NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Bekal Buatan Sang Letnan

Bekal buatan sang letnan sudah tertata dengan sangat rapi di atas meja makan saat fajar bahkan belum menyingsing sepenuhnya di ufuk timur. Arga Dirgantara berdiri dengan tegak sambil mengenakan seragam dinas harian yang sangat licin serta tanpa cela sedikit-pun. Di tangannya terdapat sebuah kotak makan berwarna perak yang tampak sangat kontras dengan jemarinya yang terbiasa menggenggam senjata api.

"Segera habiskan sarapanmu dan jangan lupa membawa kotak ini ke dalam tas sekolahmu," perintah Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat tegas.

Maya Anindya menatap kotak tersebut dengan perasaan yang sangat campur aduk antara rasa heran serta rasa takut yang mendalam. Dia tidak menyangka bahwa pria sedingin es itu akan repot-repot bangun pagi hanya untuk menyiapkan makanan bagi dirinya. Aroma nasi goreng yang gurih tercium sangat kuat namun tidak mampu menghilangkan ketegangan yang masih tersisa sejak pertengkaran hebat semalam.

"Apakah ini salah satu cara Anda untuk mengawasi apa saja yang saya konsumsi di sekolah nanti?" tanya Maya Anindya dengan tatapan yang penuh dengan selidik.

Arga Dirgantara meletakkan sendok logam dengan perlahan namun suaranya terdengar sangat nyaring di tengah keheningan ruang makan yang sangat sunyi tersebut. Dia menatap istrinya dengan sebuah sorot mata yang sangat sulit diartikan oleh akal sehat seorang gadis remaja pada umumnya. Ada sebuah tanggung jawab yang sangat besar di balik sikap kakunya yang terkadang terasa sangat menyesakkan dada bagi siapa saja yang menghadapinya.

"Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada racun atau zat berbahaya lainnya yang masuk ke dalam tubuhmu melalui makanan luar," jawab Arga Dirgantara sambil memperbaiki posisi duduknya.

Gadis remaja itu hanya bisa menghela napas panjang lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan gerakan yang sangat lambat serta malas. Rasa masakannya ternyata jauh lebih enak daripada yang dia bayangkan sebelumnya meskipun penampilannya tampak sangat sederhana serta praktis. Dia menyadari bahwa setiap detail kecil dalam hidupnya kini telah berada di bawah kendali penuh seorang perwira yang sangat terobsesi pada keamanan.

"Jika teman-teman sekolah saya bertanya siapa yang menyiapkan bekal ini maka apa yang harus saya katakan kepada mereka?" tanya Maya Anindya lagi.

Arga berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Maya hingga bayangan tubuhnya yang sangat besar menutupi seluruh permukaan meja kayu tersebut. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya lalu berbisik tepat di samping telinga istrinya dengan suara yang sangat berat serta penuh dengan penekanan. Keheningan kembali merayapi setiap sudut rumah dinas itu seiring dengan detak jantung Maya yang mulai berdegup kencang secara tidak beraturan.

"Katakan saja bahwa itu adalah bentuk perhatian dari kakak sepupumu yang sangat protektif serta tidak suka dibantah," tegas Arga Dirgantara sambil menaruh sebuah kunci cadangan.

Maya merasakan bulu kuduknya berdiri saat mendengar istilah kakak sepupu yang diucapkan dengan nada yang sangat penuh dengan otoritas militer tersebut. Dia segera menutup kotak makannya lalu memasukkannya ke dalam tas dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa tertekan yang semakin nyata. Gadis itu menyadari bahwa mulai hari ini identitas palsunya bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas melainkan sebuah kenyataan yang harus dia jalani.

"Sekarang berdirilah dan segera berangkat karena saya akan mengantarmu sampai ke titik aman yang sudah ditentukan semalam," perintah Arga Dirgantara sambil meraih kunci mobilnya.

Mereka berdua berjalan keluar rumah dengan suasana yang sangat kaku laksana dua orang asing yang dipaksa bersatu oleh takdir yang sangat kejam. Maya menatap punggung tegap suaminya yang berjalan di depannya dengan langkah yang sangat teratur serta penuh dengan perhitungan taktis. Dia tidak tahu bahwa setelah sampai di sekolah nanti dia akan menemukan tumpukan tugas sekolah di meja komando.

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!