Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Gangguan di Waktu Santai
Setelah puas bermain air, Kenzo berjalan pulang sambil menggendong Lin-er di pundaknya. Bocah itu sudah mulai mengantuk, kepalanya terkulai di atas rambut Kenzo sambil memeluk bebek pelampungnya erat-erat. Xiao Mao berjalan di belakang mereka, sesekali menggoyangkan tubuhnya untuk mengeringkan bulu, membuat percikan air mengenai punggung Kenzo.
"Kenzo, kau harus mengeringkan lantai kalau kalian masuk dengan keadaan basah begitu," omel Ling Yue yang berjalan di depan sambil membawa nampan berisi teh herbal.
"Berisik. Aku baru saja mendapatkan banyak poin dari melempar anak." jawab Kenzo santai.
Namun, langkah Kenzo terhenti tepat di depan pagar kayu gubuk mereka. Matanya yang malas tiba-tiba menyipit. Radar di pandangan AR-nya berkedip kuning, menandakan ada entitas dengan energi yang cukup padat di halaman rumah mereka.
Di sana, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah ungu mewah bermotif awan. Di pinggangnya tergantung pedang giok yang memancarkan aura Ranah Inti Emas. Pria itu berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap gubuk Kenzo dengan pandangan meremehkan.
"Jadi, ini tempat persembunyian orang yang berani mengusik Keluarga Feng?" suara pria itu berat dan penuh wibawa.
Kenzo menurunkan Lin-er dan menyerahkannya pada Ling Yue. "Masuklah. Ada sampah yang harus dibuang."
Pria berjubah ungu itu berbalik, menatap Kenzo dari atas ke bawah. "Namaku Zhao Kun, Tetua Penegak dari Sekte Awan Ungu. Aku datang ke sini bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk memberikanmu kesempatan. Jika kau menyerahkan teknik yang kau gunakan untuk membunuh Leluhur Feng, aku akan—"
Kenzo menguap lebar, bahkan tidak menutup mulutnya dengan tangan. "Hoam... Kau sudah bicara sepuluh detik. Itu terlalu lama."
Zhao Kun mengerutkan dahi, merasa terhina. "Berani sekali kau menyela pembicaraanku! Apa kau tahu betapa sulitnya mencapai Ranah Inti Emas? Aku telah bermeditasi di puncak gunung selama lima puluh tahun, menelan ribuan pil pemurni, dan menghadapi petir kesengsaraan hanya untuk berdiri di sini dan—"
"Masih bicara?" gumam Kenzo. Wajahnya terlihat sangat bosan, seolah-olah mendengarkan Zhao Kun lebih menyiksa daripada disiksa secara fisik.
"Dengarkan aku, bocah sombong! Dunia kultivasi adalah tentang rasa hormat dan hierarki! Dengan Inti Emas milikku, aku bisa menghancurkan gubuk kumuh ini hanya dengan satu—"
BANG!
Tanpa ada peringatan, tanpa ada pose bela diri, dan tanpa niat bertarung yang menggebu-gebu, Kenzo menarik Pistol Qi dari ruang dimensinya dan menembak tepat di tengah dahi Zhao Kun.
Peluru Qi yang sudah diperkuat dengan energi Ranah Penguasaan Qi milik Kenzo menembus tengkorak sang Tetua seolah itu hanya lapisan tahu. Zhao Kun bahkan tidak sempat mengeluarkan pedangnya. Matanya masih melotot, mulutnya masih terbuka ingin melanjutkan kalimat "...satu serangan."
Bruk.
Tubuh sang ahli Inti Emas itu jatuh tersungkur di atas debu halaman.
"Lima puluh tahun meditasi hanya untuk mati saat sedang curhat. Benar-benar sia-sia." ucap Kenzo sambil meniup ujung laras pistolnya.
Ling Yue yang baru saja keluar setelah menidurkan Lin-er, melongo menatap mayat di halaman. "Kenzo! Dia baru saja mulai bicara! Kau setidaknya harus membiarkannya menyebutkan nama tekniknya!"
"Dia terlalu berisik, Ling Yue. Aku ingin segera tidur siang lagi," sahut Kenzo malas sambil memasukkan kembali pistolnya. "Sistem, ambil hartanya dan bersihkan tempat ini. Bau 'Inti Emas'-nya merusak aroma tehmu."
[Ding!]
[Membunuh Ahli Ranah Inti Emas. +800 Poin!]
[Menjarah: Pedang Giok Awan, 1000 Batu Spiritual, dan... Pil Sembelit?]
Kenzo menatap hasil jarahannya. "Pil sembelit? Pantas saja dia banyak bicara, sepertinya dia memang sedang stres."
Kenzo kembali ke kursi malasnya, memejamkan mata seolah-olah pembunuhan barusan hanyalah selingan iklan yang lewat. Ling Yue hanya bisa menghela napas, menyeruput tehnya sambil menatap mayat yang perlahan menghilang diserap sistem.
sebentar😅😅