Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Ulah Nenek Ambrita
Jordan masih berdiri di lorong ketika suara langkah cepat mendekat. Sebuah tepukan ringan mendarat di pundaknya.
“Dokter Jordan.”
Jordan tersentak. Bahunya menegang refleks. Ia menoleh cepat, jantungnya sempat melonjak sebelum ia melihat wajah suster yang berdiri di sampingnya.
“Suster…” Jordan menghela napas kecil, berusaha menormalkan ekspresinya. “Kaget saya.”
Suster itu tersenyum canggung. “Maaf, Dok. Saya panggil dari tadi, dokter kelihatan melamun.”
Jordan mengusap tengkuknya sekilas. “Ada apa?”
“Ada pasien yang minta diperiksa dokter sekarang,” jawab suster itu. “Katanya sudah menunggu cukup lama.”
Jordan mengangguk otomatis, lalu berhenti. “Pasien siapa?”
Suster itu ragu sepersekian detik. “Nenek dokter.”
Jordan membeku.
“Nenek saya?” ulangnya pelan, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar.
“Iya, Dok,” jawab suster itu hati-hati. “Beliau bilang penting.”
Jordan menutup mata sejenak. Dari sekian banyak kemungkinan pasien malam ini, kenapa harus itu. Ia sudah bisa menebak bagaimana jalannya pemeriksaan nanti—atau lebih tepatnya, bagaimana pembicaraan itu akan berakhir.
Perlahan ia menghembuskan napas. “Baik. Saya ke sana sekarang.”
Suster mengangguk lega, tapi raut khawatir masih terlihat di wajahnya. Ia tahu betul reputasi nenek Jordan—bukan soal kesehatan, melainkan soal topik yang selalu berhasil membuat dokter setenang Jordan pun kehilangan pertahanan.
Jordan melangkah menyusuri lorong, pikirannya kembali penuh. Bayangan Nana tadi masih segar, bercampur dengan suara neneknya yang seolah sudah bisa ia dengar bahkan sebelum pintu ruangan dibuka.
Kapan menikah?
Sudah ada calon?
Dokter muda seusiamu masa fokus kerja terus?
Jordan mengepalkan tangannya pelan. Ia belum siap. Ia bahkan belum selesai berdamai dengan perasaannya sendiri, dengan kekagetan yang belum reda sejak beberapa menit lalu.
Langkahnya melambat di depan pintu ruangan. Dari dalam terdengar suara batuk kecil yang familiar. Jordan menghela napas panjang sekali lagi, lalu memasang ekspresi profesional yang paling rapi.
Ia membuka pintu.
“Nenek,” sapa Jordan, suaranya tenang.
Perempuan tua itu menoleh, matanya langsung berbinar. “Jordan. Akhirnya datang juga. Kamu kelihatan kurus.”
Jordan tersenyum tipis. “Nenek baik-baik saja? Suster bilang ingin diperiksa.”
“Nenek sehat,” jawabnya cepat, terlalu cepat. “Cuma rindu cucu.”
Jordan hampir tertawa kecil—kalau saja topik itu tidak selalu berujung sama. Ia mulai memeriksa tanda-tanda vital neneknya, berusaha fokus pada prosedur.
“Nenek, tekanan darah normal,” katanya. “Tidak ada keluhan?”
Neneknya menatapnya lama, lalu tersenyum penuh arti. “Keluhannya satu.”
Jordan berhenti menulis. “Apa itu?”
“Kamu,” jawab sang nenek ringan. “Kapan mau menikah?”
Jordan menarik napas. Lagi.
Jordan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap neneknya dengan ekspresi yang ia buat setenang mungkin.
“Aku akan menikah, Nek,” katanya akhirnya.
Mata Nenek Rita menyipit, jelas belum puas. “Kapan? Jangan kelamaan. Kamu bakal jadi lelaki tua yang tak punya istri."
“Gak bakalan jadi lah. Doanya yang bagus dong,” lanjut Jordan jujur. “Sekarang aku masih fokus kerja. Banyak hal yang belum tercapai."
Nenek Rita mendecak pelan. “Alasan saja!"
Jordan tersenyum kecil. “Bukan alasan nenek sayang. Ini Kenyataan."
“Kalau begitu,” ujar Nenek Rita sambil menyilangkan tangan di dada, “kenapa nenek dapat cerita yang berbeda, hm?”
Jordan berhenti menulis. Alisnya terangkat. “Cerita apa?”
Nenek Rita mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya diturunkan seolah sedang membocorkan rahasia besar. “Nenek dapat info dari calon mantu.”
Jordan tersedak kecil. “Calon—apa, Nek?”
“Calon mantu,” ulang Nenek Rita mantap. “Katanya dia ke rumah sakit mau ketemu kamu. Tapi malah ditolak.”
Jordan menghela napas berat. “Nenek, aku tidak pernah—”
“Katanya lagi,” potong Nenek Rita cepat, “kamu nolak bukan karena sibuk. Tapi karena kamu suka sama pasienmu sendiri.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.
Jordan membeku. Untuk pertama kalinya sejak masuk, ketenangannya benar-benar goyah. Pena di tangannya berhenti bergerak, dan butuh satu detik penuh sebelum ia bisa bicara.
“Itu tidak benar,” katanya akhirnya, terlalu cepat.
Nenek Rita tersenyum.“Oh ya?”
Jordan menelan ludah. “Dia ngadu pasti...huh!"
“Dia gadis yang baik. Kamu terlalu kaku, jelas dia butuh bantuan nenek,” jawab Nenek Rita ringan.
Jordan mengangkat kepala. “Ya ampun nenek. Masih aja memanjakan dia."
“Biarin! Terserah nenek. Sekarang, kasih tahu pasien itu. Nenek ingin tahu orangnya kek mana!"
***
Bersambung...