NovelToon NovelToon
Om Aslan Ini Ketiga Anakmu

Om Aslan Ini Ketiga Anakmu

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Anika seorang gadis yang tidak pernah membayangkan jika dirinya harus terlibat dalam malam panas dengan seorang pria beristri.

Cerita awal, ketika dirinya menginap di rumah sahabatnya, dan di saat itu pula dia tidak tahu kalau sudah salah masuk kamar, akibat keteledorannya ini sampai-sampai dirinya harus menghancurkan masa depannya.

Hingga beberapa Minggu kemudian Anika datang untuk meminta pertanggung jawaban karena dia sudah dinyatakan hamil oleh dokter yang memeriksanya.

Akan tetapi permohonannya di tolak begitu saja oleh lelaki yang sudah membuatnya berbadan dua.

Apakah Anika mampu membawa benihnya itu pergi dan membesarkan sendirian?? Temukan jawabannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat Belas

Keesokan harinya Aslan mulai berangkat pagi-pagi sekali untuk menuju provinsi Jawa tengah, mobil sudah membawanya menuju ke Bandara Soekarno Hatta yang setiap harinya selalu ramai dipenuhi orang-orang yang akan melakukan penerbangan dengan tujuannya masing-masing.

  Di dalam pesawat pria itu tidak bisa memejamkan matanya sama sekali padahal dia ingin istirahat meskipun hanya sejenak, entah kenapa hatinya tersirat, sepertinya ada yang kurang beres di desa terpencil tempat ia membangun vila itu akan tetapi bukan bangunannya yang kurang beres ... Entah lah ia seperti merasakan sesuatu yang lain yang sulit untuk di pecahkan.

  "Sebenarnya apa yang terjadi, apa mungkin anakku ingin membohongiku," pikir Aslan sendiri.

   Pesawat sudah mendarat dengan sempurna, segera pria yang mengenakan pakaian rapi dan kanca mata hitam itu turun dari pesawat, sorot matanya begitu tegas langkah kakinya panjang, sedikit terburu seolah ingin menjemput sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

  Mobil mewah mulai berhenti di depannya, seorang supir pun langsung turun dan membukakan pintu untuk tuannya.

  "Silahkan masuk Tuan," ucap supir itu seraya membungkuk.

  Mobil mulai melaju dengan kemudian yang cukup sedang tidak lamban dan juga tidak cepat, seperti hatinya yang sekarang berada di ambang keraguan.

   "Pak, Marvin pulang sejak kapan?" tanya Aslan di jok belakang.

  "Tadi malam Tuan," sahut sopirnya itu.

  "Sebenarnya ada masalah apa di dalam proyeknya Pak?" tanya Aslan mencoba menggali sesuatu, lewat supirnya itu.

  "Kurang tahu juga Pak," sahut sang supir yang tidak ingin terlibat terlalu jauh.

  "Baiklah kalau begitu," sahut Aslan.

 Aslan menyandarkan kepalanya di jendela mobil, sejenak pria itu mulai menghempaskan nafas panjangnya, sambil melihat ke arah jalan pedesaan yang di kelilingi tumbuhan hijau dan pantai, sehingga membuat matanya betah untuk memandang.

  "Ah, rasanya aku tidak salah pilih tempat, lihatnya desa ini begitu damai dan tentram," gumamnya sambil menatap takjub keindahan alam pedesaan yang begitu asri.

  Mobil sudah mulai berhenti di halaman vila yang masih belum selesai tahap pembangunannya, Aslan mulai turun dan menatap ke sekeliling dengan tatapan bangga ternyata dia tidak salah memilih lokasi yang jauh dari keramaian kota.

  "Semoga di sini aku bisa menemukan kedamaian," harapan Aslan.

  Saat ini pria karismatik itu mulai mengecek proyeknya yang memang sedikit ada kendala di bagian eksternal saja, akan berarti ini bukan perkara yang sulit dan yang menjadi pertanyaan kenapa masalah sekecil ini di limpahkan padanya.

  "Masalahnya hanya sepele, apa pekerjaan anakku banyak ya, dan dia merasa keberatan, apalagi sekarang dia ada istri yang sedang menyusui, pasti hidupnya sudah tidak tentang pekerjaan lagi," gumam Aslan sendiri.

  Setelah mengecek semua proyeknya tiba-tiba saja asisten Aslan mulai mengajak tuannya itu berkeliling ke arah pantai yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari vila, bahkan deburan ombak dan suara angin laut masih bisa di dengar.

  "Tuan, untuk mengisi kekosongan waktu Tuan di sini, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar ke pantai, di sini pantainya cukup sepi dan bersih, paling pengunjung hanya warga sekitar saja," ajak asistennya itu, yang memang sudah beberapa hari di sini menjaga pembangunan vila ini.

   "Oh baiklah," sahut Aslan.

  Saat ini Aslan mulai menuruni perjalanan bukit yang membuat langkahnya cepat terbawa turunan yang menonjol ke bawah, di sekitar sini ada beberapa rumah warga, tidak terlalu banyak pemukiman, akan tetapi suasana di sini terasa begitu ramai dengan suara angin dan deburan ombak yang menari-nari layaknya simfoni lagu yang setiap hari terdengar merdu di telinga.

   "Bagaimana Tuan apa anda suka dengan lokasinya?" tanya Edwin, asisten Aslan.

  "Suka sekali, bahkan saya menemukan ketenangan di desa ini, oh ya, apa kau mengetahui sesuatu tentang Marvin?" tanya Aslan.

  Edwin merasa bingung pasalnya dia memang tidak terlalu mengikuti Marvin karena ia fokus ke proyek, hanya saja dia teringat akan sosok ketiga anak kecil yang tempo hari bermain di vila dan di sambut ramah oleh anak bosnya itu.

  "Saya, kurang begitu tahu Tuan, hanya saja, tempo hari, Tuan Marvin bermain dengan ketiga anak kembar, tapi tidak terlalu jelas wajahnya, dan setelah itu keesokan harinya istri Tuan Marvin langsung datang kemari," sahut Edwin yang membuat Aslan sedikit terkejut.

  "Apa Nivea datang ke sini mau ngapain?" tanya Aslan yang begitu terkejut.

  "Gak tahu juga saya Tuan," sahut Edwin.

  Aslan langsung terdiam Pria itu tidak melanjutkan kembali obrolannya, langkahnya terus saja menyusuri jalanan berbelok menuju pantai.

  Desir ombak pantai yang begitu tenang mampu menghipnotis dirinya akan keindahan alam yang belum terlalu banyak dipijak manusia, pantai terlihat seorang nelayan mulai mencari nafkah di tengah lautan luas, dan juga beberapa anak kecil yang sedang asik berlarian ke sana kemari di bibir pantai.

  Terlihat wajah-wajah polos dan ceria melepaskan semua beban di jiwanya setelah selesai pulang sekolah yang cukup melelahkan bagi mereka.

   Diantara banyaknya anak-anak yang bermain di pantai ini, akan tetapi ada tiga orang anak yang tidak ikut berkumpul dengan yang lainnya sehingga membuat langka Aslan tertarik untuk menghampiri ketiga anak itu.

  "Edwin, ayo kita jalan ke arah anak tiga itu," ajak Aslan yang dikuti oleh asistennya.

Aslan mulai mendekat ke arah tiga anak itu yang sedang membelakangi dirinya. "Hai ... Kalian sedang main apa?" tanya Aslan.

Ketiga anak itu langsung menoleh ke arah pria dewasa itu, dan hal yang begitu mengejutkan saat Aslan mulai menatap wajah ketiganya yang memang kembar identik, akan tetapi bukan tentang identiknya kembar itu namun yang membuat hatinya, terkejut ketika ia mulai melihat wajah dirinya ada di wajah ketiga anak itu.

"Astaga! Kenapa wajah anak itu begitu mirip denganku," gumam Aslan dengan nada yang gemetar.

"I ... Itu bertiga yang datang ke vila kemarin dan Om Marvin benar-benar menyukai mereka bertiga," adu Edwin yang membuat hati Aslan bertanya-tanya.

"Apa? Mereka bertiga bertemu dengan Marvin?" Dada Aslan mendadak bergetar hebat entah apa sebenarnya yang terjadi.

"Coba tanya saja sama mereka bertiga Tuan," ucap asistennya itu memberikan sebuah ide.

Aslan pun mulai mengikuti ide dari asistennya itu hingga dirinya mencoba untuk mendekatkan diri terhadap ketiganya.

"Eh, kalian kenapa cuma bertiga saja?" tanya Aslan basa-basi.

Anak itu tersenyum masam ... Melihat perkumpulan teman-temannya yang memang selalu menjauhi dirinya layaknya seorang anak-anak yang kehadirannya di tolak oleh dunia.

"Mereka mana ada yang mau bermain dengan kita," sahut si tengah, anak laki-laki yang begitu tegas dan selalu mencari jati dirinya.

"Memangnya kenapa mereka tidak mau berteman dengan kalian?" tanya Aslan.

"Kami bertiga lahir tanpa seorang ayah, dari dulu yang kami tahu bunda hanya berjuang sendirian," sahut anak perempuan yang mampu mencubit hati Aslan.

Di saat yang bersamaan Anika mulai mencari anak-anaknya yang sedang bermain ke pantai karena sekarang setelah mengajar dia ingin fokus mengasuh tiga anaknya itu tanpa harus di tinggal mencari uang tambahan lagi.

"Ah itu sepertinya ada segerombolan anak-anak, pasti si kembar juga ada di situ," ungkap Anika sambil terus berjalan ke arah pantai.

Anika mulai menghampiri segerombolan anak-anak itu tapi ia masih belum menemukan wajah ke tiga anaknya, hingga matanya menoleh ke arah timur yang ternyata ketiga anaknya sedang mengobrol dengan seorang pria yang ia pun tidak tahu itu siapa karena wajah pria itu membelakangi dirinya.

Anika sedikit mempercepat langkahnya sambil memanggil ketiga anaknya.

"Kakak ... Abang ... Adik ...," panggil Anika yang membuat ketiga anaknya itu menoleh.

"Bunda," sahut ketiganya yang membuat Aslan langsung menoleh ke arah wanita berkerudung itu.

Seketika tubuh Aslan membatu melihat wajah seorang gadis yang tujuh tahun lalu ia renggut kesuciannya.

"Anika ....," suara Aslan bergetar menyebut nama itu.

Anika menoleh, mata mereka saling bertaut akan tetapi mulutnya sulit untuk mengeluarkan suara.

"Dia ....," ucapnya tercekat.

Deg!!!

Bersambung ....

Komen dong kak biar ramai he he ....

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Yeni Efril
ngk kuat..sedih
Ruk Mini
haru biru, penuh dgn drama mewek" thor, tpi yg penting Happy ending ye thor, aq mh slalu bahagia yg pntg ada hiburan dr Karya" mu thor tq banyak"🙏👍👍👍
Ayumarhumah: mampir yuk kak di karya baruku berjudul Luka Yang Ku Peluk Sendiri.
yang diangkat dari kisah nyata
total 1 replies
Ummee
penasaran siapa musuh Aslan sebenarnya
Herlina Anggana
1 si aki2 ini gak mau bertanggungjawab dan gak pernah mencari anak2nya, kebetulan ketemu trus pengen dket Ama anak2nya si Anik mulai luluh meski ragu2 di tinggal pas Akat itu jadi aku dah ku suruh bubar aja dah gah usah nikah ... 😄 labil amat main kabur kok ya pas mau akat,apa keahliannya bikin Anika malu astaga, jengkel bgt tua aja labil 10th lagi pensiun tapi watak sok KY anak2
Herlina Anggana
berati selisih usia 20tahunan y .. ya bner lah Anika manggil om😄😄😄... ah ketuaan
Herlina Anggana
Aslam udah paruh baya ya? anak2nya masih SD klas 1 .. untung ada kak Marvin yg masih muda bisa jaga adek2nya kelak
Herlina Anggana
kasihan Anika yg gak punya siapa2 .. pergi pun gak ada yg cari giliran dah berdamai dengan keadaan Mlah resah Krn ktemu bagian dari masalalu .. ini Aslan aki2 kah?🤣🤣🤣 kyaknya umurnya jauh amat
1ͽ֟֯͜᷍ꮴ🔰π¹¹™
waw
Herlina Anggana
sedih banget 😭😭😭 sma nasib Anika dan 3 anaknya aku juga lagi dapat ujian ekonomi luar biasa dengan 3 anak jadi sedih
Ayumarhumah: Aaah peluk jauh kakak ...
total 1 replies
Suryani Jafar
bagus betul ceritanya serasa nyata 👍👍👍👍👍👍
Rini Utami
aq membacanya hampir nangis
nayoon
apa lagi kalian udah sombong harta cuma separo itupun ber
sam cuihhhhjj🤣🤣
nayoon
haha jangan salah syang tua gitu papamu incaran ciwi2🤣🤣
nayoon
😭😭😭😭
nayoon
sat set ini autor,tapi setelah ini baru nih mulai komflik🤣👍
sasatar77 tarsa
itulah balasannya aslan
Indah Mawarti
Thor....sebaiknya ganti penggunaan kata "rest area" dg kata " parkiran/tempat parkir"🙏
Zaichik Rania
yg paling menyakitkan bkn hanya penolakan Aslan yg tidak mau tanggung jawab atas kehamilannya, tapi dia yg sellu blng tidak mau menghianati dan menyakiti istrinya, dan dia lbh memilih anika untuk menggugurkan kandungannya
Hasmawati Hasma
semoga cepat sembuh dan berkumpul bersama keluarga amiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!