Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Dunia Pelangi yang Tersembunyi
Perjalanan melalui terowongan cahaya pelangi adalah pengalaman yang melampaui indra biasa. Xu Hao tidak merasa tubuhnya bergerak, tapi seolah-olah dunia di sekelilingnya yang berubah, berlipat, dan berputar. Warna-warna yang tak terhitung jumlahnya menyapu pandangannya, disertai gemuruh rendah yang bukan suara, tapi getaran di dalam jiwa. Dia memegang erat lukisan warisan pamannya, yang sekarang memancarkan kehangatan dan cahaya keemasan yang melindunginya dari tekanan dimensi yang ganas.
Tiba-tiba, sensasi pergerakan itu berhenti. Warna-warna memudar, digantikan oleh cahaya yang lembut dan konstan. Xu Hao mendarat di atas sesuatu yang lunak namun kokoh.
Dia membuka mata yang selama beberapa saat terpejam secara refleks. Dan napasnya tersangkut.
Dia berdiri di atas sebuah pelangi.
Bukan pelangi di langit, tapi sebuah struktur padat, lebar seperti jalan raya, melengkung dari titik di mana dia berdiri menuju ke kejauhan. Warnanya tidak tujuh, tetapi ratusan corak yang berubah-ubah lembut, memancarkan cahaya sendiri yang menerangi sekeliling tanpa silau. Di bawahnya, bukan langit atau laut, tetapi sebuah ruang luas berisi kabut cahaya berwarna-warni, dan sesekali terlihat puncak-puncak gunung hijau zamrud, air terjun yang memancarkan kilauan mutiara, dan hutan-hutan dengan pepohonan aneh yang daunnya berkilauan seperti logam.
Udara di sini... padat dengan energi spiritual. Bukan hanya melimpah, tetapi juga murni dan kuno, membawa rasa kesegaran dan kekuatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan di Dataran Tengah sekalipun, tempat-tempat dengan kepadatan energi seperti ini pasti terletak di tanah suci yang diperebutkan.
"Ini... dunia di bawah laut," gumam Xu Hao, suaranya terdengar kecil di keheningan yang agung ini. "Tempat di mana pelangi bisa disentuh secara fisik."
Dia melangkah pelan di atas pelangi itu. Permukaannya elastis tapi stabil, seperti berjalan di atas karet padat. Dari kejauhan, dia mendengar suara air mengalir, kicauan burung-burung dengan nada-nada melodi yang aneh, dan desir angin lembut yang membawa aroma bunga-bunga manis dan tanah basah.
Pemandangan ini indah, surgawi. Tapi Xu Hao tidak lengah. Pesan pamannya memperingatkan tentang bahaya. Dan dalam pengalamannya, keindahan seringkali adalah kamuflase terbaik bagi bahaya mematikan.
Dia mengedarkan kesadarannya dengan hati-hati, menjelajahi area sekitarnya. Dia merasakan banyak kehidupan, sebagian kecil dan damai, tapi ada juga beberapa aura yang besar, kuno, dan... mengintai.
Salah satu aura itu bergerak.
Dari dalam kabut cahaya di sebelah kiri pelangi, sesuatu yang masif menggeliat. Lalu, sebuah kepala muncul. Bukan kepala biasa. Itu adalah kepala seekor ular raksasa, tapi dengan sisik-sisik yang berkilauan seperti mutiara hitam, dan sepasang mata besar berwarna biru es yang memancarkan kecerdasan dingin dan kelaparan purba. Kepala itu sendiri sebesar sebuah rumah.
Ular itu mendongak, memandang langsung ke arah Xu Hao. Mulutnya yang lebar terbuka sedikit, memperlihatkan deretan gigi-gigi seperti tombak yang panjang dan melengkung. Suara desisan yang dalam, seperti uap yang keluar dari celah bumi, menggema di udara.
"Penyusup..." suara itu bukan diucapkan, tapi langsung bergema di dalam pikiran Xu Hao, berat dan penuh ancaman. "Darah kuno... Makanan enak."
Xu Hao berdiri tegak, tidak mundur. Matanya menganalisis aura makhluk itu. Void Fusion akhir. Sebuah monster laut purba yang pasti telah hidup di dunia tersembunyi ini selama ribuan tahun, menyerap energi murni dan berkembang menjadi makhluk yang mengerikan.
"Monster senior," kata Xu Hao, suaranya tenang namun jelas terdengar. "Saya hanya lewat. Tidak berniat mengganggu."
"Lewat?" suara di pikirannya itu terdengar seperti tertawa getir. "Tidak ada yang 'lewat' di sini. Semua yang datang adalah milikku. Darahmu... terasa istimewa. Aku akan menyerapmu, dan mungkin bisa mencapai terobosan ke Dao Awakening, bahkan Heaven Ascension!"
Badan ular itu yang tersembunyi di kabut mulai terlihat. Panjangnya tak terkira, mungkin ratusan meter. Sisik-sisiknya berkilauan, dan setiap gerakannya menimbulkan gelombang energi yang menggetarkan udara.
Xu Hao menghela napas pelan. Tidak bisa dihindari. Dia harus melawan. Dan dia tidak bisa bermain-main di sini. Energi pertarungan bisa menarik perhatian makhluk lain, atau mungkin, jika ada, penghuni lain dari dunia ini.
Dia memutuskan untuk mengakhiri ini dengan cepat.
"Kalau begitu," kata Xu Hao, "jangan salahkan saya."
Dia tidak mengubah pose bertarung. Dia hanya mengangkat tangan kanannya, telapak tangan menghadap ke monster itu.
Ular raksasa itu mendesis keras, menganggapnya sebagai penghinaan. Tubuhnya yang masif melesat keluar dari kabut, mulutnya menganga lebar, siap menelan Xu Hao bulat-bulat. Kecepatannya luar biasa untuk ukurannya, menciptakan angin tajam yang menerpa.
Tapi Xu Hao tidak bergerak. Di dalam tubuhnya, tiga kekuatan bangkit.
Pertama, Hukum Asal, fondasi segala sesuatu, hukum penciptaan dan pembubaran yang paling mendasar. Kekuatannya mengalir seperti sungai kuning tua di dalam meridiannya, memberikan stabilitas dan otoritas.
Kedua, Dao Pembunuhan, kehendak murni untuk menghancurkan dan mengakhiri. Ini adalah kekuatan gelap dan tajam yang dia tempa dalam 1.180 tahun penyiksaan di Dunia Pedang(Perut Raksasa). Itu membara di dadanya seperti bara hitam.
Ketiga, Dao Ruang, pemahaman akan struktur realitas itu sendiri. Kekuatannya halus namun ada di mana mana, memungkinkan dia merasakan dan memanipulasi jarak, dimensi, dan lapisan eksistensi.
Dengan kehendaknya, dia memadukan ketiganya. Bukan sekadar menumpuk, tapi menyatukan mereka menjadi satu bentuk baru, sebuah ekspresi kekuatan yang lebih tinggi dari masing-masing bagiannya. Di atas telapak tangannya, sebuah titik cahaya ungu pekat muncul. Titik itu berputar cepat, menarik semua cahaya di sekitarnya, seolah-olah menciptakan sebuah lubang kecil dalam realitas.
Lalu, dari titik itu, tumbuh sebuah duri. Duri itu panjang sekitar satu kaki, ramping, dan berwarna ungu gelap yang seolah-olah menyerap warna. Permukaannya tidak halus, tapi seperti dipenuhi oleh tulisan-tulisan hukum yang sangat kecil dan berdenyut. Ujungnya begitu tajam hingga ruang di sekitarnya retak-retak halus, mengeluarkan suara desis seperti kaca yang hampir pecah.
Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari satu tarikan napas.
Ular raksasa itu, dengan naluri purbanya, tiba-tiba merasakan bahaya mematikan. Mata biru esnya membelalak. Dia mencoba menghentikan serangannya, mengerahkan Qi-nya yang sebesar lautan untuk membentuk perisai air berlapis-lapis di depannya.
Tapi sudah terlambat.
Xu Hao menggerakkan tangannya dengan gerakan kecil, hampir tidak terlihat. Duri ungu itu melesat.
Tidak ada suara ledakan. Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Duri itu hanya... menghilang dari tempatnya, dan muncul kembali sudah menembus dahi ular raksasa itu, tepat di antara kedua matanya.
Prosesnya terlihat sederhana. Tapi bagi ular itu, itu adalah akhir segalanya.
Duri itu tidak hanya menembus pertahanan fisik dan energinya. Itu membawa Hukum Asal yang membubarkan struktur keberadaannya, Dao Pembunuhan yang memotong benang kehidupan secara langsung, dan Dao Ruang yang memastikan serangan itu tidak terhindarkan, menembus semua jarak dan rintangan.
Ular raksasa itu membeku di tempat. Ekspresi terkejut dan ketakutan membeku di mata birunya. Lalu, dari titik tusukan di dahinya, retakan-retakan berwarna ungu menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhnya, seperti kaca yang pecah. Retakan-retakan itu memancarkan cahaya ungu dari dalam.
Sebelum monster itu bisa menjerit, tubuhnya yang masif mulai hancur, bukan menjadi darah dan daging, tapi menjadi partikel-partikel cahaya berwarna biru dan hijau, yang kemudian menyebar dan diserap oleh dunia di sekitarnya. Dalam beberapa detik, monster Void Fusion akhir yang mengerikan itu lenyap tanpa bekas, hanya menyisakan sesuatu yang berkilauan jatuh ke permukaan pelangi.
Plok... Plok
Suara kecil. Dua kristal, sebesar kepalan tangan, berwarna biru laut dengan kilauan mutiara di dalamnya, dan garis-garis hijau zamrud yang berdenyut seperti nadi. Kristal itu memancarkan aura energi spiritual yang sangat murni dan padat, serta... getaran Hukum Air yang dalam dan kuno.
Xu Hao berjalan mendekat, mengambil kristal itu. Saat menyentuhnya, dia merasakan aliran energi segar dan kuat yang hampir membuatnya merinding. Ini adalah Kristal Inti Monster, tapi bukan sembarang kristal. Monster ini telah hidup di dunia kaya energi ini selama ribuan tahun, menyerap dan memadatkan Hukum Air alami dunia ini ke dalam intinya. Nilainya mungkin melebihi seribu kristal hukum tingkat tinggi.
"Sebuah hadiah yang tidak terduga," gumam Xu Hao, memeriksa dua kristal itu. "Dengan ini, terobosan ke Dao Awakening akhir akan lebih mulus. Atau bisa digunakan untuk memperkuat teknik atau senjata berbasis air."
Dia menyimpan kedua kristal berharga itu ke dalam cincin penyimpanannya, di tempat paling aman.
Dia kemudian memandang ke sekeliling. Pertarungan tadi berlangsung singkat dan hampir tanpa suara, tapi pelepasan energi halus dari duri ungu dan kehancuran monster mungkin telah terdeteksi oleh makhluk-makhluk kuat lain di dunia ini. Dia harus bergerak.
Tujuannya adalah pedang hitam yang dilihatnya dalam proyeksi, dan petunjuk tentang pamannya. Tapi di dunia yang sebesar dan asing ini, di mana dia harus mencari?
Dia mengeluarkan lukisan warisan lagi. Sekarang, lukisan itu bereaksi berbeda. Gambar-gambar di dalamnya bergerak, menunjukkan arah tertentu. Sebuah garis cahaya keemasan tipis memancar dari lukisan, menunjuk ke kejauhan, ke arah sebuah pegunungan kristal yang terlihat samar-samar di balik kabut cahaya.
"Lukisan ini adalah pemandu," gumam Xu Hao. "Baik. Mari kita ikuti."
Dia melangkah lagi di atas pelangi, mengikuti arah garis cahaya dari lukisan. Saat berjalan, dia mengamati dunia di sekelilingnya dengan takjub. Dia melihat kawanan kupu-kupu bersayap kristal yang terbang melintasi kabut, kawanan ikan kecil bercahaya berenang di udara seperti di air, dan bunga-bunga raksasa yang mekar dengan cahaya lembut.
Tapi dia juga merasakan aura-aura besar lainnya di kejauhan, beberapa bahkan lebih kuat dari ular raksasa tadi. Dia berusaha menghindari mereka, mengambil rute berkeliling.
Setelah berjalan beberapa jam (waktu terasa berbeda di sini, lebih lambat, lebih tenang), dia tiba di ujung pelangi. Pelangi itu berakhir di sebuah dataran tinggi yang luas, ditutupi oleh rumput berkilauan keperakan. Di tengah dataran tinggi itu, ada sebuah taman.
Taman itu tampak ditata dengan sengaja. Ada jalan setapak dari batu putih, kolam-kolam kecil dengan air jernih seperti kristal, dan bunga-bunga aneh dalam berbagai warna. Dan di pusat taman, di atas sebuah batu datar berwarna abu-abu biasa, tertancap sebuah pedang.
Pedang hitam sederhana.
Persis seperti dalam proyeksi. Gagang kayu tua, sarung kulit usang, bilah hitam pekat tanpa kilauan. Tidak ada aura energi yang istimewa. Itu terlihat seperti pedang seorang petani miskin.
Xu Hao mendekat dengan hati-hati. Tidak ada jebakan yang terdeteksi. Tidak ada formasi pelindung. Hanya pedang di atas batu, di tengah taman yang indah dan sunyi.
Sampai di depan batu, dia berhenti. Dia mengulurkan tangannya, lalu berhenti lagi.
"Jika kau bisa mencabut pedang ini dari tempatnya... kau memiliki kesempatan."
Kata-kata pamannya bergema di ingatannya.
Dia menarik napas dalam, lalu menggenggam gagang pedang itu.
Saat kulitnya menyentuh kayu tua yang dingin, dunia di sekelilingnya berubah.
Dan sebuah suara, tua, lelah, namun penuh kehangatan dan penyesalan yang tak terhingga, terdengar langsung di dalam pikirannya.
"Keponakanku... akhirnya kau datang."
up up up