Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.
Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.
"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Wijaya Group
Ruang Kantor CEO
Arini Wijaya duduk di meja kerjanya, menatap kopi di depannya dengan pandangan kosong sambil melamun.
"Entah suamiku sudah sampai rumah atau belum, perjalanannya lancar tidak ya. Menyebalkan sekali ditinggal sebentar saja."
Setelah tersadar, dia baru saja hendak mengangkat kopinya ketika suara notifikasi pesan WhatsApp berbunyi dari ponsel di atas meja. Melihat pesan yang dikirim oleh Arya Dewa, dia berdiri dengan penuh semangat.
"Sayang, kamu sedang sibuk tidak? Aku sudah memberitahu orang tuaku tentang hubungan kita. Bapak dan Ibu tidak keberatan, tapi syaratnya kita harus punya anak buat mereka timang-timang nanti."
Setelah membaca pesan itu, Arini membalas dengan wajah memerah, "Sayang, aku sangat senang Bapak dan Ibu bisa menerimaku. Jangan kan satu anak, melahirkan beberapa pun aku tidak masalah."
"Hehe, bagaimana kalau melahirkan satu tim sepak bola?" balas Arya.
"Satu tim sepak bola pun tidak masalah, itu tergantung kemampuan suamiku."
"Kemampuanku? Kamu masih belum tahu juga seberapa kuat aku?"
"Iya, iya, suamiku yang paling hebat."
"Hehe, Sayang, kamu sibuk tidak?"
"Tidak, ada apa?"
"Ibuku ingin video call denganmu."
"Hah, sekarang?" Arini kaget.
"Iya."
"Sayang, tunggu sebentar, aku rapikan diri dulu baru aku telepon balik."
Setelah mengirim pesan, Arini segera berlari ke cermin di ruang istirahat untuk merapikan pakaian dan rambutnya, serta memoles riasan tipis agar terlihat segar. Keluar dari ruang istirahat, dia berjalan mondar-mandir di kantor, memikirkan apa yang harus dikatakan nanti. Apakah langsung memanggil Ibu dan Bapak atau memanggil Om dan Tante.
Arini merasa sangat gugup. Tiba-tiba dia teringat sahabatnya Siska dan segera meneleponnya.
"Halo, Ibu CEO yang agung, ini kan jam kerja, kenapa orang gila kerja sepertimu meneleponku?"
"Darurat! Hari ini Arya pulang ke kampung halaman dan memberitahu orang tuanya soal kami. Barusan Arya bilang ibunya ingin video call denganku. Aku sangat gugup dan tidak tahu harus bagaimana!"
"Cuma itu? Kupikir kau menelepon untuk melabrakku soal Rendy kemarin."
Siska sebenarnya agak segan jika Arini sudah bicara serius. Julukan "Wanita Besi Dunia Bisnis" bukan sekadar nama. Kabarnya Ferry yang mengejarnya selama bertahun-tahun saja dibuat bangkrut dalam semalam olehnya.
"Aku tidak sempat mengurusi sepupumu itu. Lagipula demi hubungan kita, aku tidak akan mencari masalah padanya hanya karena hal sepele. Bilang padanya untuk lebih sopan ke depannya."
"Terima kasih, Arini."
"Aduh, jangan bicara yang aneh-aneh. Cepat beri aku saran!"
Kemudian Siska terus berceloteh memberikan berbagai saran "PDKT" dengan mertua kepada Arini. Setelah menutup telepon, Arini menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri. Dia membuka WhatsApp, mencari profil Arya Wiratama, dan menekan tombol panggilan video.
Musik nada tunggu berbunyi, video tersambung. Arini melihat wajah Arya di layar.
"Sayang, kamu cantik sekali."
Arini merasa malu karena Arya memujinya di depan orang tuanya. "Sayang, mana Ibu?"
Terdengar suara seorang wanita dari pengeras suara ponsel. "Le, cepat berikan ponselnya padaku. Ibu ingin bicara dengan menantuku."
Arini hampir saja menangis terharu saat mendengar ibu Arya memanggilnya "menantuku". Layar video berguncang sejenak, lalu muncul wajah seorang wanita yang tampak bersahaja namun berwibawa.
"Nduk, apa kabar?"
Arini segera menyapa dengan senyuman paling manis. "Halo Ibu. Ibu terlihat sangat muda dan segar."
Melihat wajah menantunya yang sangat cantik, Ibu Rahayu merasa senang. Meskipun Arini berusia 36 tahun, dia terlihat sangat awet muda seperti gadis 20-an.
"Mana ada, Ibu sudah tua. Menantuku yang cantik, ini berkah bagi Arya bisa menikahimu."
"Tidak, Bu. Bertemu dengan Arya-lah yang merupakan berkah bagiku."
"Melihat kalian berdua rukun, Ibu jadi tenang. Kalau ada waktu datanglah ke rumah di Kendal, Ibu akan masakkan makanan enak kesukaanmu."
"Baik Bu, kalau ada waktu aku akan langsung pulang menjenguk Ibu."
"Kata Arya, kalian besok mau mendaftarkan pernikahan. Apakah orang tuamu setuju?"
Arini menjawab tanpa ragu: "Tenang saja Bu, aku bisa memutuskan pilihanku sendiri."
"Bagus kalau begitu. Tapi kenapa masih panggil Ibu?"
Arini telah menunggu saat ini selama bertahun-tahun. Sekarang keinginannya terkabul, dia memanggil dengan penuh emosi. "Iya, Ibu."
Ibu Rahayu sangat senang. "Arini, Arya tidak pernah menjahatimu kan? Kalau dia berani macam-macam, bilang pada Ibu, nanti Ibu suruh Bapaknya mematahkan kakinya."
"Tidak Bu, Arya sangat baik padaku."
Keduanya mengobrol selama setengah jam lebih sampai akhirnya panggilan diakhiri. Setelah itu, muncul notifikasi permintaan pertemanan di WhatsApp dari Ibu Rahayu. Begitu disetujui, Ibu Rahayu langsung mengirimkan transferan uang elektronik dalam jumlah besar.
"Arini, ini uang peningset atau uang tanda resmi penggantian panggilan dari Ibu, jangan dilihat jumlahnya ya."
"Bu, tidak usah repot-repot."
"Arini, cepat terima. Ini sudah adatnya."
Arini merasa hatinya sangat manis saat menekan tombol terima. "Terima kasih banyak, Bu."
Sekarang giliran dia untuk pulang mengambil Kartu Keluarga (KK) miliknya. Dia memanggil Laras, memberikan beberapa instruksi, lalu bergegas turun dan menyetir menuju rumah orang tuanya di perumahan elit.
Arini tiba di vila, memarkir mobil, dan masuk ke dalam. Dia melihat seorang wanita berusia sekitar 50-an tahun duduk di sofa. Wanita itu mengenakan kebaya modern perak yang anggun, memancarkan aura kemewahan. Wajahnya 70% mirip dengan Arini. Inilah ibu Arini, Ibu Linawati.
"Ibu." Begitu masuk, Arini langsung memeluk ibunya.
Ibu Linawati dengan lembut mengelus kepala putrinya. "Sudah sebesar ini masih saja manja seperti anak kecil."
"Di depan Ibu aku selamanya adalah anak kecilmu, hehe..."
"Cepat katakan, ada perlu apa pulang kali ini?"
"Aku hanya rindu pada Ibu."
Ibu Linawati melirik putrinya dan mengetuk dahi Arini dengan jarinya. "Apa kau sendiri percaya dengan ucapanmu itu?"
"Aduh, aku benar-benar rindu!"
"Kalau begitu kebetulan kau pulang. Siang ini Tante Sari mengajak Ibu makan, kau temani Ibu ya."
Ibu Linawati punya rencana tersendiri: (Tadinya Ibu bingung bagaimana cara membujukmu pulang, eh kau malah datang sendiri. Arini, umurmu sudah 36 tahun, kalau kau tidak panik, Ibu yang panik. Kebetulan putra Tante Sari baru pulang dari luar negeri, jadi Ibu bawa kau untuk bertemu dengannya).
"Baiklah, sudah lama aku tidak menemani Ibu makan. Hari ini aku akan menemanimu." Arini setuju karena tidak ingin membuat ibunya kecewa.