NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di apartemen. Mobil yang dikemudikan Abimana baru saja berhenti seketika Arunika langsung membuka pintu dan turun begitu saja. Ia tidak menunggu Abimana. Bahkan tidak menoleh sedikit pun.

​Abimana ikut keluar dari mobil, langkahnya tertahan sesaat. Perubahan Arunika terasa begitu nyata—dingin, jauh, dan sama sekali tidak seperti yang ia kenal. Perasaan tidak nyaman perlahan menjalar di dadanya, bercampur dengan kegelisahan yang sulit ia jelaskan. Ia sadar, sesuatu telah berubah. Dan perubahan itu bukan hal sepele.

​Sesampainya di depan pintu apartemen, Arunika masih diam. Ia berdiri tanpa menoleh, seolah keberadaan Abimana di belakangnya sama sekali tidak berarti. Abimana membuka pintu dan membiarkannya masuk lebih dulu. Ia memperhatikan punggung Arunika yang basah oleh hujan, bahunya tampak kaku.

​"Nika," panggilnya pelan. "Aku buatkan teh hangat, ya. Sebaiknya kamu segera ganti pakaian. Kamu sudah terlalu lama kehujanan."

​Arunika tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam apartemen tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Abimana berdiri dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Keheningan itu kembali jatuh di antara mereka—berat, dingin, dan penuh jarak.

​Begitu masuk, Arunika langsung menuju kamar. Pintu ditutup dengan cepat, lalu dikunci dari dalam. Ia menyandarkan punggung ke pintu, memejamkan mata. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena hujan, tapi karena semua yang terjadi hari ini.

​"Aku sudah lelah, Abimana," gumamnya lirih di balik pintu. "Sekarang terserah kamu ingin seperti apa."

​Di luar kamar, Abimana berdiri terpaku. Tangannya terangkat, seolah ingin mengetuk, namun kembali jatuh di sisi tubuhnya. Kata-kata Arunika terus terngiang di kepalanya—dingin, pasrah, dan menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Abimana menyadari bahwa yang ia hadapi bukan kemarahan. Melainkan seseorang yang sudah hampir menyerah.

​Kini Abimana membersihkan diri di kamar sebelah. Lima belas menit kemudian, ia keluar dengan tubuh yang sudah lebih segar. Begitu melangkah menuju ruang tengah, matanya langsung menangkap sosok Arunika yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur.

​Abimana mencoba mencairkan suasana, meski dalam hatinya masih dipenuhi tanda tanya. Ia tidak mengerti mengapa Arunika terus diam dan enggan berbicara dengannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Perlahan, ia mendekat ke arah Arunika.

​"Nika, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Jelaskan padaku, agar aku tahu di mana letak kesalahanku." ucap Abimana dengan suara lembut.

​"Lebih baik urus urusanmu sendiri. Jangan mengusikku lagi. Lagi pula, sebentar lagi kamu mungkin akan punya anak dari kekasihmu." ucap Arunika dengan nada mencibir, menatap Abimana tajam.

​"Anak?" gumam Abimana. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Nika."

​"Stop berpura-pura tidak tahu, Abimana Permana." ucap Arunika, menekan setiap kata di akhir kalimatnya.

​Deg!

​Jantung Abimana berdegup sangat cepat mendengar semua ucapan Arunika. Tidak ada lagi panggilan "Mas", tidak ada lagi tatapan hangat yang biasa ia lihat. Kali ini, Arunika benar-benar berbeda.

​"Selama ini aku bertahan karena kamu belum melewati batas yang membuatku harus mundur. Tapi kenyataannya, saat aku tahu Claudia pernah tidur denganmu, itu sudah tidak bisa aku maafkan lagi."

​Arunika terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya, menatap kedua netra Abimana dengan tegas.

​"Makan malam sudah aku siapkan. Meski aku membencimu, aku tidak akan melupakan kewajibanku. Sesuai perkataanmu sebelum kita menikah, meski kita tinggal satu atap, kita hanyalah orang asing. Tidak lebih dari itu, kecuali di hadapan kedua orang tua kita masing-masing."

​Setelah mengatakan semua itu, Arunika berlalu begitu saja tanpa ingin mendengar penjelasan apa pun dari Abimana. Sementara itu, Abimana hanya terpaku, masih mencerna setiap kalimat yang baru saja Arunika lontarkan. Pikirannya langsung tertuju pada satu hal—pasti Claudia telah melakukan sesuatu yang membuat Arunika tidak lagi mempercayainya.

​Arunika berjalan tanpa menoleh ke belakang, langsung menuju kamar. Hari ini terasa terlalu melelahkan. Ia hanya ingin beristirahat dan menenangkan diri. Waktu berlalu begitu saja. Abimana masih terdiam, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Ia berdiri di balkon kamar sebelah, menatap langit malam yang membentang di atas hiruk-pikuk kota.

​"Aku harus mendapatkan kepercayaan Arunika kembali. Aku tidak pernah menyentuh Claudia, apalagi memiliki anak darinya." gumam Abimana pelan, matanya tetap menatap gemerlap kota yang terasa sunyi.

​Di kamar lain, Arunika sedang berbagi cerita dengan Risa melalui sambungan telepon.

​"Apa? Yang benar, Nika! Claudia mengatakan itu? Sungguh, aku tidak percaya." suara Risa terdengar terkejut dari seberang sana.

​"Iya, Ris. Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi Claudia memberiku bukti foto-foto mereka. Menjijikkan sekali… sampai rasanya aku ingin menjambak rambutnya." jawab Arunika dengan nada penuh emosi.

​"Gila sih! Aku pikir Pak Abi itu dingin dan datar, apalagi dia sulit didekati wanita. Bisa-bisanya melakukan hal seperti itu."

​"Entahlah… aku sudah lelah. Biarkan saja mereka mau melakukan apa pun. Aku sudah tidak peduli lagi, Ris."

​"Sabar ya, Nika. Aku tahu kamu wanita kuat. Masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik dari Pak Abi." ucap Risa mencoba menenangkan sahabatnya.

​Di seberang sana, Arunika terdiam sejenak. Ia menatap kosong ke arah jendela kamar, berusaha menahan perasaan yang sejak tadi bergejolak.

​"Tentu saja, Ris." jawabnya kemudian dengan suara lebih tenang. "Biar dia juga tahu kalau aku bukan wanita yang akan mengemis cinta padanya. Jika dia bisa melakukan hal seperti itu, tentu aku juga bisa."

​Nada bicara Arunika terdengar tegas, meski di baliknya tersimpan luka yang begitu dalam. Ia berusaha terlihat kuat, setidaknya di hadapan Risa—satu-satunya orang yang saat ini bisa ia jadikan tempat bersandar.

​Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka dari luar kamar. Suara langkah kaki yang familiar membuat Arunika tersentak. Dengan cepat ia menegakkan tubuhnya, lalu buru-buru meraih ponsel di tangannya.

​"Ris, aku tutup dulu ya." ucap Arunika setengah berbisik. "Kita sambung ceritanya besok pagi saat di kampus. Assalamualaikum."

​Nada suaranya terdengar tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban dari Risa, Arunika langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum Abimana benar-benar masuk ke dalam kamar.

​Tidak lama setelah panggilan itu terputus, sosok Abimana terlihat muncul di ambang pintu kamar. Seketika tatapan mereka bertemu hanya untuk sepersekian detik. Namun Arunika dengan cepat memutus kontak mata itu. Tanpa berkata apa pun, ia memilih berbaring di atas ranjang, memunggungi Abimana seolah tidak ingin memberi celah untuk percakapan apa pun.

​Melihat Arunika semakin menjauh darinya, Abimana hanya bisa menghela napas panjang. Ia kemudian berbaring di samping Arunika, menatap punggung wanita itu dalam diam. Jarak di antara mereka terasa begitu dekat, namun pada saat yang sama seolah semakin menjauh.

​"Aku akan memperbaiki semuanya, Nika." ucap Abimana dalam hati.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!