NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Suara yang Terlalu Keras

Yura berdiri di depan cermin rumah sakit pagi itu.

Rambutnya ia ikat rapi, wajahnya tampak pucat meski sudah dibasuh air. Lingkar hitam di bawah matanya tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri.

Hari ini, ia harus ke kantor.

Bukan untuk bekerja.

Tapi untuk meminta cuti.

Dua hari saja.

Untuk ayahnya.

Yura menatap ayahnya yang masih tertidur, lalu beranjak pergi dengan langkah berat.

Jam 10:30 WIB

Gedung perusahaan berdiri megah seperti biasa.

Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah serius, kartu identitas menggantung di leher, langkah mereka cepat dan pasti. Yura masuk, berusaha menenangkan detak jantungnya.

Belum sempat ia duduk di kursinya, pesan dari atasannya sudah masuk.

"Ke ruangan saya. Sekarang."

Yura menghembuskan napas pelan, lalu melangkah.

Begitu pintu ruangan tertutup, suara itu langsung menghantamnya.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?!”

Yura berdiri kaku.

“Kamu menghilang satu hari penuh. Tanpa izin. Tanpa kabar. Dan sekarang baru muncul?”

Yura menunduk.

“Maaf, Pak. Saya datang untuk menjelaskan. Ayah saya sakit dan”

“Saya tidak mau dengar alasan!” potong atasannya keras. “Kamu pikir perusahaan ini menunggu masalah pribadi kamu selesai dulu baru jalan?!”

Telinga Yura terasa panas.

Nada suara itu semakin meninggi, semakin tajam, menampar telinganya tanpa jeda.

“Kamu manajer! Tahu artinya tanggung jawab?”

Yura mengepalkan tangannya di sisi tubuh.

“Saya hanya ingin mengajukan cuti dua hari, Pak,” ucapnya pelan tapi jelas. “Untuk mengurus ayah saya.”

Atasannya tertawa kecil, sinis.

“Cuti? Dalam kondisi seperti ini?”

Ia berdiri, mencondongkan tubuh ke arah Yura.

“Kamu terlalu emosional, Yura. Dunia kerja tidak cocok untuk orang yang tidak bisa memisahkan urusan pribadi dan profesional.”

Kata-kata itu menembus dada Yura.

Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Silakan kembali ke meja kamu,” lanjut atasannya dingin. “Dan pikirkan baik-baik, apakah kamu masih pantas berada di posisi ini.”

Yura keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai.

Setiap kata yang ia dengar masih bergema di kepalanya. Kepalanya pening. Dadanya sesak.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di tempat itu,

Yura bertanya pada dirinya sendiri

berapa mahal harga yang harus ia bayar untuk tetap bertahan?

Yura duduk di kursinya tanpa benar-benar melihat layar komputer di depannya.

Kursor berkedip di dokumen kosong. Email masuk terus berdatangan, tapi pikirannya tidak ada di sana. Kepalanya dipenuhi satu hal ayahnya.

Dan satu pilihan yang belum ia berani ambil.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Tidak.

Ia tidak bisa menggantungkan hidup di dua dunia sekaligus.

Yura berdiri.

Langkahnya mantap saat kembali menuju ruangan atasannya, meski jantungnya berdegup keras. Kali ini, ia tidak datang untuk membela diri.

Ia datang untuk memutuskan.

“Masuk.”

Yura membuka pintu dan berdiri tegak.

“Saya mau bicara, Pak.”

Atasannya menatapnya tajam. “Tentang apa lagi? "

Yura menelan ludah, lalu berkata dengan suara yang lebih tenang dari yang ia kira.

“Saya mengundurkan diri dari posisi manajer.”

Ruangan itu sunyi.

“Apa?”

“Saya sadar, kondisi saya saat ini tidak ideal untuk memegang tanggung jawab sebesar itu,” lanjut Yura. “Saya siap menerima posisi apa pun yang Bapak anggap pantas… atau bahkan tidak sama sekali.”

Atasannya menyandarkan tubuh ke kursi.

Menatap Yura lama.

“Kamu yakin?” tanyanya pelan. “Karier kamu bisa berhenti di sini.”

Yura mengangguk.

“Saya yakin.”

Hening kembali menggantung.

Lalu, sebuah senyum tipis bukan senyum hangat muncul di wajah atasannya.

“Baik,” katanya. “Saya beri kamu pilihan.”

Yura mengangkat kepala.

“Kamu saya beri cuti.”

Jantung Yura berdegup cepat.

“Tapi,” lanjutnya, “malam ini kamu harus mendapatkan satu proyek. "

Yura menegangkan bahu.

“Proyek apa, Pak?”

Atasannya mencondongkan tubuh ke depan.

“Proyek kerja sama dengan perusahaan teknologi milik Arkan.”

Nama itu terdengar asing, tapi nada suara atasannya membuatnya terasa penting.

“CEO-nya terkenal sulit,” lanjutnya. “Kalau kamu berhasil mengamankan proyek ini, kamu dapat cuti. Posisi kamu… kita bicarakan nanti.”

Yura terdiam.

Pikirannya berputar cepat. Ia lelah. Ia ingin pulang. Ia ingin kembali ke rumah sakit dan duduk di samping ayahnya.

Tapi kesempatan itu ada di depannya.

Dan tanpa berpikir panjang

“Saya akan lakukan,” ucapnya.

Atasannya tersenyum tipis.

“Bagus. Saya tunggu kabar baik malam ini.”

Yura keluar dari ruangan itu dengan napas berat.

Ia tidak tahu siapa Arkan.

Tidak tahu apa proyek itu.

Tidak tahu apa yang menantinya malam nanti.

Yang ia tahu hanya satu ia baru saja mengiyakan sesuatu yang akan mengubah hidupnya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Yura kembali ke mejanya dengan langkah pelan.

Di layar komputernya, berkas proyek sudah menunggu. Ia membuka satu per satu dokumen yang dikirim atasannya proposal kerja sama, laporan keuangan, hingga profil perusahaan target.

Arkan Tech Solutions Project.

Nama itu tertera berulang kali.

Yura membaca dengan saksama. Semakin ia masuk ke detailnya, alisnya semakin berkerut. Perusahaan teknologi pengembang aplikasi dengan pertumbuhan paling agresif dalam lima tahun terakhir. Klien global. Nilai investasi yang terus melonjak.

Dan satu nama yang selalu muncul di setiap halaman.

Arkan.

CEO. Pendiri. Pemegang kendali penuh.

“Pantas saja…” gumam Yura pelan.

Ia baru mengerti kenapa atasannya begitu terobsesi. Perusahaan ini bukan sekadar mitra ini tiket emas. Siapa pun yang berhasil membuka pintu kerja sama, akan naik drastis nilainya di mata perusahaan.

Tapi justru itu yang membuat Yura heran.

Kenapa proyek sepenting ini… dilemparkan kepadanya, di saat ia berada di posisi paling rapuh?

Yura menyandarkan punggung ke kursi.

Mereka butuh hasil, bukan aku, pikirnya.

Menjelang sore, ia menutup laptop dan berdiri. Waktu terus berjalan, dan malam akan segera datang.

Yura singgah sebentar di sebuah butik kecil.

Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Bukan Yura si manajer yang selalu kaku. Bukan pula Yura si anak yang lelah di rumah sakit.

Malam ini, ia harus menjadi Yura yang lain.

Akhirnya, ia memilih sebuah gaun sederhana berwarna gelap. Potongannya rapi, tidak mencolok, tapi elegan. Cukup untuk menunjukkan profesionalisme tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Saat kasir membungkus gaun itu, Yura menghela napas pelan.

Entah kenapa, dadanya terasa tidak tenang.

Nama Arkan kembali terlintas di benaknya.

Ia tidak tahu seperti apa pria itu. Tidak tahu bagaimana pertemuan malam nanti akan berjalan.

Yang ia tahu hanya satu

malam ini bukan sekadar urusan proyek.

Dan pertemuan ini… akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Yura kembali ke rumah sakit menjelang malam.

Langkahnya pelan menyusuri lorong yang kini lebih sepi. Lampu-lampu menyala redup, suasana terasa tenang namun rapuh. Ia berhenti di depan kamar ayahnya, menarik napas sebelum masuk.

Rahardian terjaga.

Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya hangat saat melihat Yura datang.

“Mau ke mana?” tanyanya pelan.

Yura duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya.

“Ada urusan kerja, Yah. Penting,” ucapnya jujur. “Aku harus pergi sebentar.”

Ayahnya menatapnya lama, lalu mengangguk kecil.

“Kamu kelihatan cantik,” katanya lembut.

Yura tersenyum tipis. “Doain aku, ya. Biar semuanya lancar.”

Rahardian menggenggam balik tangan Yura dengan sisa tenaga yang ia punya.

“Ayah selalu doain kamu,” ucapnya. “Apa pun yang kamu lakukan, lakukan dengan hati tenang.”

Yura menunduk, menahan rasa sesak yang tiba-tiba naik.

“Istirahat yang baik, Yah. Aku balik secepatnya.”

Ia mengecup punggung tangan ayahnya pelan, lalu berdiri. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi menghafal wajah itu, seolah takut momen ini akan cepat berlalu.

Taksi yang ia pesan sudah menunggu di depan rumah sakit.

Yura duduk di kursi belakang, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Lampu kota berkelebat cepat. Gaun gelap yang ia kenakan terasa sedikit asing, tapi ia membiarkannya.

Malam ini, ia tidak boleh goyah.

Mobil berhenti di depan sebuah gedung megah.

Di bagian depan, tulisan besar menyala terang:

EVENT BIG COMPANY

Yura turun dari taksi.

Karpet terhampar. Lampu-lampu menyilaukan. Orang-orang dengan setelan mahal dan gaun elegan berjalan masuk sambil berbincang ringan. Nama-nama besar perusahaan bergaung di udara.

Ini dunia yang keras. Dunia yang dingin.

Dan di antara para petinggi itu, satu nama kembali terlintas di kepala Yura.

Arkan.

CEO perusahaan teknologi yang begitu diincar kantornya.

Yura menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke gedung itu tanpa tahu bahwa malam ini, takdir akan mempertemukannya kembali dengan pria yang bahkan belum menyadari keberadaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!