Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kediaman Syailendra - Waktu yang Bersamaan
Arjuna Syailendra—kakek dari Vyan—duduk di kursi rodanya di ruang tamu megah mansion-nya, menatap jasad cucunya yang dibawa pulang oleh asisten Vyan. Rio.
Pria tua yang dulunya gagah, sekarang hanya bisa duduk dengan kaki yang lumpuh karena stroke dua tahun lalu. Tapi matanya—matanya masih tajam, masih penuh semangat.
Sampai malam ini.
Melihat Vyan—cucu satu-satunya, harapan terakhir keluarga Syailendra—terbaring tanpa nyawa dengan tubuh penuh luka, sesuatu di dalam Arjuna mati.
"Vyan..." Suaranya bergetar, tangannya yang keriput mengusap wajah cucunya yang dingin. "Cucuku... Kakek minta maaf... Kakek yang bodoh... Kakek yang membiarkan dendam mengaburkan pandangan... Kakek yang memaksamu menjauhi sahabatmu..."
Dia menutup mata, air matanya mengalir.
Asisten pribadinya—Tuan Kenji—berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Arjuna dengan suara yang tiba-tiba berubah dingin.
"Keluarga Kusuma, Tuan. Menurut informasi dari asisten Tuan Zaverio, yang memimpin pembunuhan ini adalah Darwan Kusuma—sahabat lama Anda."
Hening panjang.
Kemudian Arjuna tertawa—tawa yang terdengar seperti pecahan jiwa yang sudah rusak total.
"Darwan... jadi kau yang di balik semua ini..." Dia membuka mata, tatapannya tajam seperti elang. "Kau yang membuat kami bermusuhan. Kau yang menyebarkan kebohongan. Dan sekarang... kau membunuh cucu kami."
Arjuna menoleh ke Tuan Kenji. "Hubungi Darma Paramitha. Katakan padanya... sudah waktunya kita bersatu."
...****************...
Tiga Hari Kemudian - Pertemuan Rahasia
Di sebuah warehouse terpencil di pinggir Jakarta, tiga pria berkumpul di sekitar meja kayu tua: Darma Paramitha, Arjuna Syailendra pdan Zaverio Kusuma.
Atmosfernya tegang. Ketiga pria ini—yang seharusnya musuh—kini duduk bersama dengan satu tujuan: balas dendam.
"Aku tidak pernah membayangkan akan duduk semeja denganmu, Darma," kata Arjuna, suaranya pahit tapi ada rasa hormat di sana.
"Aku juga tidak," balas Darma. Dia menatap Zaverio dengan tatapan yang masih penuh kebencian. "Dan aku masih membenci keluarga Kusuma. Tapi kau..." Dia menunjuk Zaverio. "Kau berbeda. Aku bisa melihatnya."
Zaverio tidak menjawab. Dia hanya duduk di sana, mata kosong, wajah tanpa ekspresi. Dia sudah tidak tidur selama tiga hari. Tidak makan. Hanya duduk di kamarnya, menatap foto Anindita, merencanakan balas dendam.
"Kakek Darwan masih di warehouse-ku," kata Zaverio dengan suara datar. "Juga Bramantara, Lastri, Savitha dan semua anggota keluarga Kusuma yang terlibat. Total ada 47 orang."
"Bagus," Darma mengangguk. "Aku ingin mereka semua menderita. Perlahan. Sangat perlahan."
"Aku juga," tambah Arjuna. "Tapi yang paling penting—aku ingin Darwan mati dengan cara yang paling menyakitkan."
Ketiganya menatap satu sama lain, kesepakatan diam-diam terbentuk.
"Mari kita hancurkan mereka," bisik Zaverio. "Sampai tidak tersisa apapun."
...****************...
Satu Minggu Kemudian - Pembantaian Total
Dalam satu minggu, kerajaan bisnis Kusuma Group yang berdiri selama 80 tahun runtuh total.
Saham anjlok 95% dalam dua hari. Investor menarik dana. Bank menyita aset. Perusahaan cabang di luar negeri ditutup. Properti disita. Nama Kusuma menjadi aib di dunia bisnis Indonesia.
Tapi kehancuran finansial hanya permulaan.
Darma Paramitha menggunakan koneksi politiknya untuk memastikan tidak ada yang mau berbisnis dengan siapapun yang bernama Kusuma. Arjuna Syailendra menggunakan jaringan underworld-nya untuk membuat hidup keluarga Kusuma menjadi neraka—ancaman terus menerus, teror psikologis, isolasi total.
Dan Zaverio? Zaverio melakukan yang paling brutal.
Dia menyiksa mereka. Satu per satu.
Di warehouse gelap yang sama di mana keluarganya ditahan, Zaverio menjadi monster yang tidak pernah dia bayangkan bisa menjadi.
...****************...
Warehouse - Ruang Penyiksaan
Hardana terikat di kursi besi, tubuhnya penuh luka, wajahnya bengkak tidak berbentuk. Zaverio berdiri di hadapannya dengan pistol di satu tangan, besi panas di tangan lainnya.
"ANINDITA SANGAT MENCINTAIMU!" Zaverio berteriak, memukul Hardana dengan besi panas. Kulit terbakar, Hardana berteriak kesakitan. "TAPI KAU MENGKHIANATI CINTANYA!"
"K-Kakak..." Hardana terbatuk darah. "K-Kalian... kalian yang berkhianat duluan... Foto-foto... bukti... kalian berhubungan di belakangku..."
"BODOH!" Zaverio memukul lagi, lebih keras. "Kau pikir Dita wanita seperti itu?! Itu semua PALSU! Dibuat oleh keluarga kita! Oleh kakek kita untuk menghancurkan pernikahanmu!"
Hardana membeku, kesadaran perlahan menghantamnya.
"Dan kau tahu apa yang paling menyakitkan?" Zaverio mendekati, wajahnya hanya sejengkal dari Hardana. "Dia hamil. Hamil anakmu. ANAKMU, BODOH! Bukan anakku! Dia menunggumu pulang untuk memberitahu kabar bahagia itu. Tapi kau? Kau malah menikahi adiknya dan membunuhnya!"
"TIDAK!" Hardana berteriak, air matanya bercampur darah. "TIDAK! ASTAGA, APA YANG SUDAH KULAKUKAN?!"
"Kau membunuh istri dan anakmu sendiri," bisik Zaverio dingin. Dia mengarahkan pistol ke lutut Hardana dan menembak.
BANG!
Hardana berteriak, tubuhnya berkonvulsi.
"Sekarang rasakan kesakitan yang dia rasakan." Zaverio menembak lutut lainnya. BANG!
Kemudian tangan kanan. BANG!
Kemudian tangan kiri. BANG!
Hardana tidak bisa berteriak lagi, suaranya sudah hilang. Dia hanya bisa merintih lemah, matanya memohon—memohon kematian yang cepat.
Tapi Zaverio tidak memberikannya.
"Kau akan mati perlahan," katanya dingin. "Kesakitan. Penuh penyesalan. Seperti dia."
Dia berjalan keluar, meninggalkan Hardana yang berdarah-darah, masih hidup tapi berharap mati.
...****************...
Ruangan Lain - Savitha Paramitha
Savitha terikat di kursi, matanya tertutup kain hitam, tubuhnya gemetar hebat. Dia mendengar langkah kaki—banyak langkah kaki—mendekat.
Kain mata dibuka, dan dia berteriak melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Darma Paramitha. Kakeknya.
Tapi bukan kakek yang dia kenal. Mata yang biasanya penuh kasih sayang kini hanya penuh kebencian yang membakar.
"Kakek..." Savitha menangis. "Kakek, kumohon... Maafkan aku... Aku tidak bermaksud—"
"DIAM!" Darma berteriak, menamparnya keras. "Jangan panggil aku Kakek! Kau bukan cucuku! Cucuku sudah mati! DIBUNUH OLEHMU!"
"Tapi Kakek... Mama diperlakukan tidak adil dulu... Kak Dita mengusir kami... Aku hanya ingin balas dendam—"
"Balas dendam?!" Darma tertawa pahit. "Dita memperlakukanmu seperti adik kandung! Dia menyekolahkanmu! Memberikanmu rumah! Mencintaimu! Dan kau? Kau mencuri uang perusahaan, menghancurkan hidupnya dan sekarang MEMBUNUHNYA!"
Savitha menunduk, tidak berani menatap mata kakeknya.
"Kau sama seperti ibumu," bisik Darma dengan nada yang sangat dingin. "Pembunuh. Pengkhianat. Perusak."
Dia mengeluarkan pisau dari balik jasnya—pisau panjang yang berkilat di cahaya lampu warehouse.
"Dan pembunuh harus dibalas dengan cara yang sama."
Savitha berteriak meminta tolong, meminta ampun. Tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli.
Darma Paramitha—pria yang selama 88 tahun hidupnya tidak pernah menyakiti siapapun—menjadi algojo untuk cucu tirinya sendiri.
Penyiksaan berlangsung berjam-jam. Darma tidak membunuhnya dengan cepat. Dia ingin Savitha merasakan apa yang Anindita rasakan—kesakitan, ketakutan, keputusasaan.
Dan akhirnya, saat Savitha berteriak nama "Kak Dita" untuk terakhir kalinya—memohon maaf pada kakak yang sudah dia bunuh—Darma mengakhiri hidupnya.
Tidak ada belas kasihan di matanya. Hanya kepuasan yang gelap.
...****************...
Ruangan Utama - Darwan Kusuma
Darwan terikat di tengah ruangan, dikelilingi oleh Darma, Arjuna, dan Zaverio. Tiga pria yang hidupnya dia hancurkan.
Tapi pria tua itu tidak takut. Dia malah tertawa—tertawa yang terdengar gila.
"Akhirnya kalian datang," katanya dengan senyum lebar. "Aku sudah menunggu."
"Kau gila," bisik Arjuna, tangannya terkepal.
"Gila?" Darwan tertawa lebih keras. "Mungkin. Tapi aku mencapai tujuanku. Aku membuat kalian menderita. Aku menghancurkan keluarga kalian. Aku—"
"Kau membunuh cucu kami," potong Darma, suaranya bergetar menahan amarah. "Dita dan Vyan. Anak-anak tidak bersalah."
"Ah ya, itu." Darwan tersenyum—senyum yang paling mengerikan. "Kau tahu, Darma... Cucumu itu sedang hamil. Dan aku... aku yang memastikan dia dan bayinya mati."
Hening.
Kemudian sesuatu di dalam Darma patah.
"Dita... cucuku hamil..." Tubuhnya goyah, hampir jatuh. Arjuna menopangnya.
"Kuatkan dirimu, Darma," bisik Arjuna, walau dia sendiri shock.
"Aku kehilangan dua sekaligus..." Darma menatap Darwan dengan tatapan yang penuh kematian. "AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
"Sekarang kalian tidak punya penerus lagi!" Darwan tertawa histeris, psikopat. "Paramitha dan Syailendra akan mati bersamaku! HAHAHAHA!"
Tiga pistol diarahkan padanya. Tiga pria yang kehilangan segalanya. Tiga peluru ditembakkan bersamaan.
BANG! BANG! BANG!
Darwan Kusuma mati dengan senyum di wajahnya—senyum kemenangan yang busuk.