“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
Empat orang pria berbadan besar seketika mengunci pergerakan Dafrina lalu satu orang lagi menggeledah seluruh isi apartemen tersebut. Mereka menemukan kamera serta ponsel milik Dafrina dan memberikannya pada Albiru. Dengan keahlian salah seorang ahli IT suruhan Albiru, dia menghapus semua video tak senonoh itu sehingga Dafrina tidak memiliki bukti apapun untuk kemudian hari mengancam dirinya dan Alisha.
“Kau keterlaluan, Albi.” Albiru mendekati Dafrina dan melayangkan tamparan ke wajah wanita itu.
“Kau yang keterlaluan, sialan. Kau menjebak aku dan mengancamku, rencananya aku ingin membunuhmu tapi sayang, Alisha masih menahan aku agar tidak berbuat lebih jauh padamu.” Albiru kembali ke tempat duduknya lagi dan mengeluarkan sebuah pistol.
“Aku sudah lelah melihat istriku menangis, melihat dia tertekan dan melihat dia diancam oleh pihak lain. Aku kesal saat istriku tersenyum padahal di hatinya terasa sangat sakit. Aku mencintai Alisha dan tidak mau kehilangan dia tapi kau masuk dan merusak hubungan kami.” Albiru menarik pelatuk di pistol itu dan mengarahkannya ke Dafrina.
Dor!
Dafrina terpekik saat peluru menembus lututnya, dia menangis kesakitan tapi Albiru terlihat santai. “Itu bentuk peringatan dariku, kalau kau masih tetap mengganggu kami, tidak ada tempat aman untukmu di negara ini, paham!” peringat Albiru lalu membawa semua anggotanya pergi karena semua bukti telah dia lenyapnya.
Dafrina menangis meraung karena tidak lagi memiliki celah menjerat Albiru, dia bahkan telah rela menyerahkan kehormatannya pada Albiru tapi ini yang dia dapatkan. Albiru kembali ke dalam apartemen itu dan mendekati Dafrina, ia menjambak kuat rambut wanita itu dan berbisik, “Jika ada hasil dari hubungan itu, aku akan kembali dan menembakmu di bagian kepala.” Dafrina merinding dan menggeleng karena takut, rasanya sangat salah dia bermain-main dengan pria di depannya saat ini.
“Aku tidak akan mengganggumu lagi, Bi. Aku akan pergi, tolong maafkan aku.” Albiru melepaskan jambakannya dan pergi begitu saja tanpa peduli kondisi Dafrina saat ini.
***
Dafrina kini dirawat di rumah sakit setelah apa yang dia terima dari mantan kekasihnya itu. Sungguh dia sangat mencintai Albiru tapi sayangnya Albiru tak lagi ingin memperjuangkan dirinya. Dafrina memutuskan untuk kembali keluar negeri dan melupakan Albiru selamanya, karena posisi Alisha tidak akan pernah bisa dia rebut.
Dafrina memejamkan matanya, tak lama, seseorang masuk dan dengan cepat membekap mulut Dafrina hingga wanita itu pingsan.
Cukup lama dia tak sadarkan diri hingga ketika bangun, dia sudah berada di sebuah ruangan dengan cahaya lampu yang temaram. Dia duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan dan kaki yang terikat sempurna. Dafrina berusaha melepaskan diri tapi percuma, ikatan itu sangatlah kuat sehingga datang seorang pria paruh baya yang membuat Dafrina membelalakkan matanya.
“Papa.” Dafrina bergumam karena itu adalah ayah tirinya sendiri. Seketika Dafrina keringat dingin saat pria yang dia panggil dengan sebutan papa itu meraba kedua paha bagian dalamnya.
“Kenapa kau kabur dari rumah hah? Kau pikir dengan kabur begini, aku tidak bisa menemukanmu?” kata pria itu lalu meninju perut Dafrina sehingga ia muntah darah.
Selama ini, Dafrina selalu diperkosa dan dijadikan pemuas nafsu bejat oleh ayah tirinya itu. Dia yang tidak kuat memilih kabur dari rumah dan pulang ke Indonesia tapi sayangnya, dia malah ditemukan kembali. Itulah alasan kenapa Dafrina memutuskan untuk mendekati Albiru lagi agar mendapatkan perlindungan tapi Albiru malah mencelakainya juga.
Dafrina dilepaskan dan diseret ke atas sofa, bajunya dirobek oleh ayah tirinya itu hingga menampakkan pakaian dalamnya dan tubuh indahnya itu.
“Jangan Pa, aku gak mau lagi melayanimu. Aku gak kuat,” tangis Dafrina yang tidak dipedulikan oleh Uljan.
Uljan menampar kuat kedua pipi Dafrina lalu kembali mencumbunya dengan kasar, dia menarik celana dalam anak tirinya tersebut dan membukanya sehingga bagian inti itu terlihat. Uljan segera melepaskan pakaiannya dan memperkosa Dafrina hingga dirinya puas. Tak peduli kalau saat ini Dafrina tengah menangis histeris.
Setelah puas, Uljan duduk di sofa itu dan membiarkan Dafrina tergolek lemas tanpa pakaian sama sekali. Dia masih meremas-remas dada Dafrina seakan wanita itu tak ada harganya.
“Aku sangat mengagumi keindahan tubuhmu ini, Dafrina. Ibumu tidak pernah bisa memuaskan aku, makanya aku butuh kau dalam pelampiasanku.” Uljan tertawa yang membuat Dafrina semakin menangis.
Dafrina tidak bergeming sama sekali, dia meringkuk menahan sakit dan menutupi tubuhnya dengan sehelai kain yang ada di sana. Uljan kembali mengenakan pakaiannya lalu mencium pipi Dafrina begitu saja.
“Tidurlah, sayang. Nanti aku akan kembali lagi untuk memuaskan hasratku. Aku cari makanan dulu untukmu ya.” Dafrina hanya membahas dengan tangisannya, tidak peduli dengan apa yang dikatakan pria itu.
Uljan meninggalkan Dafrina begitu saja, dia pergi keluar mencari makanan untuk dirinya dan Dafrina nanti karena dia akan menjadikan Dafrina sebagai pemuas hasrat dan akan dia kurung di tempat itu selamanya.
***
Dafrina tertidur di sofa panjang itu karena lelah dan sakit, dia tidak kuasa untuk melawan karena lututnya masih belum sembuh. Pintu ruangan kembali terbuka yang membuat Dafrina seketika menjadi was-was, takut kalau Uljan datang dan memperkosanya lagi.
Dafrina memejamkan mata dengan kuat sambil terus menutupi tubuhnya dengan kain itu.
“Dafrina, bangun.” Dafrina membuka matanya ketika mendengar suara Alisha, dia dibantu duduk oleh Alisha dan di sana juga ada Albiru.
“Kalian di sini?” ujarnya tak menyangka kalau Alisha dan Albiru di sana.
“Kami mengikuti kamu saat melihat Paman Uljan membawamu dari rumah sakit, cuma semua pintu rumah ini dikunci makanya kami telat masuk. Di luar juga ada beberapa pengawal, kami harus mengecoh mereka dulu untuk bisa masuk ke dalam,” jelas Alisha.
“Tolong aku, Sha. Aku mau keluar dari sini,” pinta Dafrina.
“Iya, kami akan bawa kamu keluar, tenang ya. Pakai ini.” Alisha memberikan baju tidurnya pada Dafrina, baju yang baru saja dia beli dengan Albiru tadi. Dia sengaja ke rumah sakit untuk menjenguk Dafrina tapi malah melihat Dafrina dibawa oleh pamannya.
Albiru memalingkan wajah saat Dafrina mengenakan pakaian. Albiru menggendong Dafrina atas perintah Alisha, semua pengawal itu telah ditumbangkan oleh Albiru dan mereka segera pergi dari lokasi itu.
Dafrina bernapas lega ketika sudah bersama dengan Alisha dan Albiru. “Makasih udah bantu aku ya.” Dafrina begitu malu hati pada Alisha yang masih mau membantunya padahal dia sudah berbuat jahat.
“Sama-sama. Emangnya kamu diapain sama paman?” tanya Alisha sedangkan Albiru masih fokus mengemudi.
“Aku diperkosa sama dia, selama ini, aku selalu dijadikan pemuas nafsu sama dia, Sha. Aku kabur ke Indonesia berharap dia gak nyari aku eh ternyata masih dicari. Aku mendekati Albiru juga untuk perlindungan. Maafkan aku.” Albiru melirik wanita itu dari kaca spion tengah mobil.
“Kalau kau memang butuh perlindungan, ya tidak perlu dengan menjebak aku juga.” Albiru bersuara hingga Dafrina menunduk malu.