NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Pensi Berikutnya 29.

Aroma ruang rapat OSIS sore itu terasa lebih mencekik dibanding hari sebelumnya.

Cahaya matahari senja yang menembus jendela kaca buram memantulkan debu-debu yang melayang pasrah, mirip seperti sisa-sisa harga diri Firdaus yang kini berserakan di lantai.

Di atas meja oval, sebuah proyektor menampilkan draf linimasa kegiatan.

Rapat evaluasi pertama kepanitiaan umum berjalan dengan dinamika yang ganjil.

Lebih tepatnya, sebuah panggung pengabaian yang terstruktur rapi.

"Ris, bagian linimasa untuk loading barang dekorasi, gue rasa lebih aman digeser ke Jumat malam. Biar anak-anak perlengkapan gak bentrok sama jadwal try out kelas dua belas," ucap Elsa. Suaranya terdengar renyah, mengalir tanpa beban. Jemari lentiknya mengetuk pelan dokumen digital di tabletnya, lalu menyodorkannya ke arah Aris.

Aris menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah layar tablet yang dipegang Elsa. Jarak mereka begitu rapat hingga helaian rambut depan Aris hampir menyentuh pelipis Elsa. "Masuk akal, Sa. Kalau Jumat malam, gue bisa minta bantuan anak-anak basket buat ikut angkat panggung. Tenaga mereka lebih bisa diandel."

Elsa terkekeh kecil, sebuah tawa tulus yang menular. "Boleh. Asal lo yang pastiin mereka gak malah latihan tanding di tengah lapangan."

"Beres, Wakil Cantik. Apa sih yang enggak buat lo," sahut Aris santai, lengkap dengan cengiran khasnya yang menampilkan deretan gigi rapi.

Di ujung meja, sebatang pulpen mekanik di tangan Firdaus patah menjadi dua.

Bunyi klek yang tajam itu tenggelam di antara obrolan hangat Aris dan Elsa.

Dada Firdaus bergemuruh hebat, dipukuli oleh rasa cemburu yang teramat asing dan menyakitkan. Selama dua tahun mengenal Elsa, dia tahu betul setiap jengkal ekspresi gadis itu.

Senyum itu, binar di matanya, dan cara dia bersandar nyaman saat mengobrol—semuanya dulu adalah hak paten milik Firdaus.

Sekarang? Dia bahkan tidak lebih dari sekadar perabot ruangan yang tak kasat mata.

Firdaus berdehem berat, menegakkan punggungnya yang mulai terasa kaku. "Soal loading barang di Jumat malam, OSIS keberatan. Penjaga sekolah gak bakal ngasih izin gerbang dibuka lewat jam delapan malam kalau bukan acara internal OSIS. Lebih baik tetep di Jumat siang, dan divisi acara yang menyesuaikan jadwal."

Interupsi Firdaus terdengar tegas di sekeliling ruangan yang juga dihadiri beberapa staf inti.

Namun, respons yang didapatnya justru membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Elsa sama sekali tidak menoleh. Gadis itu bahkan tidak menghentikan gerakan jemarinya yang sedang merevisi draf di layar.

Dia hanya menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Aris, seolah kalimat Firdaus hanyalah hembusan angin lalu yang mengganggu pendengarannya.

"Ris," panggil Elsa, mengabaikan eksistensi Firdaus sepenuhnya. "Untuk perizinan gerbang malam, kemarin Pak Satrio udah kasih nomor kontak kepala sarana prasarana langsung ke kita, kan? Berarti aman, ya?"

Aris melirik Firdaus sekilas dengan tatapan mengejek yang tersamar sempurna di balik senyum ramahnya. "Aman banget, Sa. Nanti malam biar gue yang telepon Pak Budi. Lo gak usah pusingin birokrasi kecil kayak gitu."

"Oke, berarti fiks Jumat malam," sahut Elsa final, langsung mengetik keputusan tersebut ke dalam sistem.

Firdaus merasa separuh jiwanya dicabut paksa dari tubuhnya. Diabaikan secara terang-terangan di depan anggota organisasi yang biasanya tunduk padanya adalah satu hal.

Namun, dianggap tidak ada oleh Elsa—gadis yang dulunya selalu menatapnya dengan pandangan memuja—adalah siksaan yang jauh lebih kejam.

"Elsa," suara Firdaus naik satu oktav, tidak mampu lagi membendung desakan egonya yang terluka. "Gue ngomong sebagai perwakilan OSIS yang bertanggung jawab atas keamanan sekolah. Tolong dengerin interupsi gue."

Elsa akhirnya mengangkat wajahnya.

Detik itu juga, Firdaus berharap dia tidak pernah meminta perhatian gadis itu.

Pandangan mata Elsa sangat bersih, sangat datar, dan teramat asing. Tidak ada kemarahan atau sisa-sisa luka emosional di sana. Yang ada hanyalah kekosongan mutlak.

Elsa menatap Firdaus seolah cowok itu adalah orang asing yang salah masuk ruang rapat.

"Semua usulan dan koordinasi teknis di kepanitiaan ini, langsung lewat Aris sebagai ketua umum," ucap Elsa, suaranya sedingin es di kutub utara namun diucapkan dengan intonasi yang amat tenang. "Gue cuma berdiskusi dengan orang yang punya wewenang penuh untuk ambil keputusan. Jadi, kalau ada masukan, silakan sampaikan ke Aris. Bukan ke gue."

Deg.

Kalimat itu menghantam dada Firdaus dengan telak. Kata-kata Elsa tidak kasar, namun maknanya meremukkan seluruh harga diri yang dia bangun dengan susah payah.

Elsa secara sadar dan sengaja membangun benteng pembatas yang sangat tinggi di antara mereka.

Sebuah garis tegas yang menyatakan bahwa hubungan mereka telah selesai, bahkan dalam ranah profesional sekalipun.

Reno, yang duduk di sebelah Firdaus, hanya bisa menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk dengan catatan kecilnya, tidak berani mencampuri urusan domestik Elsa dan Daus paling berpengaruh di sekolah itu.

Aris yang melihat situasi itu hanya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.

Satu tangannya sengaja diletakkan di belakang sandaran kursi Elsa, membentuk gestur protektif yang sangat kentara. "Nah, denger sendiri kan, Pak Ketua? Kalau mau protes, ngomongnya ke gue. Tapi berhubung draf ini udah fiks dan efisien, usulan lo gue tolak. Ada lagi?"

Firdaus mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa perih di tangannya tak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya. Dia kalah. Di ruangan ini, di depan Elsa, dia telah kalah mutlak.

"Nggak ada," jawab Firdaus lirih, nyaris berbisik. Sudut matanya terasa panas, namun egonya memaksa matanya untuk tetap terbuka lebar dan menatap lurus ke depan.

"Bagus," sahut Aris sambil bertepuk tangan sekali. "Rapat sore ini selesai. Evaluasi divisi logistik dilanjut besok. Kalian semua boleh bubar."

Satu per satu anggota rapat meninggalkan ruangan dengan terburu-buru, menyadari atmosfer pekat yang siap meledak kapan saja.

Elsa dengan cekatan memasukkan tablet dan buku catatannya ke dalam tas. Gerakannya rapi dan teratur, menunjukkan bahwa dia benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu.

"Sa, gue ke toilet bentar ya. Sekalian ambil berkas yang ketinggalan di motor. Lo tunggu di depan gerbang aja," kata Aris sambil mengacak pelan rambut Elsa—sebuah interaksi nyata yang natural, yang langsung membuat pipi Elsa merona tipis.

"Iya, jangan lama-lama ya. Gue laper," jawab Elsa lembut.

Aris tersenyum, lalu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Elsa yang sedang mengancingkan ritsleting tasnya.

Namun, tepat saat Elsa hendak menyampirkan tas ranselnya ke bahu dan melangkah menuju pintu, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya.

Firdaus berdiri di sana. Punggung cowok itu tidak lagi se-tegap biasanya; ada gurat kelelahan mental yang amat sangat di wajahnya. Dia sengaja menutup pintu ruang rapat dengan satu tangan, menguncinya dari dalam dengan gerakan pelan namun penuh keputusasaan.

Elsa menghentikan langkahnya. Dia tidak mundur, tidak juga menunjukkan wajah panik. Dia hanya menatap pintu yang tertutup, lalu beralih menatap wajah Firdaus dengan alis yang terangkat sebelah.

"Maksudnya apa ya, Daus? Gue mau pulang," kata Elsa, nadanya datar tanpa emosi.

Firdaus melangkah satu tapak lebih dekat. Jarak mereka kini hanya menyisakan satu meter.

Aroma parfum maskulin Firdaus yang dulu sangat disukai Elsa kini menguar di udara, namun tak lagi mampu menggetarkan satu sel pun di dada gadis itu.

"Kita perlu bicara, Sa. Evaluasi laporan proposal yang lo revisi tadi malam," ucap Firdaus. Suaranya serak, terdengar seperti seseorang yang sedang menahan beban berat di tenggorokannya. Alasan pekerjaan itu hanyalah topeng rapuh untuk menyembunyikan tujuannya yang sebenarnya: menahan Elsa agar tidak pergi ke pelukan cowok lain. "Ada beberapa poin anggaran yang belum fiks menurut gue. Lo gak bisa pergi gitu aja sebelum ini selesai."

Elsa menatap draf fisik proposal di tangan Firdaus, lalu tersenyum—sebuah senyuman tipis yang terasa begitu dingin dan menusuk.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!