Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Makan Marmer Mentah
Su Nan Ye memasuki arena dengan wajah tanpa ekspresi.
Begitu ia berdiri berhadapan dengan Su Yun, jumlah penonton langsung bertambah.
Nama Su Nan Ye cukup terkenal di wilayah luar.
Walau bukan murid wilayah dalam, kekuatannya membuat banyak orang memperhatikannya.
“Su Yun memang mengejutkan.”
“Tapi kali ini keberuntungannya habis.”
“Lawan sebelumnya tidak bisa dibandingkan dengan Su Nan Ye.”
Seorang murid tiba-tiba tertawa.
“Kalau Su Yun bisa menang, aku akan makan marmer mentah di depan semua orang!”
Orang di sampingnya langsung menyambar.
“Serius?”
“Tentu!”
“Jangan menarik ucapanmu nanti.”
“Aku sudah bilang. Kalau kalah taruhan, aku makan marmer!”
Beberapa orang langsung tertawa.
Di sisi lain arena, wajah Xin Yue justru semakin pucat.
Ia menggenggam kedua tangan erat.
“Kakak Su Yun…”
Setelah melihat bagaimana Su Nan Ye memperlakukan Xing Yang, ia tahu pria itu tidak akan berbelas kasihan.
Kalau bisa, ia ingin meminta Su Yun menyerah.
Namun arena sudah ditutup.
Pertandingan akan segera dimulai.
Suasana perlahan menjadi sunyi.
Su Nan Ye menatap Su Yun.
“Tidak menyangka kita benar-benar bertemu.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Benarkah?”
Mata Su Nan Ye menyipit.
“Apa maksudmu?”
“Xing Yang bertemu denganmu.”
“Sekarang aku juga.”
Su Yun melirik arena.
“Dengan ribuan peserta, peluang seperti ini terlalu kebetulan.”
Su Nan Ye tidak menjawab.
Su Yun melanjutkan,
“Walaupun aturan melarang pertukaran nomor pertandingan, selama ada orang yang bersedia membayar…”
Ia mengangkat bahu.
“…selalu ada cara.”
Tatapan Su Nan Ye semakin dingin.
Ia memang telah mengatur pertemuan ini.
Namun tidak menyangka Su Yun langsung menyadarinya.
“Tidak penting.”
Su Nan Ye berkata.
“Yang penting, setelah pertandingan ini semua orang akan tahu siapa nomor satu wilayah luar.”
Su Yun menatapnya.
“Nomor satu?”
“Benar.”
“Kalau begitu kenapa tidak langsung mengatur pertandingan melawan Qian Ge?”
Wajah Su Nan Ye membeku.
Beberapa penonton yang mendengar langsung berbisik.
Su Yun tersenyum.
“Karena bahkan kau sendiri tahu…”
“…kau bukan lawannya.”
“Diam!”
Wajah Su Nan Ye langsung memerah.
Kemarahan yang selama ini ditahannya meledak.
Dong!
Lonceng pertandingan berbunyi.
“Mulai!”
Boom!
Su Nan Ye langsung menerjang.
Tidak ada pengujian.
Tidak ada peringatan.
Kedua tangannya bergerak cepat.
Satu pukulan.
Dua.
Tiga.
Dalam sekejap, lebih dari sepuluh serangan beruntun menyapu ke arah Su Yun.
Energi spiritual meledak seperti gelombang besar.
Kecepatannya jauh lebih tinggi daripada lawan-lawan Su Yun sebelumnya.
Su Yun mundur.
Satu langkah.
Dua.
Tubuhnya berputar untuk menghindari pukulan pertama.
Wus!
Tinju Su Nan Ye melewati wajahnya.
Angin dari serangan saja membuat rambut Su Yun berkibar.
Pukulan kedua datang.
Su Yun menunduk.
Ketiga dari samping.
Ia memiringkan tubuh.
Namun Su Nan Ye tidak berhenti.
Pria itu benar-benar berbeda dari Su Hei.
Serangannya teratur.
Kakinya stabil.
Setiap gerakan menyiapkan gerakan berikutnya.
“Bagus.”
Su Yun mengakui dalam hati.
Su Nan Ye memang pantas disebut salah satu murid terkuat wilayah luar.
Bukan hanya kuat.
Ia juga memiliki pengalaman.
Su Nan Ye tiba-tiba menghilang dari depan.
Su Yun langsung merasakan bahaya dari belakang.
Bang!
Tinju menghantam udara.
Su Yun berhasil berputar tepat waktu.
Namun serangan itu hanyalah umpan.
Su Nan Ye kembali bergerak.
Kakinya melesat ke samping.
Su Yun mengangkat kaki kanan untuk mengganggu langkahnya.
Mata Su Nan Ye justru berbinar.
Seolah menunggu hal tersebut.
“Ketemu.”
Kedua kakinya menghantam turun.
Sasarannya—
kaki kanan Su Yun.
Energi spiritual menumpuk pada telapak kakinya.
Tekanannya seperti batu besar jatuh dari gunung.
Xin Yue langsung berdiri.
“Kakak Su Yun!”
Beberapa penonton menggeleng.
“Sudah selesai.”
“Su Nan Ye sengaja memancingnya.”
“Kalau kaki itu terkena, tulangnya bisa patah.”
Su Yun memang sudah tidak punya cukup ruang menghindar.
Kalau mundur, terlambat.
Kalau menarik kaki, keseimbangan hilang.
Jadi—
ia tidak menghindar.
Boom!
Aura spiritual Su Yun meledak.
Kedua kekuatan bertabrakan.
Bang!
Ledakan kecil terdengar.
Debu menyebar.
Sesosok tubuh mendadak terlempar keluar.
Brak!
Tubuh itu menghantam pembatas arena.
Penonton langsung menahan napas.
“Su Yun?”
Debu perlahan turun.
Mata semua orang membesar.
Bukan.
Yang terlempar ternyata Su Nan Ye.
“Apa?!”
Su Nan Ye mencoba berdiri.
Namun wajahnya langsung berubah.
Seluruh tubuh terasa seperti baru dihantam palu raksasa.
Su Yun muncul dari debu.
Tidak terluka.
Tidak mundur.
Tatapannya tetap tenang.
Su Nan Ye akhirnya memahami.
Pertarungan energi spiritual tadi—
ia kalah.
“Mustahil…”
Ia baru ingin mundur ketika Su Yun sudah berada di depannya.
Bang!
Tinju menghantam dada.
Su Nan Ye terpental.
Belum sempat jatuh—
Bang!
Pukulan kedua menyusul.
Lalu ketiga.
Keempat.
Kelima.
Su Yun menyerang tanpa memberi celah.
Setiap pukulan dibalut energi spiritual padat.
Pertahanan Su Nan Ye mulai retak.
Zirahnya penyok.
Wajahnya memar.
Darah keluar dari hidung.
Ia mencoba membalas.
Namun setiap kali tangan diangkat—
Su Yun menghancurkan ritmenya.
Bang!
Satu pukulan menghantam rahang.
Su Nan Ye kehilangan keseimbangan.
Bang!
Pukulan berikutnya masuk ke perut.
Tubuhnya membungkuk.
Su Yun menarik bahunya.
Lalu—
Bam!
Lutut menghantam dada.
Su Nan Ye jatuh.
Tidak mampu bangkit.
Dong!
Lonceng berbunyi.
“Pemenang!”
Juri mengangkat tangan.
“Nomor 998!”
Hening.
Benar-benar hening.
Banyak orang bahkan lupa bernapas.
Su Nan Ye.
Tahap kesepuluh Alam Murid Roh.
Salah satu murid terkuat wilayah luar.
Kalah.
Dan bukan kalah tipis.
Ia dilumpuhkan.
Beberapa orang mulai memandang Su Yun dengan ekspresi berbeda.
“Kalau begitu…”
“Sebenarnya Su Yun berada di tahap berapa?”
“Jangan bilang…”
“Alam Roh Sejati?”
Begitu dugaan itu muncul, beberapa orang langsung merinding.
Xin Yue sendiri hanya berdiri terpaku.
Ia tahu Su Yun sudah berubah.
Ia tahu kultivasinya meningkat.
Namun mengalahkan Su Nan Ye?
Ini sudah jauh melampaui perkiraannya.
Su Yun turun dari arena.
Napasnya sedikit berat.
Pertarungan tadi tidak semudah yang terlihat.
Su Nan Ye memang lebih cepat.
Gerakannya juga lebih matang.
Namun kesalahannya adalah—
terlalu percaya diri terhadap kekuatan spiritualnya.
Setelah meminum berbagai obat kultivasi, menggunakan Buah Bulan Sabit, memperkuat meridian, serta meningkatkan fisik selama sebulan penuh…
cadangan energi spiritual Su Yun jauh lebih tebal daripada kultivator biasa pada tingkat yang sama.
Ketika Su Nan Ye memilih benturan langsung—
hasil pertandingan sudah berubah.
Kalau sejak awal Su Nan Ye terus menggunakan kecepatan dan serangan cepat, pertarungan mungkin akan berlangsung jauh lebih lama.
Namun kesombongan membuatnya memilih pertarungan yang salah.
Dan Su Yun mengambil kesempatan tersebut.
Su Nan Ye segera dibawa untuk dirawat.
Kerumunan mulai bubar.
Namun beberapa murid justru tertawa keras.
“Hei!”
“Semuanya jangan pergi dulu!”
Seorang pria menunjuk seseorang di antara kerumunan.
“Bukankah tadi ada yang bilang mau makan marmer?”
Semua kepala menoleh.
Wajah murid yang membuat taruhan langsung berubah hijau.
“Aku cuma bercanda…”
“Bercanda?”
Temannya sudah mengambil sebuah potongan batu marmer dari sisi arena.
“Kau bilang sendiri.”
“Ucapan seorang pria tidak bisa ditarik kembali!”
Orang-orang langsung tertawa.
“Cepat makan!”
“Marmernya sudah siap!”
Murid itu menatap batu tersebut dengan wajah ingin menangis.
Tidak jauh dari sana, beberapa tokoh kuat juga memperhatikan pertandingan.
Salah satunya adalah Qian Ge.
Pemuda tinggi dan tampan itu tersenyum sambil melihat arena yang baru saja ditinggalkan Su Yun.
“Lumayan.”
Seorang murid berambut panjang di sampingnya mencibir.
“Su Nan Ye saja.”
“Kalau aku, satu jari cukup.”
Qian Ge meliriknya.
“Jangan terlalu meremehkan orang.”
“Su Nan Ye memang bodoh.”
“Namun Su Yun mampu melihat kelemahannya dan memanfaatkannya.”
Ia menyipitkan mata.
“Orang seperti itu lebih berbahaya daripada yang hanya mengandalkan kultivasi.”
Murid di sampingnya mengangguk pelan.
Di alun-alun, Su Yun duduk bersila untuk menenangkan napas.
Xin Yue datang membawa air.
“Kakak Su Yun.”
Ia menyerahkan cangkir.
Su Yun langsung meminumnya sampai habis.
Xin Yue tertawa.
“Kakak benar-benar membuat semua orang terkejut.”
“Belum seberapa.”
Su Yun mengembalikan cangkir.
“Kita masih harus masuk dua ratus besar.”
Wajah Xin Yue langsung menjadi serius.
Benar.
Turnamen belum selesai.
Tidak lama kemudian—
Buzz!
Lempengan nomor mereka menyala hampir bersamaan.
Su Yun berdiri.
“Xin Yue.”
“Ya?”
“Kalau kau memenangkan pertandingan ini, kita masuk lima ratus besar.”
Ia menatap gadis itu.
“Setelah itu, satu kemenangan lagi.”
“Dua ratus besar.”
“Dan kita masuk wilayah dalam.”
Xin Yue menarik napas.
Tekad muncul di wajahnya.
“Aku akan menang.”
“Bagus.”
Keduanya berpisah menuju arena masing-masing.
Su Yun segera menemukan arena berikutnya.
Namun begitu mendekat—
langkahnya berhenti.
Jumlah penonton kali ini justru tidak banyak.
Hanya beberapa orang berdiri di sekitar.
Tetapi setiap orang yang ada di sana memancarkan aura yang jauh berbeda dari peserta sebelumnya.
Pakaian mewah.
Senjata spiritual.
Aura padat.
Semuanya—
murid wilayah dalam.
Su Yun mengerutkan kening.
“Jangan-jangan…”
Tatapannya beralih menuju arena.
Lawan belum muncul.
Namun perasaan tidak nyaman perlahan tumbuh.
Kali ini—
pertandingannya mungkin benar-benar berbeda.
......................
Bersambung...
Tolong baca juga karyaku yang lain, dijamin pasti lebih SERU!
#AKULAH SANG PENGUASA JIWA
#PENGUASA DEWA NAGA
#KAISAR KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
#AKULAH SANG PEMAKAN TAKDIR