NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Pelukan di Ibu Kota

Mobil SUV milik Vino berhenti mulus di basemen gedung Arjowibowo Group. Sepanjang perjalanan dari stasiun, Vino tidak berhenti terkekeh gembira, seolah baru saja memenangkan lotre karena menemukan fakta bahwa staf ahli pemasaran yang dijemputnya adalah calon istri sahabat karibnya sendiri.

Kami menaiki lift khusus eksekutif menuju lantai tertinggi gedung pencakar langit itu. Setiap detak angka di layar lift membuat dadaku makin bergemuruh hebat.

Di dalam lorong marmer yang tenang dan mewah, langkah kakiku beradu pelan dengan lantai. Di balik pintu kaca tebal bertuliskan Chief Executive Officer, aku bisa melihat bayangan sesosok pria jangkung yang berjalan mondar-mandir tak tenang. Dimas Arjowibowo. Pria itu tampak gelisah, sesekali merapikan kemejanya, lalu menatap layar ponsel di mejanya dengan raut wajah kaku.

Melihatnya dari balik kaca, sebuah pemikiran mendalam mendadak membanjiri benakku.

Dari semua kejadian dalam hidupku, patah hati yang menyakitkan dari Juan, penolakan atas impian desainku oleh Romo, hingga perjodohan mendadak yang membelenggu, aku akhirnya disadarkan oleh suatu hal, tidak semua rasa sakit di masa lalu akan langsung terbayar begitu saja dengan hadirnya seseorang yang tulus kepada kita. Luka lama itu mungkin tetap ada, namun cara kita memandangnya yang berubah.

Melihat Dimas yang begitu cemas menungguku, rasanya ada dorongan kuat di dalam dadaku. Aku ingin berlari menghampirinya dan merengkuh tubuh tegapnya. Namun, logika dan sisa-sisa pertahananku berbisik pelan bahwa hubungan kami belum sejauh itu. Kami baru saja memulai.

Cklek.

Tanpa mengetuk pintu, Vino mendorong pintu kaca tebal itu dengan senyum jahil yang mengembang lebar di wajahnya.

"Dim, aku bawa calon istrimu nih!" seru Vino lantang, suaranya memecah keheningan ruangan eksekutif tersebut.

Seperti orang linglung yang baru tersadar dari mimpi buruk, Dimas seketika menghentikan langkah mondar-mandirnya. Dia langsung bangkit dan memutar tubuhnya cepat. Manik mata hitam pekatnya bertabrakan lurus dengan pandanganku yang masih berdiri di ambang pintu, tepat di belakang Vino.

Raut cemas di wajahnya seketika berubah menjadi ketegangan yang membakar. Tanpa memedulikan keberadaan Vino, Dimas melangkah lebar mendekatiku.

"Kamu bisa gak sih balas chat? Jangan cuma di-read!" tegur Dimas dengan suara lantang dan keras, napasnya sedikit memburu. "Kamu tahu tidak... aku khawatir?!"

Suaranya menggelegar di dalam ruangan yang luas itu. Kalimatnya tajam, terdengar seperti omelan penuh kekesalan.

Ulu hatiku sempat berdesir kesal mendengarnya. Kenapa dia harus memarahiku di depan sahabatnya sendiri? Namun, saat aku menatap tepat ke dalam matanya yang sayu dan menyadari betapa kusutnya raut wajah pria dingin ini hanya karena menantikan kabarku seharian, kekesalanku menguap.

Aku paham. Itu adalah caranya. Cara seorang Dimas Arjowibowo yang kaku dan tertutup untuk menunjukkan sisi perasaan serta kerapuhannya terhadap orang yang dia kasihi.

"Maaf... niatnya kasih kejutan," ucapku pelan, menundukkan kepala demi menahan rona merah yang membakar hebat di seluruh wajahku.

Vino yang berdiri di samping kami terkekeh pelan. Dia melirik Dimas, lalu melirikku dengan tatapan penuh arti. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vino mundur perlahan-lahan dari ruangan, menarik gagang pintu, dan menutup pintu kerja sahabatnya dengan rapat dari luar.

Kini, hanya ada aku dan Dimas di dalam ruangan berpendingin udara yang mendadak terasa begitu hening.

Keheningan itu menggantung berat di udara. Dimas berdiri mematung hanya selangkah di hadapanku, dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang belum sepenuhnya mereda.

Pada akhirnya aku paham, bahwa tidak semua keadaan di dalam hidup ini bisa dilawan. Ada keadaan yang pada akhirnya hanya bisa kita terima. Terkadang kita merasa tidak ada jalan, tapi pada akhirnya pikiran kita menuntun bahwa salah satu jalan terbaik adalah... jalani saja.

Entah nantinya jalan ini akan terasa menyedihkan, menakutkan, atau bahkan menyuruhku untuk menyerah di tengah jalan. Setidaknya, aku sudah berjuang dan berusaha menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Dan saat ini, yang ingin kumulai adalah membuka hatiku sepenuhnya untuk pria di hadapanku ini.

Tanpa keraguan lagi, aku melangkah satu tapak maju. Aku merentangkan kedua tanganku, memajukan tubuhku, dan menyandarkan dadaku pada dada kokohnya.

Aku memeluknya. Aku memeluk Dimas Arjowibowo.

Deg.

Lelaki dingin dan kaku itu terdiam seribu bahasa. Lingkaran tanganku di pinggangnya seakan menjadi penawar seketika yang memadamkan seluruh rasa khawatir, cemas, dan amarah yang membakar dadanya sejak pagi tadi. Tubuhnya yang sempat tegang perlahan-lahan melunak di dalam dekapan hangatku.

Aroma woody-citrus miliknya mengepung indra penciumanku. Di dalam hening yang merayap, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang di balik setelan jas mewahnya.

Ya, aku sudah jatuh cinta kepada Dimas. Mungkin perasaan itu sudah mulai bersemi sejak malam itu di halaman Ndalem Natakusumah, sejak dia berani menciumku di bawah remang lampu taman.

Hening sejenak menyelimuti kami, sebelum akhirnya aku merasakan dua lengan kekar Dimas terangkat. Dia melingkarkan tangannya di punggungku, membalas pelukanku dengan sangat erat, seolah-olah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya.

"Jangan pernah hilang kabar lagi seperti tadi, Mei..." bisik Dimas parau di dekat telingaku. Kehangatan napasnya menyapu kulit leherku. "Saya bisa gila kalau harus menunggu tanpa kepastian seperti tadi."

Aku tersenyum tipis di dalam dekapannya, meremas pelan kain jas di punggungnya. "Aku kan naik kereta, Mas. Di dalam kereta aku fokus menyelesaikan berkas pemasaran buat proyek saus Koreamu itu."

Dimas melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya tidak berpindah dari pinggangku. Dia menundukkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mataku dengan jarak yang amat dekat. Tatapan mata hitamnya yang tadi tajam dan marah kini berganti menjadi pendar intensitas yang begitu hangat dan pekat.

"Persetan dengan proyek saus Korea itu," bisik Dimas pelan namun tegas. "Kabar darimu jauh lebih penting dari laporan bisnis mana pun."

"Mas Dimas..." protesku lirih, pipiku makin memerah mendengar perkataannya. "Katanya CEO profesional?"

"Di depan papan direksi, saya CEO," sahut Dimas, ibu jarinya bergerak pelan mengelus rahangku dengan kelembutan yang membuat dadaku mendesir hebat. "Di depanmu... saya cuma pria yang sedang jatuh bertekuk lutut."

Jantungku berdegup makin liar. Kata-katanya menembus tepat ke bagian terdalam dadaku, meruntuhkan sisa-sisa keraguan yang tersisa.

Dimas mengikis jarak yang tersisa di antara wajah kami. Mataku terpejam refleks saat merasakan kehangatan embusan napasnya makin mendekat.

Secara perlahan dan lembut, bibirnya mendarat di atas bibirku.

Ciuman kali ini terasa sangat berbeda dari kecupan impulsif di halaman rumah malam itu. Tidak ada lagi keraguan atau ketergesa-gesaan. Ciumannya di ruang kerja ini terasa begitu dalam, manis, dan sarat akan penumpahan rasa rindu serta rasa khawatir yang menumpuk seharian. Bibirnya bergerak lembut merengkuh bibirku, menuntut balasan yang tanpa ragu kuberikan.

Tanganku terangkat dari dadanya, melingkar halus di belakang lehernya, jemariku menyusup di antara helai rambut gondrongnya yang halus.

Di tengah megahnya gedung ibu kota dan di balik jendela kaca yang menampilkan riuh lalu lintas Jakarta, dunia seolah milik kami berdua. Rasa sakit dari masa lalu dan ketakutan akan aturan kaku masa depan melebur habis di dalam kehangatan kecupan Dimas Arjowibowo.

Ketika Dimas akhirnya melepaskan tautan bibir kami perlahan, dahinya bersandar lembut di dahiku. Napas kami saling beradu pelan. Pria yang terkenal dingin dan berdarah besi itu kini menatapku dengan senyuman paling tulus dan hangat yang pernah kulihat dari seorang pria.

"Selamat datang di Jakarta, calon istriku," bisik Dimas lembut di depan bibirku, menyisipkan janji tak tertulis bahwa petualangan kami yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NinLugas: msh anyeng2 dia wkwk tnggu ya
total 3 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!