Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ujian Loyalitas dan Kebenaran yang Diakui
Senja di Penthouse: Badai Pribadi
Setelah Natalie melempar tablet yang menampilkan berita utama dari media internasional, suasana di penthouse langsung berubah dari kedamaian menjadi kekacauan yang dingin. Natalie mundur beberapa langkah, memunggungi Ares. Ia tidak menangis, tetapi emosi yang terkubur bertahun-tahun—rasa malu karena menjadi pelayan bar, rasa sakit karena ditinggalkan, dan ketakutan akan pengungkapan Rima—kini menyelimutinya.
"Mereka tahu segalanya, Ares," bisik Natalie, suaranya tercekat. "Mereka tahu tentang Eclipse, tentang Adrian, tentang Ayahmu. Dan yang terpenting, mereka mengisyaratkan tentang Rima. Mereka tahu kerentanan terbesarmu adalah aku."
Ares tidak bergerak mendekat; ia membiarkan Natalie menghadapi rasa sakit itu sendirian sejenak. Ia tahu pendekatan yang salah akan menghancurkan kepercayaan yang begitu sulit mereka bangun. Namun, matanya, biasanya dingin dan menghitung, kini memancarkan api kemarahan—bukan pada Natalie, tetapi pada dunia yang berani menyentuhnya.
"Duduk," perintah Ares, suaranya rendah dan mantap.
Natalie menurut, ambruk di sofa kulit.
Ares mengambil tablet itu, membacanya lagi. Ia meremasnya, tidak peduli pada kerugian finansial yang akan ditimbulkan oleh Petrov.
"Kebohongan mereka tidak penting," kata Ares, ia berjalan ke Natalie dan berlutut di depannya, sebuah gerakan yang sangat jarang dan penuh makna. "Yang penting adalah kebenaran di antara kita, Natalie. Masa lalu adalah tempat kau belajar untuk bertahan hidup. Itu adalah fondasi yang membuatmu menjadi diriku sekarang. Aku tidak pernah peduli dengan mana kau bekerja, atau siapa yang kau tinggalkan."
Ares meraih tangan Natalie. "Apakah kau mencintaiku? Apakah kau loyal kepadaku? Apakah kau akan menopang tahta ini bersamaku?"
"Ya, Ares. Lebih dari apa pun," jawab Natalie, tatapan matanya kembali tajam, menyadari bahwa inilah yang Ares butuhkan.
"Maka, dunia bisa terbakar," desis Ares. "Petrov berpikir dia bisa menggunakan ibumu sebagai pengungkit? Dia akan belajar bahwa setiap ancaman yang diarahkan padamu, akan dibalas sepuluh kali lipat padanya."
Menghadapi Ketakutan Terbesar
Petrov mengirim pesan terenkripsi berisi ultimatumnya, menuntut Buku Merah sebagai ganti kebebasan Natalie dari sorotan publik dan jaminan keamanan Rima.
Natalie membacanya. "Dia ingin aku menjadi bebanmu, Ares. Dia ingin kau melihatku dan berpikir: kerugian. Dia ingin kau menyesal telah memilihku daripada Claudia atau wanita lain yang lebih 'aman'."
Ares berdiri, menarik Natalie berdiri bersamanya. Ia menahan wajah Natalie di antara kedua tangannya, memaksa tatapan mereka terkunci.
"Dengarkan aku, Natalie. Kau bukan kerugian. Kau adalah keuntungan terbesar yang pernah aku buat. Setiap langkah yang aku ambil sejak malam di gudang itu, sejak malam di dermaga, didasarkan pada keinginan untuk melindungimu. Kau adalah satu-satunya orang yang memegang kekuatanku dan rahasia terbesarku—Buku Merah, dan jantungku."
Ares berbicara dengan kejujuran yang menakutkan, pengakuan yang lebih rentan daripada tembakan di gudang.
"Aku takut, Natalie. Aku takut kehilanganmu. Bukan karena asetku, tetapi karena kau memberiku sesuatu yang tidak pernah aku miliki: kejelasan. Jika aku menyerahkanmu kepada Petrov, meskipun hanya pada ancaman, aku akan kehilangan diriku sendiri."
Natalie merasakan emosi mendalam Ares, dan itu adalah bahan bakar yang ia butuhkan. Dia melihat cinta yang dingin, kejam, dan protektif yang hanya dimiliki oleh pria seperti Ares.
"Kalau begitu, mari kita gunakan kelemahan itu sebagai senjata, Ares," kata Natalie, mengambil alih kendali emosional. "Petrov ingin aku menjadi korban yang kau lindungi. Kita akan menolaknya. Aku tidak akan bersembunyi. Aku tidak akan menjadi kelemahan. Aku akan menjadi Ratu yang kau tunjukkan pada dunia."
Strategi Intim: Pernyataan Publik
Natalie menjelaskan rencananya: alih-alih menyangkal berita itu, mereka harus mengontrolnya.
"Kita akan mengadakan konferensi pers mendadak," kata Natalie, matanya penuh perhitungan. "Bukan di sini, tetapi di salah satu aset terbesarmu, di mana Petrov bisa melihatnya. Kita akan mengakui bahwa kita bersama, tetapi kita tidak akan membela diri tentang masa laluku. Kita akan mengubah masa lalu itu menjadi kisah penebusan. Kau menyelamatkanku, kau memberiku kesempatan. Kita akan memutarbalikkan narasinya: Petrov-lah yang jahat, yang menyerang pasangan karena dendam bisnis."
Ares tersenyum tipis. "Sebuah langkah berani. Mengakui bahwa kau adalah kekasihku di depan dunia, setelah semua usaha kita untuk menyembunyikannya."
"Itu perlu. Kita harus memutus spekulasi, dan yang terpenting, kita harus menunjukkan pada Petrov bahwa kau tidak bisa digoyahkan. Jika kau mengakui aku di depan dunia, itu membuktikan bahwa ancaman ibuku tidak berpengaruh—karena kau sudah berkomitmen penuh," jelas Natalie.
"Dan Budapest?" tanya Ares.
"Kita membuat pengumuman itu, memancingnya keluar, dan kemudian aku akan 'melarikan diri' ke Budapest untuk mengamankan aset yang kita ambil dari Tuan Viktor—aset yang sangat Petrov inginkan. Aku akan menjadi umpan yang sempurna, Ares. Dan aku akan membawanya ke perangkap yang kita siapkan. Di Budapest, di wilayah netral, tetapi kita akan mengakhirinya di sana."
Ares mengangguk perlahan. Dia bangga pada kecerdasan dan keberanian Natalie. Ini bukan hanya strategi; ini adalah tarian kekuasaan antara dua jiwa yang terikat.
"Baiklah, Bayanganku," kata Ares. "Kita akan membuat pengumuman. Kita akan menunjukkan kepada dunia betapa berharganya kau bagiku."
Ares mencium Natalie—ciuman kali ini adalah perpaduan antara gairah yang berapi-api dan perjanjian bisnis yang dingin. Ciuman itu adalah janji perlindungan dan pengakuan.
"Mulai sekarang, setiap keputusan, setiap langkah, adalah untuk memperkuat kita. Mari kita tunjukkan kepada Maxim Petrov mengapa dia tidak boleh bermain-main dengan kekasih raja," bisik Ares di telinga Natalie.
Mereka mulai menyusun pengumuman yang akan mengguncang pasar saham dan mengamankan loyalitas Natalie di mata dunia, bahkan sebelum mereka menghadapi Petrov di Budapest. Mereka siap untuk perang baru, dan kali ini, cinta mereka adalah senjata utamanya.