NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

"Kenapa lo nyamperin gue? Nanti pacar lo stres lagi."

Jenny menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. Napasnya masih sedikit memburu setelah satu jam penuh melakukan stunting dan koreografi yang menguras tenaga. Ia berdiri di pinggir lapangan voli yang sudah sepi, tempat Romeo biasanya masih berdiam diri setelah timnya bubar.

Romeo menyeringai, melemparkan botol air mineral dingin ke arah Jenny yang langsung ditangkap gadis itu dengan sigap. "Lisa lagi sibuk ngamuk di ruang OSIS gara-gara surat lo. Gue rasa dia butuh waktu buat ngebongkar laci meja Jonathan sendirian."

Jenny meneguk air itu, merasakan dingin yang kontras dengan panas di tubuhnya. "Baguslah. Biar mereka sibuk sama kekacauan masing-masing sebelum bom sebenernya meledak besok malam."

"Lo beneran siap, Jen?" tanya Romeo, matanya menatap Jenny dengan intensitas yang tidak biasa. "Begitu lo post foto itu, nggak ada jalan balik. Citra 'Golden Couple' kalian bakal hancur, dan lo bakal jadi pusat perhatian satu sekolah."

Jenny terdiam sejenak, menatap kosong ke arah deretan loker di kejauhan. "Gue lebih milih hancur bareng kebenaran daripada hidup lama-lama di dalem kebohongan yang menjijikkan."

Saat jam pulang sekolah tiba, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Jenny berjalan menuju gerbang, di mana mobil sedan hitam Jonathan sudah terparkir rapi. Pria itu berdiri di samping pintu mobil, tampak sangat tampan dengan kemeja sekolahnya yang masih kaku dan rapi, seolah-olah pengkhianatan semalam tidak pernah terjadi.

"Jen, ayo. Aku antar pulang," ucap Jonathan saat melihat Jenny mendekat. Ia melangkah maju, hendak membukakan pintu untuk Jenny dan—seperti biasa—ingin mendaratkan kecupan ringan di dahi sebagai tanda kasih sayang yang formal.

Refleks, Jenny melangkah mundur satu langkah besar. Wajahnya menegang. Saat ia melihat bibir Jonathan, memori di parkiran apartemen itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Bibir yang sama yang semalam melumat Claudia dengan begitu rakus.

Rasa mual tiba-tiba naik ke tenggorokan Jenny. Ia merasa jijik, benar-benar ingin muntah saat itu juga.

"Nggak usah, Jon. Aku ada urusan," jawab Jenny cepat, suaranya terdengar lebih ketus dari biasanya.

Jonathan mengerutkan kening, tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. "Urusan apa? Kamu biasanya selalu bilang kalau mau pergi ke mana-mana."

"Urusan pribadi. Kamu... kamu pulang sama Claudia aja," ucap Jenny, namun ia segera tersadar dan meralat kalimatnya dengan nada sarkastik yang halus. "Emmm... maksud aku, kamu pulang sendiri aja. Claudia kan Bendahara OSIS, mungkin dia masih sibuk sama 'laporan' yang harus kalian selesaiin berdua."

Jonathan menatap Jenny dengan pandangan menyelidik. "Kamu aneh hari ini, Jen. Apa ini gara-gara omongan Romeo lagi? Sudah aku bilang, dia itu cuma mau provokasi kamu."

"Ini nggak ada hubungannya sama Romeo, Jon. Ini hubungan sama kejujuran yang kamu banggakan itu," balas Jenny sambil memakai helmnya. Ia melihat motor Romeo melambat di depannya.

"Jen? Kamu mau pulang bareng dia?" suara Jonathan meninggi, ada nada posesif yang muncul dari balik topeng kakunya.

"Iya. Kenapa? Ada masalah?" Jenny naik ke boncengan Romeo tanpa ragu. "Oh iya, Jon. Selamat istirahat ya. Simpen tenaga kamu buat besok malam. Aku udah siapin kejutan yang spesial banget buat anniversary kita."

Jenny tidak menunggu jawaban Jonathan. Romeo langsung memacu motornya dengan kencang, meninggalkan Jonathan yang berdiri membeku di depan gerbang sekolah.

Angin sore menerpa wajah Jenny, membawa terbang sisa-sisa rasa mual yang sempat menghimpitnya tadi. Ia memegang pundak Romeo—bukan karena romantis, tapi karena ia butuh tumpuan agar tidak jatuh dari perasaannya yang goyah.

"Lo beneran berani nolak si robot di depan umum, hah?" teriak Romeo dari balik helmnya, suaranya bersaing dengan deru mesin.

"Gue benci liat mukanya, Rom! Gue jijik liat bibirnya yang sok suci itu!" teriak Jenny balik, air mata mulai mengalir lagi karena tertiup angin, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang memuncak.

Romeo tidak menjawab, tapi ia menambah kecepatan motornya. Ia membawa Jenny ke sebuah bukit di pinggir kota yang menghadap ke arah lampu-lampu sekolah yang mulai menyala di kejauhan.

Mereka turun dari motor, duduk di atas rumput kering sambil menatap pemandangan kota.

"Besok jam tujuh malam, kan?" tanya Romeo memecah keheningan.

Jenny mengangguk pelan, jemarinya memainkan ponsel yang berisi foto "kematian" hubungan mereka. "Semua orang bakal liat. Claudia, Jonathan... bahkan orang tua mereka. Gue bakal tag mereka semua."

"Lisa pasti bakal makin gila. Dia tadi nemuin cokelat mahal di laci Jonathan dengan kartu ucapan dari Claudia buat 'si pemberontak favoritku'. Gue rasa Claudia emang sengaja naruh itu buat adu domba gue sama Lisa, biar perhatian gue teralih dari dia," Romeo terkekeh pahit.

"Claudia emang ular yang pinter, Rom. Tapi dia lupa kalau ular itu nggak punya kaki. Sekalinya dia kejepit, dia nggak bakal bisa lari ke mana-mana," Jenny menatap langit malam.

Malam itu, Jenny menghabiskan waktunya untuk menyusun kalimat di Instagram. Kalimat yang singkat, namun mematikan. Kalimat yang akan mengakhiri tiga tahun kepalsuannya dengan Jonathan dan persahabatan beracunnya dengan Claudia.

"Besok," gumam Jenny. "Semuanya bakal berakhir besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!