Aksa bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang perlahan memikat perhatiannya. Namun ketertarikan itu bukanlah karena sosok gadis tersebut sepenuhnya, melainkan karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.
Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Aksa mulai mendekatinya dengan berbagai cara — bahkan tak segan mengambil jalan licik — demi menjadikan gadis itu miliknya. Obsesi yang awalnya lahir dari kerinduan perlahan berubah menjadi hasrat posesif yang menguasai akal sehatnya.
Tanpa disadari, sang gadis pun terseret semakin dalam ke dalam cengkeraman pria dominan itu, masuk ke sebuah lembah gelap yang dipenuhi keinginan, manipulasi, dan ilusi cinta.
akankah Aksa bisa mencintai gadis itu sepenuhnya? apakah gadis itu mampu membuat Aksa jatuh cinta pada dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LebahMaduManis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suara deru mesin mobil membelah keheningan pagi yang sudah menjelang siang, Rio menyipitkan mata, mengamati peta digital di dasbor, lalu menoleh sekilas pada Erina yang duduk di belakangnya.
"Non Erina," panggil Rio lembut, memastikan arah. "Apa ini benar ini jalan menuju panti asuhan yang Nona maksudkan?"
Erina menarik napas panjang, tatapannya menyapu pepohonan rindang di luar jendela mobil. Senyum tipis, penuh kenangan, terukir di bibirnya.
"Betul, Pak." Erina mengangguk perlahan. "Ah... sudah lama sekali aku tidak ke sini. Tidak ada yang berubah, hanya pohon-pohonnya saja sekarang lebih tinggi dan lebih rindang, menyambutku seperti dulu."
Rio terdiam sejenak, menangkap pancaran nostalgia di mata Erina. Ia memberanikan diri melontarkan sebuah pertanyaan yang terasa pribadi.
"Apa sebelumnya Nona pernah tinggal di sini?"
Erina menoleh, tatapan matanya kini memancarkan kesedihan yang tersembunyi jauh. Ia menghela napas, seolah melepaskan beban bertahun-tahun.
"Tidak, Pak. Bukan tinggal." Suara Erina terdengar lebih rendah. "Aku... hanya sering menghabiskan waktu di sini saat kecil. Mendiang Ayahku adalah salah satu donatur panti ini. Kami datang setiap hari libur, bermain dengan anak-anak, membawa hadiah. Tempat ini penuh tawa dan kehangatan"
Rio merasakan keheningan yang menyesakkan di antara kata-kata itu. Ia menangkap petunjuk akan kisah masa kecil yang sepi di balik kemewahan hidup Erina.
"Maaf, Non. Saya tidak bermaksud lancang," ucap Rio penuh penyesalan.
Erina menggeleng, tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa, Pak Rio. Justru, aku bersyukur ada yang menanyakan. Aku ingin menengok panti ini, memastikan semuanya baik-baik saja."
Rio mematikan mesin mobil, pandangannya terpaku pada sebuah papan nama kayu yang sudah mulai usang di gerbang. Tulisan di sana, walau sederhana, terasa memantik sesuatu yang hangat di relung dadanya "Sudah sampai, Non," ujar Rio, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya, seolah tempat itu menuntut keheningan.
Erina menoleh, senyumnya sehangat mentari pagi. "Terima kasih banyak, Pak Rio. Mari mampir sebentar. Setidaknya, biarkan saya buatkan secangkir teh atau kopi untuk Bapak."
Sebenarnya Rio ingin segera pamit. Namun, pandangan matanya tak bisa lepas dari gerbang sederhana itu. Ada sebuah resonansi samar yang menariknya—mungkin kenangan masa kecilnya sendiri, saat ia juga tumbuh di bawah atap panti asuhan yang serupa. Rasa ingin tahu, bercampur dengan nostalgia yang tak terucapkan, mendesaknya untuk tinggal "Baiklah, Non," jawab Rio akhirnya, nada suaranya sedikit mengandung kerelaan yang tak terduga.
Erina tersenyum lagi dan mulai melangkah. Rio berjalan perlahan di belakangnya, mengikuti langkah kaki anggun itu menuju gerbang yang seolah menyimpan seribu kisah.
Erina baru melangkahkan kakinya beberapa langkah sudah disambut anak-anak yang sedang bergotong royong membersihkan halaman panti asuhan yang menjadi tempat tinggal mereka, senyum yang tulus, sorot mata yang berbinar, dan gelak tawa kebahagian yang terpancar dar anak-anak tatkala menyambut kedatangan Erina, mereka tahu betul siapa yang datang, meski sudah cukup lama Erina tak berkunjung.
Erina membentangkan tangannya seakan bersiap untuk memeluk anak-anak yang berlari menghampiri Erina, Sontak membuat mata Rio berkaca-kaca, ia ingat kenangan dirinya dimasalalu.
Teriakan riuh anak-anak, "Kak Erinaaaaaaaaaaa!" sontak memecah keheningan, membuat para pengurus panti bergegas keluar.
Sosok yang ditunggu, Erina, menyambut mereka dengan senyum lebar yang hangat.
"Kalian apa kabar, Sayang?" tanya Erina riang, suaranya dihiasi tawa kecil yang merdu.
Anak-anak itu tak sabar, berlomba-lomba maju untuk mencium tangannya, meluapkan kerinduan mereka.
"Sudah, sudah, anak-anak manis. Jangan rebutan, ya. Biarkan Kak Erina masuk dulu untuk sedikit beristirahat," ujar Ashanti, salah satu pengurus panti, menengahi dengan lembut.
Erina dan Ashanti berjalan menuju paviliun untuk duduk dan sedikit berbincang, sudah cukup lama Erina tak bertemu kerabatnya ini, semenjak ia berangkat untuk menimba ilmu di Jerman.
Ashanti melangkah mendekat, matanya yang tajam langsung tertuju pada sosok pria asing di samping Erina. Senyumnya merekah, mencoba menyelami raut wajah sahabat lamanya itu.
"Apa kabar, Erina?" tanya Ashanti dengan nada ceria, menumpahkan sedikit kerinduan dalam suaranya.
Erina membalas tatapan itu, menarik napas lega melihat Ashanti baik-baik saja. "Aku baik, Shanti. Kamu sendiri bagaimana?" Erina berbalik, kini giliran dia yang menanyakan kabar.
"Baik, Erina," ucapan Ashanti tercekat, iris matanya bergerak, menoleh penuh minat ke arah pria jangkung yang berdiri elegan di dekat mereka. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Erina, berbisik jail. "Siapa pria di sana, Erina? Pakaiannya rapi sekali. Jangan-jangan dia calon suamimu?" Ashanti terkikih pelan, menahan tawa, mencoba menggoda sahabatnya.
Pipi Erina sedikit merona, ia buru-buru menggeleng. "Ng, bukan. Dia—"
Sebelum Erina sempat menyelesaikan kalimatnya, pria yang menjadi objek pembicaraan mereka melangkah maju dengan gerakan yang tenang dan percaya diri.
Ia mengulurkan tangan ke arah Ashanti, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Saya Rio. Asisten pribadi Nona Erina," ujarnya dengan suara bariton yang tegas dan profesional.
Ashanti menyambut jabatan tangan itu, terkejut sekaligus kagum. Mereka saling bersalaman, sebuah perkenalan singkat yang penuh kejutan.
Mata Erina membulat. Ia menautkan kedua alisnya, wajahnya tampak bingung. Ia menoleh cepat ke arah Rio, berbisik tajam. "Apa maksud Pak Rio ini?"
Ashanti tak lagi bisa menahan keterkejutannya. Matanya berbinar melihat drama kecil itu.
"Wow, kamu hebat, Er! Sudah punya asisten pribadi!" puji Ashanti dengan nada bersemangat, kemudian ia menyipitkan mata, menatap Rio dan Erina secara bergantian. "Tapi, kenapa wajah kalian mirip sekali, ya? Apa jangan-jangan... kalian berjodoh?" Ejekan itu dilontarkannya untuk semakin menghangatkan suasana, sekaligus mencari tahu lebih jauh.
Rio berdeham pelan, membenarkan kerah kemejanya, menyembunyikan ekspresi terkejut yang samar. Ia mengukir senyum di wajahnya, senyum yang disadarinya mirip dengan senyum Erina. Rio dan Erina saling tatap sekilas, mata mereka bertemu, sebuah momen canggung yang terasa menggelitik, tepat setelah Ashanti menyebutkan kemiripan wajah mereka.
"Ya ampun, aku sampai lupa menawarkan kalian minum!" seru Ashanti, menepuk keningnya pelan. Wajahnya berseri-seri "Tapi, aku tidak akan menanyakan minuman apa yang kamu mau, Er! Aku masih ingat, favoritmu jus nanas, kan?"
Mereka berdua saling melempar tawa renyah, menciptakan suasana hangat di ruangan itu. Ashanti kemudian berganti menoleh ke arah Rio, senyum manis tersimpul di wajahnya.
"Kalau Bapak, mau teh atau kopi?" tanyanya lembut.
"Kopi saja," jawab Rio singkat, nadanya tenang.
Dengan cekatan, Ashanti pun beranjak, meninggalkan Erina dan Rio untuk mengambilkan minuman.
Mata Rio menerawang, menatap lamat anak-anak panti yang tengah bermain di kejauhan. Sebuah desahan keluar dari bibirnya.
"Saya juga dulu tinggal di panti," cetus Rio, suaranya kini terdengar sedikit lebih datar, seolah menahan beban kenangan.
Erina sontak terperanjat. "Hah? Benarkah? Di panti mana? Bagaimana ceritanya, Pak?" Tanyanya beruntun, sepertinya ia sangat penasaran dengan kelanjutan kalimat yang baru saja Rio ucapkan, Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.
Rio mengalihkan pandangannya dari anak-anak, menatap Erina dengan tatapan yang kini lebih santai. "Panti Asuhan Bunda Bahagia," ia memulai. "Bahkan, saya pamit keluar dari panti belum lama, sekitar dua minggu yang lalu. Masa kecil, remaja, hingga dewasa, semuanya saya habiskan di panti itu. Jika bukan karena keinginan Pak Aksa, sepertinya saya tidak akan pernah keluar dari panti." Rio mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum tipis yang menyimpan banyak kisah.
"Oh... Pak Aksa? Kenapa?" tanya Erina, sedikit terkejut dan heran. Matanya menatap Rio dengan penuh rasa ingin tahu.
Rio tersenyum tipis, pandangannya beralih ke arah anak-anak panti yang sedang bermain. Ia seolah sedang melihat pantulan dirinya sendiri di masa lalu "jarak dari panti ke kantor, dan ke apartemen beliau itu cukup jauh, Non," jelas Rio, suaranya melembut. "Jadi, saya diminta untuk menempati apartemen Pak Aksa yang lain. Letaknya lebih strategis, tidak terlalu jauh dari kantor dan juga dekat dengan apartemen beliau."
Erina mengangguk-angguk, mencerna. Ia lantas tertawa kecil, seperti baru teringat sesuatu "Ngomong-ngomong, Pak Aksa itu orangnya—" Erina menjeda kalimatnya, mencari kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Aksa "Sedikit menyeramkan," lanjutnya dengan berbisik, lalu terkikih. "Tapi, anehnya, kalau sudah dekat, dia tidak seseram yang saya bayangkan. Malah kadang... lucu."
Rio ikut tertawa, tawa yang ringan dan tulus. Aura misterius di sekitar nama Aksa seolah mencair seketika.
...***...