NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

negara ghudik sarenteng

Setelah melintasi perbatasan dimensi melalui laut lepas, Chen Song dan Luna Zhang tiba di Negara Ghudik Sarenteng. Jika Bhurut Sarenteng adalah negara yang dingin, penuh gedung pencakar langit, dan teknologi militer, maka Ghudik Sarenteng adalah kebalikannya,sebuah Metropolis Spiritual yang kacau namun penuh energi.

Negara ini adalah pusat perdagangan artefak kuno dan pasar gelap energi terbesar di dunia.

Pemandangan Jalanannya dipenuhi dengan kuil-kuil emas yang berdampingan dengan pasar malam yang menjual ramuan terlarang. Di langitnya, bukan drone yang beterbangan, melainkan Kereta Terbang yang ditarik oleh binatang buas.

Keadaan Sosial Hiruk pikuknya luar biasa. Di sini, kekuatan adalah hukum. Orang bisa bertarung di tengah jalan asalkan mereka membayar "pajak kerusakan" kepada penguasa setempat.

Energi Udara di sini terasa berat dan panas, sangat kontras dengan hawa es Mei Song yang kini mengalir di tubuh Chen Song.

Chen Song dan Luna berjalan mengenakan jubah pengembara sederhana. Chen Song memegang pedangnya yang disamarkan dengan kain, sementara Luna mengenakan cadar yang menyembunyikan kecantikan "Dewa"-nya.

Luna Zhang

(Menatap kerumunan kultivator dari berbagai ras)

"Song, tempat ini sangat kacau. Aku bisa merasakan setidaknya sepuluh kultivator tingkat Nascent Soul hanya dalam satu blok ini. Ghudik Sarenteng jauh lebih berbahaya daripada Bhurut."

Chen Song

(Matanya tajam memperhatikan sekeliling)

"Kekacauan adalah tempat terbaik untuk bersembunyi. Di Bhurut, kita diburu oleh hukum. Di sini, kita hanya butuh emas dan kekuatan. Menurut peta Mei Song, Makam Leluhur ke-13, Bara Song, berada tepat di bawah kota ini—di dalam Kawah Abadi yang sekarang dijadikan pusat hiburan pertarungan maut."

Luna Zhang

"Pertarungan maut? Jadi kita harus mendaftar sebagai gladiator hanya untuk mendapatkan akses ke bawah tanah?"

Makam Bara Song terletak jauh di bawah Arena Inferno, sebuah stadion raksasa di mana para kultivator bertaruh nyawa untuk kekayaan. Energi api dari makam tersebut digunakan oleh pemerintah Ghudik untuk menyuplai energi ke seluruh kota.

Untuk menghindari deteksi lebih lanjut, mereka mengambil nama alias:

Chen Song Sebagai "The Shadow Swordsman".

Luna Zhang Sebagai "The Frost Priestess".

Di tengah hiruk-pikuk Ghudik Sarenteng yang berisik dan penuh polusi energi, Chen Song dan Luna Zhang tidak sengaja masuk ke sebuah kedai tuak tua di pinggiran kota yang dijuluki "Lubang Tikus". Di sana, mereka tidak menemukan penjahat biasa, melainkan tiga sosok legendaris yang memimpin Front Pembebasan Ghudik.

Mereka adalah tiga bersaudara dari klan Oe, pejuang kemerdekaan yang telah bertahun-tahun melawan eksploitasi energi makam leluhur oleh pemerintah Ghudik.

 Sosok Tiga Pejuang klan oe

Oe Lu Tung

Si Macan Darat

Pemimpin karismatik dengan kapak raksasa. Fisiknya sekeras baja.

Oe Asu

Anjing Pemburu

Ahli pelacakan dan sabotase. Bergerak secepat kilat dengan belati kembar.

Oe Shan Tung

Gunung Berjalan

Raksasa pendiam yang mampu menciptakan perisai tanah yang tak tertembus.

Saat Chen Song masuk, Oe Asu langsung muncul di belakangnya dengan belati menempel di leher Chen Song. Namun, dalam sekejap, udara di sekitar mereka membeku. Belati Oe Asu tertahan oleh lapisan es tipis yang diciptakan Luna.

Oe Lu Tung

(Tertawa terbahak-bahak sambil menenggak tuak)

"Lepaskan dia, Asu! Kau tidak lihat? Pria ini punya mata seorang predator yang sedang lapar, dan wanita di sampingnya... dia punya aura permaisuri es. Mereka bukan mata-mata pemerintah Ghudik."

Oe Shan Tung

(Suaranya berat seperti gempa bumi)

"Mereka membawa aroma 'Kematian Kuno'. Kau... kau keturunan Song yang dicari-cari itu, bukan?"

Chen Song

(Tetap tenang meskipun dikepung)

"Aku tidak datang untuk urusan politik kalian. Aku hanya butuh jalan masuk ke Kawah Abadi. Pemerintah kalian mencuri energi dari kakek moyangku untuk menerangi kota ini. Aku datang untuk mengambilnya kembali."

Oe Lu Tung bangkit dan memukul meja hingga retak.

Oe Lu Tung

"Kalau begitu kita punya musuh yang sama, Nak! Pemerintah Ghudik menggunakan energi Bara Song untuk mengisi daya meriam-meriam mereka yang menindas rakyat. Kami sudah mencoba menjebol Kawah itu selama sepuluh tahun tapi selalu gagal karena panasnya yang luar biasa."

Oe Asu

"Jika kau bisa menahan panas itu dengan esmu, kami bisa membukakan gerbang rahasia melalui terowongan pembuangan limbah. Kami butuh kau untuk mematikan inti energinya agar pertahanan kota lumpuh."

Luna Zhang

"Dan sebagai imbalannya?"

Oe Lu Tung

"Kebebasan bagi rakyat Ghudik. Dan bagi kalian... kami akan memberikan Peta Transit Dunia Rahasia yang menghubungkan Ghudik dengan 10 negara rahasia lainnya. Kau tidak akan bisa menemukan makam leluhur berikutnya tanpa bantuan kami."

Chen Song

"Baiklah. Aku akan memadamkan 'api' mereka, dan kalian pastikan tidak ada satu pun tentara Ghudik yang mengganggu saat aku berada di dalam makam."

Oe Shan Tung

"Jangan khawatir. Aku akan meruntuhkan gunung jika perlu untuk menutup jalan mereka."

Malam itu, di bawah instruksi Oe bersaudara, Chen Song dan Luna mulai menyelinap melalui gorong-gorong kota. Mereka dibekali dengan Bom Asap Qi buatan Oe Asu untuk mengecoh sensor radar.

Udara di dalam terowongan pembuangan limbah Ghudik Sarenteng semakin menyesakkan. Dinding-dinding batu di sini tidak lagi lembap, melainkan kering dan mulai memancarkan panas yang menyengat. Semakin mereka mendekati Kawah Abadi, semakin merah cahaya yang memantul di langit-langit gua.

Chen Song berjalan di depan dengan langkah tenang, sementara Oe Lu Tung, Oe Asu, dan Oe Shan Tung mengikuti di belakang dengan senjata terhunus, menjaga kewaspadaan tingkat tinggi.

Oe Lu Tung

(Menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kasar)

"Dengar, Nak Song. Aku sudah hidup di Ghudik selama lima puluh tahun, tapi panas di lorong ini belum pernah segila ini. Sepertinya 'leluhurmu' itu sedang marah karena energinya diperas habis-habisan oleh pemerintah sialan kami."

Chen Song

"Dia tidak marah, Oe Lu Tung. Dia hanya sedang menunggu. Bara Song adalah leluhur yang dikenal sebagai 'Matahari Hitam'. Dia tidak akan membiarkan siapa pun masuk kecuali mereka memiliki darah yang sanggup menahan api penyucian."

Oe Asu

(Bergerak lincah di antara bayang-bayang, belatinya berkilat)

"Kalau begitu, bagaimana dengan kami? Kami tidak punya darah Song. Apakah kami akan terpanggang hidup-hidup saat kau membuka segelnya?"

Luna Zhang

(Mengangkat tangannya, memancarkan gelombang hawa dingin yang membentuk gelembung pelindung di sekitar mereka)

"Tetaplah dalam radius tiga meter dariku, Asu. Es dari Mei Song akan menjaga suhu tubuh kalian tetap stabil. Tapi ingat, begitu kita sampai di pintu gerbang utama, esku pun akan mencapai batasnya."

Oe Shan Tung

(Berhenti sejenak, menempelkan telinganya ke dinding gua)

"Tunggu. Aku mendengar getaran mekanis. Di balik dinding ini adalah pipa utama yang menyuplai energi ke Ibu Kota. Jika kita meledakkannya sekarang, seluruh kota akan gelap, tapi kita juga akan terkubur di sini."

Chen Song

"Jangan diledakkan. Bara Song benci pencuri. Jika kau memutus alirannya secara paksa, dia akan meledak dan menghanguskan radius 20 kilometer. Biarkan aku yang mematikan intinya dari dalam. Kalian cukup pastikan Garda Api Ghudik tidak masuk lewat pintu belakang ini."

Oe Lu Tung

(Tersenyum menyeringai, memanggul kapak raksasanya)

"Heh, itu bagian favoritku. Aku sudah lama ingin membelah helm emas para penjaga itu. Tapi Song... ada satu hal yang harus kau tahu. Kabar burung mengatakan pemerintah Ghudik memasang Jantung Buatan pada segel makam itu untuk menyedot energinya. Itu adalah teknologi dari Pulau Rahasiamu."

Chen Song

(Matanya berkilat dingin, hawa membunuh keluar dari tubuhnya)

"Song Yan lagi... Dia benar-benar menjual harga diri leluhurnya demi kekuasaan. Kalau begitu, aku tidak hanya akan mengambil warisanku, aku akan menghancurkan setiap mesin yang berani menyentuh makam Bara Song."

Mereka sampai di sebuah pintu raksasa yang terbuat dari logam hitam yang membara hingga berwarna putih. Di tengah pintu itu, terlihat mesin-mesin modern yang berdenyut, menyedot cairan merah seperti lava dari dalam makam.

Oe Asu

"Itu dia. Gerbang Kawah Abadi. Lihat kabel-kabel itu... mereka merantai jiwamu, Song."

Chen Song

(Melangkah maju, pedang esnya mulai beradu dengan panas udara hingga mengeluarkan uap tebal)

"Oe Lu Tung, bersiaplah di posisi. Begitu segel ini terbuka, panasnya akan meledak keluar. Luna, jaga mereka. Biarkan aku yang menghadapi api ini sendirian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!