Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 – Jebakan yang Terlihat
Pagi hari di Aula Latihan Utama terasa berbeda. Udara tidak hanya berat karena qi, tapi juga karena mata yang menatap lebih tajam dari sebelumnya.
Ren Tao berdiri di sisi Unit Ketujuh, matanya menelusuri pergerakan unit lain. Mereka bergerak lebih agresif daripada hari-hari sebelumnya, seolah sengaja menunjukkan siapa yang dominan. Unit Kedua dan Kelima saling mengukur, langkah mereka cepat, hampir gegabah.
Li Shen menepuk bahu Ren Tao. “Hari ini mereka akan mencoba langsung memancingmu.”
Ren Tao mengangguk. “Biarkan. Semua gerakan mereka sudah tercatat, dan jalur yang mereka pilih… bisa mereka gunakan untuk mengungkapkan kelemahan mereka sendiri.”
Simulasi dimulai. Jalur latihan bergeser cepat, formasi ilusi aktif, aliran qi lebih tidak stabil. Beberapa unit langsung mencoba menekan Unit Ketujuh dari depan dan samping, memaksa mereka bereaksi.
Zhou Min bergerak sedikit terlalu cepat, salah mengukur jarak, dan qi-nya terguncang. Sun Qiao menatapnya panik, tapi Ren Tao sudah mengambil alih koordinasi. Dengan satu gerakan halus, ia mengalihkan tekanan qi ke jalur yang aman, membuat langkah Zhou Min tetap stabil tidak sempurna, tapi cukup untuk menghindari kesalahan besar.
Han Yue menatap Ren Tao dengan kagum. “Kau selalu bisa memprediksi mereka.”
Ren Tao tersenyum tipis. “Bukan prediksi. Hanya membaca pola yang sudah mereka tunjukkan sejak awal.”
Di titik tengah lapangan, murid-murid dari Unit Kedua dan Kelima bertemu. Keduanya mulai memaksakan diri untuk mengambil jalur yang sama, menyebabkan benturan qi ringan cukup untuk membuat aliran mereka terganggu. Beberapa murid kehilangan ritme, sementara yang lain menahan diri agar tidak terjebak.
Ren Tao tetap di belakang, mencatat setiap perubahan, menyesuaikan jalur qi di tanah untuk mengamankan Unit Ketujuh. Ia tahu, setiap kesalahan yang muncul dari unit lain akan tercatat oleh tetua. Setiap ketidakseimbangan adalah informasi berharga.
Menjelang sore, medan berubah lagi. Jalur sempit terbuka di sisi yang sebelumnya berbahaya, dan jebakan tersembunyi yang Ren Tao siapkan semalam mulai aktif. Sebuah aliran qi tipis muncul dari tanah, cukup untuk mengganggu langkah musuh yang gegabah. Beberapa murid tersandung, qi mereka terguncang. Tidak ada cedera serius, tapi catatan evaluasi menunjukkan kesalahan minor yang signifikan.
Di aula pengamatan, Tetua Lu dan Wei Kang menatap layar proyeksi qi. Mata mereka tajam. “Dia mulai mengambil kendali,” bisik Wei Kang. “Dan semakin terlihat.”
Tetua Lu menunduk sebentar. “Tepat seperti yang aku duga. Murid ini… berbeda.”
Ren Tao duduk di batu besar saat simulasi selesai. Unit lain terlihat lelah dan cemas. Unit Ketujuh? Tetap stabil, sedikit goyah karena satu kesalahan minor, tapi pola tetap rapi.
Wei Kang muncul di sisi lapangan, tatapannya dingin. “Kau membuatnya terlalu jelas,” katanya ringan.
Ren Tao menatapnya, wajah datar. “Kau yang membuat papan ini terlalu ketat. Aku hanya menyesuaikan langkahku.”
Wei Kang tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. “Semakin terlihat, semakin berbahaya. Kau harus ingat itu.”
Ren Tao mengangguk pelan. Ia tahu, dari sekarang, setiap langkah bukan hanya soal bertahan, tapi juga soal menguasai papan yang semakin luas.
Malam turun. Aula sunyi. Unit Ketujuh pulang, tapi Ren Tao tetap duduk di batu besar, merasakan aliran qi dan pola langkah hari itu. Ia mulai membaca strategi unit lain, jebakan yang sudah terpasang, dan kemungkinan langkah berikutnya dari pengawas dan tetua.
Ia tersenyum tipis.
Ini bukan sekadar permainan.
Ini papan perang penuh jebakan.
Dan Ren Tao yang selalu bergerak di tengah sudah siap.
semangat terus ya...