NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Pagi Pasca Puncak

Matahari menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Jennie tanpa malu-malu. Sinarnya seperti sedang menelanjangi sisa-sisa kegilaan yang terjadi di dalam kamar tersebut semalam.

Sang pemilik kamar mengerjapkan mata dan merasakan pening, hal pertama yang dia rasakan adalah berat di pinggangnya, lengan Johan masih melingkar dengan posesif disana.

Hal kedua yang dia rasakan adalah rasa pegal yang luar biasa di sekujur tubuhnya, seolah dia baru saja dipaksa ikut lari maraton melintasi lima benua.

"Oh, hell no," bisik Jennie pada bantalnya. "Semalam aku menyerahkan aset paling berharga pada subjek fantasiku sendiri."

Otaknya yang memang tidak beres itu malah memikirkan rencana untuk menghindar. Apa aku harus pura-pura amnesia? Atau pura-pura kesurupan supaya dia takut? pikirnya.

Namun belum sempat dia memilih rencana mana yang paling masuk akal, Johan bergerak. Suara napasnya yang berat di tengkuknya membuat bulu kuduknya berdiri.

"Sudah bangun?" suara bariton Johan yang serak khas bangun tidur terdengar sangat intim, menggetarkan gendang telinga Jennie.

Jennie melepaskan tangan Johan dengan gerakan kaku dan mencoba untuk duduk, mengabaikan fakta bahwa selimutnya merosot.

"Ya." balas Jennie singkat tanpa menoleh ke arah Johan.

Johan ikut duduk dan menyandarkan punggungnya dengan santai di kepala ranjang. Pria itu masih bertelanjang dada memperlihatkan hasil kerja kerasnya di gym yang semalam sudah dirasakan langsung oleh Jennie.

Johan menatap Jennie dengan alis terangkat satu, "Ada apa? Kenapa tidak menatapku saat berbicara? Apa kau merasa malu?" tanyanya.

Jennie menggeleng keras, "Biasa saja," balasnya masih tidak mau menatap lawan bicaranya.

"Jadi, bagaimana semalam? Apa performaku sudah sesuai dengan tokoh pria idaman yang kau tulis di novel-novelmu?" tanya Johan dengan nada menggoda.

Jennie berdehem, mencoba menstabilkan suaranya yang sedikit serak akibat terlalu banyak berteriak semalam.

"Secara teknis sangat bagus, tapi semakin lama semakin agresif dan tidak memberikan ruang untukku mengambil napas," balasnya dengan malu-malu.

Mendengar itu Johan tertawa rendah, dia merangkak mendekat dan mengurung Jennie diantara kedua tangannya, "Jadi aku cuma dapat bintang empat darimu? Bagian mana yang menurutmu terlalu agresif? Atau bagian mana yang harus aku perbaiki malam ini agar aku bisa mendapatkan bintang lima darimu?"

Wajah Jennie memanas hingga ke ujung telinga. "Tidak ada malam ini! Aku sudah mendapatkan "rasa" yang selama ini hanya bisa aku bayangkan."

"Benarkah?" tanya Johan lalu mengecup bahu polos Jennie yang membuat wanita itu berjengkit kaget. "Tapi seingatku semalam ada yang terus meminta tambah."

"Itu.... itu murni reaksi biologis!" balas Jennie dan mencoba turun dari kasur. Namun begitu kakinya menyentuh lantai, lututnya terasa seperti jeli. Tubuhnya terasa remuk dan ada rasa nyeri yang membuatnya hampir tersungkur.

"Aduh!"

Sebelum Jennie mencium lantai, sepasang lengan kuat sudah menangkapnya. Johan sudah turun dari atas kasur dan dengan sigap mengangkat Jennie kembali ke pelukannya.

"Kamu mau kemana dengan kaki bergetar begitu, hm?" tanya Johan dengan lembut.

"Ke kamar mandi! Lepaskan, aku bisa berjalan sendiri!"

Johan menggeleng kecil, "Jangan keras kepala, aku tahu kamu tidak sekuat itu," ucapnya dan tanpa memperdulikan protesan Jennie dia menggendong wanita itu ke kamar mandi.

Begitu sampai kamar mandi Johan mendudukkan Jennie di tepi bathtub dengan sangat hati-hati. Dia menyiapkan air hangat dan membantu Jennie membasuh diri dengan gerakan yang sangat lembut, sangat berbeda dengan tingkah agresifnya semalam.

"Diamlah, aku tidak mau kamu jatuh dan kepalamu terbentur lantai kamar mandi, nanti kamu makin gila saat menulis," gumam Johan sambil mengelap wajah Jennie dengan handuk.

Setelah membantu Jennie membersihkan diri dan berpakaian, Johan kembali mengangkatnya dan mendudukannya di kursi meja makan.

"Tunggu di sini, jangan bergerak satu inci pun kalau kamu tidak mau aku mengikatmu di kursi," perintah pria itu.

Jennie hanya bisa menurut dan melongo saat melihat Johan sibuk di dapurnya. Pria itu sibuk memecahkan telur, memanggang roti, dan aroma kopi yang harum segera memenuhi area dapur.

Saat ini tidak ada Johan sang arsitek yang dingin, atau Johan yang terkadang memarahinya karena tingkahnya. Yang Jennie lihat saat ini adalah Johan yang peduli dengannya dan mamastikan dia baik-baik saja setelah kegiatan mereka semalam.

"Ini," ucap Johan menyajikan piring berisi omelette lembut dan roti panggang. "Makan yang banyak, kamu butuh energi untuk menulis bab selanjutnya, atau untuk ronde selanjutnya."

"Mas Johan!"

Johan tertawa, seringai nakalnya tidak hilang saat dia duduk di hadapan Jennie dan mengupas jeruk untuknya. "Makan, Jennie. Anggap ini adalah layanan tambahan dari subjek fantasi yang kamu berikan bintang empat."

Jennie menyuap makanannya dan mencoba mengabaikan debaran jantung yang kian liar. Dia mungkin memberikan bintang empat untuk ulasan konyolnya, namun hatinya baru saja memberikan skor sempurna untuk pria yang sekarang duduk di depannya ini.

Bersambung

1
qurro thul
beneran menang banyak ini Johan 🥴🥴🥴
qurro thul
jd👉👈
qurro thul
duh sayang 🥴🤣
qurro thul
sdh sangat berpengalaman sepertinya Johan ini dalam seluk beluk hati wabita🥴
qurro thul
knp d ijinkan ikut m kantor 🤣
qurro thul
pulang jen, kamar mu cm butuh brp langkah🥴
qurro thul
Johan menang banyak 🥴🥴
qurro thul
tenyata somplak juga tetangga 5012🤣
qurro thul
ini mulud TDK bs d kontrol 🫣🤣
qurro thul
membayangkan semalu apa ituh 🤣🤣🤣
qurro thul
narsis juga kah 🤣
qurro thul
dasar usil si johan
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!