Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit pagi, mobil taksi online yang ditumpangi oleh Alena berhenti tepat di depan gedung pencakar langit yang menjadi kantor pusat Wijaya Kusuma Group.
Alena turun sambil membawa sebuah map berwarna hitam yang berisi surat lamaran dan beberapa dokumen pendukung. Gadis itu berdiri sejenak di depan gedung, mendongakkan kepala untuk melihat logo besar perusahaan yang terpasang di bagian depan.
...WIJAYA KUSUMA GROUP....
Perusahaan yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia bisnis nasional.
"Baiklah..." gumam Alena sambil menarik napas dalam-dalam. "Aku akan mulai dari sini,” ucapnya sembari merapikan rambut dan pakaian yang dikenakannya sebelum melangkah masuk.
Begitu memasuki lobi, Alena langsung melihat beberapa orang yang ternyata sudah duduk di deretan kursi yang disediakan. Dan mereka semua besar membawa map lamaran. Ada yang sibuk membaca dokumen. Ada pula yang terlihat berlatih menjawab pertanyaan wawancara.
Alena mengangkat sebelah alis. "Sepertinya pelamarnya cukup banyak," gumamnya.
Baru saja hendak mendekat ke arah resepsionis, seorang petugas HR menghampiri.
"Selamat pagi. Apakah Anda juga datang untuk melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi Tuan Muda Nathan?"
"Iya."
"Silakan isi formulir ini terlebih dahulu."
Alena menerima formulir tersebut lalu duduk di salah satu kursi yang masih kosong, lalu mulai mengisi data diri. Ketika sampai pada bagian pengalaman kerja, tangannya berhenti sejenak.
Pengalaman terakhir: Direktur Operasional Bagaskara Group.
Alena menatap tulisan itu beberapa detik. Kemarin jabatan itu masih menjadi bagian dari hidupnya. Tapi hari ini… Ia sedang melamar menjadi asisten pribadi seseorang.
"Hidup memang suka bercanda,” gumamnya tersenyum tipis sambil melanjutkan mengisi formulir, lalu menyerahkannya kepada petugas HR setelah semua terisi.
"Silakan menunggu. Nanti nama Anda akan dipanggil."
"Baik," jawab Alena lalu duduk di antara para pelamar lainnya.
Satu per satu kandidat masuk ke ruang wawancara. Ada yang keluar dengan wajah lega, ada pula yang terlihat murung. Sementara Alena hanya duduk tenang sambil membaca beberapa dokumen yang diberikan perusahaan.
Sampai akhirnya...
"Saudari Alena Bagaskara?"
Alena mengangkat wajah ketika mendengar namanya dipanggil.
"Saya."
"Silakan masuk ke ruang wawancara."
Alena berdiri, merapikan blazer yang dikenakannya lalu melangkah menuju ruangan tersebut. Namun begitu pintu terbuka, Alena langsung menghentikan langkah dengan matanya terbelalak.
Di ujung meja panjang duduk beberapa orang dari jajaran manajemen Wijaya Kusuma Group. Dan di tengah-tengah mereka, ada seorang pria yang sangat ia kenal. NATHAN.
Pria itu duduk dengan wajah tenang, mengenakan setelan jas gelap. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Alena. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, seolah mereka hanyalah dua orang yang baru pertama kali bertemu.
Alena segera menetralkan wajahnya dan mengambil sikap profesional.
"Selamat pagi, Tuan," ucapnya sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Seorang yang duduk di sebelah kanan Nathan mengangguk sambil mengarahkan telapak tangannya pada sebuah kursi yang ada di hadapan mereka.
"Silakan duduk."
Alena mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu menarik kursi dan duduk di sana.
Salah seorang wanita dari HR membuka berkas di hadapannya.
"Saudari Alena, kami sudah membaca CV Anda. Di sini tertulis bahwa Anda pernah menjabat sebagai Direktur Operasional Bagaskara Group."
"Benar."
"Lalu kenapa Anda melamar untuk posisi asisten pribadi?"
Pertanyaan itu langsung membuat suasana menjadi serius.
"Saya sedang mencari pekerjaan baru," jawab Alena dengan suaranya yang terdengar profesional.
"Tidak masalah jika harus memulai dari posisi yang berbeda?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena yang membuat seseorang berharga bukan jabatan, melainkan kemampuan untuk menjalankan tanggung jawabnya," jawab Alena tenang.
Pria di sebelah kanan Nathan mengangguk kecil.
"Jawaban yang bagus," ucap HR sambil membuka berkas berikutnya. "Kalau begitu mari kita masuk ke persoalan yang lebih teknis."
Wanita itu menggeser sebuah dokumen ke arah Alena. "Bayangkan Tuan Nathan memiliki tiga agenda penting dalam satu hari. Pertemuan dengan investor pukul sembilan, rapat internal pukul sebelas, dan penerbangan bisnis pukul dua siang. Di waktu yang sama, investor utama tiba-tiba meminta pertemuan tambahan. Bagaimana Anda mengaturnya?"
Alena membaca dokumen itu sebentar lalu mengangkat kepalanya menatap ke arah HR yang sedang bertanya padanya.
"Saya akan melihat tingkat urgensi dan dampak setiap agenda. Pertemuan investor utama tidak bisa langsung dipindahkan tanpa mengetahui tujuan pertemuannya. Jika pertemuan tambahan itu berpotensi memengaruhi keputusan investasi, saya akan meminta sekretaris investor memberikan garis besar agenda terlebih dahulu. Jika memang mendesak, saya akan memindahkan rapat internal atau mendelegasikannya kepada direktur terkait. Sedangkan penerbangan tidak akan saya ubah sebelum memastikan apakah pertemuan tersebut memang memiliki nilai strategis yang lebih tinggi."
Pria di sebelah Nathan kembali mengangguk dengan sorot matanya yang menatap lurus wajah Alena.
"Bagaimana kalau semua pihak menolak jadwal mereka diubah?" tanya pria itu.
"Saya yang akan mencari solusi."
"Caranya?"
Alena tersenyum kecil. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan keraguan. "Seorang asisten pribadi tidak dibayar untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak mungkin dilakukan. Dia dibayar untuk mencari cara agar sesuatu bisa dilakukan."
Seketika itu juga ruangan menjadi hening. Beberapa orang saling berpandangan.
Nathan yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangkat wajah dari berkas di hadapannya. "Bagaimana kalau saya sendiri yang membuat jadwal berantakan?"
Alena menatapnya tanpa gentar. "Kalau Tuan yang membuatnya berantakan…” Alena menjeda ucapannya sejenak lalu melanjutkan dengan suara yang tegas. "...berarti saya yang harus membereskannya."
Salah seorang pewawancara hampir tersenyum, sementara Nathan justru mengangkat sebelah alis. "Berani juga."
"Apakah jawaban saya salah?"
"Tidak," jawab Nathan lalu menutup berkasnya.
Wawancara berlangsung hampir empat puluh menit.
Alena tidak hanya ditanya mengenai jadwal dan pekerjaan administratif.
Ia juga diberikan simulasi mengenai perjalanan bisnis, penanganan klien yang marah, konflik jadwal, kerahasiaan dokumen perusahaan, bahkan bagaimana mengambil keputusan ketika Nathan sedang tidak bisa dihubungi.
Setiap pertanyaan dijawab dengan tenang, tidak tergesa-gesa, juga tidak berlebihan. Bahkan ketika diberikan kasus yang cukup rumit, Alena mampu memecah persoalan menjadi beberapa bagian lalu menentukan prioritas. Hingga akhirnya sesi wawancara selesai.
"Baik, Saudari Alena. Terima kasih atas waktunya."
Alena berdiri lalu kembali menundukkan sedikit kepalanya. "Terima kasih."
Sebelum keluar, ia sempat melirik Nathan, dan terlihat olehnya pria itu masih setia dengan wajah datarnya. Alena pun keluar dari ruangan.
Begitu Alena pergi, dan pintu ruangan untuk wawancara itu tertutup, salah seorang pewawancara langsung bersandar di kursinya.
"Jujur saja, saya rasa kita tidak perlu mewawancarai kandidat berikutnya."
Wanita HR di sebelahnya tertawa kecil. "Saya juga berpikir begitu."
Pria lainnya membuka kembali CV Alena. "Pengalaman empat tahun di Bagaskara Group, dua tahun terakhir sebagai Direktur Operasional. Dan dari hasil tes tertulis, nilainya paling tinggi. Tes analisis kasus juga hampir sempurna."
Pria itu kembali mengangkat wajah dan menyapukan pandangannya pada semua yang ada dalam ruangan itu. "Kalau dia benar-benar mengundurkan diri dari Bagaskara Group, kita mendapatkan kandidat yang sangat bagus."
Salah seorang direktur mengangguk. "Masalahnya, dia melamar sebagai asisten pribadi. Itu jelas overqualified. Itu yang membuat saya khawatir,” ucapnya sambil menoleh kepada Nathan. "Apa Anda yakin?"
"Apa yang membuat Anda yakin?”
Nathan menganggukkan kepala seraya bersandar santai di kursinya. Pria itu terdiam beberapa detik dengan tatapan jatuh pada berkas Alena. "Karena saya membutuhkan seseorang yang bisa bekerja tanpa harus terus-menerus saya ajari."
Salah seorang pewawancara tersenyum, sementara wanita HR melihat hasil penilaian dari seluruh pewawancara. "Baik. Kalau begitu berdasarkan hasil tes, wawancara, dan penilaian dari seluruh tim... kita tandai dulu nama Nona Alena sambil melanjutkan wawancara pada para pelamar yang sudah terlanjur hadir.”
—
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣