NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Malam Sebelum Tanda Tangan

Malam itu, aku tidak langsung tidur.

Kardus-kardus kosong menumpuk di dekat lemari. Sebagian barang sudah kupisahkan sejak sore, tetapi setiap kali tanganku hendak memasukkan sesuatu, selalu ada benda yang membuatku berhenti. Buku lama, jam meja dengan kaca retak, atau barang-barang kecil yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharianku.

Ternyata, mengemas barang tidak sesederhana memasukkannya ke dalam kardus.

Aku melirik jam dinding. Hampir pukul sepuluh.

Besok, aku harus menandatangani dokumen yang diperlukan untuk melanjutkan proses perceraian. Tidak ada alasan untuk menundanya lagi. Pengacara sudah menjelaskan bagian-bagian yang harus kuperiksa, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan harta pribadi dan kewajiban masing-masing pihak.

Aku memahami semuanya.

Hanya saja, memahami sebuah keputusan tidak selalu membuat tangan lebih ringan ketika harus melaksanakannya.

Kutarik kardus yang paling dekat dengan kaki, lalu memasukkan beberapa buku dan pakaian ke dalamnya. Sebagian barang akan kubawa. Sisanya bisa kusimpan sementara sampai aku menentukan apa yang perlu dilakukan.

Aku tidak sedang berusaha menghapus masa lalu. Kalau itu tujuanku, aku bisa saja membuang semua barang tanpa memeriksanya satu per satu.

Namun, ada perbedaan antara meninggalkan sesuatu dan berpura-pura bahwa sesuatu itu nggak pernah berarti.

Ponselku bergetar di atas meja.

Nama Pak Surya muncul di layar.

Aku mengangkatnya.

“Belum tidur, Pak?” tanyanya.

“Belum. Ada yang perlu dibicarakan?”

“Ada perkembangan soal permintaan dokumen yang diajukan Hendra.”

Tanganku berhenti di atas kardus.

“Dokumen apa saja yang diminta?”

“Berkaitan dengan keputusan almarhum ayah Anda. Tim hukum sedang memeriksa ruang lingkup permintaannya. Kami belum akan menyerahkan apa pun sebelum memastikan dasar permintaan, kewenangan pihak yang meminta, dan dokumen yang memang wajib diberikan.”

“Bagus.”

“Saya ingin memastikan Anda mengetahui hal ini sebelum besok.”

Aku duduk di tepi ranjang.

Permintaan itu bukan sesuatu yang bisa kuanggap sepele. Keputusan ayahku menyangkut perusahaan, kepemilikan, dan mandat yang menjadi dasar beberapa kewenangan sampai sekarang. Hendra tentu memahami nilai dokumen tersebut. Kalau tidak, dia tidak akan meminta akses melalui jalur resmi.

Namun, aku juga tidak berniat menjadikan urusan keluarga sebagai alasan untuk melangkahi prosedur.

“Periksa angka, kewenangan, dan dokumen hukumnya,” kataku. “Pastikan semuanya mengikuti prosedur. Jangan ada dokumen yang diserahkan hanya karena seseorang merasa berhak mendapatkannya.”

“Baik. Tim sedang menyusun daftar dokumen dan dasar hukumnya.”

“Kalau ada bagian yang belum jelas, tahan dulu. Saya ingin mengetahui alasan setiap dokumen diminta, bukan sekadar menerima daftar yang sudah disiapkan.”

Pak Surya terdiam sebentar.

“Dimengerti.”

Aku mengusap wajah. Di satu sisi, ada urusan perusahaan yang menuntut perhatianku. Di sisi lain, ada rumah yang sebentar lagi tidak lagi menjadi tempatku pulang.

Keduanya berbeda, tetapi sama-sama mengharuskanku menentukan batas.

“Untuk besok, apakah ada perubahan jadwal?” tanyaku.

“Tidak. Urusan pribadi Anda tetap berjalan sesuai jadwal. Tim akan menangani perkara perusahaan secara terpisah.”

“Pertahankan pemisahan itu.”

“Baik, Pak Arkan.”

Panggilan berakhir.

Aku meletakkan ponsel, lalu menatap kardus di depanku. Selama beberapa detik, aku tidak melakukan apa-apa. Setelah itu, aku kembali membereskan barang-barang yang masih tersisa.

Di bagian bawah lemari, kutemukan sebuah map tipis berwarna cokelat.

Aku mengenalinya.

Map itu berisi beberapa dokumen pribadiku, termasuk salinan berkas kepemilikan rumah, catatan transaksi, dan dokumen yang pernah kusimpan sebelum menikah. Sebagian berkas sudah kupindahkan ke tempat penyimpanan yang lebih aman. Sisanya masih berada di sini karena aku terlalu lama menganggap tidak ada alasan mendesak untuk memindahkannya.

Aku membawa map itu ke meja.

Satu per satu, kuperiksa isinya.

Nama tercetak dengan jelas. Tanggal tidak berubah. Tanda tangan berada di tempat yang semestinya. Tidak ada halaman yang tertinggal, dan tidak ada dokumen yang tercampur dengan berkas milik Laras.

Aku tidak berniat menggunakan semua itu untuk menakut-nakutinya.

Dokumen pribadi bukan alat untuk memenangkan pertengkaran. Begitu pula kepemilikan rumah bukan alasan untuk mempermalukan seseorang yang pernah tinggal di dalamnya.

Aku hanya perlu memastikan apa yang menjadi tanggung jawabku dan apa yang tidak.

Kusisihkan berkas yang harus kubawa. Salinan lainnya kumasukkan kembali ke map, lalu kusimpan di dalam tas kerja.

Besok, aku akan menyerahkan apa yang memang diperlukan melalui jalur yang benar. Jika ada persoalan yang harus dibahas, pengacara akan menanganinya. Aku tidak ingin membuat kesepakatan berdasarkan emosi, apalagi mengubah proses hukum menjadi ajang saling menghukum.

Aku sudah cukup lama membiarkan persoalan pribadi memengaruhi caraku menghadapi keadaan.

Setidaknya, untuk keputusan ini, aku ingin bersikap jernih.

Setelah map selesai, aku kembali memeriksa lemari. Di rak paling atas, ada sebuah kotak sepatu yang sudah kusimpan selama bertahun-tahun.

Aku menurunkannya, meniup debu tipis di permukaannya, lalu membuka tutupnya.

Isinya tidak banyak.

Beberapa tiket perjalanan lama, kartu ucapan, dan foto-foto yang dicetak sebelum kami terbiasa menyimpan semuanya di ponsel.

Aku duduk kembali.

Tanganku mengambil satu foto yang memperlihatkan Laras pada hari ulang tahunnya. Dia mengenakan pakaian sederhana dan memegang kue kecil yang kubeli sepulang kerja. Tidak ada pesta besar. Tidak ada hadiah mahal. Dia bahkan sempat tertawa karena lilin yang kupasang miring.

Aku masih ingat apa yang dia katakan ketika melihat kue itu.

“Yang penting kamu ingat.”

Kalimat itu sederhana. Waktu itu, aku merasa telah melakukan sesuatu yang benar.

Belakangan, aku terlalu sering mengukur perhatian melalui hal-hal yang bisa diselesaikan. Tagihan dibayar. Kebutuhan rumah tersedia. Urusan yang membuatnya cemas kusingkirkan sebelum sempat menjadi masalah.

Aku mengira semua itu cukup.

Mungkin aku terlalu percaya bahwa tanggung jawab yang kutunaikan akan selalu dipahami tanpa perlu dijelaskan. Aku tidak banyak bercerita tentang pekerjaanku. Aku jarang menjelaskan mengapa beberapa keputusan harus menunggu. Ketika Laras bertanya, aku kerap menjawab singkat, kemudian kembali pada urusanku.

Aku tidak melakukan itu karena ingin membuatnya merasa kecil.

Tetapi niat baik tidak otomatis membuat caraku benar.

Ada bagian dari hubungan kami yang memang menjadi tanggung jawabku. Aku tidak bisa menyerahkan seluruh kesalahan kepada Laras hanya karena sikapnya sekarang telah berubah.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Kemudian, kuletakkan di samping tas.

Foto itu akan kubawa.

Bukan karena aku berharap bisa kembali ke masa tersebut. Aku tahu satu lembar foto tidak dapat mengembalikan kepercayaan yang sudah rusak. Aku juga tidak ingin menggunakannya sebagai alasan untuk meminta Laras mengubah keputusan.

Aku hanya tidak ingin berpura-pura bahwa semua yang pernah terjadi di antara kami adalah kebohongan.

Ada masa ketika dia tulus.

Aku pun pernah bahagia bersamanya.

Dua hal itu tetap benar, meskipun pernikahan kami tidak lagi bisa dipertahankan.

Kubungkus foto tersebut dengan selembar kertas agar tidak terlipat, lalu memasukkannya ke dalam buku catatan yang akan kubawa. Kotak sepatu kututup kembali. Tiket dan foto lainnya kusimpan dalam kardus yang akan kutinggalkan di tempat aman sampai aku menentukan apa yang perlu dilakukan terhadapnya.

Aku tidak perlu membuat keputusan untuk setiap benda malam ini.

Cukup untuk barang-barang yang harus kubawa besok.

Menjelang tengah malam, sebagian besar pekerjaanku selesai. Dua kardus sudah tertutup. Tas kerja berisi dokumen pribadi berada di dekat pintu. Pakaian yang akan kupakai esok hari kugantung terpisah agar tidak perlu membongkar semuanya lagi.

Aku memeriksa kamar sekali lagi.

Tidak ada yang tertinggal di atas meja. Laci sudah kosong. Buku-buku yang akan kubawa tersusun di dalam kardus. Kabel pengisi daya kumasukkan ke kantong kecil di dalam tas.

Aku lalu berdiri di dekat meja dan mengambil ponsel.

Ada beberapa pesan pekerjaan yang belum kubalas, tetapi tidak ada yang mengharuskanku mengambil keputusan malam ini. Aku membaca sekilas, memastikan tidak ada keadaan mendesak, lalu meletakkannya kembali.

Aku membuka ruang percakapan dengan Laras.

Foto profilnya masih sama.

Sudah lama aku tidak melihatnya tanpa harus memikirkan percakapan yang berujung pertengkaran, kecurigaan, atau kalimat yang sengaja dibuat tajam. Bahkan ketika kami berada di ruangan yang sama, rasanya selalu ada sesuatu yang berdiri di antara kami.

Aku tidak tahu kapan tepatnya jarak itu menjadi begitu lebar.

Mungkin tidak ada satu hari tertentu.

Mungkin jarak tersebut terbentuk dari banyak hal yang tidak pernah kami selesaikan.

Aku mengetik sebuah pesan.

Laras, besok aku akan menandatangani dokumen yang diperlukan. Aku tidak akan mempersulit prosesnya. Kalau ada hal yang perlu diselesaikan terkait barang atau dokumen pribadi, kita bisa mengurusnya melalui jalur yang benar.

Aku membaca pesan itu.

Isinya wajar. Tidak ada tuduhan. Tidak ada permintaan agar dia merasa bersalah. Tidak ada kalimat yang berusaha mengingatkannya pada masa lalu.

Namun, aku tetap tidak menekan tombol kirim.

Aku menambahkan satu kalimat.

Aku harap kamu baik-baik saja.

Kali ini, aku berhenti lebih lama.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi aku tidak yakin untuk siapa pesan tersebut sebenarnya ditulis. Untuk Laras, yang mungkin tidak lagi menginginkan perhatianku? Untuk diriku sendiri, yang masih ingin percaya bahwa setelah semua yang terjadi, aku tidak berubah menjadi seseorang yang hanya mampu menyimpan kemarahan?

Atau hanya karena aku belum terbiasa membiarkan percakapan kami berakhir tanpa mengatakan sesuatu.

Aku menghapus kalimat terakhir.

Lalu kubaca kembali dua kalimat sebelumnya.

Aku bisa mengirimnya. Tidak ada yang salah dengan menyampaikan urusan praktis secara langsung. Namun, pesan itu tidak akan mengubah apa pun yang sudah diputuskan. Jika Laras perlu mengetahui sesuatu, pengacara dapat menyampaikannya dengan jelas.

Aku tidak perlu mencari alasan untuk membuka percakapan yang belum tentu ingin dia lanjutkan.

Kursor berkedip di akhir kalimat.

Jempolku sempat bergerak mendekati tombol kirim.

Kemudian aku menghapus seluruh pesan.

Ruang percakapan kembali kosong, menyisakan riwayat percakapan lama yang tidak kubuka. Aku mengunci layar dan meletakkan ponsel di atas meja.

Tidak ada kelegaan besar setelah itu.

Aku hanya merasa telah berhenti melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kulakukan.

Aku duduk di tepi ranjang, memandangi tas yang sudah siap. Besok, aku akan membawa barang-barangku, menandatangani dokumen yang diperlukan, dan menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabku. Tidak ada tuntutan tambahan. Tidak ada upaya untuk membuat Laras membayar harga atas keputusan yang telah diambilnya.

Aku tidak akan menyerahkan hakku hanya demi terlihat baik. Namun, aku juga tidak akan memakai hak itu untuk menyakitinya.

Keduanya berbeda.

Aku ingin proses ini selesai dengan benar, tanpa membuat persoalan pribadi menjadi alasan untuk mengabaikan hukum atau kewajiban masing-masing.

Di luar kamar, rumah sudah sunyi. Tidak terdengar suara televisi dari ruang tengah. Tidak ada langkah kaki yang mendekat, tidak ada suara Laras memanggil namaku untuk menanyakan sesuatu yang tertinggal.

Aku berdiri, mematikan lampu meja, lalu memeriksa pintu sekali lagi sebelum berbaring.

Foto itu berada di dalam buku catatan, terlindung di antara halaman-halamannya. Aku tahu letaknya tanpa perlu membuka tas.

Aku tidak berniat melihatnya setiap malam. Aku juga tidak akan membawanya sebagai pengingat untuk menunggu Laras kembali.

Foto itu hanya bagian dari hidupku yang pernah ada.

Dan aku tidak harus membencinya untuk bisa melangkah pergi.

Besok, namaku akan tercantum di dokumen yang menandai perubahan besar dalam hidupku. Aku akan membubuhkan tanda tangan tanpa meminta Laras mengakui apa pun di luar hal-hal yang memang perlu diselesaikan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa setelahnya semua akan terasa lebih mudah.

Aku hanya bisa memastikan bahwa keputusan yang kuambil tidak lahir dari keinginan membalas.

Ponselku tetap diam di atas meja.

Aku memejamkan mata, tetapi beberapa menit kemudian membukanya lagi. Tanganku bergerak hendak meraih ponsel, kebiasaan lama setiap kali ada sesuatu yang belum selesai di kepala.

Kali ini, aku membiarkannya tetap di tempat.

Tidak ada pesan yang perlu dikirim malam ini.

Tidak ada penjelasan yang harus dipaksakan sebelum waktunya.

Aku menarik selimut, memunggungi meja, dan membiarkan kamar itu gelap.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak berusaha menebak apa yang akan Laras katakan besok.

Aku hanya perlu datang, membaca dokumennya sekali lagi, lalu menandatangani bagian yang menjadi tanggung jawabku.

Selebihnya, biarlah masing-masing dari kami menghadapi pilihan sendiri.

Dan malam itu, pesan yang kuhapus tetap tidak pernah sampai kepadanya.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!