NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahira Datang Berkunjung

Bel mansion berbunyi jam sebelas siang.

Naura sedang duduk di taman belakang membaca buku. Atau lebih tepatnya, pura pura membaca karena matanya cuma melihat tulisan tanpa benar benar baca. Pikirannya melayang ke mana mana. Ke ibu yang masih di rumah sakit. Ke Nathan yang tidak pernah pulang. Ke Layvin yang baik kemarin malam.

"Nyonya, ada tamu" Bi Ijah keluar dengan senyum.

"Tamu? Siapa Bi?"

"Nona Mahira. Bilang sahabat Nyonya"

Mahira?

Naura langsung berdiri. Bukunya jatuh ke rumput tapi dia tidak peduli. Langsung lari ke dalam rumah.

Dan benar saja.

Di ruang tamu, Mahira berdiri dengan dress cantik warna pastel. Rambutnya dikeriting sedikit. Makeup natural tapi sempurna. Tangan kanannya pegang tas branded. Tangan kirinya pegang kotak kado besar dengan pita merah.

"NAURA!"

Mahira langsung peluk Naura begitu lihat dia. Pelukan erat yang hangat. Bau parfum mahal tercium dari tubuh Mahira.

"Mahira! Kamu kenapa tidak bilang mau datang?" Naura membalas pelukan dengan senang. Senang ada yang berkunjung. Senang ada teman di rumah besar yang sepi ini.

"Aku mau kasih surprise! Lagian aku kangen banget sama kamu! Kemarin kita ketemu cuma sebentar doang di kafe. Aku pengen liat rumah kamu juga!"

Mereka duduk di sofa. Mahira meletakkan kotak kado di meja.

"Ini buat kamu. Kado pernikahan yang terlambat. Maafin aku ya baru kasih sekarang"

"Mahira... tidak usah repot repot..." Naura membuka kotak itu. Di dalamnya ada set peralatan makan porselen cantik dengan motif bunga bunga. Pasti mahal. Sangat mahal.

"Aku suka banget! Terima kasih Mahira!"

Mahira tersenyum lebar. Tapi matanya... matanya berkeliling. Melihat ruang tamu yang megah. Langit langit tinggi. Lampu kristal. Lukisan di dinding. Karpet tebal.

"Gila Naura... rumah kamu kayak istana... kamu beruntung banget bisa tinggal di tempat semewah ini..."

Beruntung.

Kata itu terdengar ironis di telinga Naura.

Beruntung tinggal di istana tapi kesepian?

Beruntung punya suami kaya tapi tidak dicintai?

Beruntung hidup mewah tapi menangis setiap malam?

"Iya... lumayan..." Naura cuma tersenyum tipis.

"Aku boleh keliling rumah ga? Penasaran banget pengen liat semua ruangan!"

"Boleh dong! Ayo aku anterin!"

Mereka berdua jalan keliling mansion. Naura tunjukin ruang makan. Ruang keluarga. Perpustakaan kecil. Ruang home theater. Kolam renang dalam ruangan.

Mahira terus bilang wow di setiap ruangan. Terus foto foto. Terus puji puji.

Tapi Naura tidak sadar...

Mata Mahira tidak cuma mengagumi.

Mata Mahira mengamati.

Tajam.

Seperti mencari sesuatu.

Seperti menghafal setiap sudut.

"Ini kamar kamu?" Mahira bertanya saat mereka sampai di depan pintu kamar utama.

"Iya. Ayo masuk"

Kamar Naura luas dengan ranjang besar dan balkon pribadi. Mahira duduk di tepi ranjang sambil senyum senyum.

"Enak banget ya jadi kamu... tidur di kasur seempuk ini setiap hari..."

Tidur sendiri.

Selalu sendiri.

Tapi Naura tidak bilang itu.

"Terus kamar Nathan mana?" Mahira bertanya sambil bangkit. Nadanya terdengar... eager? Seperti tidak sabar.

Naura menunjuk pintu penghubung. "Di sebelah. Ada pintu penghubung tapi... tapi jarang dibuka sih..."

"Boleh aku liat?"

"Eh... itu kamar Nathan... aku ga yakin..."

"Ayolah Naura! Aku cuma pengen liat doang! Ga bakal apa apain kok!"

Mahira sudah berjalan duluan ke pintu penghubung. Tangannya sudah di gagang pintu.

"Mahira tunggu..." Naura mau ngelarang tapi Mahira sudah buka pintu.

Kamar Nathan terlihat dari situ. Gelap karena gordennya ditutup. Serba hitam dan abu abu. Rapi. Dingin.

Mahira melangkah masuk.

"Mahira jangan... Nathan ga suka ada orang masuk kamarnya..."

Tapi Mahira tidak dengar. Atau pura pura tidak dengar. Dia terus jalan masuk. Menyentuh meja kerja Nathan. Menyentuh kursi. Menyentuh tumpukan buku.

Ada sesuatu di wajahnya.

Sesuatu yang aneh.

Seperti... rindu?

"Kamarnya... kamarnya persis seperti yang dia bilang dulu..." Mahira berbisik pelan. Sangat pelan sampai Naura hampir tidak dengar.

"Apa?"

Mahira langsung berbalik dengan senyum. "Tidak ada apa apa! Aku bilang kamarnya keren! Cowok banget!"

Tapi ada sesuatu yang salah.

Ada sesuatu di mata Mahira yang membuat Naura merasa tidak nyaman.

"Ayo keluar Mahira... nanti Nathan marah kalau tahu ada yang masuk kamarnya..."

"Oke oke! Maaf ya Naura! Aku cuma penasaran aja!"

Mereka keluar dari kamar dan turun ke bawah lagi.

"Aku buatin teh ya. Kamu tunggu di ruang tamu" Naura ke dapur.

"Oke! Aku tunggu di sini!"

Naura sibuk di dapur nyiapin teh dan kue kue kecil. Bi Ijah bantu siapkan nampan.

Sementara itu...

Mahira duduk di sofa dengan senyum yang perlahan memudar.

Dia menatap tangga yang menuju ke lantai atas.

Ke kamar Nathan.

Tangannya mengepal di atas pangkuan.

Kamar itu...

Kamar yang Nathan pernah ceritakan padanya lima tahun lalu.

Kamar yang Nathan bilang suatu hari akan jadi kamar mereka berdua.

Tapi sekarang?

Sekarang kamar itu jadi kamar Nathan dan Naura.

Naura.

Sahabatnya sendiri.

Mahira berdiri pelan. Matanya melirik ke arah dapur. Naura masih sibuk di sana.

Mahira berjalan cepat.

Tidak ke tangga.

Tapi ke ruang kerja Nathan di lantai satu.

Ruang yang tadi Naura tunjukin tapi cuma sekilas.

Mahira masuk dan menutup pintu pelan.

Ruangan ini lebih gelap. Gorden tebal menutupi jendela. Meja kerja besar di tengah. Rak buku di dinding. Sofa kulit di sudut.

Bau cologne Nathan masih tercium samar.

Bau yang Mahira hapal.

Bau yang Mahira rindukan.

Mahira berjalan ke meja kerja Nathan.

Tangannya gemetar saat menyentuh permukaan meja.

Kayu solid yang dingin.

Tapi bagi Mahira terasa hangat.

Karena ini meja Nathan.

Karena ini tempat Nathan bekerja.

Karena ini ruangan Nathan.

Air mata Mahira jatuh.

Jatuh ke permukaan meja.

"Nathan..." bisiknya pelan sambil memeluk diri sendiri. "Aku kembali... aku sudah kembali..."

Dia duduk di kursi Nathan. Kursi besar yang nyaman. Kursi yang sering Nathan duduki.

Mahira memejamkan mata.

Membayangkan Nathan duduk di sini.

Membayangkan Nathan bekerja di sini.

Membayangkan Nathan... miliknya lagi.

"Maafkan aku yang pergi dulu..." air matanya makin deras. "Maafkan aku yang meninggalkanmu... tapi aku punya alasan Nathan... aku punya alasan yang tidak bisa aku ceritakan waktu itu..."

Mahira membuka mata dan menatap foto di meja.

Foto Nathan dan Richard.

Tidak ada foto Nathan dan Naura.

Mahira tersenyum pahit.

Berarti Nathan memang tidak mencintai gadis itu.

Berarti Nathan cuma terpaksa nikah.

Berarti masih ada harapan.

Masih ada kesempatan untuk Mahira kembali ke pelukan Nathan.

"Aku tidak akan pergi lagi Nathan..." Mahira berbisik pada foto itu. "Kali ini aku akan bertarung... akan melawan siapapun yang menghalangi kita... bahkan kalau itu Naura sekalipun..."

Naura.

Sahabatnya.

Sahabat yang selalu ada saat Mahira susah.

Sahabat yang pernah pinjamkan uang saat Mahira butuh.

Sahabat yang tulus.

Tapi sekarang...

Sekarang Naura jadi penghalang.

Jadi tembok antara Mahira dan Nathan.

Dan tembok harus dirobohkan.

Tidak peduli sesakit apa.

Tidak peduli sekeji apa.

Mahira mengusap air matanya dan bangkit dari kursi.

Dia keluar dari ruang kerja dengan wajah yang sudah kembali ceria.

Senyum manis kembali di bibir.

Seperti tidak ada apa apa.

Saat dia sampai di ruang tamu, Naura sudah ada di sana dengan nampan teh dan kue.

"Mahira! Kamu ke mana? Aku cari cari!"

"Aku ke toilet sebentar! Maaf lama ya!"

Mereka duduk dan ngobrol sambil minum teh.

Mahira cerita tentang hidupnya di luar negeri. Tentang sekolahnya. Tentang teman temannya.

Naura dengarkan dengan antusias. Senang punya teman ngobrol. Senang tidak kesepian.

"Naura..." Mahira tiba tiba serius. "Aku pengen ketemu suamimu"

Jantung Naura berhenti sedetik.

"Ketemu... Nathan?"

"Iya! Aku pengen kenalan sama dia! Nathan pasti pria yang luar biasa kalau bisa bikin kamu jatuh cinta dan nikah secepat ini!"

Jatuh cinta.

Naura tidak jatuh cinta.

Naura cuma butuh uang.

Tapi Mahira tidak boleh tahu itu.

"Nathan... Nathan sibuk banget Mahira... jarang di rumah..."

"Ga apa apa! Kapan kapan aja! Atau kita bikin makan malam bareng gitu! Aku pengen ngobrol sama Nathan! Pasti seru!"

Ada sesuatu di mata Mahira saat sebut nama Nathan.

Sesuatu yang berkilat.

Sesuatu yang membuat Naura merasa tidak enak.

"Oke... nanti aku bilangin Nathan..." Naura tersenyum paksa.

Mahira tersenyum puas. "Asyik! Aku tunggu ya!"

Mereka ngobrol sampai sore. Mahira baru pulang jam empat.

Naura mengantarnya sampai depan.

"Terima kasih ya Naura udah terima aku hari ini! Aku senang banget bisa main ke rumah kamu!"

"Aku juga senang! Kapan kapan main lagi ya!"

Mereka berpelukan lama.

Tapi yang Naura tidak tahu...

Di pelukan itu, Mahira tersenyum.

Tersenyum dingin.

Tersenyum penuh rencana.

Rencana untuk merebut Nathan.

Rencana untuk menghancurkan pernikahan Naura.

Rencana untuk mendapatkan apa yang dia anggap miliknya.

Mobil Mahira pergi meninggalkan mansion.

Naura melambaikan tangan sampai mobil hilang di tikungan.

Lalu dia masuk ke rumah dengan perasaan aneh.

Perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.

Seperti ada bahaya yang mendekat.

Seperti ada badai yang akan datang.

Tapi Naura tidak tahu dari mana.

Tidak tahu bahaya itu datang dari orang yang paling dia percaya.

Dari sahabatnya sendiri.

Dari Mahira yang tersenyum manis tapi hatinya gelap.

Dan malam itu...

Saat Naura tidur di kamar besar yang sepi...

Mahira duduk di apartemennya sambil menatap foto lama Nathan.

Jarinya menelusuri wajah Nathan di foto.

"Tunggu aku sayang..." bisiknya pelan. "Sebentar lagi kita akan bersama lagi... dan kali ini... tidak ada yang bisa memisahkan kita... tidak ada..."

Senyumnya melebar.

Senyum yang mengerikan.

Senyum seseorang yang siap melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau.

Bahkan kalau harus menginjak sahabatnya sendiri.

Bahkan kalau harus menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah.

Bahkan kalau harus jadi monster.

Karena cinta...

Cinta yang obsesif...

Cinta yang egois...

Bisa mengubah seseorang jadi monster.

Dan Mahira...

Mahira sudah jadi monster itu.

Monster yang bersembunyi di balik senyum manis.

Monster yang akan menghancurkan Naura pelan pelan.

Tanpa Naura sadari.

Sampai terlambat.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!