Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Mungkin ini yang namanya takdir
Abiyan menatap kartu identitas milik Naraya yang diberikan oleh Zeya padanya setelah mengurus administrasi. Dia membaca berulang-ulang nama yang tertera dan status wanita itu. "Jadi Nara sudah menikah, tapi kenapa dia tidak dijemput suaminya setelah pulang kerja? Apa Nara tidak memberitahu suaminya kalau dirinya lembur?"
Abiyan terus sibuk memikirkan berbagai kemungkinan tentang Naraya. Dia bertanya-tanya sendiri tentang siapa suaminya, keluarganya, dan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. Namun, karena kelelahan akhirnya membuatnya terlelap di kursi dekat ranjang Naraya.
Keesokan harinya, Naraya perlahan membuka matanya. Pandangannya masih sedikit kabur. Ia mencoba untuk duduk, tetapi kepalanya terasa berputar dan tubuhnya lemas. Kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar rumah sakit.
Naraya melihat tangannya terpasang infus lalu memaksanya untuk mengingat apa yang terjadi. Saat itulah, matanya tertuju pada seorang pria yang tertidur dengan kepala di tepian ranjang pasien dan rambutnya sedikit berantakan. Ia memperhatikan dengan seksama sosok pria tersebut.
Kemudian Naraya membelalakkan mata dan reflek menutup mulutnya dengan tangannya saat mengenali siapa pria itu. Ia langsung teringat apa yang terjadi dengannya semalam. Saat itu tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali, lalu melihat Abiyan turun dari mobil, tetapi sebelum berhasil meminta pertolongan, ia justru kehilangan kesadaran.
"Jadi Abiyan yang membawaku ke sini?" batin Naraya. "Dan dia menunggui aku juga?"
Rasa haru tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya. Hatinya sedikit menghangat. Ia tak menyangka akan ada orang yang masih peduli padanya, apalagi seseorang yang baru dikenalnya.
Naraya mengulurkan tangannya, berniat untuk menyentuh rambut Abiyan. Namun, ia ragu dan takut membangunkan tidurnya
"Dia pasti sangat lelah," pikir Naraya, memperhatikan wajah Abiyan yang tampak kelelahan. Lalu ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk memandangi saja wajah pemuda itu.
Tanpa disadarinya, Abiyan mulai bergerak. Dia menggeliat kecil seraya mengerjapkan matanya lantas mendongak dan langsung bertatapan dengan Naraya.
"Nara...?" gumam Abiyan dengan suara serak, masih setengah sadar. Dia mengucek matanya, memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
"Kamu... sudah sadar?" tanya Abiyan dengan perasaan terkejut sekaligus lega. Dia segera menegakkan tubuhnya dan menatap Naraya dengan saksama.
Naraya mengangguk pelan. "Apa kamu yang membawaku ke rumah sakit?" tanyanya dengan suara lemah.
"Kamu pingsan di pinggir jalan semalam dan hampir terjatuh. Lalu aku dan kakakku membawamu ke sini," jawab Abiyan.
Naraya mengangguk-angguk, mendengar jawaban yang diberikan Abiyan. "Terima kasih, Abi," ucapnya pelan, menatap Abiyan dengan pandangan yang sulit diartikan.
Abiyan tersenyum. "Nggak masalah. Yang penting sekarang kamu sudah sadar dan kondisimu baik-baik saja."
"Bagaimana dengan... bayiku?" tanya Naraya sembari menyentuh perutnya dengan lembut. Wajahnya tampak begitu khawatir.
Abiyan terdiam beberapa saat lalu menghela napas. "Dokter bilang... kamu mengalami pendarahan ringan akibat kecapekan. Tapi, semuanya sudah baik-baik saja. Kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu lelah."
Naraya merasa lega mendengar ucapan Abiyan, air mata menetes dari sudut matanya. Ia bersyukur bayinya selamat.
"Terima kasih sekali lagi, Abi," ucap Naraya dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah menolongku dan bayiku."
Abiyan tersenyum tulus. "Sama-sama, Nara. Aku senang bisa membantu."
.
Beralih kontrakan
Aldo dan Benny terbangun di pagi hari dengan perasaan cemas yang masih menyelimuti. Aldo segera beranjak dari kasur tipis sebagai alas tidurnya, lalu membuka pintu kontrakan dengan harapan menemukan Abiyan, tetapi nihil. Sosok yang dicarinya tidak ada di mana pun.
"Gue nggak enak hati nih, Ben. Kayaknya kita harus cari Biyan deh, sekarang," kata Aldo dengan nada khawatir.
"Apa mungkin dia pulang ke rumah ayahnya, ya?" tanya Benny sambil menduga-duga.
"Nggak mungkin lah, kalau dia pulang ke sana. Loe kan, tahu sendiri hubungan dia sama ayahnya nggak baik," sahut Aldo dengan cepat. "Aku justru mikirnya ada sesuatu yang lebih serius sama dia."
"Do, kok, gue jadi kepikiran, ya," kata Benny kemudian, memecah keheningan. "Gimana kalau bulan besok kita berdua patungan bayar kontrakan?" Dia selalu mengandalkan Abiyan.
Aldo tampak berpikir keras. Dia tahu bahwa penghasilannya sebagai tukang parkir tidak menentu. Dan dia paham betul masalah uang sangat sensitif dan bisa memicu pertengkaran.
"Loe nggak setuju?" tanya Benny, merasa tidak sabar dengan jawaban Aldo. "Ingat, Do. Kita nggak mungkin terus mengandalkan Abiyan! Dia juga punya masalah sendiri."
"Kok, loe jadi nyolot sih, Ben?" Aldo terpancing emosi, merasa Benny menganggapnya tidak tahu diri.
"Gue, nggak nyolot, tapi kita harus tahu diri," jawab Benny mencoba realistis, meskipun bicaranya sedikit keras. "Abiyan itu sahabat kita, tapi kita nggak bisa terus-terusan membebaninya."
"Iya-iya, gue tahu itu!" balas Aldo dengan nada kesal.
"Nah kalau loe mau, loe bisa ikut kerja sama gue di proyek. Lumayan buat tambahan penghasilan," tawar Benny, mencoba mencari solusi yang lebih baik.
"Oke, gue ikut kerja sama loe nanti," ucap Aldo setuju. "Tapi lebih baik kita cari Biyan dulu di mana dia."
"Ya kita datangi saja kafe tempat kerjanya, mungkin dia mau pulang kemalaman trus tidur di mes."
Mereka pun bersiap-siap untuk ke tempat kerja Abiyan.
.
Kembali ke rumah sakit.
Setelah dinyatakan sehat dan bayinya baik-baik saja, dokter pun memperbolehkan Naraya pulang dan berpesan agar selalu menjaga kesehatan dan jangan sampai kelelahan.
"Kamu tinggal di mana, Ra? Biar aku antar kamu pulang sekalian," tanya Abiyan, merasa bertanggung jawab.
"Ah, nggak usah, Bi. Aku bisa pulang sendiri," jawab Naraya, sungkan. "Lagipula, kamu sudah banyak menolongku, aku nggak mau terlalu merepotkanmu."
"Aku nggak merasa repot, kok," sahut Abiyan, berusaha meyakinkan. Dia kemudian menyetop angkot yang lewat di depan mereka. Setelah Naraya naik, Abiyan pun ikut masuk ke dalam angkot tersebut.
Naraya menatap Abiyan dengan heran. "Lho, kok, kamu ikut naik, Bi?" tanyanya bingung.
"Aku juga mau pulang lah, Ra," jawab Abiyan santai.
"Tapi...memangnya kontrakanmu ke arah sini?" tanya Naraya, semakin bingung.
Abiyan menatap Naraya dan tersenyum misterius.
Setelah beberapa saat, angkot berhenti di sebuah pertigaan jalan. Naraya turun dari angkot, diikuti oleh Abiyan.
"Lho? Kok, kamu ikut turun juga?" tanya Naraya lagi dan menatap Abiyan dengan heran. "Aku kan, sudah bilang kamu nggak perlu mengantarku. Aku baik-baik saja."
Abiyan tersenyum lebar. "Lah, bagaimana aku nggak turun? Aku kan, juga tinggal di daerah sini."
Naraya mengerutkan keningnya. "Hahhh, serius?" tanyanya tak percaya.
"Aku baru pindah ke sini beberapa hari yang lalu," potong Abiyan, menjelaskan. "Aku ngontrak di daerah sini."
Naraya terkejut. "Nggak mungkin... Kenapa bisa kebetulan sekali," gumamnya pelan, masih tidak percaya.
Abiyan hanya tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin ini yang namanya takdir," candanya, membuat Naraya tersenyum tipis.
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....