Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
klarifikasi publik yang membuat jantung Berdetak kencang
Pagi itu, rumah keluarga Pradipta terasa seperti kantor berita nasional. Orang keluar masuk, telepon berbunyi tanpa henti, Mbok Darmi mondar-mandir sambil ngomel, dan Cantika… duduk di ujung sofa sambil memegangi bantal seperti sedang menghadapi sidang skripsi.
Di depannya, Yoga berdiri bersama tim humas perusahaan. Tubuhnya tegap, wajahnya fokus, dan suaranya penuh ketenangan profesional.
Cantika sudah mendengar semuanya:
Hari ini mereka akan melakukan press conference kecil—klarifikasi resmi soal pernikahan mendadak itu.
Dan Cantika harus duduk DI SAMPING Yoga.
Tanpa kabur.
Tanpa salah tingkah.
Tanpa bergetar kayak HP jadul.
Huh.
“Cantika,” panggil Bu Ratna dari balik sofa, “ayo sini, kita siap-siap.”
Cantika bangkit pelan. “Ma… apa aku harus ngomong juga?”
“Tentu saja tidak,” jawab Bu Ratna tenang. “Yang menjelaskan semuanya itu Yoga. Tugas kamu hanya… tersenyum.”
Cantika mengerutkan alis. “Senyum yang kayak gimana?”
“Yang manis.”
“Boleh agak asem?”
“JANGAN.”
Cantika langsung diam.
Yoga mendekat sambil memegang map berisi poin-poin klarifikasi. “Kamu nggak perlu ngomong apa pun. Tinggal ikuti aku.”
Cantika mengangguk gugup. “Mas… kalau aku grogi gimana?”
“Pegang tanganku.”
“TERSERAH MAS YOGA AJA NIH?”
Yoga tersenyum kecil. “Pegang tangan, Cantik. Bukan peluk aku.”
“Ya siapa tau Mas tiba-tiba minta dipeluk,” gumam Cantika pelan.
Yoga menahan tawa.
Tim humas hanya saling pandang. ‘Ya ampun, pasangan baru ini bikin kerja makin ribut…’
---
10 menit kemudian – Ruang tengah disulap jadi tempat konferensi
Meja besar sudah dipasang bunga. Banner “PRADIPTA GROUP” berdiri tegak di belakang. Lampu kamera menyala. Reporter sudah duduk, sebagian bisik-bisik sambil menatap Cantika dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Perut Cantika langsung seperti diaduk blender.
Ia duduk di samping Yoga. Lebih tepatnya, setengah nempel ke arah kiri, berusaha terlihat kecil.
Yoga menatapnya sebentar.
“Duduknya jangan menjauh gitu.”
“Ehhh aku takut salah gerak…”
“Kamu cuma perlu dekat sedikit.”
Yoga menarik tangannya perlahan, memindahkannya lebih dekat.
Cantika langsung kesengsem dalam hati.
Ya Tuhan, laki-laki ini kalau gentle dikit aja udah bikin aku mau ngecharge pake solar panel.
Konferensi dimulai.
Lampu kamera menyorot.
Yoga membuka map dan mulai bicara.
“Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media. Saya, Yoga Pradipta, ingin memberikan klarifikasi mengenai pernikahan saya dengan Cantika, yang terjadi beberapa hari lalu.”
Cantika menunduk sedikit. Suara Yoga yang stabil membuatnya ikut tenang.
“Kami menikah bukan karena tekanan,” lanjut Yoga. “Kami menikah karena sebuah keputusan mendadak,namun tetap keputusan yang kami buat bersama.”
Reporter berdiskusi kecil.
Yoga melanjutkan, nada suaranya sedikit lebih tegas. “Dan saya tegaskan. Cantika tidak menggantikan siapa pun. Dia tidak merebut siapa pun. Tidak ada paksaan. Dia tidak bersalah dalam situasi apa pun.”
Tangan Cantika bergetar kecil.
Secara refleks, Yoga menyandarkan tangannya ke tangan Cantika,menutupnya dengan hangat, seolah menegaskan bahwa apa pun omongan orang, dia ada di pihak Cantika.
Reporter yang melihat momen itu langsung memotret.
Klik! Klik! Klik!
Cantika langsung mendongak dengan pipi panas.
“Mas… tangan Mas…”
“Tangan siapa?”
“Tangan Mas—”
“Yang mana?”
“MAS YOGA JANGAN NGECEKIN AKU DI DEPAN MEDIA!”
Yoga senyum sekilas, tanpa memalingkan wajah dari reporter. Masih tetap elegan. Tetap kalem. Tetap bikin Cantika makin kacau.
Seorang reporter mengangkat tangan.
“Mas Yoga, publik ingin tahu. Betul kah pernikahan ini terjadi setelah calon pengantin sebelumnya kabur?”
Semua orang menoleh ke Yoga.
Cantika hampir pingsan.
Tapi Yoga tetap santai.
“Itu urusan keluarga lain. Dan tidak ada hubungannya dengan Cantika.”
Yoga menatap kamera. “Tolong berhenti menyeret nama istri saya dalam masalah yang bukan miliknya. Dia tidak layak menerima serangan.”
Cantika mematung.
Hatinya,yang sejak kemarin remuk karena komentar netizen,mendadak terasa seperti diberi obat penenang.
Yoga… benar-benar membela dia di depan semua orang.
Reporternya belum selesai.
“Kalau begitu, bagaimana hubungan Mas Yoga dengan viona ? Apa masih ada komunikasi?”
Wajah Cantika langsung menegang.
Yoga menarik napas. “Tidak ada komunikasi.”
Reporter lain menimpali lagi. “Apakah benar keluarga viona meminta permintaan maaf resmi?”
Yoga menggeleng.
“Saya tidak akan meminta maaf untuk pilihan hidup saya.”
Ruangan hening.
Kata-kata itu bukan cuma tegas.
Tapi jelas mengirim pesan:
Pernikahan ini bukan kecelakaan.
Cantika bukan pengganti.
Dan Yoga tidak menginginkan orang lain.
Termasuk mantan tunangannya.
---
Konferensi selesai 20 menit kemudian. Para reporter mundur, tapi bisik-bisik mereka jelas terdengar:
“Kayaknya mereka beneran ada chemistry…”
“Itu tatapan Yoga ke istrinya… nggak dibuat-buat sih.”
“Cantikanya imut banget ya.”
Cantika mendadak malu sendiri.
Yoga menoleh sambil melepas mic clip di bajunya.
“Kamu grogi?”
“Enggak…”
Cantika mengalihkan pandangan.
“…cuma mau muntah.”
Yoga ketawa pelan. “Wajar pertama kali.”
Cantika memelotot. “Mas… mereka foto aku jelek nggak ya?”
“Enggak.”
“Mas yakin?”
“Cantika.”
Yoga mendekat, menatapnya dalam-dalam.
“Kamu cantik.”
“Duh Mas… ngomong gitu bikin aku pingsan nih.”
“Kalau pingsan, ya aku gendong.”
“MAS YOGA!”
Yoga hanya tertawa kecil dan mengambilkan air minum.
---
Saat mereka berjalan keluar ruangan, Bu Ratna mendekat sambil tersenyum lebar.
“Kalian bagus sekali di depan kamera. Chemistry-nya kerasa.”
Cantika langsung menunduk. “E-eh? Masa sih, ma?”
“Of course,” jawab Bu Ratna sambil mengedip.
Yoga menjawab santai, “Memang harus begitu, Ma.”
Tapi begitu Bu Ratna pergi…
Cantika memelotot.
“Mas! Chemistry dari mana?! Itu aku cuma panik, tau!”
Yoga menatapnya sambil tersenyum tipis. “Tapi panikmu lucu.”
“MAS YOGAAA!”
Yoga berjalan duluan sambil tertawa kecil. “Ayo. Kita selesai satu masalah.”
Cantika berhenti sejenak, memegangi dadanya.
Satu masalah memang selesai…
Tapi satu masalah baru muncul.
Jantungnya.
Kenapa jadi kacau kalau deket Yoga?
Ini makin parah tiap hari.
Dan Cantika mulai sadar,
konflik terbesarnya mungkin bukan netizen…
bukan keluarga Ghea…
bukan media…
Tapi perasaannya sendiri.
-------
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang,tapi tidak untuk hati Cantika. Setiap kali Yoga berjalan melewatinya di koridor rumah, sengaja atau tidak, ia selalu menyapa dengan senyum kecil yang bikin telinga Cantika panas. Kalau berpapasan di dapur, Yoga pasti nyenggol bahunya pelan sambil bilang, “Ngopi bareng?” Seolah-olah mereka bukan pasangan darurat, tapi pasangan beneran yang udah lama saling mengenal.
Dan yang paling bikin Cantika gelisah? Yoga mulai sering (nongkrong) di kamarnya. Bukan yang aneh-aneh,cuma bawa laptop, duduk di kursi dekat jendela, dan sesekali ngobrol ringan. Tapi kehadirannya… mengganggu. Seperti ada listrik diam-diam yang terus mengalir tiap kali mereka berdua dalam satu ruangan terlalu lama.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, Yoga datang membawa dua cangkir teh jahe. “Kabarnya kamu susah tidur,” katanya santai, duduk di lantai dekat pintu.
Cantika memeluk lututnya. “Mas nggak capek? Udah kerja seharian, masih mikirin aku susah tidur?”
Yoga menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Iya. Aku mikirin kamu.”
Diam
Semakin deras.
Cantika menelan ludah. “Mas… ini beneran cuma karena kita nikah darurat, kan? Nggak ada perasaan lebih?”
Yoga menaruh cangkirnya. “Kalau aku bilang ada… kamu kabur lagi?”
Cantika diam. Tapi jantungnya berteriak: (Jangan kabur. Jangan kabur. Jangan!)
“Aku nggak mau salah paham lagi, Mas,” bisiknya.
“Kalau gitu,” Yoga mendekat, “jangan cuma dengar omongan orang. Dengar aku aja.”
Dan di tengah deru hujan itu, untuk pertama kalinya, Cantika membiarkan dirinya ingin percaya… bukan pada alasan pernikahan ini, tapi pada perasaan yang semakin susah disembunyikan