Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Our Home in Jogja
Sore harinya setelah mereka menikmati archery dan bakmi jawa. Mereka berdua langsung mengemasi barang-barang yang dimasukkan ke dalam koper.
Dua koper besar milik Idris dan Tia sudah berada di kedua tangan Idris. Tia hanya membawa sebuah tas punggung yang isinya beberapa makeup, laptop dan ponsel.
Sebelum pergi mereka check out terlebih dahulu dari hotel yang sudah mereka tempati beberapa hari ini.
"Sudah siap pergi ke rumah kita sayang?"
"Of course mas!", Idris memasukkan kedua koper besar yang dibawanya kedalam bagasi taxi yang sudah ia pesan.
"Are you happy?" Tanya Idris.
Kedua mata Tia berbinar "Of course and always. When i'm with you i always feel happy thank you", Idris tersenyum lalu dia membukakan pintu taxi untuk istrinya tersebut.
Dengan senyuman yang manis Tia mengucapkan terimakasih sekali lagi "Thank you so much mas".
Mereka berdua menikmati suasana malam yang sedikit tenang karena memang disaat weekdays jogja tidak begitu ramai.
Idris menoleh ketika mendapati Tia meraih tangannya " kamu happy nggak mas?" dengan gemas Idris meraih tangan Tia lalu menciumnya.
"Always babe".
Tia menyandarkan kepalanya di bahu Idris, seperti yang dibilang beberapa hari yang lalu bahwa tempat ternyaman menurutnya adalah bahu Idris.
Bahu Idris seperti menyalurkan ketenangan, apalagi bahunya lebar cocok menjadi sandaran wanita seperti dirinya dan of course hanya dirinya yang bisa melakukannya.
"Kamu tahu nggak Tia?" belum melanjutkan kalimatnya Tia malah menyela lebih dulu, "hmm nggak tahu kan kamu nggak bilang".
"Dengerin dulu makanya jangan menyela".
"Okay jadi gimana mas?" sambil mengelus kepala Tia yang bersandar dibahunya Idris memberi tahu apa yang ada dibenaknya.
"Kamu cantik bahkan wanita paling cantik di indonesia. Apalagi jika kamu tersenyum dan bersandar di bahuku yang lebar ini, rasanya jiwaku dan hatiku tidak bisa berpaling darimu. Aku bahkan sudah jatuh cinta padamu sebelum kamu mengetahuinya"
"Kok jadi ngegombal gini sih? Dulu perasaan wajah mas kaya orang bener gimana ya intinya kaya kalem begitu loh kok bisa-bisanya ngegombal begini kan aku jadi salting", Tia menegakkan kepalanya, menoleh ke arah samping agar Idris tak bisa melihat pipinya yang memerah.
"Saltingnya langsung gitu ya noleh ke samping. Coba mas lihat wajah kamu yang cantik itu, mas mau lihat kalau salting gimana", perlahan tangan Idris meraih wajah Tia, membalikkan wajahnya untuk menatap dirinya agar bisa melihat wajah cantik yang tersipu malu karena salting.
Tia menepis dengan pelan tangan Idris yang memegang wajahnya "Ih jangan aku malu".
"Gausa malu kayak sama siapa aja".
"Please" Idris tak sanggup saat melihat kedua mata istrinya yang seperti seekor kucing, dengan gemas dia menangkup kedua pipi Tia dengan kedua tangannya.
"You're cute not just pretty"
"Nah kan bikin salting lagi" Idris hanya terkekeh mendengarnya.
...----------------...
Jogja di malam hari ini mendapati air hujan yang tidak deras, hanya gerimis saja ynag membasahi jalanan.
Setelah beberapa menit mungkin sekitaran 50 menit mereka berdua sampai di tempat yang di tuju.
Malam itu, Kulon Progo menyambut Idris dan Tia dengan aroma tanah basah dan suara jangkrik yang bersahutan. Taksi berhenti tepat di depan gerbang besi berwarna hitam. Setelah menempuh perjalanan panjang dari pusat kota, keduanya turun dengan langkah lelah namun penuh syukur. Idris segera mengangkut koper dari bagasi, sementara Tia menghirup dalam-dalam udara perbukitan yang murni. Di bawah pendar lampu teras yang temaram, Idris merangkul bahu istrinya, menatap rumah yang kini menjadi pelabuhan terakhir mereka. Di sini, di tengah kesunyian malam, ada kebahagian yang terpancar di wajah mereka.
"Finally kita sampai di rumah".
"Disini udaranya lebih segar ternyata, i really love it" Idris menyela "you really love it?".
"mm hmm seperti........ Aku menjadi lebih hidup dengan pemandangan perbukitan seperti itu", Tia menunjuk daerah perbukitan yang terlihat disana.
"I'm so happy jika kamu menyukai tempat ini, i mean rumah ini juga, rumah kita yang akan penuh dengan cinta dan udara yang bersih".
"Yes! Kamu pintar banget milih rumah mas good job!" seru Tia.
Idris membuka gerbang yang digembok dengan kunci yang sedari tadi sudah dia keluarkan dari kantung celana cargo miliknya.
Saat Tia akan membawa dua koper besar di sampingnya, Idris lebih dulu meraih keduanya "No biar aku saja kamu bawa kunci ini dan buka pintunya".
Tia mengangguk, lalu melangkah kedepan dan membuka pintu rumah, diikuti dengan Idris dibelakangnya yang membawa dua koper besar berisi pakaian.
"Welcome sayang. This is our home"
Kedua mata Tia berbinar melihat isi rumah tersebut. Tadi juga dia berbinar saat melihat halaman rumah yang luas yang ditumbuhi beberapa tumbuhan belum lagi di dalam rumah yang memiliki lantai dua.
"Rumahnya luas ternyata, aku kira tadi nggak seluas ini karena dari depan terlihat normal".
"Makanya jangan lihat dari depannya karena belum tahu dalamnya bagaimana".
"Exactly kamu bener banget mas 100 buat kamu haha" Tia tertawa begitupun dengan Idris.
Idris menyeret kopernya lebih dulu ke atas karena kamar utama berada di atas. Tia hanya mengikutinya saja karena tidak tahu dengan jelas letak tempat di rumah ini baik kamar utama, kamar tamu, meja makan, dapur dll. Yang dia tahu hanya garasi yang di depan tadi.
"Nah disini kamar kita" Tia melihat sekeliling kamar tersebut, ada sebuah sofa panjang, meja kecil didepannya. Lalu kasur king size yang empuk, jendela dan meja rias.
"Wait kok ada meja rias?" Tanya Tia.
"Itu kemarin aku membelinya sayang saat kita merencanakan pernikahan kita, aku menyuruh orang yang biasa membersihkan tempat ini untuk menaruh meja rias di kamar utama".
"Jadi kamu sudah menyiapkan semuanya? Wah effort banget ya ternyata kamu mas", Idris tersenyum lalu melangkah memeluk Tia dari belakang, "Karena aku mencintaimu i'll do anything for you".
"Aku nggak tahu harus berapa mengucapkan kata terimakasih but thank you buat semuanya, dan terimakasih sudah mencintaimu secara ugal-ugalan seperti ini. My prayers will always be with you and my blessings will always be with you too. Karena kata orang kebahagiaan istri bisa memberikan rezeki buat suami."
"That's why i'll do anything for you, dan semua doaku juga selalu bersamamu bahkan jiwaku,hatiku, mataku,pikiranku semuanya".
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada