Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 TIGA PERUBAHAN ROH: UNTA, SINGA, DAN ANAK
Angin di lereng Gunung Kehendak tidak lagi sekadar berhembus; ia menderu dengan suara parau yang terdengar seperti ribuan suara dari masa lalu yang mencoba menarik Abimanyu kembali ke lembah. Di ketinggian ini, udara menipis, membuat setiap tarikan napas terasa seperti meminum cairan es yang tajam yang menyayat paru-paru. Langkah kaki Abimanyu melambat, bukan hanya karena kelelahan fisik yang menghancurkan, tetapi karena beban batin yang tiba-tiba terasa berlipat ganda, seolah-olah gravitasi itu sendiri sedang berusaha menghukum siapa pun yang berani melarikan diri dari orbit kenyamanan.
Ia berhenti di sebuah dataran batu yang luas, gersang, dan dipenuhi oleh retakan-retakan kuno yang tampak seperti luka di kulit bumi. Di sini, di tengah kesunyian yang mencekam, di mana tidak ada lagi kicau burung atau desau dedaunan, Abimanyu merasakan sebuah getaran hebat di dalam rohnya. Ia berlutut di atas kerikil tajam, bukan untuk memohon ampun, melainkan karena ia tidak lagi sanggup berdiri di bawah beratnya "diri" yang ia bawa dari peradaban kertas.
Visi itu datang dengan kejam di tengah keletihannya. Abimanyu melihat rohnya sendiri menjelma menjadi seekor Unta—hewan pemikul beban yang diciptakan untuk menanggung haus dan beratnya gurun. Unta itu berlutut rendah di tengah padang pasir intelektual yang membara, menatap cakrawala dengan mata yang sayu namun penuh dengan kebanggaan yang menyedihkan.
Selama dua dekade di universitas, Abimanyu adalah unta yang paling taat. Ia teringat bagaimana ia dengan rakus melahap ribuan halaman teori yang membosankan, menghafal setiap catatan kaki, dan menyembah otoritas-otoritas yang sudah lama menjadi debu. Ia memikul beban "Kajian Pustaka" yang tak berujung, membedah "Penelitian Sebelumnya" hingga ke sel-sel terkecil, dan menyusun "Landasan Teori" seolah-olah ia sedang membangun benteng untuk jiwanya yang ketakutan.
"Berikan padaku beban yang paling berat!" unta itu seolah berteriak kepada semesta. Ia tidak mencari kebahagiaan; ia mencari penderitaan yang bisa ia banggakan. Ia membebani dirinya dengan tanggung jawab "Rencana Pembelajaran Semester", menyiksa pikirannya dengan kalkulasi "Proyeksi Penduduk Usia Kerja", dan mengikat lehernya dengan rantai "Kurikulum OBE". Setiap kali sistem berkata, "Kau harus!", unta itu akan berlutut lebih rendah dan menerima beban yang lebih besar, percaya bahwa dengan menjadi budak yang paling kuat, ia akan menjadi manusia yang paling mulia.
"Aku telah menjadi gudang bagi pikiran orang lain," desis Abimanyu di atas batu cadas itu, suaranya parau oleh debu. "Aku memikul sejarah yang bukan milikku, hukum yang tidak kupahami, dan nilai-nilai yang sebenarnya mencekik leherku. Aku adalah unta yang bangga karena ia bisa merangkak di bawah beban yang menghancurkannya. Aku mencintai beban ini karena tanpa beban ini, aku tidak tahu siapa diriku. Aku takut akan kekosongan, maka aku mengisinya dengan sampah-sampah intelektual yang berat."
Ia melihat kembali memorinya tentang disertasi S3-nya, tentang bagaimana ia memuja "Landasan Teori" seolah-olah itu adalah kitab suci. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah berjalan dengan kakinya sendiri; ia berjalan dengan kaki para pemikir mati yang ia panggul di pundaknya. Keletihan ini adalah keletihan seorang hamba yang telah lupa bagaimana rasanya berdiri tegak tanpa beban.
Namun, di gurun yang paling sunyi, di mana tidak ada lagi air pujian untuk membasahi tenggorokan sang unta, terjadilah perubahan kedua yang mengerikan. Roh itu tidak lagi mau berlutut. Rasa sakit akibat beban itu berubah menjadi amarah yang jernih. Punuknya menghilang, bulunya yang kusam berubah menjadi emas yang berkilau di bawah matahari gunung, dan matanya menyala dengan api kehendak yang tajam.
Roh itu berubah menjadi Singa.
Abimanyu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan kekuatan predator yang selama ini ia tekan di bawah lapisan kesopanan akademik. Di hadapan sang singa, muncul sesosok Naga Besar yang menghalangi jalan pendakiannya. Naga itu bukan terbuat dari daging, melainkan dari ribuan sisik emas yang berkilauan. Pada setiap sisiknya, tertulis perintah mutlak yang telah mengatur hidup manusia selama ribuan tahun: "Kau Harus!" (Thou Shalt).
"Semua nilai telah diciptakan," naga itu berkata dengan suara yang menggetarkan tebing-tebing batu, terdengar seperti suara Profesor Danu dan suara ribuan tahun tradisi yang menyatu. "Dan akulah pemegang semua nilai itu. Tidak ada lagi ruang bagi kehendakmu. Kau hanyalah setitik debu dalam hukumku yang abadi!"
Inilah momen di mana Abimanyu merasakan "Aku Mau" (I Will) meledak dari dalam dadanya. Sang singa tidak datang untuk menciptakan nilai-nilai baru—ia terlalu liar dan penuh amarah untuk itu—tetapi ia datang untuk menciptakan kebebasan bagi penciptaan itu sendiri. Ia datang untuk memberikan jawaban "TIDAK" yang suci terhadap naga besar tersebut.
"Aku menolak!" teriak Abimanyu ke arah lembah yang jauh, suaranya membelah badai. "Aku menolak menjadi pengikut! Aku menolak menjadi bayangan! Aku menghancurkan segala sisikmu, wahai Naga Tradisi! Kau menyebut dirimu 'Kebenaran', padahal kau hanyalah 'Kebiasaan' yang sudah lama membusuk. Aku merobek ijazah-ijazahmu, aku menertawakan akreditasi-mu, dan aku meludahi setiap 'Indikator Kinerja Utama' yang kau gunakan untuk mengukur tinggi rendahnya jiwaku!"
Ia merasakan kemarahan singa itu mencabik-cabik sisa-sisa ketaatan butanya. Ia merobek identitas "Guru" yang butuh pengakuan murid, menghancurkan berhala-berhala dingin dari negara dan universitas yang membekukan pemikirannya. Ia merasakan nikmatnya menjadi musuh dari sebuah sistem yang dulunya ia puji. Namun, di tengah amarah yang membara itu, ia menyadari sesuatu yang lebih dalam dan lebih menyakitkan: Singa bisa menghancurkan, tapi ia tidak bisa membangun. Singa bisa membebaskan ruang dari naga, tapi ia belum bisa mengisi ruang itu dengan makna. Singa adalah pembuka jalan, bukan sang pembangun jalan itu sendiri.
Keheningan kembali datang, namun kali ini bukan keheningan yang menekan seperti saat ia menjadi unta, melainkan keheningan yang lapang dan bercahaya. Amarah singa perlahan mereda, menyisakan sebuah ketenangan yang asing dan murni. Di atas dataran batu itu, roh yang tadinya perkasa dan penuh luka kini perlahan mengecil, melunak, dan bertransformasi untuk terakhir kalinya.
Roh itu menjadi seorang Anak Kecil.
Mengapa roh harus menjadi anak kecil? Karena anak kecil adalah pelupaan. Ia tidak membawa dendam sang singa terhadap naga, dan ia tidak membawa beban sang unta terhadap pasir. Ia adalah sebuah permulaan baru, sebuah kepolosan yang tidak tersentuh oleh teori. Ia adalah sebuah permainan, sebuah roda yang berputar dari dirinya sendiri, sebuah gerakan pertama, sebuah kata "YA" yang suci terhadap eksistensi.
Abimanyu membuka matanya. Ia melihat botol abu di tangannya. Abu itu bukan lagi simbol penderitaan yang ia panggul sebagai unta, bukan pula simbol kemarahan yang ia cengkeram sebagai singa. Ia hanyalah debu. Ia meniupkan sedikit abu itu ke udara, melihatnya menari tertiup angin tanpa rasa penyesalan, tanpa rasa benci. Ia telah melupakan Universitas. Ia telah melupakan Lembah Nama. Ia telah melupakan siapa dirinya yang lama.
"Aku adalah anak kecil yang baru lahir di atas reruntuhan ini," gumamnya dengan senyum yang belum pernah ia miliki sebelumnya—sebuah senyum yang tidak membutuhkan penonton. "Duniaku bukan lagi sebuah teks yang harus dibedah dengan metodologi, melainkan sebuah permainan yang harus dimainkan dengan keberanian. Aku tidak lagi mencari 'Kebenaran' di luar sana; aku adalah pencipta nilaiku sendiri di sini."
Sebagai anak kecil, Abimanyu memiliki kepolosan untuk mencoba dan mengalami kegagalan tanpa rasa malu. Ia tidak lagi peduli pada sitasi atau pengakuan di pasar yang ia tinggalkan. Ia adalah sang Übermensch yang mulai belajar berjalan kembali, langkah demi langkah, tanpa jaminan bahwa ia akan sampai di puncak. Langkahnya kini terasa ringan, bukan karena jalannya mendatar, tetapi karena gravitasi batinnya telah lenyap. Ia telah memenangkan dunianya sendiri karena ia telah berani melepaskan dunia orang lain.
Ia berdiri dan mulai mendaki lagi. Ia tidak lagi mendaki karena "tugas" atau "ambisi", melainkan karena ia menikmati setiap gesekan sepatunya dengan batu, setiap rasa dingin yang menusuk kulitnya, dan setiap detak jantungnya yang membuktikan bahwa ia ada dan ia berkuasa atas dirinya sendiri.
Malam mulai turun sepenuhnya menyelimuti kaki gunung, namun bagi Abimanyu, matahari batinnya baru saja terbit—sebuah matahari yang tidak pernah terbenam bagi mereka yang berani menjadi "Anak". Sang Pendaki tidak lagi memiliki masa lalu untuk dipikul sebagai beban; ia hanya memiliki cakrawala luas untuk diciptakan sebagai permainan.
"Ya!" teriaknya pada kesunyian puncak. "Ya pada rasa sakit! Ya pada keletihan! Ya pada kehidupan ini, apa adanya, tanpa syarat!"
Ia melangkah maju ke dalam kegelapan malam, namun ia tidak lagi takut akan hantu-hantu masa lalu. Karena bagi seorang anak, kegelapan hanyalah bagian lain dari permainan persembunyian yang indah dengan semesta. Ia telah melampaui perubahan rohnya, dan kini, pendakian yang sesungguhnya baru saja dimulai.