“Pak, putar balik. 200 meter ke kiri!”
*
*
*