NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Adrian tidak duduk. Ia membuka map abu-abu di ujung meja yang dekat dengan pintu, cukup jauh dari tangan Alina, dan mengeluarkan lampiran yang klipnya miring. Cincin lampu di atas kertas membuat tabel itu terlihat lebih kering daripada di layar ponsel. Alina tetap di kursinya. Tas tidak ia lepaskan.

“Baca,” kata Adrian.

“Aku sudah baca.”

“Baca yang membuat Anda berani menahan panggilan saya.”

Alina berdiri, tetapi tidak mengitari meja. Ia menunjuk tanpa menyentuh kertas. “Ringkasan eksekutif, halaman empat. Kewajiban vendor historis pada target, dua belas koma empat miliar. Statusnya diselesaikan. Sekarang lihat lampiran yang Anda pegang. Tiga baris. Sewa armada terkait sembilan koma dua. Jasa pendukung gudang empat koma satu. Baris terakhir lima koma enam. Jumlahnya delapan belas koma sembilan. Selisihnya enam koma lima miliar. Itu bukan pembulatan.”

Adrian menjumlahkan dalam diam. Alina bisa melihatnya dari cara mata pria itu tidak lagi bergerak dari kiri ke kanan, melainkan berhenti di kaki tabel. Ia tidak meminta kalkulator. Ketika selesai, ia tidak mengatakan Alina benar. Ia membalik ringkasan, mencari catatan kaki, dan hanya menemukan satu kalimat yang merujuk pada “rekonsiliasi internal target” tanpa menunjukkan siapa yang menandatangani penyelesaian itu.

“Ini bisa salah ketik,” katanya.

“Tiga baris sekaligus, dengan status yang sudah memakai kata selesai? Itu rajin untuk sebuah salah ketik.”

“Bisa juga disusun supaya orang seperti Anda menemukan sesuatu yang mudah ditunjuk.” Adrian meletakkan pena di samping kertas, sejajar, seolah kemiringan pena akan mengganggu hitungan. “Siapa Anda?”

“Sudah saya jawab.”

“Anda menjawab nama yang Anda pakai di lobi. Saya bertanya siapa yang membayar jalan Anda ke lantai ini.”

“Tidak ada yang membayar.”

“Orang yang tidak dibayar tidak memotret data room orang lain.”

Alina menahan jawaban pertama yang naik ke lidah. Jawaban itu berisi nama ayahnya, dan nama itu akan mengubah ruangan ini menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. “Aku konsultan. Aku kerja sendiri. Hari ini aku tidak datang untuk menjual jasa.”

“Anda datang untuk mencuri.”

“Aku datang karena halaman seperti ini, kalau dibiarkan sampai pukul sepuluh, akan berubah menjadi halaman yang lebih rapi. Aku ingin yang belum rapi tetap ada.”

Adrian mengangkat lampiran setengah senti, lalu menurunkannya lagi. “Anda mengenal perusahaan di baris terakhir?”

Alina melihat nama itu sekali lagi. PT Lazuardi Mitra Logistik. Di mulutnya nama itu masih asing. “Tidak. Aku mengenal selisihnya. Namanya ikut terpotret karena ia duduk di baris yang membuat jumlahnya tidak cocok.”

Itu jujur, dan justru karena jujur Alina merasa kekurangan. Seharusnya sebuah nama yang muncul dengan cara seperti itu punya sejarah. Ia belum punya sejarahnya. Adrian, yang ia harapkan akan menyergap nama itu, tidak menyergap. Pria itu mengerutkan kening pada angka, bukan pada huruf. Atau ia pandai tidak mengerutkan kening pada huruf. Alina tidak bisa membedakan dua kemungkinan itu, dan ia tidak mau bertanya dengan cara yang menunjukkan ia lebih kosong daripada yang ia perlihatkan.

Adrian membalik lampiran menghadap meja, angka tidak lagi terlihat. “Ulangi tiga barisnya. Tanpa melihat.”

“Sewa armada terkait, sembilan koma dua. Jasa pendukung gudang, empat koma satu. Baris terakhir, lima koma enam. Jumlah delapan belas koma sembilan. Di halaman empat, dua belas koma empat, status diselesaikan.”

“Anda menghafal cepat.”

“Aku membaca pelan. Hafalan datang sendiri kalau selisihnya tidak sopan.”

Adrian menulis kedua jumlah di kertas kosong, bukan di dokumen. Tulisannya kecil dan tegak. Ia menggarisbawahi selisihnya sekali, lalu menaruh pena. “Kalau ini kesalahan tim, saya bisa memperbaikinya tanpa Anda. Kalau ini disusun untuk ditemukan hari ini, Anda bagian dari susunannya. Dua kemungkinan itu belum saya buang salah satu.”

“Buang yang ketiga,” kata Alina. “Aku tidak sempat menyusun apa pun. Aku baru melihat kertas ini kurang dari sepuluh menit sebelum Anda masuk.”

“Sepuluh menit cukup untuk orang yang sudah tahu harus membuka map yang mana.”

Alina tidak membantah bagian itu sampai habis, karena bantahan yang jujur akan berbunyi: aku mencari apa pun yang membuat cerita resmi gedung ini terlihat retak. Kalimat itu terlalu dekat dengan alasan yang belum boleh punya nama. “Aku tidak menaruh angka di kertas kalian. Aku hanya tidak mau angka yang sudah ada diganti saat aku sedang ditahan di depannya.”

“Ditahan adalah kata yang Anda pilih. Saya memilih diamankan.”

“Rasanya sama dari kursi ini.”

Adrian memandang tas di pangkuan Alina sekali lagi. “Terakhir. Tas itu naik ke meja, atau tetap di pangkuan Anda dan menambah alasan saya.”

“Tetap di pangkuan. Alasan Anda sudah cukup tanpa isi tas.”

Ia tidak tersenyum saat mengatakannya. Adrian juga tidak. Di antara mereka, kertas kosong bertuliskan dua jumlah yang tidak mau menjadi satu.

“Anda bekerja untuk Kusuma,” kata Adrian.

“Tidak.”

“Anda pernah bekerja untuk mereka.”

“Tidak.”

“Anda ingin akuisisi ini gagal.”

Alina berpikir sejenak. “Aku ingin angka yang sudah ditulis tidak diganti karena ada tamu di lobi. Soal akuisisi kalian gagal atau jadi, itu bukan alasan aku berdiri di sini.”

“Alasan Anda belum Anda berikan.”

“Dan alasan Anda menyimpan dua angka yang berbeda dalam satu map juga belum.”

Adrian menatapnya. Di luar, seseorang mendorong troli dokumen. Rodanya berdecit sekali, lalu menjauh. Tidak ada yang mengetuk.

“Saya bisa meminta keamanan sekarang,” kata Adrian. “Foto di ponsel Anda menjadi barang. Anda menjadi berita. Pesisir Garuda menjadi pertanyaan yang tidak kami butuhkan minggu ini.”

“Kalau Anda melakukan itu, berita yang keluar tidak hanya tentang perempuan di ruangan ini. Orang akan bertanya halaman mana yang sedang ia potret.”

“Ancaman.”

“Akibat.” Alina meletakkan telapak tangan di sandaran kursi, bukan di atas kertas. “Aku tidak punya ponsel lagi. Aku tidak bisa mengirim apa pun dari ruangan yang sinyalnya saja hampir mati. Yang bisa membuat halaman ini jadi berita adalah keputusan Anda, bukan jariku.”

Adrian mengeluarkan ponselnya sendiri. Alina menegangkan bahu, tetapi nomor yang ia panggil bukan keamanan. Percakapan itu pendek.

“Tahan mulai rapatnya,” katanya. “Dua puluh menit.”

Suara di seberang cukup jelas di ruangan yang sunyi. Perempuan, singkat, tanpa basa-basi. “Tamu Kusuma sudah di lobi, Pak. Saya tahan sampai pukul sepuluh lewat dua puluh. Lebih dari itu, mereka naik sendiri.”

“Jangan kirim keamanan ke lantai ini.”

Ada jeda yang sangat kecil. “Baik, Pak.”

Panggilan ditutup. Adrian tidak menjelaskan siapa perempuan itu. Alina bisa menebak asisten, karena tidak ada direktur yang menjawab dengan nada seperti itu kepada atasannya. Adrian memasukkan ponsel, lalu mengetuk lampu meja kecil yang sebenarnya tidak perlu dinyalakan.

“Satu jam,” katanya. “Keamanan tidak naik, selama Anda tidak menyentuh map lain, tidak meminta ponsel itu kembali, dan tidak membuka mulut di luar kalimat yang saya izinkan. Dalam satu jam saya ingin tahu apakah selisih ini kesalahan kerja atau jebakan. Setelah itu saya putuskan Anda keluar lewat pintu mana.”

“Aku tidak setuju menjadi tahanan yang sopan.”

“Anda sudah menjadi tahanan yang sopan sejak kunci itu diputar. Satu jam memberi Anda kesempatan agar kata tahanan tidak perlu ditulis di berita acara.”

Alina duduk kembali. Jam dinding menunjukkan pukul 09.56. Satu jam bukan kerja sama. Satu jam adalah keputusan orang yang tidak mau polisi datang sebelum ia sendiri selesai menghitung, dan Alina cukup mengenal jenis keputusan itu untuk tidak mengira dirinya sudah menang.

“Saya ingin melihat halaman empat dan lampiran itu berdampingan,” katanya. “Bukan dari seberang ruangan.”

Adrian memutar kedua kertas menghadap sisi panjang meja, masih di wilayah tangannya. “Dari situ. Tangan Anda tetap di sandaran.”

Alina membungkuk. Angka dua belas koma empat miliar tercetak dengan font yang sama rapi dengan judulnya. Delapan belas koma sembilan di lampiran terlihat seperti kerja orang yang belum sempat disuruh merapikan. Di antara dua kertas itu ada nama yang belum ia pahami, lima koma enam miliar, dan seorang direktur yang lebih bersedia menunda satpam daripada menjawab siapa yang menulis kata selesai.

“Siapa yang menyusun ringkasan?” tanya Alina.

“Orang yang berhak menyusunnya.”

“Itu bukan nama.”

“Nama Anda juga bukan nama.” Adrian menarik kursinya, akhirnya duduk, tetapi kursinya tetap lebih dekat ke pintu daripada ke Alina. “Mulai. Anda punya satu jam untuk meyakinkan saya bahwa Anda bukan masalah terbesar di ruangan ini. Sampai sekarang Anda gagal.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!